Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-103 Restu dari Bu Vina



Pak Jodi menutup telponnya dan kembali keruang meeting yang sudah dipenuhi para undangan.


“Pak Jodi!“panggil seorang pria. Pak Jodi langsung menghampiri pria itu.


“Ada apa Pak Agung?” tanya Pak Jodi, sambil menoleh pada pria yang bersama Pak Agung dan seorang wanita.


“Pak Jodi! Perkenalkan ini Pak Henry, putranya Pak Damian, kebetulan Pak Damian sedang keluar kota jadi berhalangan hadir,” kata pria itu.


“Halo Pak Henry! Kau putranya Pak Damian? Kau terlihat sangat gagah seperti ayahmu! Putraku juga tidak beda jauh usianya denganmu!” kata Pak Jodi.


“Halo!” jawab Henry, menerima uluran tangannya Pak Jodi.


“Dan ini siapa? Istrimu? Kau yang menikah waktu itu kan? Maaf aku tidak bisa hadir waktu itu aku mendadak harus ke Luar negeri,” tanya Pak Jodi, menoleh pada wanita disampingnya Henry.


“Bukan,” jawab Henry.


Henry akan bicara lagi tapi wanita yang disampingnya mendahuluinya.


“Aku Andrea, Henry sudah bercerai dengan istrinya, aku calon istri barunya,” jawab Andrea, sambil tersenyum pada Pak Jodi.


Pak Jodi tampak terkejut lalu dia manggut-manggut, dia tidak menyangka Henry bercerai secepat itu dan sudah memiliki calon secepat itu juga.


“Calon istrimu sangat cantik, Pak Henry,” ucapnya sambil tersenyum.


Henry mendelik pada Andrea, dia tidak suka dengan jawabannya Andrea tapi gadis itu tidak peduli dengan protesnya, jadi Henry tidak bicara banyak. Dia juga tidak mungkin bertengkar dengan Andrea ditempat umum begini.


Bagaimana dia bisa menikah lagi, perceraiannya dengan Shezie baru sebulan lebih masa dia langsung menikah lagi?


“Silahkan duduk, acaranya akan segera dimulai, mungin agak sedikit mengelurur karena peserta yang lain ada yang belum datang terjebak macet,” kata Pak Agung.


Merekapun pergi menuju kursi-kursi yang sudah disediakan.


Sementara itu Shezie berada di kantornya dicafe pemberian dari Henry. Dia duduk bersandar sambil mengusap perutnya. Ingin sekali dia memberitahukan pada Henry kalau dia sedang hamil. Tapi dia bingung harus bagaimana? Kalau Henry tahu pasti dia tidak akan melepasnya, dan itu artinya dia akan kembali jadi istrinya Henry, terus bagaimana dengan ibunya? Apakah dia akan tega ibunya berhubungan lagi dengan pria yang sudah meninggalkannya?


Bagaimana dengan Hanna ibu mertuanya? Yang pastinya akan selalu merasa cemburu dengan kehadiran ibunya ditengah- tengah keluarga mereka, meskipun Ibu mertuanya sudah melamarnya lagi pasti itu sangat berat. Semua ini sungguh membuatnya bingung.


Terdengar ponselnya berbunyi, dilihatnya itu nomornya Martin. Meskipun malas, Shezie mengangkatnya juga.


“Halo sayang, apa kau sedang sibuk?” tanya Martin sok ramah.


“Ada apa kau menelponku? Aku sedang sibuk,” jawab Shezie.


“Ya aku tahu, aku minta maaf atas sikapku kemarin,” ucap Martin.


Shezie terdiam.


“Ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Martin.


“Soal apa?” tanya Shezie.


“Tentu saja soal pernikahan kita,” jawab Martin.


“Aku sudah mengambil keputusan, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita, aku tidak mau menggugurkan kandunganku,” ucap Shezie.


“Kau terlalu cepat mengambil keputusan, terburu-buru. Aku ingin mengajakmu makan malam, kita bicarakan ini lagi. Tolonglah jangan marah, pernikahan kita beberapa hari lagi,” ucap Martin.


Shezie kembali terdiam dan berfikir.


“Kita bicarakan saat maakan malam. Bagaimana? Tida enak lewat telpon,” ucap Martin.


“Baiklah,” kata Shezie, dia ingat dia harus menanyakan kenapa Martin berbohong soal biaya rumah sakit itu.


“Bagus kalau begitu. Tapi aku tidak bisa menjemputmu, aku sedang meeting di Hotel Berlin. Kau datang pukul 8, temui aku disana,” kata Martin.


“Apa? Hotel Berlin pukul 8? Itukan sudah terlalu malam untuk makan malam,” ucap Shezie.


“Sayang, mengertilah, aku sedang sibuk dengan pekerjaanku tapi harus menyiapkan acara pernikahan kita yang sebentar lagi, kita harus cepat memutuskan soal pernikahan ini. Tolonglah mengerti aku, aku sudah mengeluarkan biaya banyak untuk pernikahan kita,” ucap Martin.


Shezie kembali terdiam, waktu itu Martin mencoba berbuat tidak senonoh dengan membawanya ke hotel. Apa sekarang akan terjadi lagi? Tapi dia memang harus bicara dengan Martin. Dia harus membatalkan rencana pernikahannya dengan Martin.


“Kau kenapa? Kau keberatan? Percayalah aku tidak akan berbuat yang tidak-tidak, apalagi pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi, aku hanya sedang meeting saja,” kata Martin mencoba meyakinkan Shezie.


“Baiklah,” ucap Shezie akhirnya, dia memang harus bertemu dengan Martin mau tidak mau.


Martin tersenyum penuh kemenangan. Rencananya tidak boleh gagal, dia sudah menjual Shezie pada Pak Jodi dengan harga yang mahal. Shezie harus membayar semua yang telah dilakukannya padanya, apalagi kalau sampai  Shezie kembali pada Henry, tidak, dia tidak akan membiarkan itu terjadi.


Hari terasa begitu cepat berjalan, saat Shezie melihat jam di dinding ternyata sudah pukul 6 sore. Diapun bergegas untuk pulang kerumah. Dia ingat dia ada janji dengan Martin pukul 8. Pria itu memintanya untuk datang ke Hotel Berlin. Sheziepun bersiap-siap untuk pulang.


Saat sampai rumah, Bu Vina sudah menyambutnya dipintu sambil tersenyum.


“Sepertinya ibu terlihat sangat sehat,” ucap Shezie.


“Iya, ibu merasa tubuh ibu sangat bugar hari ini,” kata Bu Vina.


“Baiklah Bu, aku mau mandi dulu, aku ada janji dengan Martin pukul 8,” ucap Shezie, sambil masuk ke dalam rumah sedangkan Bu Vina menutup pintu rumah itu.


“Kau ada janji dengan Martin?” tanya Bu Vina.


“Iya, dia mengajakku makan malam,” jawab Shezie, sambil terus berjalan masuk kerumah menuju kamarnya.


“Kau baikan dengan Martin?” tanya Bu Vina.


“Tidak, hanya ada yang perlu kita putuskan,” jawab Shezie.


“Ada yang ingin ibu katakan,” ucap Bu Vina.


“Ibu..Ibu sudah membatalkan pernikahanmu dengan Martin,” ucap Bu Vina membuat Shezie terkejut.


“Maksud ibu apa?” tanya Shezie.


“Ibu sudah datang menemui ibunya Martin dan membatalkan pernikahanmu dengan Martin,” jawab Bu Vina.


“Bu…tapi Bu…” ucap Shezie, bingung harus bicara apa.


Bu Vina meraih tangannya Shezie.


“Ibu tidak mau kau menggugurkan kandunganmu. Kau mau kembali pada Henry atau tidak, kau tidak boleh menggugurkan kandunganmu,” ucap Bu Vina.


Shezie berjongok didepan ibunya.


“Ibu serius?” tanya Shezie.


“Iya,” jawab Bu Vina.


 “Ibu..aku senang ibu mengijinkanku melanjutkaan kehamilanku. Tapi aku janji tidak akan kembali pada Henry, aku akan mengurus bayiku sendiri,” ucap Shezie.


Bu Vina terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka Shezie akan mengambil keputusan itu.


“Kau ingin membesarkan bayimu sendiri?” tanya Bu Vina.


“Iya Bu, Ibu sudah mengijinkan aku melanjutkan kehamilanku saja aku sudah sangat senang. Aku akan focus mengurus bayiku. Aku tidak mungkin membiarkan ibu tersakiti dengan berbesan dengan pria yang sudah menyakiti Ibu. Aku sadar pernikahanku dengan Henry akan membuat kekacauan di keluarga kita dan keluarganya Henry, jadi akau akan focus mengurus bayiku sendiri,” jawab Shezie.


Bu Vina terdiam, tidak ada kata yang bisa terucap dari bibirnya. Shezie rela menderita demi kebahagiaannya. Rasa egonya sudah menutup matanya untuk melihat betapa putrinya itu sangat menyayanginya.


Shezie bangun dari jongkoknya, beranjak meninggalkan ibunya akan masuk ke kamarnya tapi Bu Vina memanggilnya.


“Sayang!” panggil Bu Vina, membuat Shezie membalikkan badannya kembali menatap ibunya.


Bu Vina memajukan kursi rodanya lebih dekat pada Shezie. Ditatapnya mata putrinya itu.


“Apa kau ingin kembali pada Henry?” tanya Bu Vina.


“Tidak Bu, aku sudah memutuskan akan membesarkan bayiku sendiri,” jawab Shezie.


“Tidak sayang, kalau kau ingin kembali pada Henry, ibu mengijinkan, kembalilah,” ucap ibunya, membuat Shezie terkejut.


“Tidak Bu, itu tidak mungkin, aku tidak mungkin membiarkan ibu menderita dengan pernikahanku, aku menyayangi ibu,” kata Shezie, menggelengkan kepalanya.


Mendengar perkataan putrinya, Bu Vina merasakan rasa bersalah yang amat sangat. Demi kebahagiaannya putrinya mengorbankan kebahagiaannya sendiri, kenapa dia begitu sangat egois selama ini? Bahkan Shezie rela membesarkan anaknya sendiri tanpa ada suami yang mendampinginya.


Bu Vina kembali meraih tangan Shezie.


“Sayang, Ibu minta maaf, Ibu benar-benar minta maaf,” ucap Bu Vina, menatap putrinya dengan linangan airmata.


“Sudahlah Bu, tidak perlu minta maaf, aku rela melakukan semuanya, aku ingin Ibu bahagia,” ujar Shezie.


Bu Vina menunduk dan airmata itu berjatuhan kepangkuannya. Betapa sangat egoisnya dia pada putrinya yang begitu menyayanginya.


“Ibu minta maaf,” ucap Bu Vina lagi, kembali menengadah menatap Shezie.


“Ibu… Ibu mengijinkan kau kembali pada Henry,” lanujt Bu Vina dengan suara serak.


“Ibu, apa yang ibu katakan? Ibu benar-benar menginijnkan aku kembali pada Henry?” tanya Shezie, tidak percaya. Diapun kembali berjongkok menatap wajah ibunya.


“Iya,” jawab Bu Vina, mengangguk.


“Tapi Bu,” Shezie tampak bingung.


“Membesarkan anak seorang diri itu sangat sulit. Ibu merasakan beratnya hidup sendiri membesarkanmu, Ibu tidak mau kau mengalami seperti Ibu. Hidup sendiri dalam kesepian, Ibu tidak mau kau mengalaminya,” ucap Ibunya.


“Tapi Bu…”


“Ibu sudah membatalkan pernikahanmu dengan Martin, kau bisa kembali pada Henry. Berkumpulah dengan suami dan bayimu,” ucap Bu Vina, kini airmata kembali menetes dipipinya.


“Apa ibu serius? Aku tidak ingin menyakiti Ibu,”ujar Shezie.


“Iya sayang, Ibu tahu kau sangat menyayangi Ibu, Ibu hanya terlalu egois tidak memikirkan perasaanmu, Ibu egois hanya memikirkan kebahagiaan ibu sendiri, Ibu minta maaf,” ucap Bu Vina, tangannya menyentuh wajahnya Shezie. Dilihatnya mata putrinyapun sudah memerah menahan tangis.


Shezie balas menatap ibunya lekat-lekat. Dari kelopak matanya tetesan airmata itu tumpah. Dia tahu itu adalah keputusan terberat yang ibunya lakukan untuknya.


“Bu, aku menyayangi Ibu,” ucapnya sambil memeluk Ibunya dengan erat. Tetes airmata itu semakin deras menyentuh pipinya.


Setelah cukup lama mereka menangis sambil perpelukan, Shezie melepaskan pelukannya.


“Sekarang aku harus menemui Martin, aku harus menyelesaikan semuanya Bu,” ucap Shezie.


Bu Vina mengangguk.


“Pergilah!” ucapnya.


Sheziepun bangun dari jongkoknya.


“Ibu mau istirahat? Aku antar ke kamar,” ucapnya yang diangguki ibunya. Sheziepun mendorong kursi roda itu masuk ke kamar Ibunya.


Setelah memastikan Ibunya beristirahat, Shezie kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke Hotel Berlin.


*******