Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-83 Dokter Cinta



Damian menjalankan mobilnya di jalan raya, dia melirik pada Hanna yang sedang membetulkan kacamatanya.


“Kau serius merasa sakit dan mau ke Dokter sekarang?” tanya Damian.


“Iya,” jawab Hanna.


“Di depan ada praktek dokter, mau dicoba kesana?” tanya Damian.


Hanna melihat di kejauhan ada plang praktek Dokter  Danu dan jam prakteknya juga ada jam pagi sampai siang kemudian jam sore.


“Baiklah, ayo kita kesana,” kata Hanna akhirnya setuju.


Damian menjalankan mobilnya menuju tempat prakter Dokter itu. Sampailah mereka dihalaman tepat praktek itu. Hanna melepaskan kacamatanya dan disimpan di dashboard, diapun mengikuti Damian turun dari mobil mereka.


Di dalam ruang praktek itu ternyata banyak yang sedang mengantri. Mereka langsung saja menoleh kearah pria dan wanita yang masuk keruangan itu.


Melihat banyak wanita yang mengantri, Hanna jadi teringat kalau waktu di salon banyak wanita yang mengganggu Damian. Diapun langsung memeluk tangan Damian, membuat wanita-wanita yang saat melihat Damian terlihat raut muka yang cerah jadi berubah masam dan cemberut, membuat Hanna senang melihatnya.


“Ayo sayang, kita daftar dulu,” kata Hanna pada Damian. Sengaja dia bicara agak keras supaya wanita-wanita itu mendengarnya kalau pria yang bersamanya adalah suaminya.


Hanna dan Damian daftar dulu ke meja pendaftar dokter.


“Siapa yang sakit?” tanya petugas pendaftaran itu.


“Saya,” jawab Hanna.


Setelah mendapatkan nomor, merekapun menunggu di ruang tunggu. Hanna duduk bersama Damian dikursi kosong. Saat mereka duduk Hanna melihat wanita-wanita itu melirik ke arah Damian. Sudah pasti mereka menyukai Damian, apa mereka tidak tahu kalau dia itu istrinya, masih saja melirik melirik Damian, umpat Hanna dengan kesal.


“Sayang, kepalaku pusing,” keluh Hanna tiba-tiba sambil memegang kepalanya. Damian terkejut mendengarnya, bukankah tadi Hanna biasa biasa saja. Diapun menoleh dan menatapnya.


“Kau pusing sayang?” tanya Damian sambil memegang kepalanya Hanna, Hannapun langsung mengangguk. Dilihatnya wanita-wanita itu seperti membuang muka, membuat Hanna ingin tertawa dalam hati.


“Duh pusingnya,” keluh Hanna lagi.


“Kita antrian berapa? Masih lama tidak?” tanya Damian, dia menjadi khawatir pada Hanna.


“Masih lama,” jawab Hanna.


“Kau sabar ya,sayang,” ucap Damian, tangannya langsung memeluk bahu Hanna, Hannapun menempelkan kepalanya ke bahu Damian. Tangan kiri Damian memeluk bahu Hanna dan tangan kanannya mengusap-usap kepala Hanna.


Hanna melihat wanita-wanita itu terlihat iri saja. Pria yang bersamanya itu memang sangt tampan, sudah jelas-jelas wanita-wanita itu iri padanya. Lagian aneh, tahu Damian sedang bersamanya, masih main mata lirik lirik Damian terus, menyebalkan, batinnya.


Tangan kanan Damian mengusap-usap lengannya Hanna.


“Kau masih pusing?” tanya Damian, kepalanya menunduk menatap wajah Hanna. Di masih heran kenapa Hanna tiba-tiba merasa pusing.


Hanna memejamkan matanya dengan kepala yang masih menempel di bahunya Damian.


“Mungkin karena mengejar pencopet tadi, aku tidak menyangka kau bisa berlari secepat itu,” ucap Damian.


Melihat Hanna yang seperti mesra-mesra pada Damian, wanita-wanita itu terlihat semakin iri, mereka hanya melirik lalu menoleh kearah yang lain, Hanna semakin ingin tertawa saja.


“Sayang kepalaku sakit,” keluh Hanna lagi. Damian menyentuh kepalanya Hanna.


“Yang mana? Ini? Mau aku pijat?” tanya Damian.


“Yang ini sayang,” kata Hanna. Damian memijat kepalanya Hanna pelan-pelan. Hanna tersenyum dalam hati, senangnya diperhatikan Damian begini.


Lama-lama dipeluk Damian membuat Hanna menguap beberapa kali,dia mengantuk.


“Bu masih lama? Kasihan istriku merasa pusing,” kata Damian pada petugas pendaftaran yang sedang mencatat.


“Sabar ya Pak, nunggu antrian,” kata petugas pendaftaran itu.


Damian menoleh pada Hanna.


“Sayang, kau lebih baik sekarang?” tanyanya. Hanna mengangguk dengan lemah. Ternyata bermanja-manja dengan Damian juga menyenangkan, pria itu sangat perhatian padanya.


Melihat sikap Hanna itu, si wanita yang tadi terlihat agak kesal, dia melihat sikap Hanna itu lebay sengaja manas-manasin wanita lain yang ada disana, sok punya suami tampan.


“Duluan saja Pak, tidak apa-apa, bilang saja pada petugas pendaftarannya,” kata wanita itu, membuat Hanna sebal, buat apa wanita tu mengajak ngobrol Damian, Huh!


“Iya,” jawab Damian sambil tersenyum, membuat wanita tadi sangat senang melihat senyum Damian.


Melihat Damian senyum pada wanita itu , membuat Hanna kesal, tangannya langsung menyentuh pipinya Damian supaya menoleh kearahnya.


“Kau kenapa?” tanya Damian.


“Kepalaku pusing, mau dipijit lagi,” jawab Hanna.


“Baiklah,” Damianpun memijit kepalanya Hanna lagi, wajahnya menunduk menatap wanita itu yang memejamkan matanya.


“Istrinya sakit apa pak?” tanya wanita tadi. Menambah Hanna kesal, kenapa wanita itu mengajak ngobrol Damian lagi?


“Kepalanya pusing,” jawab Damian.


Hanna melihat Damian dengan ujung matanya, dilihatnya Damian menoleh pada wanita tadi dan tersenyum lagi, dia tidak suka melihatnya. Tangannya kembali menyentuh pipinya Damian supaya melihat ke arahnya. Kenapa sih Damian melihat-lihat wanita tadi? Bikin kesal saja.


“Nyonya Damian!” panggil petugas pendaftara. Akhirnya giliran mereka juga, Hanna heran kenapa tidak wanita itu saja yang duluan bukankah dia yang ngantri duluan?


Dia sengaja mendaftar dengan nama Ny. Damian, biar orang-orang tahu kalau dia adalah istrinya.


Damian mengajak Hanna bangun dari duduknya. Hanna sengaja melingkarkan tangannya memeluk pinggang Damian, dilihatnya wanita tadi semakin sebal saja melihatnya. Merekapun masuk ke dalam ruangan.


“Silahkan!” kata Dokter. Damian membantu Hanna berbaring diranjang pasien.


“Ny. Damian? Apa keluhannya?” tanya Dokter Danu, namanya tertera diplang itu.


“Akhir akhir ini saya sering merasa jantung saya berdebar kencang Dok, rasanya mau copot, terus sering merasa gugup, berkeringat dingin, entah apa lagi ya,” Hanna mikir-mikir. Damian hanya duduk di kursi depan meja Dokter itu ikut mendengarkan sambil melihat istrinya diperiksa oleh Dokter.


“Ya pokoknya seperti itu, kadang tiba-tiba muncul panas dingin dan meriang Dok,” lanjut Hanna.


“Bagaimana dengan istirahatnya? Kau sering begadang?” tanya Dokter.


“Iya Dok, saya begadang tiap malam,” jawab Hanna.


“Sebaiknya kurangi begadang,” ucap Dokter.


“Tapi kalo tidak begadang bagaimana dengan suami saya Dok? Saya selalu memeluk suami saya tiap malam,” ucap Hanna, membuat Dokter mengerutkan keningnya.


“Bukahkah sudah biasa istri memeluk suaminya?” tanya Dokter, sambil tersenyum.


Damian yang mendengarnya apalagi ingin tertawa tapi ditahannya, dia hanya melipat kedua tangan didadanya sambil menumpangkan salah satu kakinya.


“Tidak begitu Dok, soalnya suami saya tidak bisa tidur nyenyak kalau tidak saya peluk,” jawab Hanna.


“Baiklah kalau begitu nanti saya beri resep supaya bisa tidur nyenyak, anda kurang istirahat,” jawab Dokter, dan kembali kemejanya.


Damian segera mendekati tempat tidur pasien itu, membantu Hanna turun. Hanna menatap pria itu yang begitu perhatian padanya, sering sering saja pura-pura sakit, ternyata kalau dia sakit Damian sangat perhatian.


“Ayo duduklah,” ucap Damian membantu Hanna duduk dikursi itu. Lalu dia duduk dikursi satunya lagi menghadap Dokter Danu.


“Saya beri resep supaya bisa tidur nyenyak ya,” kata Dokter Danu. Hanna langsung saja protes.


“Tidak Dok, tidak mau! Nanti siapa yang memeluk suami saya?” kata Hanna. Dokter mengerutkan keningnya.


“Tapi siapa yang akan memeluk suami saya kalau saya tidur?” tanya Hanna.


“Kau tidak perlu memelukku, aku yang akan memelukmu,” jawab Damian, membuat hati Hanna berbunga-bunga. Senangnya Damian bicara begitu.


Dokter Danu tampak tersenyum dan dia memberikan resep.


“Istrinya harus istirahat yang cukup ya Pak,” kata Dokter Danu.


“Iya, terimakasih Dok,” jawab Damian.


Merekapun keluar dari ruangan Dokter itu. Begitu keluar mata Hanna bertemu dengan mata wanita itu, dia heran kenapa wanita itu tidak pergi-pergi juga tidak diperiksa, dari tadi duduk saja disitu, keluhnya dalam hati.


“Sayang, kepalaku pusing!” ucap Hanna, berpura-pura lagi, sambil memegang kepalanya, dilihatnya wanita itu tampak memberengut.


Damian langsung memeluknya lagi, sebenarnya dia bingung kenapa di dalam Hanna tidak mengeluh pusing?


“Jalannya pelan-pelan sayang,” ucap Damian. Hanna langsung saja balas memeluk pinggangnya Damian. Dia merasa yakin kalau wanita itu bête abis.


Saat berjalan mendekati wanita itu, terdengar suara Dokter Danu keluar dari ruangan.


“Sayang, ayo kita berangkat, aku sudah lapar,“ kata Dokter Danu.


Wanita itu  langsung melihat ke arah Dokter Danu.


“Iya sayang, ayo,” ucap wanita itu sambil berdiri.


Hanna melirik wanita itu yang tampak mendelik padanya. Hanna menoleh kearah Dokter Danu yang menghampiri wanita itu dan langsung memeluk bahu wanita itu. Rupanya istrinya Dokter Danu, pantas saja dia tidak pergi-pergi, batin Hanna.


Hanna dan Damian masuk kedalam mobil. Hanna melihat wanita itu berjalan dengan Dokter Danu menuju mobilnya, diapun mencibir.


“Sepertinya kau sembuh sekarang,” kata Damian, tiba-tiba sudah duduk dibelakang stir, menatap Hanna.


“Oh tidak kepalaku masih pusing Damian,” jawab Hanna sambil memegang kepalanya.


Damin melihat arah matanya Hanna pada wanita tadi dan Dokter Danu dia melihat cibiran dibibirnya Hanna. Diapun memiringkan tubuhnya menatap Hanna.


“Jad kau pura-pura pusing tadi? Kau cemburu pada wanita tadi?” tanya Damian, membuat Hanna kaget dan menoleh kearah Damian yang menatapnya. Bukan hanya menatapnya, tapi tubuhnya condong lebih dekat kapadanya dengan salah satu tangan dibelakang kursinya.


“Kau berbohong padaku?” tanya Damian lagi.


“Tidak, aku tadi benar-benar pusing,” jawab Hanna, mengelak.


“Sekarang?” tanya Damian.


“Sekarang sudah sembuh, tiba-tiba saja sembuh,” jawab Hanna sambil tersenyum.


“Ko tiba-tiba sembuh? Kau kan belum minum obat,” kata Damian.


“Tanpa obat juga sembuh,” jawab Hanna.


“Bagaimana kau bisa sembuh tanpa minum obat?” tanya Damian.


“Obatnya kan kamu,” jawab Hanna sambil cengengesan.


Damian menghela nafas sebentar lalu menatap Hanna lagi.


“Obatnya aku?” tanya Damian.


“I..iya,” jawab Hanna.


“Kau mulai merayuku lagi?” tanya Damian.


“Tidak, aku tidak merayumu,” jawab Hanna.


“Kau tahu kalau aku akhir-akhir ini sangat agresif?” tanya Damian.


Hanna mengangguk, dia mulai berkeringat dingin lagi, untung dia sudah dapat obat dari Dokter, dia akan meminumnya di rumah, supaya tidak gugup lagi kalau ditatap Damian seperti ini.


“Jadi kau mau aku agresif tidak?” tanya Damian.


Hanna langsung saja mengangguk lalu tiba-tiba menggeleng, dia salah memberikan jawaban.


“Jadi Kau ingin aku agresif?” tanya Damian.


“Tidak, tidak,“ Hanna menggeleng.


“Tadi kau mengangguk,” ucap Damian.


“Salah, harusnya menggeleng,” jawab Hanna. Membuat Damian ingin tertawa, ditatapnya wajah wanita itu lalu mendekatkan wajahnya lagi dan mencium pipinya.


“Sekarang kau sering mencium pipiku,” keluh Hanna. Mengusap pipinya, masih terasa bibirnya Damian menempel dipipinya.


Damian yang sudah duduk kembali dibelakang stir menoleh lagi padanya.


“Kau ingin aku mencium bibirmu?” tanya Damian.


“Oh jangan! Tidak akan berhasil!” seru Hanna dengan cepat, dia bukannya tidak mau Damian mencium bibirnya, tapi karena selalu gagal jadi hanya menghasilkan jantungnya mau copot saja, lebih baik jangan mencium bibirnya.


“Ayo kita pulang, jangan lupa diminum obatnya kau harus istirahat,” kata Damian.


“Aku sudah sembuh tanpa minum obat,” ucap Hanna.


“Masa begitu? Tadi kau masih berkeringat, pipimu sangat dingin,” ucap Damian membuat Hanna memegang pipinya.


“Berarti aku tahu penyebab sakitku apa,” kata Hanna.


“Apa?” tanya Damian, kini menoleh kearahnya lagi, Hanna menatapnya.


“Kau,” jawab Hanna.


“Aku penyebab sakitmu?” tanya Damian.


Hanna mengangguk.


“Aku bukan penyebab penyakit, tapi aku pengobat yang sakit,” ucap Damian.


“Pengobat yang sakit apa? Kau sok tahu, memangnya kau Dokter?” kata Hanna sambil mencibir.


“Aku memang Dokter,” jawab Damian.


“Dokter apa? Namamu tidak ada gelar Dokternya,” kata Hanna.


“Ada. Dr.C,” jawab Damian.


“Apa Dr.C?” tanya Hanna.


“Dokter Cinta,” jawab Damian.


Membuat Hanna tertawa. Dan tawanya langsung hilang saat sebuah kecupan mendarat lagi di pipinya, membuatnya kaget saja. Hannapun kembali memegang pipinya, sekarang Damian lebih sering mencium pipinya, tapi hatinya senang meskipun itu membuat merah wajahnya.


*************


Readers episodenya kurang seru ...yang penting up dulu deh