
Damian menatap pria tampan yang ada di depannya itu. Dia mengakui pria itu sangat tampan dan terlihat keren, pantas kalau Hanna menyukainya.
“Ada apa kau kemari?” tanya Damian, menatapnya tidak suka.
“Aku ada perlu dengan Hanna,” jawab Arya, sopan, berusaha ramah pada pemilik rumah.
“Perlu apa?” tanya Damian lagi, dengan ketus. Tangannya masih memegang pintu, dia sama sekali tidak berniat membuka pintu rumahnya buat arya.
“Aku…” Belum juga Arya menjawab, terdengar suara Hanna berseru, menghampiri mereka.
“Arya! Kau datang? Senangnya! Aku fikir kau tidak akan datang!” seru Hanna dengan wajah yang berseri-seri, membuat Damian illfeel melihat sikap genitnya, genit menurut persepsinya Damian.
Hanna muncul dari belakangnya Damian, langsung berburu menuju pintu. Tangannya langsung menepis tangan Damian yang masih memegang pintu.
“Ayo masuk Arya, ayo masuk. Aku fikir kau tidak akan benar-benar mencariku,” seru Hanna, sambil matanya mendelik pada Damian yang langsung bermuka masam. Hanna membuka pintu itu dengan lebar.
Hanna menoleh pada Damian.
“Cepat mandi, keringatmu bau asem,” ucap Hanna. Damian tampak semakin kesal dengan sikap Hanna.
“Ayo masuk, ayo masuk,” ajak Arya. Tangannya mempersilahkan masuk. Aryapun tersenyum dan langsung masuk.
“Duduklah. Apa kau mau kopi?” tanya Hanna, menatap Arya.
“Tidak, aku tidak akan lama, aku hanya mengantarkan lukisan ini saja,” jawab Arya. Mendengar perkataan Arya membuat hati Damian merasa lega, tapi itu hanya sementara karena ada suara lain yang membuatnya jengkel lagi.
“Tidak apa-apa lama juga! Aku senang kau datang!” seru Hanna, melirik pada Damian yang juga meliriknya. Dalam hati Hanna, syukurin kau juga mengabaikanku saat Maria atau Mario itu datang, kubalas kau.
“Apa? Tidak apa-apa lama juga, apaan?” gerutu Damian dalam hati, raut mukanya semakin masam.
“Tunggu sebentar ya,” ucap Hanna tersenyum ramah pada Arya.
Hanna menorong tubuh Damian supaya naik ke atas.
“Kau belum mandi, cepat mandi, keringatmu sangat bau,” kata Hanna, berbisik ke telinga Damian. Sambil terus mendorongnya menaiki tangga, Damian terpaksa menaiki tangga karena terus di dorong-dororng Hanna, sampai akhirnya sampai di kamar mereka.
“Dengar, jangan mengggangguku dengn Arya. Kau juga bersama Maria mesra mesra, aku tidak mengganggumu, sampai aku makan di kolam renang sendirian,huh!” keluh Hanna.
“Maria itu temanku,” jawab Damian.
“Arya juga temanku!” jawab Hanna.
“Tapi kau melanggar perjanjian,” kata Damian.
“Demi Arya, aku lebih baik melanggar perjanjian!” kata Hanna dengan tegas, membuat Damian membelalakkan matanya.
“Kau ini!” gerutunya.
“Cepat kau mandi! Bau!” ucap Hanna.
“Kau bilang aku bau, tapi kau memakai blazer ku semalaman, bahkan sekarang juga kau masih memakainya, itu blazer bekas aku pakai,” kata Damian, membuat Hanna terkejut, ternyata itu blazer bekas Damian pakai. Diapun membuka blazernya dan langsung diberikan apda Damian.
“Pantesan bau dan membuatku gatal-gatal,” gerutunya. Sambil membalikkan badan, kemudian berbalik lagi, kembali menatap Damian.
“Ingat jangan menggangguku dengan Arya,” kata Hanna, setelah itu cepat cepat pergi dari depan kamar mereka itu, terdengar langkahnya menuruni tangga. Damian hanya menatap blazer di tangannya. Akhirnya dia membuka pintu kamar dan menutupnya dengan kesal. Bruk! Suara pintu itu sangat keras. Sampai-sampai Arya yang ada diruangan bawah, menoleh ke atas ke arah suara, lalu pada Hanna yang turun dari tangga.
Wanita itu tersenyum padanya.
“Kau tunggu sebentar, aku buatkan kopi,” ucap Hanna, diapun segera menuju dapur. Tidak berapa lama Hanna kembali dengan dua cangkir kopi, yang kemudian disimpannya di atas meja di depan Arya satu gelas, dan buatnya satu gelas.
“Terimakasih,” ucap Arya.
“ Ya,” Hanna memangguk, sambil menatap wajah Arya yang tampan, kata siapa Damian tampan, kalau dibandingkan Arya, jauuuuh, batinnya sambil mencibir pada bayangan Damian yang muncul di kepalanya.
“Ini lukisannya,” kata Arya. Memberikan bingkisan itu. Hanna langsung menerimanya.
“Boleh aku buka?” tanya Hanna.
“Silahkan!” jawab Arya.
Hanna membuka pembungkus kertas itu, dilihatnya sebuah lukisan rumah yang ada di atas bukit kecil di tengah tengah pantai.
“Sangat indah,”gumam Hanna.
“Itu salah satu koleksi lukisanku,” kata Arya.
“Kenapa kau membeli lukisan dengan tema yang sama? Seperti yang kemarin itu?” tanya Hanna menatap Arya.
“Karena lukisan rumah di pantai itu menggambarkan sebuah keharmonisan, sebuah kehidupan yang damai,” jawab Arya.
“Kau benar. Aku sependapat denganmu!” jawab Hanna, wajahnya berseri-seri melihat lukisan indah itu.
“Jadi berapa harag lukisan ini?” tanya Hanna, kemudian.
“Aku kan sudah bilang, ini hadiah untukmu sebagai tanda perkenalan kita,” jawab Arya.
“Benarkah? Kau sangat baik sekali. Terimakasih Arya, pasti sangat mahal sekali,” ucap Hanna lagi.
“Dulu aku membelinya 250 juta,” jawab Arya, membuat Hanna terkejut, ternyata harga lukisan itu lebih mahal dari harga lukisan di gallery kemarin.
“Kenapa harga lukisan lukisan ini begitu mahal?” gumam Hanna.
“Karena memang kualitasnya juga bagus, kita membeli karya kreatifitas pelukis,” jawab Arya.
Hanna masih pusing memikirkan angka-angka untuk harga lukisan itu. Saat terdengar suara langkah seseorang menuruni tangga. Hannapun menoleh kearah tangga. Dilihatnya Damian sudah rapi dengan setelan jasnya. Pria itu terlihat tampan dan maskulin dengan pakaian seperti itu. Bukankah dia beruntung bisa selalu bersama pria tampan dan kaya seperti Damian? Ah tidak, tidak, pria itu menyebalkan, dia mengabaikannya saat bersama Maria atau Mario. Hanna menggeleng gelengkan kepalanya, menghapus segala bayangannya.
“Ayo kita berangkat,” kata Damian pada Hanna, setelah dekat ke meja mereka
Hanna menatap Damian, juga Arya.
“Kemana?” tanya Hanna.
“Ke hotel, aku ada meeting sebentar lagi,” kata Damian.
Damian menoleh pada Arya.
“Urusanmu sudah selesaikan? Aku akan keluar dengan istriku,” kata Damian. Hanna terkejut Damian lagi-lagi mengaku dia istrinya pada Arya.
“Bukan aku bukan istrinya!” potong Hanna sambil berdiri, membuat Arya kebingungan. Si pria menyebut istrinya, si wanita menyangkalnya, kenapa bisa begitu?
“Baiklah, aku juga hanya mengantar lukisan itu saja,” kata Arya, dia juga berdiri.
“Ya pergilah. Aku dan istriku akan berangkat sekarang,” kata Damian, sengaja menekankan kata istri.
“Bukan, aku bukan istrinya!” potong Hanna, sambil mendorong tubuh Damian supaya menjauh.
Meskipun masih kebingungan, Arya tetap tersenyum, mengangguk dan berjalan menuju pintu. Hanna segera mengikutinya. Saat Damian akan mengikuti kearah pintu, Hanna kembali mendorong tubuh Damian supaya menjauh. Kemudian buru-buru berlari mengejar Arya yang sudah sampai pintu.
“Jangan lupa menelponku! Nomormu terhapus dari handphoneku,” kata Hanna. Mendengarnya membuat Damian kesal. Arya hanya mengangguk dan tersenyum. Saat Hanna akan ikut keluar pintu, bermaksud mengantar Arya sampai ke mobilnya, tapi tiba-tiba pintu itu ditutup Damian, sampai Hanna menabrak pintu itu.
“Kau ini kenapa? Aku mau mengantar Arya sampai mobilnya,” kata Hanna.
“Apa tadi? Kau memintanya menelponmu, karena nomornya terhapus?” tanya Damian dengan kesal.
“Tentu saja, Arya berjanji akan mengajakku jalan-jalan ke tempat wisata di Bali,” jawab Hanna, samakin membuat Dmaian kesal.
“Tidak ada jalan-jalan. Kau sekarang ikut denganku dan harus selalu denganku!” ultimatum Damian.
“Kau ini kenapa? Kenapa aku harus selalu ikut denganmu? Pekerjaanku kan hanya memelukmu kalau kau mengigau saja,” protes Hanna.
“Mulai sekarang, perjanjiannya di revisi, kau harus ikut kemanapun aku pergi,” jawab Damian dengan tegas.
“Iiih apaaan sih, revisi melulu. Kau juga kenapa harus mengatakan aku istrimu pada Arya?” tanya Hanna, menatap Damian.
“Tentu saja, kau kan istriku,” jawab Damian.
“Istri buat teman temanmu, rekan bisnismu dan keluargamu. Bukan untuk Arya. Arya itu bukan temanmu, bukan rekan bisnismu dan juga bukan keluargamu,” kata Hanna.
“Pokoknya buat semua orang, kau istriku! Ayo cepat mandi! Tadi kau menyuruh nyuruhku mandi, kau juga belum mandi, sangat bau!” gerutu Damian, kini gantian dia yang mendorong bahu Hanna, supaya naik ke atas.
“Hiiih, kau mau menang sendiri, bikin aturan seenakmu saja,” gerutu Hanna.
“Ingat kau harus ikut kemanapun aku pergi! Cepat mandi! Kita berangkat! Aku ada rapat penting!” seru Damian, saat dilihatnya Hanna masih menggerutu sambil menaiki tangga. Hanna hanya bisa mencibir dan buru-buru menuju kamarnya.
Setelah mandi dan berpakaian sopan, Hanna mengikuti Damian menuju hotelnya.
Hotel itu sangat megah dan terlihat ramai, tampak beberapa mobil mengantri berhenti di teras Hotel.
“Katamu kau sedang mengevaluasi hotelmu, sepertinya hotelmu ramai,” kata Hanna, saat mobil Damian ikut juga mengatri berhenti di teras hotel.
“Mengevaluasi untuk melihat apakah kita perlu inovasi baru untuk meningkatkan kualitas hotel ini,” jawab damian dengan serius. Hanna menoleh ke arah pria itu. Diapun tersenyum. Pria itu kalau bicara tentang bisnis terlihat pintar dan menawan.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya damian.
“Tidak apa-apa,” jawab Hanna, menggeleng.
Kini mereka mendapat giliran berhenti di teras yang langsung disambut petugas hotel dengan ramah. Merekapun turun dari mobilnya. Damian memberikan kuncinya pada salah satu petugas hotel itu, yang akan membawa mobilnya di area parkir.
Seseorang berlari menghampiri Damian.
“Pak! Anda sudah ditunggu. Semua pemegang saham hotel ini sudah hadir,” kata pria itu, sambil menoleh pada Hanna dan tersenyum ramah.
“Baiklah,ayo,apa saja agendanya?” tanya Damian pada pria itu, sambil berjalan masuk ke hotel mengikuti Damian.
Di ruang tunggu di Lobby, tampak sudah ada beberapa orang eksekutif yang duduk bersantai sambil mengobrol.
“Pak Damian!” seru seseoang yang sangat Hanna kenal, pak Indra, dia langsung berdiri saat Damian datang. Begitu juga dengan pria pria yang duduk berkeliling itu, berdiri dan menoleh ke arah mereka. Ada salah satu yang sedang membaca koran, segera menutup korannya. Hanna menoleh kearah pria yang menutup koran itu dan dia terkejut. Cristian! Pria itu Cristian! Orang-orang yang akan meeting itu, para pemegang saham itu, salah satunya Cristian.
Hanna langsung membalikkan badan bersembunyi di guci besar yang terdapat pohon pohon berdaun kecil kecil. Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia harus pergi dari tempat ini sebelum Damian memperkenalkannya pada tamu-tamunya itu.
Dengan perlahan diapun berjinjit menjauh dari tempat itu.
Cristian menyimpan korannya di meja, berdiri besama dengan yang lain. Pak indra memperkenalkan mereka satu persatu pada Damian, karena ada beberapa perwakilan yang tidak Damian kenal.
“Ini Pak Cristian, dia mewakili PT Sinar Mega, putra Bapak Sony, beliau berhalangan hadir,” kata Pak Indra, memperkenalkan Cristian pada Damian.
“Cristian,” ucap Cristian, sambil mengulurkan tangannya pada Damian yang menerimanya dengan hangat.
“Damian!” balas Damian.
“Senang bertemu dengan anda kembali,” kata Cristian.
“Apakah kita pernah bertemu?” tanya Damian, dia juga merasa pernah mendengar nama Cristian tapi kan nama Cristian banyak.
“Saat resepsi, saya hadir,”jawab Cristian.
“Begitu? Maaf saya lupa saking banyaknya tamu,” kata Damian.
“Benar, tapi saat itu saya tidak sempat melihat istri anda,” ucap Cristian.
“Begitu ya? Maaf mungkin istri saya senag berganti costum. Tapi sekarang dia ikut bersama saya. Mari saya perkenalkan,” jawab Damian, diapun menoleh ke belakang akan memperkenalkan Hanna, tapi istrinya itu sudah tidak ada.
Pak Indra membisikan Sesuatu.
“Sepertinya saya melihat istri anda keluar,” bisik Pak Indra. Damianpun mengerutkan keningnya, kemana istri palsunya itu?
*****************************
Lanjut besok ya…. Mulai seru kan?
Jangan lupa like dan komen
Baca juga “ My Secretary” season 2(Love Story in London) Oke ?