Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-70 Rindu Ibu



Di rumah keluarga Cristian...


“Makanlah yang banyak, kau pasti rindu masakan ibu,” kata ibunya Cristian. Mereka sedang makan malam di rumahnya.


“Iya bu, jawab Cristian, menyantap makan malamnya.


“Bagaimana pekerjaanmu nak?” tanya pak Sony.


“Semua berjalan lancar ayah,” jawab Cristian.


“Apakah kau sudah dapat kabar keberadaan Hanna?” tanya ibunya Cristian membuat Cristian terkejut. Tidak menyangka ibunya akan menanyakan hal itu.


“Belum,” jawab Cristian, berbohong. Dia bingung, kalau dia jujur soal Hanna, orangtuanya pasti memberitahunya pada orangtuanya Hanna dan Hanna belum siap untuk bertemu orangtuanya. Dia juga tidak mau orangtuanya sakit hati karena tahu Hanna sudah menikah dengan orang lain. Keluarganya sangat dipermalukan atas kejadian kaburnya Hanna itu. Dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika orangtua Hanna tahu semua ini.


“Kau bersabar ya nak, mudah-mudahan Hanna segera ditemukan, kau harus tetap semangat jangan bersedih terus,” kata ibunya lagi.


“Iya bu,” jawab Cristian, dia terus menunduk tidak berani menatap wajah ibunya, karena dia telah berbohong.


**********************


Hanna menatap popcorn yang diatas meja. Dia masih bertanya-tanya kenapa ada popcorn diatas meja? Siapa yang membelinya? Damian? Iseng amat Damian membeli popcorn itu.


Damian keluar dari kamar mandi, menoleh pada Hanna yang sedang menatap popcorn itu.


“Apa kau tidak mandi?” tanya Damian.


Hanna menoleh pada Damian sambil tersenyum.


“Aku lupa, serasa sudah mandi,” jawabnya cengengesan, sambil bangun dan bergegas masuk ke kamar mandi.


Saat keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian ternyata Damian tidak ada dikamar. Kemana lagi dia?


Hanna kembali mendekati popcorn itu. Gara-gara popcorn itu dia sampai rebutan dengan Satria. Diapun keluar kamar dan melihat ke ruang tengah ternyata Satria sudah tidak ada disana, popcorn yang berserakan juga sudah dibersihkan.


Matanya menoleh kepintu, ternyata pintunya terbuka dan ada seseorang yang duduk di tangga. Damian? Sedang apa dia ditangga itu? Hannapun menghampirinya dan duduk disamping Damian.


“Sedang apa kau disini?” tanya Hanna.


Damian tidak menjawab, membuat Hanna keheranan. Akhirnya diam saja ikut menatap langit yang gelap.


“Kau sudah mandi?” tanya Damian.


“Tentu saja, apa kau tidak mencium baunya?” jawab Hanna.


Damian mendekatkan kepalanya ke pipi Hanna, dengan spontan Hanna menjauh dan menoleh ke arahnya.


“Kau mau apa? Menciumku?” tanyanya. Ah dia tidak mau membayangkan akan dicium Damian,  sepertinya memang tidak akan pernah ada ciuman dari pria itu.


“Kau benar, kau harum sekarang,” jawab Damian, menghirup bau sabun di tubuh Hanna.


“Kenapa kau menyuruhku mandi?” tanya Hanna.


Damian menatapnya.


“Kenapa?” tanya Hanna balik menatapnya.


“Setelah aku ingat-ingat kau mandinya tidak teratur ya,” jawab Damian.


“Buat apa kau mengingat-ingat aku mandi?” tanya Hanna.


“Kau pemalas,” keluh Damian, sambil kembali menatap kearah depannya, melihat di kegelapan malam.


“Kau mulai mengejekku. Ini semua gara-gara jam tidurku yang tidak teratur,” kata Hanna beralasan. Damian tidak bicara lagi, Hanna merasakan sikap Damian agak berbeda malam ini.


“Eh itu popcornnya buatku bukan? Aku minta pada Satria tapi dia tidak memberinya, adikmu sangat pelit,” ucap Hanna.


“Kau mau?” tanya Damian.


“Tentu saja,” jawab Hanna.


“Ya boleh,” jawab Damian.


Hanna tersenyum senang, dia pun segera ke kamarnya dan mengambil popcorn itu, lalu kembali menemui Damian yang duduk ditangga. Dia membuka popcornnya dan langsung memakannya.


“Ayo makanlah!” ajak Hanna sambil menyodorkan popcorn itu. Damian hanya diam saja.


“Kau tidak mau? Kalau kau tidak mau, buat apa kau membelinya?” tanya Hanna, dia menyantap lagi popcornnya, ternyata sangat enak, pantas saja Satria tidak mau berbagi dengannya.


“Tadi ada yang berjualan keliling, aku ingat waktu kecil ibuku suka membelikan popcorn untukku,” jawab Damian. Membuat Hanna menghentikan makan popcornnya, dan menoleh pada Damian. Apakah Damian sedang rindu pada ibunya?


“Kau rindu ibumu?” tanya Hanna.


“Aku merindukannya setiap waktu,” jawab Damian. Hanna menatap popcorn itu. Jadi itu alasan Damian membeli popcorn ini?


“Apa belum ada kabar tentang ibumu?” tanya Hanna.


“Belum,” jawab Damian. Hanna pun diam.


“Aku ingin disaat aku menikah nanti ibuku sudah ditemukan, aku ingin ibuku ada saat aku menikah,” ucap Damian.


“Apa menikah? Memangnya kau akan menikah dengan siapa?” tanya Hanna, terkejut.


“Aku tidak tahu, ya gimana nanti saja,” jawab Damian. Hanna langsung cemberut, memangnya Damian mau menikah dengan siapa? Kenapa dia merahasiakannya? Apa dia punya pacar yang lain? Ah membuatnya patah hati saja.


Hanna terus berfikir, ko Damian membicarakan soal menikah tidak mengajak-ngajak dia? Emang Damian mau menikah sendirian? Atau Damian punya kekasih yang lain? Kenapa jadi seperti ini? Bukankah dia waktu itu mengatakan cinta padanya? Kenapa pria ini tidak mau mengucapkan cinta terus terang padanya? Sekarang dia membicarakan pernikahan emangnya akan menikah dengan siapa? Pertanyaan itu terus muncul di benak Hanna berulang-ulang, Damian punya rencana menikah dengan siapa?


“Apa kau tidak akan makan pocorn?” tanya Hanna, kembali menyodorkan popcorn itu tapi Damian tidak menjawab. Hanna mengambil satu buah lalu disodorkan ke mulutnya Damian.


“Ayo makanlah, a,” ucap Hanna, sambil mempraktekkan membuka mulutnya. Damian menjauhkan kepalanya dari tangan Hanna yang memegang sebuah popcorn.


“Kenapa kau memberiku popcorn cuma satu biji?” tanya Damian.


“Ini a dulu,” kata Hanna, menyodorkan lagi popcorn satu biji itu, terpaksa Damian membuka mulutnya dan  memakannya.


“Kau bilang pelit pada satria, kau juga sangat pelit,” ucap Damian.


“Bukan pelit, aku ngirit, biar popcornnya awet hahha,” jawab Hanna, bercanda.


Tapi ternyata Damian tidak tertawa, dia mengunyah popcorn satu biji itu tanpa bicara apa-apa lagi. Sepertinya Damian sedang bersedih.


“Bisa kau ceritakan bagaimana ibumu?” tanya Hanna.


“Ibuku sangat menyayangiku,” jawab Damian, ada nada kesedihan dari suaranya.


“Semua itu pasti berat bagimu ya,” kata Hanna. Diapun jadi teringat ibunya. Disaat Damian mencari- cari ibunya, dirinya yang ibunya ada saja malah ditinggalkan dan tidak menemuinya. Bukan dia tidak rindu tapi dia belum siap dengan segala konsekuensinya jika bertemu dengan orangtuanya.


“Oh iya bagaimana kalau kita bikin jadwal ke psikiater saja? Mungkin traumamu akan sembuh sedikit sedikit,dan kau tidak akan mengigau lagi,” usul Hanna.


“Kan sudah ada kau yang memelukku, buat apa ke psikiater?” tanya Damian.


“Memangnya aku akan bersamamu seumur hidupmu?” tanya Hanna.


“Kau tidak mau?” tanya Damian tanpa menoleh.


“Aku..aku…” Hanna bingung menjawabnya.


“Tapi aku tidak akan membayarnya,” jawab Damian. Membuat Hanna mencibir.


“Aku tidak mau berlama-lama denganmu jika kau tidak membayarku. Aku memelukmu saja kau menyuruhku bayar, hem,” jawab Hanna.


Damian menoleh pada Hanna, dia tersenyum. Tangannya mengacak-acak rambut wanita itu.


“Kau merusak rambutku, aku sudah menyisirnya dengan rapih tadi,” protes Hanna.


“Sini aku rapihkan!” ucap Damian. Badannya menghadap Hanna, kedua tangannya mengusap-usap rambut Hanna merapihkannya kembali, membuat hati Hanna berbunga-bunga, apakah itu termasuk sikap yang romantis?


Setelah rapih kembali, kemudian Damian menatapnya.


“Ada apa lagi?” tanya Hanna.


“Aku sedang berfikir, apakah kau menantu yang baik buat ibuku? Apakah ibuku akan senang bertemu denganmu? Kau sepertinya menantu yang aneh,” ucap Damian, mengerutkan keningnya.


“Apa maksudmu menantu yang aneh? Aku menantu yang baik, aku baik dan penyayang,” protes Hanna, tidak suka dengan penilaian Damian.


“Aku ragu,” jawab Damian, sambil melepas belaian rambutnya, kembali menatap ke kejauhan.


“Kau ini selalu meragukanku!” ucap Hanna. Damian diam lagi, sepertinya Damian benar-benar tidak ingin bercanda. Hannapun berfikir bagaimana cara menghibur Damian? Melihatnya bersedih begini dia pun ikut merasa sedih. Kemudian diapun punya ide.


“Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan?” tanya Hanna, sambil makan popcornnya lagi.


“Tebak-tebakan apa?” tanya Damian. Hanna tersenyum, sepertinya Damian mulai tertarik.


“Apa bedanya kau dan aku?” tanya Hanna, mulai tebak-tebakan.


“Bedanya? Tidak tahu,” jawab Damian, dengan malas.


“Kalau kau laki-laki, aku perempuan,” jawab Hanna sambil tertawa. Damian menoleh ke arahnya dan menatapnya.


“Tebak-tebakan apaan? Tidak lucu!” umpatnya. Membuat tawa Hanna semakin keras.


“Masih ada yang lucu,” kata Hanna, tidak patah semangat untuk membuat Damian tidak bersedih lagi.


“Apa?” tanya Damian tanpa menoleh.


“Mm apa bedanya tukang bubur dengan tukang sayur?” tanya Hanna.


“Aku tidak tahu!” jawab Damian, malas berfikir.


“Masa tidak tahu? Tukang bubur jualan bubur tukang sayur ya jualan sayur! Kau ini bagaimana? Kau sekolah tidak sih?” jawab Hanna diakhiri dengan wajah cemberut.


“Lagian kau membuat tebakan tidak ada lucu-lucunya. Yang benar saja!” gerutu Damian.


“Itukan sudah lucu, kau nya saja yang tidak mau tertawa,” keluh Hanna memaksa padahal memang tidak lucu.


Damian tidak bicara lagi.


“Ganti ganti kalau begitu, sekarang tebakannya lucu,” ucap Hanna, tidak patah semangat.


“Aku tidak percaya, kau tidak cerdas dan tidak berbakat melucu,” ucap Damian. Tapi Hanna mengabaikannya, dan kembali main tebak tebakan.


“Apa bahasa Indonesianya I Love U?” tanya Hanna.


Damian tidak menjawab.


“Ayo jawab!” paksa Hanna, sambil menggoyang goyangkan tangan Damian.


“Aku tidak tahu!” jawab Damian, dia tahu Hanna mencoba menjebaknya supaya mengucapkan Aku cinta kamu.


“Masa tidak tahu bahasa Indonesianya I Love U? Kau payah!” seru Hanna.


Damian menoleh pada Hanna.


“Kau keterlaluan ya menyebutku payah,” gerutu Damian dengan kesal.


“Habisnya anak SD juga sudah tahu bahasa Indonesianya I Love U, kau sudah sebesar ini, masa tidak tahu!” keluh Hanna.


“Tentu saja aku tahu. Aku tidak sebodoh itu,” jawab Damian.


“Buktinya kau tidak mau menjawabnya, “ kata Hanna, membuat Damian kesal.


“Aku cinta kamu!” jawabnya dengan keras.


Hanna langsung menatapnya dan tertawa, akhirnya pria itu mengatakan cinta juga.


“Akhirnya kau mengatakan cinta juga padaku!” seru Hanna. Membuat Damian terdiam, dia kecolongan oleh Hanna.


“Aku tidak bermaksud begitu,” elak Damian.


“Ah kau banyak alasan, kalau cinta ya cinta saja,”  ucap Hanna lalu tertawa, membuat Damian semakin jengkel.


Hanna bangun sambil memasukkan sebuah popcorn ke mulut Damian, dia masih saja tertawa, tidak peduli yang ditertawakannya merasa kesal. Hannapun meninggalkan Damian sendirian diluar.


“Ada ya wanita yang seperti itu,” umpat Damian. Tapi kemudian dia bangun juga, masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.


Di dalam kamar Hanna melanjutkan makan popcornnya sambil menonton televisi,  bibirnya masih senyum senyum saja.


“Kau senang ya menjebakku seperti itu,” tegur Damian. Hanna tertawa lagi tapi tidak menoleh masih menonton televisi. Damian menoleh ke televisi itu, Film kartun Tom Jerry. Dia jadi ingat saat begadang nonton film kartun itu.


Diapun duduk disamping Hanna, mereka duduk diatas karpet dan bersandar ke sofa.


“Kenapa kau suka sekali Tom dan Jery?” tanya Damian.


“Bukan aku, tapi kau, aku hanya melanjutkannya saja,” jawab Hanna beralasan.


Tangannya kembali memasukkan popcorn ke mulut Damian. Damian menatap tangan itu, kenapa begitu irit, satu satu biji diberikan ke mulutnya, tapi sendirinya makan popcorn segitu banyak. Ya ampun, Hannaa.


Tiba-tiba Damian mengambil tempat popcorn dari tangan Hanna. Hanna langsung menoleh ke arahnya.


“Kenapa kau mengambil popcornku?” tanyanya.


Damian tidak menjawab, dia memakan popcornnya, kemudian tiba-tiba dia diam berhenti mengunyah, dia teringat ibunya lagi yang suka membelikannya popcorn. Hanna merasa sedih melihatnya, ternyata dia tidak berhasil membuat Damian terhibur.


“Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan lagi?” tanya Hanna.


“Tidak ah tidak lucu,” jawab Damian.


“Lucu, ini lucu,” kata Hanna.


“Aku saja yang buat tebak-tebakan,” ucap Damian.


“Boleh-boleh, apa coba?” tanya Hanna.


“Apa bahasa Indonesianya I Love U? “ tanya Damian. Hanna langsung mendelik.


“Tidak ah tadi kan sudah,” jawab Hanna.


“Alasan saja, kau pasti tidak tahu jawabannya,” ucap Damian.


“Aku tahu, anak kecil juga tahu itu,” kata Hanna.


“Kau memang suka berpura-pura, kalau tidak tahu ya tidak tahu,” ucap Damian.


Hanna memutar otak, nih Damian pasti sedang menjebaknya supaya mengatakan aku cinta kamu, ah tidak akan, dia tidak akan terjebak, fikir Hanna.


“Ayo jawab! Apa bahasa Indonesianya I Love U?” kata Damian, mengulang pertanyaannya.


“Mm apa ya, aku memang tidak tahu jawabannya, soalnya aku tidak sekolah, jadi aku tidak mengerti bahasa Inggris,” jawab Hanna, menyebalkan.


“Ih segitunya,” keluh Damian. Mambuat Hanna ingin tertawa dalam hati.


“Iya sepertinya aku nyerah deh, aku tidak tau artinya, emang apa artinya?” tanya Hanna.


Damian mendelik pada wanita itu, ini wanita mau bersilat lidah rupanya.


“Bener nih tidak tahu bahasa Indonesianya I Love U?“ tanya Damian.


“Iya aku tidak tahu, aku tidak mengerti bahasa Inggris,” jawab Hanna.


“Uh kau ini payah,” gerutu Damian.


“Memang apaan sih artinya?” tanya Hanna, pura-pura tidak tahu supaya Damian mengucapkan aku cinta kamu lagi. Damian mengerti maksudnya Hanna.


“Aku juga tidak tahu,” jawab Damian sambil tersenyum. Hanna mencibir mendapat jawaban dari Damian tapi kemudian dia tersenyum  melihat pria itu mulai mau tersenyum.


“Kau sangat tampan kalau tersenyum,” puji Hanna.


“Jangan memujiku, aku tidak punya uang untuk membayarnya,” jawab Damian.


“Tidak perlu membayar, gratis,” ucap Hanna sambil tersenyum.


Damian mengacak acak lagi rambutnya Hanna, dia tahu Hanna sedang mencoba menghiburnya meskipun garing, sangat garing. Diapun memasukkan sebutir popcorn ke mulut Hanna. Wanita itu langsung menoleh kearahnya.


“Apaan sih. Ngasih popcorn satu-satu, yang benar saja,” gerutunya.


“Ah kau juga tadi begitu,” ucap Damian.


“Huh!” tangan Hanna akan mengambil popcorn tapi dijauhkan oleh Damian, dia jadi teringat insiden dengan Satria, nanti malah popcornnya jatuh berantakan. Akhirnya dia diam.


Melihat Hanna diam, Damian mengambil beberapa popcorn dan disodorkan ke mulut Hanna. Hanna melirik pada tangan Damian. Dia mau lihat ada berapa biji popcornnya.


“Banyak! Masih kurang?” kata Damian. Hanna tersenyum dan membuka mulutnya, tapi ternyata Damian memasukkan popcorn itu kemulutnya sendiri bukan ke mulut Hanna.


“Damian!” teriak Hanna dengan kesal. Pria itu malah tertawa.  Meski kesal tapi Hanna senang bisa melihat Damian tertawa.


Malampun semakin larut, mereka makan popcorn sambil menonton film Tom dan Jerry.


“Serasa si bioskop ya,” ucap Hanna.


“Emang di bioskop ada menayangkan film Tom dan Jerry?” tanya Damian.


“Tidak ada,” jawab Hanna sambil tertawa.


Damian langsung memberengut dan menoleh pada Hanna, entah harus diapakan wanita ini?


*****************


 


Author nyerah deh, up lagi.


Jangan lupa like vote dan komen.


Makasih untuk supportnya


I Love U All