Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-68 Jujur yang percuma



Hanna masih menatap pasir ditangannya. Apakah Damian benar-benar mengikutinya ke pantai? Apakah dia melihat dirinya bicara dengan Cristian? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya. Hanna kembali duduk di pinggir tempat tidur.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Sepertinya Damian sudah selesai mandi. Hanna masih duduk membelakangi kamar mandi. Terdengar suara lemari pakaian dibuka, mungkin Damian sedang berpakaiain.


Hanna hanya bisa menunduk menunggu hal buruk yang akan terjadi, dia tidak tahu apa yang akan Damian katakan padanya, apakah Damian akan marah?


“Bukankah kau ingin mengajakku ke pantai?” tanya Damian.


Hanna tidak bicara apa-apa. Apa maksud ucapan Damian itu?


“Ayo, nanti keburu siang,”kata Damian. Membuat Hanna menoleh ke arahnya. Pria itu sudah rapih berpakaian, berdiri menatapnya.


Hanna menebak-nebak apakah tadi Damian pergi ke pantai? Hari ini begitu banyak pertanyaan yang muncul.


“Aku sudah bicara pada Pak Indra, aku milikmu hari ini,” ucap Damian.


Hanna langsung tersenyum mendengarnya, kenapa kata-kata itu terdengar begitu romantis di telinganya?


“Hanya hari ini?” tanya Hanna.


“Ya cukup hari ini saja, memangnya kau mau berapa hari?” jawab Damian.


Hanna tidak menjawab, dia malah tertawa.


“Apa kau akan diam saja begitu? Tiap menit sangat berharga bagiku,” ucap Damian lagi, membuat Hanna cemberut.


“Ayo!” Damian mengulurkan tangannya, Hanna menerimanya, merekapun keluar dari kamar itu. Ternyata Satria ada di ruang tengah sedang makan sesuatu, sepertinya dia kelaparan setelah ke pantai tadi. Matanya menatap mereka.


“Kalian mau kemana?” tanya Satria.


“Kau tidak perlu tahu,” jawab Damian.


Satria langsung bermuka masam, Hanna menahan tawa melihat wajah Satria.


Hari ini yang kedua kalinya Hanna ke pantai. Mereka berdua berjalan dipantai yang berpasir.


“Sekarang sudah ada dipantai, kau mau apa?” tanya Damian.


“Tidak apa-apa, aku ingin kakiku kena air,”jawab Hanna, sambil melepas sandalnya. Kakinya melangkah semakin mendekati air. Damian mengambil sandal dari tangan Hanna lalu dipegangnya. Hanna menoleh pada pria itu dan tersenyum tapi Damian sama sekali tidak menoleh kearahnya, dia juga melepas sandalnya. Mereka berjalan di air tanpa alas kaki.


“Bolehkah aku memeluk tanganmu?” pinta Hanna. Damian mengulurkan sikunya, tanpa bicara apa-apa. Hanna langsung memeluknya. Bahagia rasanya bisa berjalan jalan berdua dengan Damian. Tidak perlu yang muluk-muluk berjalan-jalan ke luar negeri. Hanya berjalan-jalan dipantai ini saja asal dengan orang yang dicintai sudah cukup membuatnya bahagia.


Setelah berjalan jauh, tanpa ada yang mereka bicarakan,Hanna menghentikan langkahnya dan menatap Damian.


“Bukankah kau tadi pagi pergi ke pantai?” tanya Hanna. Pria itupun menghentikan langkahnya juga, balas menatap Hanna.


“Ada yang ingin kau ceritakan padaku?” tanya Damian. Mereka saling tatap.


“Ada yang kau tahu?” tanya Hanna.


“Apa ada sesuatu yang coba kau sembunyikan dariku?” tanya Damian lagi.


Tidak dirasanya air ombak semakin meninggi. Tiba-tiba sebuah ombak tinggi menerpa tubuh Hanna membuatnya langsung memeluk Damian menghindari ombak, pria itu dengan sigap menahan tubuhnya. Wajah Hannapun tidak luput dari cipratan air ombak. Hanna terkejut tapi rasa terkejutnya berubah jadi rasa yang tidak karuan, menyadari dia memeluk pria itu, wajahnya langsung memerah.


Damian mengusap air di wajah Hanna dengan lembut. Membuat Hanna semakin gugup dan salah tingkah, pria itu dari hari kehari semakin menunjukkan perhatiannya.


“Ada apa sebenarnya? Apa yang kau sembunyikan?” tanya  Damian, tanpa melepas pelukannya. Hanna menatap Damian.


“Berjanjilah kau tidak akan marah,” pinta Hanna.


Damian terdiam sebentar kemudian mengangguk. Tangannya kembali mengusap air diwajah Hanna yang turun dari rambutnya yang basah.


“Berjanji juga untuk tidak merubah sikapmu setelah kau mendengar apa yang akan aku katakan,” pinta Hanna lagi.


“Baiklah aku berjanji, jadi apa yang ingin kau katakan?” tanya Damian.


Hanna terdiam sebentar, mengumpulkan keberaniannya untuk bicara jujur pada Damian.


“Sebenarnya…” Hanna berhenti bicara.


Damian diam saja mendengarkan, dia masih menatap Hanna, ingin tahu apa yang akan dikatakan wanita itu.


“Sebenarnya Cristian adalah pengantin pria yang aku tinggalkan di pernikahanku,” ucap Hanna, dengan gugup dan hati yang cemas. Tapi ternyata Damian tidak bereaski apa-apa, membuat Hanna bingung, pria itu hanya diam.


“Kau tidak terkejut?” tanya Hanna.


“Tidak,” jawab Damian menggeleng.


“Ti tidak? Kenapa tidak?” tanya Hanna.


“Karena aku sudah tahu,” jawab Damian.


“Apa? Kau sudah tahu?” tanya Hanna, sangat terkeju.


Damian mengangguk. Dia melepas pelukannya dan kembali berjalan.


“Kau tahu darimana?” tanya Hanna mengikuti langkah Damian.


“Tahu saja,” jawab Damian masih berjalan.


“Sejak kapan?” tanya Hanna berteriak, karena ombak kembali tinggi mengeluarkan suara yang keras, kakinya terus menjajari langkah Damian.


“Sejak kapan kau tahu?” tanya Hanna lagi.


“Ah pokoknya tahu saja!” jawab Damian.


Hanna terdiam menghentikkan langkahnya. Dia penasaran sejak kapan Damian tahu semua itu. Dia mati-matian menutupi statusnya Cristian, ternyata Damian sudah tahu? Payah bener.


Hanna menoleh ke arah Damian ternyata pria itu sudah berjalan jauh, diapun berlari mengejarnya.


“Damiaaan! Kau harus menjelaskannya padaku!” teriak Hanna. Pria itu sama sekali tidak menoleh. Masih berjalan sambil menenteng sandal mereka.


“Damian!” teriak Hanna. Dia bingung padahal dia sudah berlari tapi kenapa tidak bisa mengejar langkah kaki pria itu? Cepat amat jalannya!


“Damian!” teriak Hanna lagi. Di menyerah mengejar pria itu, akhirnya dia duduk di pasir pantai, sebagian tubuhnya terendam air, sesekali ombak kecil menyentuh tubuhnya.


Pria itu benar-benar tidak menoleh lagi. Dibiarkannya pria itu semakin menjauh.


Hanna mengalihkan padangannya kearah ombak yang bergulung gulung, seakan belarian menghampirinya kemudian pergi lagi menjauh meninggalkan Ombak-ombak kecil yang menerpa kakinya.


Dia masih penasaran sejak kapan Damian tahu kalau Cristian pengantin laki-laki yang dia tinggalkan? Kalau dia tahu kenapa sikapnya biasa saja pada Cristian? Bukankah dia pada Satria saja sangat cemburuan? Sungguh aneh.


Hanna menekuk lututnya dan menelungkupkan wajahnya ke kakinya itu. Tiba-tiba dia merasa ada yang duduk disampingnya. Hannapun menegakkan kepalanya dan melihat ke sampingnya, ternyata Damian.  Apa dia tidak salah lihat?


Hanna memiringkann wajahnya menatap kearah samping ke kejauhan sana ke tempat tadi Damian berjalan jauh meninggalkannya, lalu menoleh pada wajah Damian, lalu memiringkan lagi wajahnya melihat ke kejauhan sana lalu melihat wajah Damian lagi.


“Kau kenapa?” tanya Damian tanpa menoleh.


“Bukankah kau tadi sudah jauh kearah sana? Kenapa sekarang ada disni?” tanya Hanna, dia menepuk nepuk tangan Damian yang ada di atas kedua lututnya yang ditekuk.


“Ini beneran kau?” tanya Hanna.


“Menurutmu siapa?” Damian balik bertanya.


“Iya, ternyata kau,” ucap Hanna menepuk nepuk tangan Damian.


“Kenapa kau tidak percaya?” tanya Damian.


“Aku tidak menyangka kalau kau akan kembali kesini,” jawab Hanna.


“Tentu saja aku akan kembali, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian,” ucap Damian, membuat hati Hanna berbunga-bunga. Diapun tersipu-sipu.


“Tidak perlu tersipu-sipu begitu, biasa saja,” kata Damian, membuat Hanna mencibir. Ih gitu amat sih Damian.


“Apa kau sudah bicara dengan Cristian?” tanya Damian, pandangannya masih menatap ombak-ombak.


“Sebenarnya aku hampir bicara tapi ibunya menelponnya,” kata Hanna.


“Bicaralah dengannya, mungkin dia menunggu jawaban darimu,” ucap Damian.


Hanna menatap wajah disampingnya itu. Kenapa semua diluar dari sanggkaannya? Dia fikir Damian akan marah dan bersikap aneh atau entahlah yang sejenisnya, tapi ternyata tidak, ternyata dia lebih dewasa dari yang dia bayangkan.


Hannapun tersenyum, dia tidak menyangka kalau selain suami yang baik Damian juga kekasih yang pengertian. Kekasih? Kekasihnya siapa? Apa dia kekasihnya Damian? Sejak kapan? Apa benar begitu? Lagi-lagi Hanna mencibir kata-kata yang muncul dalam hatinya.


“Kenapa?” tanya Damian, menoleh pada Hanna. Dia sudah menebak kalau wajah Hanna berubah-ubah begitu berarti dia sedang bicara dalam dirinya sendiri atau sedang memikirkan sesuatu.


“Kau tidak marah aku bicara dengan Cristian?” tanya Hanna.


“Tidak, bicaralah dengannya,” jawab Damian.


“Apa kau tau apa yang akan aku katakan jika aku bicara dengan Cristian?” tanya Hanna. Damian masih menatapnya.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi di masalalu kalian. Tapi bicaralah dengannya,” jawab Damian.


“Kau tidak takut aku kembali padanya?” tanya Hanna.


“Tidak,” jawab Damian menggeleng.


“Kenapa?” tanya Hanna, keheranan. Bukankah Damian waktu itu menyatakan cinta padanya saat dia tidur? Tapi kenapa Damian tidak takut kalau dia kembali pada Cristian? Jangan-jangan ungkapan cinta itu cuma mimpi saja? Iya sepertinya mimpi. Hanna mengeluh dalam hati.


“Karena aku tahu kau tidak akan kembali padanya,” jawab Damian.


“Kau yakin?” tanya Hanna, menatap Damian.


“Aku yakin,”jawab Damian, sangat yakin.


Hanna terdiam, tatapan mereka bertemu. Hanna menahan nafasnya, saat tatapan itu sama sekali tidak beralih menatapnya, dan wajahnya semakin mendekatinya.


Dug dug dug ada yang bertalu-talu di dalam dadanya. Dia benar-benar gugup dan tegang, apa Damian akan menciumnya? Sudah berapa kali pria itu berusaha menciumnya dan selalu gagal. Apakah sekarang akan berhasil?


Damian menatap wajah yang basah terkena air ombak tadi, bukankah wanita itu terlihat lebih sexi dan menggodanya? Dan dia benar-benar ingin menciumnya? Perlahan dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahnya Hanna, yang sama sekali tidak berkutik. Hanna sangat gugup tapi dia tidak bisa berpaling dari tatapannya. Kalau Damian berhasil menciumnya sekarang, berati itu ciuman pertamanya bersama Damian, biasanya apa yang dilakukan pada ciuman pertama? Apakah dia harus memejamkan matanya? Benar-benar membuatnya salah tingkah.


Wajah itu semakin dekat-semakin dekat. Jantung Hanna benar-benar berhenti berdetak, pria itu akan berhasil menciumnya kali ini, dia tidak sanggup menolaknya. Dia lihat dipantai itu tidak ada yang bermain volley pantai jadi tidak akan ada bola volley yang menghantamnya lagi. Mereka akan benar-benar berciuman kali ini. Ketika wajah itu semakin dekat dan akan  menciumnya,…


“Sandal.” ucap Hanna tiba-tiba. Dia melihat sesuatu di belakang Damian.


“Apa?” tanya Damian terkejut dan menghentikan gerakannya, padahal selangkah lagi dia berhasil mencium Hanna.


“Sandal kita terbawa arus!” jawab Hanna sambil bangun dan berlari mengejar sandal yang melayang layang diatas air.


“Sandaaal!” teriaknya, sambil berlari mengejar sandalnya. Dia berhasil mendapatkan satu sandalnya dan satu lagi sandal Damian.


“Damian! Bantu aku mengambil sandalnya! Semakin jauuuh!” teriak Hanna, kini sampai mengangkat roknya yang menggelembung terkena air.


Damian terbengong melihatnya. Hampir saja dia menciumnya, hampir saja.


“Damian!” panggil Hanna lagi, masih berusaha mendapatkan sandal itu.


“Hannaaa! Aku punya banyak uang untuk membeli sandal! Kenapa kau mengagalkan ciumanku?” batin Damian dengan kecewa. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain bangun dari duduknya, menyusul Hanna mengejar sandalnya.


****************


“Hacih! Hacih!” Hanna terus saja bersin. Dia duduk di tempat tidur sambil beselimut. Rambutnya masih terlihat basah meskipun sudah memakai pengering. Damian berdiri menatapnya.


“Kau terus saja bersin,” ucap Damian. Merasa kasihan melihat wanita itu terkena flu.


“Aku kena flu,” ucap Hanna. Hidungnya memerah. Di meja kecil disamping tempat tidur ada segelas air putih dan obat flu.


“Apa perlu ke dokter?” tanya Damian, masih berdiri memperhatikan Hanna.


“Tidak,” jawab Hanna menggeleng.


“Aku ada pekerjaan, tidak apa-apa aku tinggal?” tanya Damian.


“Kau akan pergi?” Hanna balik bertanya.


“Kau ingin aku tinggal disini?”tanya Damian.


“Tidak, pergilah, kau kan banyak pekerjaan,” ucap Hanna, menggelengkan kepalanya. Kemudian dia bersin-bersin lagi.


“Hacih! Hacih!”


“Sepertinya kau harus ke dokter,” ucap Damian.


“Tidak, tidak apa-apa, nanti juga sembuh,” jawab Hanna.


“Baiklah, aku pergi ya. Aku mau meninjau lokasi dengan Pak Indra dan juga Cristian,” jawab Damian.


“Cristian?” tanya Hanna.


“Iya,” jawab Damian, mengangguk.


“Kau tidak marah padanya?” tanya Hanna, ragu-ragu.


“Tidak,“ jawab Damian.


“Sikapmu tidak akan berubah pada Cristian?” tanya Hanna lagi.


“Kenapa berubah?” Damian mengerutkan keningnya.


“Karena dia pengantinku dulu?” tanya Hanna.


“Aku seorang yang professional Hanna, aku tidak suka melibatkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Kau tidak perlu khawatir, meskipun aku tahu dia pengantin priamu dulu, tidak masalah bagiku,” jawab Damian. Membuat Hanna merasa lega. Diapun tersenyum senang.


“Tapi aku akan marah jika dia mencoba mengambilmu dariku,” ucap Damian kemudian, membuat Hanna terkejut mendengarnya. Tapi tidak ada kata yang bisa dia ucapkan. Pria itu sudah berada dipintu, dan membukanya.


Damian menoleh padanya.


“Jangan menungguku pulang, kau tidur saja, mungkin aku agak lama dilapangan,” kata Damian.


“Aku akan menunggumu pulang, aku akan memelukmu supaya kau tidak mimpi buruk,” ucap Hanna.


“Tidak perlu,” jawab Damian.


“Apa? Tidak perlu? Kau tidak mau aku peluk lagi?” tanya Hanna, terkejut.


Kenapa Damian tidak mau dia peluk lagi? Apakah…apakah Damian tidak ingin dipeluknya lagi padahal dia masih mengigau dan bermimpi buurk? Kenapa dia merasa kecewa dengan perkataan Damian itu?


“Kau sedang flu, aku tidak mau kena flu lalu sakit dan tidak bisa bekerja, pekerjaanku banyak,” jawab Damian, membuat Hanna memberengut.


Damian tidak bicara lagi, dia keluar dan menutup pintunya.


Hanna tersenyum. “ Aku mencintaimu Damian,” batinnya.


“Aku tahu!” terdengar suara Damian setengah berteriak dari balik pintu.


“Apa?” Hanna terkejut, dia menutup mulutnya lalu dadanya. Bukankah dia mengatakan itu di dalam hatinya? Kenapa Damian bisa mendengarnya? Dia benar-benar bisa telepati, bisa mendengar apa yang dia ucapkan dalam hatinya. Jangan-jangan Damian sudah lama tahu kalau dia menyukainya? Sangat memalukan, batinnya. Kalau begini caranya, benar-benar tidak boleh berbohong pada Damian, bisa ketahuan. Pantas dia tahu soal Cristian padahal dia sudah mati-matian menutupinya.


Dibalik pintu, Damian menatap pintu keluar yang terbuka. Setengah badan Satria menyembul diundakan tangga rumah ,tangannya mengacung keatas menunjuk-nunjuk jam tangannya. Maksudnya supaya Damian cepat-cepat keluar, dia sudah menunggu dari tadi, pak Indra dan Cristian sudah dibawah menunggunya.


“Aku tahu,” teriak Damian pada Satria, bukan pada Hanna.


*****************