Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-122 Lepas



Hanna membukakan pintu rumahnya saat terdengar bel berbunyi. Ternyata Cristian sudah berdiri di depan pintu, pria itu tersenyum manis padanya.


“Ku fikir kau masih tidur,” ucap Cristian, sambil masuk ke rumah setelah Hanna membuka pintu rumahnya dengan lebar.


“Aku mau mengajakmu melihat baju pengantin,” jawab Cristian.


“Masih di butik yang kemarin kan? Berarti masih punya  ukurannya, tidak perlu kesana,” kata Hanna, sambil duduk di sofa ruang tamu. Dia malas harus mengurus baju pengantin lagi. Cristian mengikuti duduk tidak jauh darinya.


“Harus kau coba barangkali ada yang kurang,” ucap Cristian.


Hanna tidak menjawab. Dia tidak menginginkan pernikahan ini tapi apa yang harus dilakukannya sekarang? Dia benar-benar tidak bisa apa-apa.


“Ibumu kemana?” tanya Cristian menanyakan ibunya Hanna.


“Sudah berangkat ke restaurant,” jawab Hanna. Dia tidak tahu kalau ibunya sedang mempertemukan Damain dengan ibu kandungnya.


“Ayo kita berangkat, nanti keburu sore, suka hujan kalau sore,” ajak Cristian.


Dengan malas Hanna masuk ke kamarnya berganti pakaian lalu kembali menemui Cristian. Dulu saat Cristian datang kerumah dia sangat senang sekali, sehari tidak melihat pria ini muncul dirumahnya serasa berhari-hari tidak melihatnya. Tapi sekarang, dia ada di hadapannyapun hatinya teringat pada Damian. Posisi Cristian benar-benar  telah tergeser oleh Damian.


Cristian menjalankan mobilnya menuju butik baju pengantin tempat mereka memesan baju pengantin dulu.


“Cuaca sangat panas, aku parkir agak diujung ya, dibawah pohon rindang itu,” kata Cristian, memarkir mobilnya di sebelah pojok dibawah pohon supaya tidak terlalu kena sinar matahari membuat mobilnya tidak terlihat jelas dari jalan raya.


Merekapun berjalan menuju pintu butik itu.


Mobil Damian meluncur di jalan raya yang tidak terlalu ramai kendaraan melewati pertokoan di jalanan itu. Damian yang duduk di depan dengan Satria yang menyetir, menoleh ke sebelah kiri.  Dia terkejut saat melihat sosok seperti Hanna memasuki pintu butik itu yang letak bangunannya lebih tinggi dari jalanan.


Damian tidak terlalu memperhatikan kalau butik itu khusus baju-baju pengantin saja. Diapun minta pada Satria untuk menghentikan mobilnya.


“Satria, berhenti dulu sebentar,” kata Damian.


“Ada apa?“tanya Satria.


Damian tidak menjawab. Dia merasa yakin yang dilihatnya itu adalah Hanna. Mumpung Hanna tidak sedang dirumah, dia akan menemuinya dan memberitahu Hanna kalau ibunya sudah ditemukan.


Satria menghentikan mobilnya. Damian menoleh pada ibunya.


“Bu, aku turun sebentar,” kata Damian.


Ibunya mengangguk meskipun tidak mengerti, karena Damain langsung turun dengan terburu-buru. Pria itu berlari memasuki gerbang butik itu karena Satria memarkir mobilnya di pinggir jalan tidak masuk ke parkiran butik.


Damian memasuki butik itu mencari-cari wanita yang mirip Hanna itu, dia yakin melihat Hanna masuk ke butik ini.


“Pak, ada yang bisa dibantu?” tanya seorang wanita menghampiri Damian.


“Aku mencari wanita yang berbaju biru,” jawab Damian.


“Wanita berbaju biru?” pelayan butik itu tampak mengerutkan keningnya.


“Nona itu bukan?” tanya wanita itu sambil menunjuk pada seseorang yang sedang melihat baju pengantin yang dipakai patung itu.


Damian menoleh kearah yang ditunjuk. Ternyata benar, Hanna sedang menyentuh baju yang dipatung itu.


“Hanna!” panggil Damian.


Hanna yang merasa mendengar Suara yang memanggilnya menoleh kearah suara, dilihatnya Damian sudah berdiri menatapnya. Senyum lebar langsung mengembang dibibirnya.


“Damian!” panggil Hanna, segera menaghampiri begitu juga dengan Damian.


Damian langsung memeluk Hanna, memeluknya dengan erat lalu mencium pipinya. Kemudian kedua tangannya memegang wajah Hanna.


“Aku senang bisa melihatmu, aku sedang lewat saat melihatmu masuk kesini, aku sangat rindu,” kata Damian, dia sangat senang bisa melihat Hanna lagi.


“Aku juga,” jawab Hanna, kedua tangannya balas menyentuh pipinya Damian.


“Aku ada kabar baik untukmu,” seru Damian dengan wajahnya yang sumringah.


“Kabar baik? Kabar baik apa?” tanya Hanna.


“Aku sudah bertemu dengan ibuku,” jawab Damian.


“Apa? Bertemu dengan ibumu? Kau serius?” tanya Hanna, terkejut bukan main.


“Iya, ibu sedang menunggu di mobil,” jawab Damian, kini kedua tangannya mamegang bahunya Hanna.


“Ibu sudah ditemukan, kita bisa segera menikah,” kata Damian.


Mendengar perkataan Damian, Hanna terdiam.


“Kenapa? Ayo aku perkenalkan pada ibuku,” ajak Damian, bersemangat.


Hanna masih terdiam menatap wajahnya Damian yang bersemangat.


“Ibu pasti senang mempunyai menantu seperti dirimu, meskipun kau kalau tidur sangat lama,” ucap Damian lagi. Diapun langsung terdiam saat melihat Hanna hanya diam saja.


“Kenapa kau diam saja? Kau tidak senang aku bertemu dengan ibuku? Aku baru bertemu tadi jadi aku juga belum sempat membicarakan tentangmu, tapi aku yakin ibu akan menyukaimu, ibu selalu menyukai apa yang aku suka,” kata Damian lagi.


“Tapi aku…” Hanna akan bicara tapi dipotong Damian.


“Aku apa? Sudah tidak usah malu, ayo aku ajak bertemu dengan ibuku,” seru Damian lagi, tangannya memegang tangan Hanna. Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan lagi yang memegang tangannya Hanna.


Damian menatap tangan itu, dia bisa menebak itu tangan seorang laki-laki. Diapun menoleh kesampingnya, dia sangat terkejut karena Cristian sudah berada didepannya.


“Sebaiknya kau tidak mengambil sesuatu yang bukan milikmu,” kata Cristian, sambil tangan kirinya melepaskan tangan Damian dari tangan Hanna.


“Kau bilang  bukan milikku? Apa kau tidak sadar kalau Hanna itu milikku?” bentak Damian dengan kesal.


“Apa kau sadar apa yang kau ucapkan?” tanya Cristian menatap tajam pada Damian.


“Kau lihat tempat apa ini?” tanya Cristian tangannya menunjuk-nunjuk pada baju baju pengantin yang dipakai patung-patung itu.


Damian menoleh kearah yang ditunjuk Cristian, membuatnya tersadar, tadi saking senangnya melihat Hanna dia tidak memperhatikan kalau butik yang dimasukinya adalah butik baju pengantin. Hatinya langsung kecewa seketika.


Damian menatap Hanna yang kini matanya sudah memerah berkaca-kaca.


“Kau akan melanjutkan pernikahanmu?” tanya Damian.


“Aku minta maaf,” jawab Hanna. Damian menatapnya penuh kekecewaan.


“Kau tetap akan menikah dengan pengantinmu itu?” tanya Damian lagi, menunjuk Cristian.


“Aku minta maaf,” ucap Hanna lagi, hanya itu kata yang bisa diucapkannya.


Airmata itu kini menetes di pipinya, dia sangat mencintai Damian, tapi apa yang bisa dilakukannya sekarang? Dia tidak mungkin mengecewakan orang tuanya untuk yang kedua kalinya.


Damian meraih tangan Hanna, menariknya menjauh dari Cristian lalu berhenti dipojok ruangan itu. Cristian hanya menatapnya dengan kesal, tapi dia tidak mengikutinya, dia memberikan waktu pada Damian untuk bicara dengan Hanna.


Damian menatap Hanna lekat-lekat, menatap matanya Hanna, mata yang sering ditatapnya.


“Kau menyerah?” tanya Damian.


“Aku minta maaf,”jawab Hanna.


“Selamat kau sudah bertemu dengan ibumu, kau sudah tidak perlu pelukanku lagi,” kata Hanna, balas menatap matanya Damian dengan pandangan berkaca-kaca.


“Mimpi lamaku mungkin akan hilang karena ibuku sudah kembali, tapi mimpi burukku yang baru akan datang kerena kini kau pergi dari hidupku,” kata Damian.


Dia tidak tahu apakah ini hari kebahagiaannya atau justru hari kesedihannya? Menemukan sesuatu yang lama hilang tapi sekarang hilang sesuatu yang baru.


“Aku bingung dengan semua ini, aku tidak bisa lagi lari dari pernikahanku,” kata Hanna. Kini airmata itu menetes dipipinya. Damian menghapusnya dengan jari-jarinya.


“Aku minta maaf,” ucap Hanna.


“Apa kau sudah membuka  kotak paket yang aku kirim?” tanya Damian.


“Kotak paket? Apakah ada isinya?” tanya Hanna terkejut, dia fikir itu cuma dus bekas saja.


“Kau fikir kotak itu tidak ada isinya? Kau benar-benar keterlaluan, kau fikir itu dus bekas mie instan?” gerutu Damian, membuat Hanna tertawa.


“Maaf aku fikir isinya kosong, karena tidak berat,” ucap Hanna, tertawa terpaksa dalam sedih. Damian hanya diam menatapnya.


“Aku rindu melihat tawamu, aku rindu melihat senyummu,” ucap Damian.


Hanna menghentikan tawanya, menatap mata yang sedang menatapnya itu.


“Meskipun kadang-kadang kau terlihat bodoh tapi aku merindukanmu,” kata Damian lagi.


“Damian, kau mengatai aku bodoh, aku tidak suka,” ucap Hanna, cemberut.


“Baiklah aku ganti, kau tukang tidur,” ucap Damian. Membuat Hanna tersenyum.


“Aku selalu merasa dibalik selimut yang meggulung itu adalah dirimu, ternyata bantal guling,” lanjut Damian, membuat Hanna tertawa lagi tapi kemudian airmata menetes lagi dipipinya. Dia juga rindu masa-masa itu, rindu masa-masa bersama Damian.


“Kalian bicara terlalu lama, aku tidak bisa menunggu,” tiba-tiba Cristian menghentikan pembicaraan mereka. Dia langsung berdiri mengahalangi Damian dan Hanna.


Dua pria itu saling tatap dengan tajam.


“Kemarin aku sudah memintamu untuk menjauhi Hanna, sekarang aku peringatkan lagi untuk yang kedua kali. Jangan harap aku akan mengatakannya untuk yang ketiga kalinya,” kata Cristian.


Hanna langsung menarik tangan Cristian supaya menjauh dari Damian, dia takut mereka berkelahi.


“Cristian, cukup!” seru Hanna.


Damian menatap tajam Cristian.


“Dengar, kau salah kalau berfikir Hanna adalah milikmu, yang sebenarya Hanna sudah jadi milikku, kau sudah terhapus dihatinya, sekarang posisimu sudah tergantikan olehku,” kata Damian dengan ketus, membuat Cristian terpancing emosinya.


“Menjauh dari pengantinku!” teriak Cristian.


Hanna buru-bru menghalangi keduanya. Teriakan Cristian membuat orang-orang yang ada di butik itu mengerumuni mereka.


“Cristian sudah!” teriak Hanna, lalu dia menarik tangan Cristian menjauh dari Damian, akhirnya Cristian mengikuti langkah Hanna masuk ke dalam butik. Hanna hanya menoleh kebelakang melihat sebentar pada Damian lalu melangkah bersama Cristian menghilang dibalik tembok.


Damian menatap kepergian Hanna dengan sedih. Hatinya hancur seketika, hancur berkepig-keping, rasa sakit kehilangan itu kembali muncul. Sekarang dia menemukan ibunya tapi dia juga kehilangan Hanna.


“Kakak ko lama?” gumam Satria.


“Kau susul saja, sebenarnya kakakmu mau mencari siapa?” tanya Ny.Sofia.


“Aku tidak tahu,” jawab Satria. Dia pun melepaskan sabuk pengamannya akan keluar menyusul Damian, tapi langkahnya terhenti saat ibunya Damian berbicara.


“Itu Damian datang,” kata Bu Sony. Dilihatnya sosok yang mirip mantan suaminya itu menghampiri mobil mereka, hanya saja sisi keibuannya bicara, putranya sedang marah, kecewa keluar dari butik itu, apa yang telah terjadi di dalam butik itu?


Brugh! Damian menutup pintu mobilnya tanpa bicara, Satriapun melanjutkan menjalankan mobilnya yang langsung meluncur meninggalkan butik.


Bu Sony sekilas melihat ada mobil terparkir dibawah pohon halaman butik itu, sekilas seperti mobilnya Cristian.


***********