
Malam sudah larut saat Hanna pulang ke rumah dengan membawa kantong- kantong yang berisi oleh-oleh yang dibelikan oleh Shezie.
“Kau kemana saja? Aku pulang kau tidak ada dirumah, ponselmu juga mati,” tanya Damian, saat istrinya masuk ke rumah.
“Tadi aku ke rumahnya Henry, ternyata dia baru pulang bulan madu dengan Shezie, dia membelikan banyak oleh oleh untukku,” kata Hanna, memperlihatkan kantong-kantong itu.
“Jadi mereka bulan madu? Aku fikir Henry hanya ingin istirahat saja ijin beberapa hari tidak ke kantor,” kata Damian, sambil mengikuti langkah istrinya menuju kamar mereka.
“Henry dan Shezie sudah sepakat untuk melanjutkan penikahan mereka,” kata Hanna.
“Bagus itu, aku setuju. Mereka tidak perlu bercerai segala,” ujar Damian, menutup pintu kamarnya bekas Hanna masuk tadi.
“Sangat bagus. Kalau Shezie hamil, aku akan tunjukkan pada ibu-ibu itu kalau putra kita memang menikah beneran,” kata Hanna.
“Jangan terlalu memperdulikan orang-orang, nanti kita repot sendiri,” ujar Damian.
“Aku kesal saja pada ibu-ibu tukang gosip itu apalagi Bu Yogi, dia terlihat banget ingin menjatuhkanku. Sepertinya dia senang banget kalau orang-orang mencemooh keluarga kita apalagi Henry,” kata Hanna, menyimpan kantong-katong itu di atas meja.
“Kegiatanmu hari ini apa saja?” tanya Hanna, sambil melepas sepatunya.
“Tidak ada yang aneh, biasa saja, aku ke kantor. Besok aku akan pergi beberapa hari keluar negeri,” kata Damian.
“Keliling Eropa lagi?” tanya Hanna.
“Iya,” jawab Damian.
“Aku ikut,” kata Hanna.
“Ikut?” Damian menatap istrinya yang sedang melepaskan pakaiannya, akan bersiap-siap mandi.
“Iya, aku ikut, kenapa? Tidak boleh?” tanya Hanna agak ketus.
“Boleh, hanya tumben saja,” kata Damian.
“Kenapa? Kau ingin pergi sendiri-sendiri begitu? Sekarang kau merasa terganggu kalau aku ikut?” tanya Hanna lagi, nada suaranya lebih tinggi.
“Tidak, bukan begitu,” ucap Damian.
“Bilang saja kau memang ingin bebas diluar sana dan tidak akan ada yang mengganggumu,” kata Hanna, lalu pergi ke kamar mandi.
Damian terdiam mendengar perkataan istrinya itu. Dia heran biasanya istrinya paling malas kalau diajak pergi pergi ke luar negeri kalau urusannya dengan pekerjaan. Karena dia tidak bisa berbelanja ditemani suaminya. Sekarang tumben sekali mau ikut.
Damian sedang berbaring di tempat tidurnya, saat Hanna keluar dari kamar mandi. Dilihatnya wajah istrinya itu ditekuk, bibirnya cemberut saja.
“Kau kenapa?” tanya Damian.
“Tidak apa-apa,” jawab Hanna.
Damianpun diam, bilang tidak apa-apa tapi bibirnya cemberut, pasti ada apa-apa.
Dilihatnya lagi Hanna masuk ke walk in closet, mengambil koper dan baju-baju yang di simpan di atas tempat tidur.
“Berapa hari kau di Luar negri?” tanya Hanna, mulai mmeilah milah baju yang akan dibawanya.
“Tidak terlalu lama sih mungkin 2 atau 3 minggu,” jawab Damian.
“2 3 minggu dibilang tidak lama, sekalian saja setahun,” ucap Hanna, ketus.
Damian mengerjapkan matanya, sepertinya istrinya memang sedang marah.
Diapun bangun dari berbaringnya, duduk bersila diatas tempat tidur, menatap istrinya yang sedang mengepak pakaiannya.
“Kau sedang marah?” tanya Damian.
“Tidak,” jawab Hanna.
Damian kembali diam, bilang tidak tapi bibirnya masih cemberut. Tapi dia tidak bicara apa-apa lagi, kalau kondisi seperti ini percuma juga mengajak bicara Hanna. Diapun kembali berbaring.
Hanna memasukkan baju-bajunya dengan kesal ke dalam koper. Mulai sekarang dia harus ikut kemanapun suaminya pergi, dia tidak akan membiarkan perluang sedikitpun bagi suaminya untuk berselingkuh apalagi membiarkan wanita-wanita genit merayu suaminya.
************
Pagi ini Henry sudah berdandan rapih akan pergi ke kantor. Ternyata Shezie juga sudah bersiap-siap.
“Kau akan menemui ibumu sekarang?” tanya Henry, menatap istrinya yang sedang merapihkan pakaiannya di depan cermin.
“Kau yakin akan pergi sendiri?” tanya Henry.
“Iya,” jawab Shezie, menghampiri Henry, menatap suaminya yang sudah berdandan rapih.
“Kau membelikan oleh-oleh buat ibumu kan?” tanya Henry.
“Iya,” jawab Shezie, menganggukkan kepalanya.
Henry berjalan mendekat, melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya dan memeluknya erat.
“Kau akan langsung pulang kan?” tanya Henry, menatap Shezie.
“Aku belum tahu,” jawab Shezie.
Tangan Henry merapihkan anak-anak rambut di keningnya Shezie.
“Kau bawa supir ya, aku tidak mau kau naik bis,” kata Henry.
“Tapi ibuku akan banyak pertanyaan, aku menjelaskannya harus pelan-pelan,” ucap Shezie.
“Kalau begitu naik taxi saja,” kata Henry.
“Taxi mahal, ke rumahku lumayan jauh,” ujar Shezie.
“Kau selalu memikirkan uang, aku masih mampu membayar taxi,” kata Henry.
Shezie melingkarkan tangannya balas memeluk Henry. Belama-lama di pelukannya seperti ini membuatnya betah tidak ingin melakukan apa-apa. Apalagi dirasakannya pelukan Henry semakin erat. Shezie menyandarkan kepalanya ke dada suaminya, dia berharap ibunya akan mengerti dan merestui pernikahannya dengan Henry. Dia sudah terlanjur mencintainya, terlanjur memilihnya menjadi suaminya.
“Kau harus berangkat kerja,” tiba-tiba Shezie mengingatkan, menengadahkan wajahnya menatap Henry. Suaminya itu langsung mengecup keningnya.
“Aku ingin kau pulang, tapi kalau memang kau belum bisa pulang tidak apa-apa, tapi tolong kabari aku,” kata Henry.
“Baiklah,” jawab Shezie, sambil melepaskan pelukannya.
“Baiklah sayang, aku berangkat dulu, kau harus ingat, kabari aku, jangan membuatku khawatir,” kata Henry.
“Iya.” jawab Shezie mengangguk, sebuah kecupan mendarat di bibinya. Henrypun keluar dari kamar itu diikuti Shezie yang akan mengantarnya sampai teras.
Setelah Henry berangkat, Shezie juga berangkat dengan menggunakan taxi. Sebenarnya dia merasa sayang dengan uangnya karena pasti bayarannya mahal, tapi dia juga repot kalau harus berganti ganti pakaian lagi untuk mengejar bis, apalagi suaminya tidak menyukainya naik bis. Akhirnya meskipun sayang dengan uangnya, Shezie berangkat pulang kerumah ibunya dengan menggunakan taxi.
Sampailah Shezie dirumah ibunya. Dengan hati yang was-was, kakinya melangkah menuju rumah itu, tidak lupa dia membawa kantong-kantong oleh-olehnya dari Paris.
Di depan pintu dia berdiri mematung, menghela nafas sebentar memenangkan dirinya dan akan menyentuh knop pintu, ternyata ada yang membuka pintu itu.
Disana berdiri ibunya yang tampak terkejut melihat kedatangannya dan wajahnya langsung berubah memerah.
“Kau ingat pulang juga?” tanya Bu Vina dengan ketus.
“Bu!” panggil Shezie.
“Kau ingat juga memanggil aku ibu,” kata Bu Vina, sambil masuk kedalam rumah, diikuti Shezie.
Shezie menyimpan kantong-kantong itu diatas meja. Shezie berusaha sabar menerima sikap ibunya itu yang ketus.
Diapun menatap ibunya yang berdiri menatap keluar lewat jendela yang terbuka.
“Bu, aku menelpon ibu tapi ponselnya tidak aktif, aku sangat khawatir, aku menelpon rumah sakit ternyata ibu sudah pulang,” ujar Shezie, dia merasa bingung harus bicara apa.
“Buat apa aku berobat dengan menggunakan uang kotor,” kata Bu Vina, membuat Shezie terkejut dan menatap ibunya.
“Maksud ibu apa? Aku bekerja keras untuk mendapatkan uang itu,” ujar Shezie.
“Sudah tidak perlu berpura-pura lagi, ibu sudah tahu semuanya,” kata Bu Vina.
“Tahu apa?” tanya Shezie.
“Kau menjual diri menjadi istri bayaran pria kaya itu kan? Aku tidak sudi menerima uang kotormu itu! Aku lebih baik mati dari pada berobat dengan uang itu!” kata Bu Vina.
Mendengar perkataan ibunya, membuat hati Shezie terasa sakit, seketika airmatanya tumpah membasahi pipinya.
************