Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-17 Usai acara pernikahan



Acara pernikahan telah usai, pengantin dan seluruh kerabat sudah pulang meninggalkan gedung pernikahan itu. Hari telah larut karena banyaknya relasi yang dadakan mengetahui pernikahan putranya Damian, membuat acara dilanjut sampai malam.


Shezie yang pulang satu mobil dengan Henry, tampak sudah menguap beberapakali, dia terlihat mengantuk.


“Kau pasti lelah, beristirahatlah, Henry akan mengantarmu ke kamarnya,” kata Hanna, sambil mengusap bahunya Shezie saat mereka tiba di rumah. Gadis itu hanya mengangguk, matanya sudah 5 watt, dia benar-benar lelah dan mengantuk.


Raut muka Henry langsung berubah mendengar perkataan ibunya, malam ini dia harus satu kamar dengan Shezie. Dia benar-benar tidak menyukainya, tapi dia tidak mungkin menolaknya.


Henry menoleh pada Shezie yang sepertinya sudah tidak kuat menahan kantuk. Gadis itu tidak bicara apa-apa.


“Ayo!” ajak Henry, berjalan duluan diikuti oleh Shezie.


Hanna memperhatikan mereka lalu menoleh pada suaminya.


“Apa lagi?” tanya Damian.


“Mereka terlihat aneh,” jawab Hanna, mengerutkan keningnya, melihat Henry dan Shezie menaiki tangga.


“Aneh apanya?” tanya Damian.


“Aneh, mereka tidak mesra!” jawab Hanna, membuat Damian menatapnya.


“Memangnya harus bagaimana?” tanya Damian.


“Seharusnya Henry menggandengnya, masa baru menikah jauh jauhan begitu, apa mereka sedang bertengkar?” kata Hanna, tampak kebingungan.


“Kau ini banyak berfikir yang aneh-aneh, mungkin mereka hanya lelah,” jawab Damian, lalu masuk kedalam rumah diikuti Hanna yang masih memikirkan sikapnya Henry dan Shezie.


Henry membawa Shezie ke kamarnya, membuka pintu kamarnya, lalu menoleh pada Shezie.


“Masuklah!” ucap Henry.


Shezie melangkahkan kakinya masuk melewati tubuh Henry, saat melihat kamar yang sudah dihias cantik itu matanya yang tadi sudah 5 watt mendadak tebelalak takjub.


“Wah, apa ini kamar pengantin kita? Indah sekali! Banyak bunga-bunga segar juga!” serunya, melihat ke sekeliling.


“Tidak ada pengantin kita! Kita bukan pengantin!” kata Henry.


Shezie mendelik pada Henry tapi kemudian melangkah lagi menyentuh bunga segar yang ada di sudut tempat tidur.


“Majikanmu benar-benar baik, kau juga diberi kamar utama, kamarnya sangat luas,” ujar Shezie. Sekarang dia mencium bunga yang ada di pas diatas meja kecil.


Henry tidak menjawab, tidak memikirkan pendapat Shezie, selalu membiarkan Shezie salah faham, diapun menutup pintu kamarnya. Saat membalikkan badannya ternyata Shezie sedang duduk dipinggir tempat tidur.


“Tempat tidurmu juga sangat empuk. Pasti kau tidur nyenyak setiap hari,” ucapnya, sambil menepuk-nepuk kasurnya.


Henry berdiri di depan Shezie menatapnya lekat-lekat pengantin itu.


“Kau tidak lupa kan, tugasmu besok?” tanya Henry.


“Tentu saja, kau jangan khawatir,” jawab Shezie, masih menepuk-nepuk kasurnya.


“Aku harap kau bertindak dengan cerdas dan tidak menimbulkan masalah, aku sudah membayarmu sangat mahal!” kata Henry, melipat kedua tangan di dadanya.


Kini Shezie yang menatap Henry.


“Masih kurang!” ujar Shezie.


“Kurang? Yang benar saja! 100 juta itu besar, kau cuma jadi pengantin sehari saja!” kata Henry dengan kesal.


“Tapi tidak dengan menciumku di depan orang! Tidak ada perjanjian kau akan menciumku segala!” kata Shezie, langsung memberengut.


Henry terdiam mendengarnya.


“Aku minta maaf, aku juga tidak tahu kalau ada acara seperti itu, tidak terfikirkan olehku!” ucap Henry.


“Minta maaf sih gampang, tapi bibirku ini, nih! Itu ciuman pertamaku, seharusnya aku berciuman dengan kekasihku bukannya kamu,” keluh Shezie, sambil memonyongkan bibirnya yang disentuh jarinya.


Henry jadi menatap bibir merah yang diciumnya tadi.


“Ralat! Bukan berciuman, aku hanya menempelkan bibirku saja, mengecupmu sedikit!” kilah Henry.


“Tetap saja itu namanya kau menciumku, itu ciuman pertamaku, belum ada pria yang menciumku, kau merusaknya, kau merusak masa depanku!” keluh Shezie, bibirnya memberengut kesal.


“Huh, hanya sebuah ciuman kau bilang masa depan.” Henry juga mengeluh karena sikap Shezie yang berlebihan. Tapi dalam hati dia berfikir jadi itu ciuman pertamanya Shezie?


“Aku kan sudah minta maaf tadi. Tapi aku kan sudah membayarmu untuk paket komplit jadi pengantin, ya kalau ternyata diacara itu ada bagian mencium ya aku tidak salah,” kata Henry.


“Paket komplit apa maksudmu? Kita tidak membahas ini sebelumnya, aku keberatan kalau ternyata ada cium mencium segala, aku merasa dirugikan,” Shezie masih memberengut.


“Sudah aku katakan itu diluar rencana, aku minta maaf. Jangan kau fikir aku juga menyukainya, buat apa aku menciummu yang bukan siapa-siapaku, aku juga dirugikan,” kata Henry, padahal dalam hati dia bertanya apa benar dia tidak menyukainya? Bibir gadis itu masih terasa lembut di bibirnya.


“Baiklah dengan berat hati aku akan memaafkamu tapi aku ada permintaan!” ujar Shezie, menatap Henry.


Shezie bangun dari duduknya, kedua tangannya merentangkan gaun pengantinnya.


“Gaun ini boleh aku minta? Ini bukan beli kan? Ini gaun dari majikanmu untukku kan?” tanya Shezie.


Henry menatap gaun pengantin itu. Gaun pengantin yang ini bukanlah gaun pengantin yang pertama dipakai, gaun ini lebih simple tidak memiliki ekor terlalu panjang tapi masih bertabur beberapa mutiara meskipun tidak sebanyak gaun yang pertama.


Gaun yang dipakai Shezie sekarang bertabur mutiara dibagian dada saja yang ditempel lebih rapat. Tapi mutiara mutiara itu masih berharga lumayan tinggi kalau dijual karena jumlahnya lumayan banyak ditambah tebaran mutiara di beberapa bagian gaun.


“Tadinya aku ingin gaun yang pertama, tapi kan aku sudah ganti gaun jadi gaun yang ada  padaku saja,” kata Shezie, dalam benaknya dia menghitung kira-kira ada berapa mutiara yang ada di baju itu.


“Buat apa kau minta gaun? Tidak ada perjanjian gaun pengantin jadi milikmu,” tanya Henry, mengerutkan keningnya.


“Mmm tidak apa-apa, aku hanya suka saja, untuk kenang-kenangan.” jawan Shezie, berbohong.


“Bohong! Aku tidak percaya!” kata Henry, masih mnetap Shezie yang kini cengengesan.


“Hem aku tahu, karena gaunnya ada mutiaranya kan? Kau akan menjualnya! Tidak! Mutiara itu sangat mahal! Kau tidak boleh membawanya! 100 juta sudah cukup,” ucap Henry, membuat Shezie cemberut.


“Yah, cuma satu ini saja, mutiara juga tidak banyak, hanya beebrapa biji saja,” elak Shezie. Tangannya menghitung mutiara-mutiara yang menempel dibagian dadanya.


“Tidak, tidak, aku sudah membayarmu mahal, masa harus ditambah lagi dengan memberimu gaun bermutiara, lepaskan bajumu!” kata Henry, berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya, akan menyentuh gaunnya Shezie.


“Tidak mau!” tolak Shezie, mundur ke belakang menghindari tangannya Henry.


“Lepas! Kataku lepas, lepas! Kau tidak boleh membawa baju itu!” ucap Henry.


“Ih kau sangat pelit! Mutiaranya kan sudah menempel dibaju!” kata Shezie sambil menepis tangannya Henry.


“Mutiara itu kalau dijual harganya puluhan juta, kau sudah aku bayar mahal, kalau kau bawa baju itu namanya kemahalan!” keluh Henry.


“Kenapa? Pasti gaunnya mau kau jual! Atau mutiaranya mau kau copot dan kau jual juga kan? Untuk kau tabung lagi karena uangmu habis dipakai membayarku!” kata Shezie.


“Buat apa aku menjual gaun bekas itu? Kurang kerjaan!” ucap Henry.


“Ya kalau begitu buatku saja, kau kan bisa minta gaun yang pertama aku pakai, itu mutiaranya lebih banyak,” kata Shezie.


“Tidak, tidak, tidak , pokoknya aku tidak mau memberikan tambahan uang apa-apa agi! Cepat lepas bajumu!” seru Henry.


“Kau serius menyuruhku melepas baju ini?” tanya Shezie, masih menatap Henry.


“Tentu sja, untuk apa aku main-main?” tanya Henry dengan kesal.


“Alasan saja! Bilang saja kau ingin melihat tubuhku! Dasar pria hidung belang!” umpat Shezie.


“Apa maksudmu? Buat apa aku melihat tubuhmu? Biakin sakit mata!” keluh Henry.


“Ngeles saja, kalau aku tidak memakai gaun ini terus aku pakai apa? Telanjang? Huh Modus! Kau memang sengaja ingin melihat tubuhku! Pria yang sangat mesum!” keluh Shezie.


“A, apa? Aku bukan pria mesum!” Henry terkejut, dikatai pria mesum.


“Dimana bajumu?” tanya Henry.


“Di kamar rias tadi,” jawab Shezie.


“Ambil sana! Ganti baju! Awas  kalau kau membawa gaun pengantin itu! Aku akan mengejarmu!” kata Henry.


“Ya ya ya! Aku tidak akan membawa gaun pengantin ini!” jawab Shezie, diapun menganggkat sedikit


gaunnya, melangkah keluar dari kamarnya Henry sambil bibirnya terus menggerutu.


Brugh! Pintu ditutup dengan keras.


Henry menatap kepergian Shezie, dia kesal pada Shezie, sudah bayarannya mahal, masih juga minta baju pengantin yang harganya puluhan juta, benar-benar materialistis, keluhnya.


Shezie masuk ke dalam kamar tamu di lantai bawah tempat dia tadi dirias. Dilihatnya sekeliling rumah itu yang begitu megah. Rumah yang sangat besar. Dia jadi teringat apakah majikan Henry tidak punya anak? Atau mungkin sedang ada diluar negeri? Atau memang tidak punya anak jadi sangat menyayangi Henry?


Shezie masuk kedalam kamar itu, dilihatnya tas gendongnya yang menggantung. Dia tidak membawa baju banyak karena rencananya dia juga hanya menginap satu hari.


Dia bejalan menuju meja rias menatap dirinya di cermin, menatap gaun cantik yang ada ditubuhnya. Disentuhnya mutiara –mutiara itu. Kalau tidak berfikir lumayan untuk nambah-namah uang pengobatan ibunya tidak akan dia juga minta gaun ini pada Henry.


Majikannya Henry benar-benar kaya, satu baju saja harganya pasti puluhan juta. Dia untuk dapat 5 juta saja harus dicaci maki dulu bahkan mendapat tamparan juga, itupun tidak setiap hari ada yang memakai jasanya, hanya kalau ada yang membutuhkannya saja.


 Apalagi kalau dibanding bekerja di café gajian sebulan sekali belum potongan kalau dia ijin karena harus jadi selingkuhan orang. Sedangkan biaya untuk ibunya control saja sudah menguras uangnya. Shezie menghela nafas panjang, dia selalu sedih kalau mengingat ibunya yang sakit keras.


Shezie melihat bayangan tempat tidur yang ada di cermin, diapun membalikkan badannya dan berjalan menuju tempat tidur itu, tidur terlentang. Kasur itu juga terasa begitu empuk. Dia melamun masih melihat langit-langit. Dia masih ingat acara perniakahan itu, rasanya tidak mungkin dia akan merasakan pernikahan yang mewah seperti itu.


Untuk menikah dengan siapa saja dia tidak tahu, yang pasti tidak akan ada pria kaya yang mau menikahinya dengan tulus, kalaupun ada pasti keberatan dengan kondisi ibunya yang akan membebaninya.


Ada juga Martin, Shezie tidak yakin Martin akan selalu mau direpotkan oleh ibunya jika sudah menikah nanti, sekarang saja memberi tawaran ini itu hanya untuk membuatnya mau dinikahi. Lagi-lagi Shezie menghela nafas panjang. Karena banyak yang difikirikannya, kantukpun kembali menyerang, dia mulai menguap dan lambat laun diapun tertidur dikamar itu masih menggunakan gaun pengantinnya.


***********