Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-98 Aku adalah Putrinya Pak Louis



Malam ini terasa sangat begitu indah buat Hanna, hampir setiap saat Hanna melihat cincin lamaran dari Damian, sambil tersenyum bahagia. Kadang diam-diam memperhatikan pria itu yang begitu sampai di rumah sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya.


Sekarang Damian bekerja dengan laptopnya sambil berselonjor di sofa, dengan televisi yang menyala.


Hanna duduk ditempat tidur dengan selimut menggulung tubuhnya.


“Apa kau tidak ada pekerjaan selain memandangku seperti itu?” tanya Damian, dengan kepalanya yang menunduk melihat laptopnya.


“Kau kan sedang bekerja, bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang memperhatikanmu?” tanya Hanna.


“Aku tahu karena itu sudah jadi pekerjaan sampinganmu,”ucap Damian, membuat Hanna mencibir.


“Damian!” Panggil Hanna.


“Ya,” jawab Damian.


“Apakah sekarang aku boleh memanggilmu sayang? Kau kan kemarin memanggilku sayang,” tanya Hanna.


“Hemm ya boleh,” jawab Damian masih sibuk dengan laptopnya.


“Sayang!” panggil Hanna, dengan kaku baru sekarang dia memanggil Damian sayang.


“Ya, ada apa sayang?” tanya Damian. Hanna langsung saja tertawa mendengarnya, membuat Damian menatapnya.


“Ada apa? Kenapa kau tertawa?” tanya Damian.


“Ahh tidak apa-apa, lucu saja kau memanggilku sayang,” jawab Hanna.


Damian kembali sibuk mengetik, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hanna membuka selimutnya, dia turun dari tempat tidur, berjalan menghampiri Damian, lalu menggeser sofa bulat ke dekat kaki Damian yang bereselonjor diapun duduk di sofa bulat itu sambil menatap pria itu.


“Ada apa?” tanya Damian.


Hanna berfikir sejenak, dia ingin membawa Damian melamarnya kepada ayahnya, tapi dia bingung harus bicara apa. Dia takut disangka kebelet mau menikah.


“Kenapa kau diam?” tanya Damian, menghentikan pekerjaannya, menatap Hanna.


“Mmm,” Hanna menatap Damian, pria itu semakin penasaran saja.


“Kau kan sudah melamarku,” kata Hanna pada Damian.


“He em iya, kenapa?” tanya Damian.


“Apakah kita akan cepat-cepat menikah?” tanya Hanna.


Damian menatap mata yang juga menatapnya.


“Kau ingin kita cepat-cepat menikah?” tanya Damian.


“Mm bukan, bukan itu maksudku,” Hanna kebingungan, dia mencoba mencari kata-kata yang enak untuk Damian.


Hanna berdiri menggeserkan sofa bulat itu kearah sampingnya Damian, membuat pria itu keheranan. Setelah ada di samping Damian, Hanna duduk disitu searah dengan Damian.


Damian melirik Hanna yang sekarang duduk disampingnya dengan sofa bulatnya itu.


“Kau dekat-dekat denganku, membuat konsentrasiku hilang,” ucap Damian, menempelkan kepalanya ke kepala Hanna. Hanna hanya tertawa mendengarnya.


“Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan? Kau membuatku penasaran saja,” kata Damian.


Hanna menoleh pada Damian.


“Apa kau berencana menikahiku secepatnya?” tanya Hanna.


Damian kembali menatapnya.


“Sebenarnya aku ingin menikahimu secepatnya, tapi aku juga ingin ibuku ditemukan dan ibuku bisa menyaksikan pernikahan kita,” jawab Damian.


“Masalahnya, kau juga butuh restu dari orangtuaku,” kata hanna.


“Tentu saja, aku akan datang kepada orangtuamu, jangan khawatir,” ucap Damian, sambil mencium kening Hanna. Yang dia cium hanya diam saja dan masih menatapnya.


“Kau sungguh aneh, ada apa lagi? Aku sudah berjanji padamu aku akan melamarmu pada orangtuamu, tapi..tolong bersabar dulu sedikit lagi, aku sangat sibuk sekarang, nanti kita cari waktu yang tepat untuk bertemu orangtuamu,” ucap Damian, sambil tangan kanannya mengusap pipinya hanna.


“Bukan itu masalahnya,” kata hanna.


“Bukan? Apa masalahnya?” tanya Damian keheranan.


Hanna bingung mengatakannya.


“Aku, aku sebenarnya aku..” Hanna akan bicara dia adalah putrinya Pak Louis, tapi saat matanya melihat kearah laptop, dia terdiam, bibirnya terasa kelu. Di layar terpampang gapura ‘Hanna grand Lakeside’.


Apa yang terjadi jika dia mengatakan kalau dia Putrinya pak Louis dan ayahnya tahu soal hubunganya dengan Damian? Sedangkan ayahnya tahunya Damiain sudah menikah, dan bagaimana kalau kebohongan pernikahan ini terbongkar? Bagaimana ini? Jika hubungan Damian dengan ayahnya memburuk dan ayahnya menolak bekerjasama dengan Damian, apa yang terjadi dengan ‘Hanna Grand Lakeside’?


Impian Damian akan hancur, real estate atas namanya tidak akan pernah berdiri, hanya gapuranya saja yang akan menjadi kenangan. Dan mungkin saja ayahnya tidak akan merestui mereka karena kebohongan yang pernah mereka lakukan selama ini. Dan kalau itu terjadi, ayahnya pasti memaksanya menikah dengan Cristian.


“Kenapa? Katakan padaku, sayang,” ucap Damian, tangannya memeluk pinggang Hanna supaya mendekat padanya.


Hanna tidak menjawab, dia hanya melingkarkan tangannya,memeluk Damian.


Dia ingin mengatakan kalau dia putrinya Pak Louis, tapi bagaimana dengan dampaknya yang pasti akan sangat buruk, dia tidak sanggup membayangkannya.


“Kau sangat aneh, mungkin kau lelah, sebaiknya kau tidur saja,” kata Damian.


Hanna terdiam.


“Kau terlalu banyak fikiran, sayang. Kau jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, kau harus percaya padaku, kita akan menikah, kau bersabarlah sedikit ya,” ucap Damian kini mencium kepalanya Hanna yang bersandar didadanya.


Hanna mengangkat kepalanya menatap wajah pria itu.


“Aku mencintaimu,” ucap Hanna.


“Aku juga,” jawab Damian. Hanna kembali menyandarkan kepalanya, tapi matanya tertuju pada background di laptop, gapura ‘Hanna Grand Lakeside’ itu.


Tangan kanan Damian memeluknya, sedangkan tangan kirinya mengetik-ngetik sebisanya. Padahal sambil memeluk Hanna membuatnya kesulitan bekerja, tapi pria itu tidak melepaskan pelukannya, sampai akhirnya Hanna tertidur dipelukannya Damian.


Tahu-tahu hari sudah pagi saat Hanna membukakan matanya. Dia tampak kebingungan, kenapa sekarang ada di tempat tidur? Sepertinya Damian memindahkannya semalam.


Belum juga ingatannya berkumpul, Damian sudah duduk dipinggir tempat tidur, seperti biasa dia sudah rapih akan berangkat bekerja.


“Maaf aku selalu bangun terlambat,” ucap Hanna.


Damian tersenyum padanya.


“Tidak apa-apa, asal aku bangun kau ada disisiku aku senang,”kata Damian, membuat hati Hanna terasa tersayat-sayat, dia semakian tidak tega menyakitinya, dia semakin takut jujur pada Damian, dia takut kejujurannya akan menyakiti pria itu.


“Aku masih memikirkan perkataanmu semalam,” kata Damian.


“Perkataan yang mana?” tanya Hanna.


“Itu tentang masalah jika bertemu dengan orangtuamu, maksudmu masalah apa? Kau takut harus menikah lagi dengan Cristian?” tanya Damian.


“Ya maksudku seperti itu,” ucap Hanna.


“Kau jangan khawatir, kau harus percaya padaku, aku akan meyakinkan orangtuamu supaya bisa memberi restu pada kita,” kata Damian.


Hanna bangun dari tidurnya dan duduk sambil menatap Damian.


“Damian, apa kau tahu kalau pak Louis itu memiliki putri?” tanya Hanna.


“Aku lupa , dalam bekerja aku tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang berbau pribadi,” jawab Damian.


“Dan putrinya pak Louis itu hilang,” kata Hanna.


“Aku mendengar dari Cristian,” jawab Hanna, baru bicara sampai disitu saja, jantungnya berdebar kencang.


“Dan menurut Cristian, putrinya seumuran denganku,” lanjut Hanna.


“Memangnya kenapa kalau seumuran denganmu?” tanya Damian.


“Ya aku membayangkan saja kalau misalkan aku jadi putrinya Pak Louis, apa yang akan terjadi?” tanya Hanna.


Damian agak terkejut mendengar pertanyaan Hanna itu.


“Kau sedang bercanda kan? Kau bukan putrinya Pak Louis kan?” tanya Damian.


“Mm bukan, aku hanya seandainya saja,” jawab Hanna kebingungan, apalagi melihat raut muka pucat pasi di wajahnya Damian.


“Kau membuatku khawatir saja sayang, tentu saja proyekku akan kacau balau, aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin real estate namamu  ini berdiri, dan seperti yang kau inginkan, saat peresmiannya kita sudah bertiga, “ kata Damian, sekarang dia duduk lebih dekat ke kaki Hanna.


Hanna tersenyum lebar, tapi hatinya merasa sedih. Dia ingin jujur, tapi dia tidak mau merusak impiannya Damian. Kasihan pria ini, sudah untuk menikah saja harus menunggu ibunya ditemukan, kini proyeknya terancam hancur karena dirinya.


“Kau suka dengan proyek ini?” tanya Hanna.


“Sebenarnya ini  bukan proyek pertama yang ku bangun, hanya saja, untuk proyek ini aku membangunnya untuk hadiah kehadiranmu dalam hidupku, jadi ini sangat berarti bagiku. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya, kita gunting pita bersama,” jawab Damian.


Ucapan Damian itu membuat Hanna ingin menangis, dia sangat sedih, dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Damian, impiannya Damian, dia sangat mencintainya, dia tidak sanggup melihat impian pria ini hancur, dia tidak sanggup.


“Damian!” panggil Hanna.


“Ya,” jawab Damian, menatap Hanna.


“Terimakasih kau sudah sangat mencintaiku, aku merasa jadi wanita paling beruntung di dunia ini,” jawab Hanna.


“Aku juga berterimakasih karena kau datang dalam hidupku dan memberikan pelukan yang hangat buatku,” ucap Damian.


Hanna langsung memeluknya, Damian membalas pelukan itu dengan erat.


“Aku mencintaimu Damian,” ucapnya.


Damian mencium rambutnya hanna, kemudian dia menghentikannya, dia merasa mencium bau sesuatu.


“Rambutmu bau, sebaiknya kau cepat mandi,” kata Damian. Hanna melepas pelukannya sambil tertawa dan menatap Damian.


“Iya aku akan mandi,” ucap Hanna.


“Sementara aku bekerja untuk masa depan kita berdua, cobalah kau cari-cari informasi searching di internet,” kata Damian.


“Searching buat apa?” tanya Hanna.


“Bagaimana caranya menjadi istri dan ibu yang baik,” kata Damian.


Hanna langsung cemberut.


“Damian, tanpa searching juga aku sudah tahu, aku adalah Istri dan ibu yang baik,” ucap hanna.


“Bagaimana kau bisa bilang istri yang baik, menikah juga belum,” kata Damian,  sambil menempelkan hidungnya ke hidung Hanna. Dia sangat mencintai wanita yang belum mandi ini.


“Iya ya,” ucap Hanna, sambil tertawa.


“Aku mencintaimu,” ucap Damian.


“Aku juga mencintaimu. Aku ingin kau selalu bahagia,” balas Hanna.


Dia mengatakannya benar-benar setulus hatinya, dia mencintai pria ini, dia tidak ingin menghancurkan mimpi pria ini, meskipun sebenarnya dia ingin jujur siapa dirinya, tapi dia tidak mau merusak kebahagiaannya Damian.


“Mana arlojiku ya, aku berangkat sekarang,” kata Damian, mencium pipi Hanna sebentar dan beranjak. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Dia segera mengambil handphone-nya.


“Dari pantai, ada apa Pak Indra? Apa ada yang penting?” tanya Damian.


“Sebenarnya saya tidak tahu ini penting atau tidak,” jawab Pak Indra.


“Katakan saja,” jawab Damian, sambil berjalan menuju jendela.


“Cuma saya mendapat laporan dari satpam disini tentang ada orang yang bertanya-tanya mengenai keberadaan Bu Hanna, Pak,” jawab Pak Indra.


“Maksudnya apa?” tanya Damian, keheranan.


“Iya orang itu bertanya apakah Bu Hanna tinggal disini? Karena katanya dia sedang mencari  putrinya Pak Louis yang bernama Hanna dan pernah ada yang melaporkan melihat putrinya Pak Louis itu ada disekitar rumah kantor kita. Satpam juga mengatakan kalau foto yang diperlihatkan orang itu mirip Bu Hanna,” jawab Pak Indra.


Seketika Damian terkejut mendengarnya. Matanya menoleh pada Hanna yang sedang melipat selimutnya, sepertinya istrinya itu akan cepat-cepat mandi.


Damian teringat Hanna bercerita soal Pak Louis yang kehilangan putrinya. Tapi Hanna tidak bilang kalau putrinya Pak Louis itu bernama Hanna. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya Damian. Hatinya langsung cemas dan gelisah, apakah sebenarnya Hanna adalah putrinya Pak Louis?


“Ada informasi lainnya?” tanya Damian.


“Hanya itu saja sih pak, sebenarnya orang itu ingin melihat Bu Hanna, cuma kan Bu Hanna sedang ada di ibukota. Saya juga sudah bilang pada satpam kalau orangtua Bu Hanna tinggal di ibukota, dan saat resepsi saya melihat kalau ayahnya Bu Hanna bukan Pak Louis,” jawab Pak Indra.


Damian terdiam sesaat mendengar penjelasannya Pak Indra.


“Ya baiklah, terimakasih inromasinya. Ada hal lainnya tidak?” tanya Damian, matanya masih menatap Hanna yang sekarang sedang merapihkan sprei dan bantal-bantalnya.


“Tidak ada Pak,” jawab Pak Indra. Telponpun ditutup.


Damian berdiri menatap Hanna yang hampir menyelesaikan pekerjaannya membereskan tempat tidur mereka.


Damian terus menebak-nebak apakah Hanna sebenarnya putrinya Pak Louis dan Hanna tidak mau jujur karena dia takut proyek ‘Hanna Grand Lakeside’ nya gagal?


“Tempat tidurnya sudah rapih!” seru Hanna, tersenyum melihat tempat tidurnya lalu menoleh pada Damian yang sedang menatapnya.


“Kenapa kau menatapku? Bukankah aku sudah mencoba jadi istri yang baik? Pertama tama aku membereskan tempat tidur dulu,” kata Hanna, tapi senyumnya hilang saat melihat Damian hanya menatapnya saja.


“Kau kenapa?” tanya hanna.


“Apa ada yang kau sembunyikan dariku salama ini?’ tanya Damian.


“Sembunyikan? Sembunyikan apa?” tanya Hanna, berjalan mendekati Damian, langkahnya berhenti tepat di depan Damian dan menatapnya.


“Kau benar-benar sangat menyayangiku?” tanya Damian.


“Tentu saja, aku sangat menyayangimu, kau tidak perlu meragukannya,” jawab Hanna.


“Karena kau sangat menyayangiku, kau menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Damian lagi. Ditanya begitu wajah Hanna langsung pucat, dia merasa ada gelagat yang tidak baik, keringat dingin muncul di keningnya.


“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Hanna.


“Apa sebenarnya kau putrinya Pak Louis?” tanya Damian.


Ditanya begitu Hanna terdiam, mata mereka saling tatap.


“Katakan, kau sebenarnya putrinya Pak Louis kan?” tanya Damian lagi.


Hanna menatap Damian, apakah ini saatnya dia jujur?


“Aku..” Bibir Hanna terasa bergetar.


“Iya, aku adalah putrinya Pak Louis,” jawab Hanna, masih menatap Damian, pria itu juga menatapnya.


“Aku putrinya Pak Louis, Damian,” ulang Hanna dengan lirih.


“Putrinya Pak Louis yang hilang itu adalah aku,” lanjut Hanna.


Damian benar-benar terkejut mendengarnya. Meskipun dia merasa curiga tapi dia tidak menyangka kalau kecurigaannya adalah benar.


************