Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-65 Bu Vina menemukan gaun pengantin Shezie



Martin mengantarkan Bu Vina pulang ke rumah, hatinya sangat senang hari ini, dia benar-benar sudah mengeluarkan pion terakhirnya untuk mendapatkan Shezie. Dia yakin setelah ini Shezie akan keluar dari rumah itu dan bercerai dengan Henry untuk selama-lamanya. Dia tidak sabar ingin segera menikahi Shezie. Dan dia yakin dia akan berhasil menikahi Shezie karena sudah dipastikan Bu Vina tidak akan pernah menerima Henry menjadi menantunya.


“Terimakasih nak Martin,” ucap Bu Vina, menatap tunangan putrinya itu.


“Iya Bu, kalau ada apa-apa telpon aku saja,” ucap Martin sambil tersenyum, sebenarnya dalam hatinya dia sudah bosan mengurus wanita yang sakit-sakitan ini. Bisa saja dia melepaskan Shezie tapi sudah terlanjur banyak yang dia korbankan, dia tidak mau tidak ada imbalan apapun yang didapatnya dari Shezie.


Bu Vina hanya mengangguk, dan melihat kepergian Martin dengan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.


Bu Vina semakin merasakan pusing yang amat sangat, hampir saja dia terjatuh kalau tidak Bi Ijah menahannya.


“Ibu istirahat saja dikamar,” kata Bi Ijah.


“Tidak Bi, aku ingin melihat kamarnya Shezie,” ujar Bu Vina.


“Baiklah,” jawab Bi Ijah.


“Tinggalkan aku sedniri,” kata Bu Vina.


“Baik Bu,” jawab BI Ijah, sambil melepaskan tangan Bu Vina dari pegangannya, dibiarkannya Bu Vina sendiri menuju kamarnya Shezie, sedangkan Bi Ijah pergi ke dapur.


Bu Vina mendorong pintu kamar itu perlahan, pintu yang tidak dikunci oleh Shezie.


Dengan langkah perlahan dan kepalanya yang semakin terasa berat, Bu Vina masuk ke dalam kamarnya Shezie, melihat kesekeliling kamar itu. Kamar itu sudah lama ditinggalkan Shezie, putrinya itu sudah jarang sekali menempati kamar itu.


Bu Vina duduk dipinggir temat tidur, mengusap spre kasur itu parlahan. Dilihatnya lagi sekeliling, sama sekali tidak ada yang berubah di kamar ini, barang-barang yang adapun serpertinya sudah hampir tidak tersentuh oleh pemiliknya karena jarangnya Shezie di kamar ini.


Dilihatnya foto yang ada diatas meja itu, foto dirinya dan Shezie, lalu diambilnya bingkai foto itu. Itu adalah foto Shezie kecil. Disentuhnya foto itu dan diusapnya wajah polos itu. Wajah polos yang ternyata menyakitinya sekarang. Shezie sudah tidak sepolos dulu, bahkan dia berani membohongi dirinya, menikah diam-diam tanpa meminta restu darinya. Sungguh tidak disangka Shezie akan melakukan hal itu, tidak disangka Shezie akan tega menyakitinya.


Bu Vina menghela nafas panjang, entah apa yang akan dilakukannya sekarang? Yang pasti dia harus meminta Shezie bercerai secepatnya dan menikah dengan Martin, itu juga kalau Martin masih menginginkannya menjadi istrinya, sungguh sangat memalukan perbuatan Shezie itu. Dia sangat malu pada Martin kalau seandainya menikahi Shezie yang hanya seorang janda. Sungguh tidak dimengerti apa yang ada di kepalanya Shezie sampai bisa melakukan hal itu.


Bu Vina menundukkan kepalanya, airmata mulai berjatuhan dipipinya. Semua ini terjadi karena dirinya, karena penyakit yang dideritanya, sampai Shezie melakukan hal seperti ini. Bagaimana kalau sampai orang tua Martin mengetahui kelakuan Shezie itu? Belum tentu mereka akan melanjutkan pernikahan ini kecuali Martin mau menerima apa adanya.  Shezie sangat bodoh mengecewakan  pria sebaik Martin.


Tidak bisa dibayangkan kalau Martin tidak mau menerima Shezie, apalagi jika pernikahannya banyak diketahui orang, benar-benar sangat memalukan.


Bu Vina kembali menghela nafas panjang. Diapun bangun dengan perlahan, dadanya sudah mulai terasa sesak, dia merasakan tubuhnya sangat lemah.


Saat akan berdiri, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Pintu lemari pakaian Sheziemenjepit sebuah pakaian yang berwarna putih. Sepertinya Shezie tidak menutup pintu lemari pakaiannya dengan rapih.


“Apa ini?” gumamnya, sambil mengambil kain batik itu, lalu perlahan kembali berjalan mendekati tempat tidur dan duduk disana. Disimpannya kain batik yang menggulung itu diatas tempat tidur. Dengan rasa penasaran Bu Vina membuka buntalan kain batik itu, dan matanya terbelalak kaget saat melihat kain putih itu ternyata sebuah gaun pengantin yang indah.


Tangannya gemetaran saat menyentuh kain itu. Berarti benar kalau Shezie telah menikah dengan pria itu tanpa restunya.


Tidak terasa butiran airmata begitu saja tumpah di kelopak matanya. Rasanya begitu sakit mengetahui putrinya menikah tanpa meminta restu padanya tanpa memberitahunya tanpa memperkenalkan pria yang dinikahinya, tanpa kehadiran keluarga pria untuk melamarnya. Shezie benar-benar tidak menganggapnya ada. Ternyata Shezie bisa berbuat senekat itu.


Bu Vina menangis tersedu-sedu sambil memegang gaun pengantin itu. Airmatanya membasahi gaun putih itu.


Dilihatnya lagi ada sebuah kotak terselip digaun itu. Diambilnya gaun itu dan dibukanya, tenryata sebuah cincin berlian yang sangat indah. Diambilnya cincin itu, sepertinya itu adalah cincin pernikahannya Shezie.


Melihat semua ini membuat hati Bu Vina remuk redam. Menghadapi kenyataan putrinya melakukan pernikahan tanpa restunya, apalagi pernikahannya hanya sebagai istri bayaran. Jadi ini yang disembunyikan Shezie selama ini? Kalau tahu uang yang didapat Shezie adalah uang dari hasil menjadi istri bayaran, tentu saja dia tidak akan mau menerimanya, dia lebih baik mati dari pada harus menggunakan uang dengan cara seperti itu. Putrinya benar-benar tidak punya harga diri.


Pria itu, pria yang bersama putrinya dirumah sakit itu, pria yang dengan beraninya melamar Shezie itu dengan berdalaih menyukai putrinya, sudah bisa dipastikan pria itu yang telah mempermainkan putrinya.


Kalau dia pria yang baik, dia tidak akan menjadikan putrinya sebagai istri bayaran. Kalau memang dia menyukai putrinya seharusnya dia berisikap seperti Martin, melamar putrinya datang kerumah bersama keluarganya, tidak dengan cara seperti ini. Apalagi menjadikan putrinya istri bayaran sudah di pastikan dia pria yang tidak baik.


Bu Vina bertekad tidak akan pernah mengijinkan putrinya menghubungi pria hidung belang itu, tidak akan pernah, dia tidak akan membiarkan putrinya berlarut-larut dilecehkan oleh pria itu, Shezie harus secepatnya bercerai.


Tidak apa walaupun Shezie tidak mendapatkan uang untuk biaya berobatnya, daripada harus melihat putrinya dilecehkan oleh pria itu. Mereka harus secepatnya bercerai.


Semoga saja Martin masih mau menikahi putrinya. Semoga saja orangtuanya Martin tidak mengetahui hal ini, kalau tidak, mungkin orang tuanya tidak akan mau menerima Shezie menjadi menantunya.


Bu Vina menggulung kembali gaun pengantin itu juga cincin itu dimasukkan kembali ke kotaknya. Setelah itu dia berjalan mendekati lemari pakaian itu dan menyimpannya di tempat semula.


Bu Vina menutup pintu perlahan, dia teringat pada pria itu, pria yang bersama putrinya itu, pria yang mirip dengan seseorang dimasa lalunya, yang seharusnya tidak pernah muncul dikehidupan Shezie, yang mengakibatkannya mengingat lagi masa lalunya.


***********


Readers jika dalam sehari aku nulis beberapa bab,  jangan lupa likenya ditiap bab ya, jangan di rapel baca beberapa bab likenya cuma di akhir babnya saja.


Sayang udah diusahain nulis banyak like cuma ujungnya doang. Soalnya aku mau ngebut nih mumpung sempet nulis. Besok besok aku harus pergi pergi lagi slow update lagi.


***********