
Hanna memperlihatkan foto pernikahannya Henry dan Shezie. Ada sebuah foto besar yang dibingkai. Henry menatap foto itu. Foto dirinya dan Shezie memakai baju pengantin, gadis itu terlihat sangat cantik kemarin.
“Dia sangat cantik kan,” ucap Hanna, tiba-tiba sudah ada disamping Henry yang masih memegang pigura itu. Putranya tidak menjawab.
“Cepat bawa dia pulang. Kalau tahu kalian sudah punya rumah, dia pasti senang,” ucap Hanna. Henry masih tidak berbicara, ibunya tidak tahu bagaimana tertekannya dia karena harus mencari Shezie yang entah ada dimana.
“Kalau dia masih tidak bisa dibujuk, biar ibu yang menjemputnya!”kata Hanna. Tentu saja perkataan Hanna tersebut membuat Henry terkejut bukan main.
“Jangan,jangan! Aku yang akan membawanya pulang!” kata Henry.
Hanna menyentuh lengan putranya membuat Henry menoleh pada ibunya.
“Apa kau tidak mencintai istrimu?” tanya Hanna.
“Apa? Aku..” Ditanya begitu membuat Henry bingung. Cinta darimana? Mereka baru saja kenal.
“Aku mencintainya,” jawab Henry berbohong.
“Tentu saja, kau yang memilihnya jadi istrimu, tentu saja kau mencintainya,” ucap Hnana sambil mengusap-usap punggung putranya, menatapnya penuh kasih.
“Sayang, aku mau berangkat!” terdengar suara Damian berada di teras.
“Iya sayang, tunggu sebentar!” jawab Hanna, lalu meninggalkan Henry yang masih memikirkan kata-katanya itu. Apa benar dia mencintai Shezie? Gadis sederhana yang memiliki pekerjaan seperti itu? Gadis yang sangat aneh, batinnya.
Henry kembali melihat foto itu lalu disimpannya diatas meja. Dia juga bergegas bersiap-siap tapi bukan ke kantor melainkan mencari Shezie lagi.
Tempat pertama yang dikunjunginya adalah mall tempat dulu bertemu Shezie. Sebenarnya masih terlalu pagi jadi mallnya masih tutup, akhirnya dia kembali ke tempat menurunkan Shezie dulu kembali bertanya-tanya lagi pada orang sekitar sambil menunjukkan fotonya Shezie yang ada di hapenya yang dia foto dari foto pernikahan tadi. Tentu saja tidak ada yang mengenalinya apalagi kalau foto perngantin itu begitu cantik melebihi aslinya.
Tiba siang hari kembali ke mall, berjam-jam sudah Henry bolak balik mengitari mall itu, tidak ada juga sosok gadis itu. Kemudian pergi ke restaurant-restaruant mewah barangkali Shezie sedang beracting menjadi selingkuhan orang lagi, di carinya restaurant-restarurant mewah yang biasa dikunjungin orang-orang kaya, ternyata tidak ada juga.
Henry benar-benar putus asa, hari sudah gelap Shezie tidak ditemukan juga. Kalau ibunya ingin menyusul Shezie, itu artinya ibunya akan tahu kalau dia membayar Shezie, atau mungkin harus jujur saja pada ayah dan ibunya kalau dia membayar Shezie supaya orang tuanya tidak lagi menyuruh nyuruhnya mencari Sezie, karena mungkin memang dia tidak akan bertemu Shezie lagi.
Henry merasakan perutnya lapar, diliriknya disebelah kirinya ada sebuah café, sepertinya dia memutuskan untuk berhenti di café itu, makan sesuatu yang tidak terlalu mengenyangkan diluar sambil melihat-lihat barangkali Shezie ada disekitar pertokoan itu.
Henry langsung memarkir mobilnya, kemudian menuju area cafe dan memilih tempat duduk diluar cafe. Dilihatnya meja meja itu sudah penuh oleh pasangan muda-mudi.
Setelah mendapatkan tempat duduk Henry mengeluarkan handphone-nya melakukan panggilan lagi ke nomornya Shezie, masih juga tidak aktif. Dia menahan nafas panjang. Mungkin memang dia tidak akan pernah bertemu Shezie lagi. Gadis itu benar-benar profesional, bekerja sehari dan menghilang.
Terdengar langkah mendekati mejanya.
“Malam Pak, akan memesan apa? Ini menu andalan café kami, ada juga makanan ringan dan sejenisnya,” kata suara pelayan itu. Henry melihat sebuah kertas menu yang diulurkan pelayan wanita itu.
“Coba aku lihat ada menu apa saja?” tanya Henry sambil mengambil lembaran menu itu dan menoleh pada pelayan wanita itu. Seketika dua pasang mata bertemu, menimbulkan debaran jantung yang satu rasa. sama-sama terkejut.
“Kau? Sedang apa kau disini?” tanya pelayan itu yang tiada lain Shezie.
Henry langsung tersenyum senang melihat gadis yang dicarinya itu, dia merasa lega dan bahagia akhirnya bisa bertemu lagi dengan Shezie. Apa? Bahagia? Apa benar bahagia? Hem yang ada gadis ini merepotkannya, seharian dia mencarinya sampai terdampar di café ini gara-gara perutnya lapar.
Shezie tidak menyangka akan bertemu lagi dengan suaminya itu. Suami, apa benar suami?
“Kau mau pesan apa?” tanya Shezie. Yang dijawab Henry dengan menarik tangannya Shezie supaya duduk.
“Aku perlu bicara!” kata Henry.
“Ada apa?” tanya Shezie sambil terpaksa duduk disebrang Henry, entah kenapa hatinya merasa bahagia bisa bertemu lagi dengan supir tajir itu, bisa melihat wajah tampannya lagi.
“Kenapa ponselmu kau matikan?” tanya Henry, menatap Shezie.
“Kau menghubungiku? Memangnya ada apa? Urusan kita sudah selesai kan?” jawab Shezie.
“Belum selesai,” jawab Henry.
“Apa maksudmu belum selesai?” tanya Shezie.
Henry akan menjawab, tapi dia melihat sesuatu di tangannya Shezie, jari Shezie tidak menggunakan cincin pernikahannya. Henry langsung meraih tangan itu.
“Kemana cincinnya?” tanyanya sambil menatap Shezie.
“Aku jual,” jawab Shezie, berbohong, sambil menarik tangannya dari pegangan Henry.
“Kau ini, apa-apa dijual,” keluh Henry.
“Lumayan kan uangnya!” kata Shezie.
Terdengar panggilan seorang pria pada SHezie, ternyata ada tamu-tamu lagi yang datang.
Shezie bangun dari duduknya.
Henry memutar lehernya melirik kearah Shezie pergi. Rupanya gadis itu menerima tamu yang baru datang, mempersilahkan tamu itu duduk dan memberikan menu di café itu.
Henry merenung, ternyata Shezie benar-benar bekerja di café. Dilihatnya sekeliling café yang tidak terlalu besar itu. Melihat kondisi café seperti ini, kira-kira berapa gaji yang Shezie dapatkan? Apa ini alasannya Shezie bekerja jadi selingkuhan pacar orang karena gajinya kecil? Padahal dia bisa bekerja yang lain dari pada pekeejaan seperti itu. Tidak terasa ada senyum dibibir Henry, Shezie benar-benar gadis yang sederhana.
Seorang pelayan yang lain menghampiri Henry dan mencatat menu yang Henry pesan. Henry kembali melirik Shezie yang berada di meja yang lain. Gadis itu benar-benar mengabaikannya seakan-akan mereka tidak pernah ada cerita. Shezie terlihat sibuk bekerja, sama sekali tidak meliriknya.
Bahkan saat setelah dia selesai mengisi perutnya, Shezie sama sekali tidak menghampirinya, Shezie menganggapnya orang asing. Henry meliirk jam tangannya, lalu matanya mengedar mencari gadis itu yang ternyata tidak ada, diapun memanggil seorang palayan yang sedang merapihkan piring-piring.
“Aku ingin bicara dengan Shezie,” kata Henry.
“Baik, tunggu sebentar,” jawab pelayan itu lalu pergi mencari Shezie. Tidak berapa lama gadis itu muncul lagi mendekati mejanya.
“Ada apa?” tanya Shezie.
“Bisakah kita bicara?” tanya Henry.
“Aku sedang bekerja,” jawab Shezie.
“Kau pulang jam berapa? Aku jemput,” ucap Henry.
“Pukul 10,” jawab Shezie.
“Baiklah, aku kembali lagi jam 10, kau jangan dulu pulang, kau jangan kemana-mana, tunggu di depan,” kata Henry, seakan takut tidak bisa bertemu lagi dengan Shezia, dia kan repot lagi mencarinya.
Shezie merenung sesaat.
“Aku harus cepat pulang, jangan pulang terlalu malam,” kata Shezie.
“Hanya sebentar saja, kita bicara sambil aku mengantarmu pulang,” ucap Henry.
Shezie mengerutkan keningnya, memangnya Henry mau bicara soal apa?
“Boleh aku minta nomor telponmu?” tanya Henry.
“Pekerjaanku sudah selesai, ” jawab Shezie.
“Sudah aku katakan aku ada perlu,” kata Henry, dia merasa heran kenapa Shezie begitu membatasi diri.
“Kau tunggu aku pulang saja,” ucap Shezie, lalu meninggalkan Henry karena sudah ada yang memanggilnya lagi.
Akhirnya Henry keluar dari café itu. Shezie hanya meliriknya sebentar, dia harus Profesional, pekerjaannya selesai jadi semua urusan selesai. Hubungannya dengan Henry hanya pekerjaan.
Jam 10 malam café itu sudah tutup. Saat Shezie keluar dari café itu, ternyata benar saja Henry sudah menunggunya diparkiran, pria itu berdiri bersandar pada mobil mewahnya. Shezie manatapnya, sejak kapan dia ditunggu oleh pria kaya seperti ini? Mimpi juga tidak. Rasanya seperti ditunggu pacar saja.
Henry langsung menoleh kearah pintu saat karyawan -karyawan café itu keluar dari sana. Shezie langsung menghampirinya.
“Kau serius menjemputku?” tanya Shezie, menatap Henry.
“Ayo masuk,” ajak Henry dia membukakan pintu mobilnya untuk Shezie. Tumben sekali pria itu membukanya. Shezie langsung masuk. Tidak berapa lama Henry juga sudah duduk disebelahnya dibelakang stir, tapi ternyata Henry tidak langsung menyalakan mobilnya, dia mengambil sesuatu disakunya.
Shezie keheranan saat melihat sebuah kotak kecil berwarna merah.
“Apa itu?” tanyanya, Henry tidak menjawab. Dia membuka kotak itu yang ternyata berisi cincin yang sama dengan yang dia simpan di rumah.
Henry mengambil cincin itu dan menyimpan kotak cincinnya di dashbord.
“Mana tanganmu?” tanya Henry.
“Kau mau apa?” Shezie malah menarik tangannya ke belakang punggungnya.
Henry mencondongkan tubuhnya mendekati Shezie dan langsung menarik tangannya Shezie, membuat gadis itu keheranan. Ternyata Henry memasukkan cincin itu ke jarinya.
“Kau harus pakai ini, jangan dijual lagi,” kata Henry.
Shezie menatap jarinya yang sudah bercincin itu, lalu menoleh pada Henry yang menyalakan mobilnya. Shezie kembali melihat cincin dijarinya lalu menoleh lagi pada Henry yang mulai menyetir, begitu berulang-ulang.
Dia bingung kenapa Henry memakaikan cincin lagi di jarinya? Tapi pria itu sama sekali tidak menghiraukan rasa herannya yang butuh penjelasan secepatnya. Henry hanya melajukan mobilnya meninggalkan café tempat Shezie bekerja itu tanpa bicara lagi.
************
Readers jika lihat novel baru CEO & SHE abaikan saja ya. Aku coba tes novel baru. Soalnya saat aku bikin novel ini under review terus berhari-hari aku fikir penulisan novel baru dibatasi, sampai aku hapus ternyata tidak bisa dihapus aplikasinya masih gantung sampai sekarang. Jadi kemarin aku coba coba lagi upload ternyata sudah bisa dan normal kembali, tapi CEO & SHE nya masih aku lanjut disini ya. Maaf atas ketidaknyamannya.
*****