Billionaire Bride

Billionaire Bride
Extra Part- 1. Hanna unjuk Rasa



Hanna menggeliatkan tubuhnya sambil menguap, dia merasakan badannya yang pegal-pegal, gerakannya terhenti saat matanya melihat Damian sedang menyuapi Henry yang duduk di kursi bayi dengan celemek didadanya dan mulut yang  belepotan bubur. Mereka duduk berhadapan di pinggir jendela kamar yang terbuka lebar.


Hanna tersenyum melihat suaminya yang telaten mengurus putra mereka.


“Selamat pagi…!” seru Hanna, tersenyum lebar langsung menghampiri putranya, berjongkok akan menciumnya, tapi keinginannya tidak terlaksana karena tangan Damian menghalanginya.


“Jangan dekat-dekat!” teriak Damian, membuat Hanna terkejut.


“Kenapa?” tanya Hanna menoleh pada suaminya dengan keheranan.


“Kau belum mandi, kau tidak boleh mencium anakku!” kata Damian.


Hanna langsung berdiri memberengut menatap suaminya yang kembali menyuapi Henry.


“Kau keterlaluan! Masa aku tidak boleh mencium anakku sendiri!” Protes Hanna.


“Makanya, biasakan bangun pagi, supaya jam segini kau sudah mandi dan berdandan cantik,” kata Damian.


“Damian, tadi malam aku sibuk,” ucap Hanna.


“Sibuk apa?” tanya Damian tanpa menoleh.


“Aku sibuk  searching design design yang bagus untuk spanduk,” jawab Hanna.


“Memangnya kau mau membuat usaha sablon?” tanya Damian, kini menoleh pada istrinya itu.


“Bukan, aku mau unjuk rasa,” jawab Hanna, semakin membuat Damian terkejut.


“Unjuk rasa apa?” tanya Damian.


“Aku mau unjuk rasa padamu!” jawab Hanna, semakin membuat Damian tidak mengerti.


“Mau protes maksudmu?” tanya Damian lagi, kembali menyuapi Henry.


“Iya, aku akan berunjuk rasa, karena setelah Henry lahir kau sudah menganiaya perasaanku,” kata Hanna, membuat Damian kembali menatapnya.


“Menganiaya apa? Aku berbuat apa?” tanya Damian.


“Aku tidak terima, sejak ada Henry, kau tidak memperdulikanku lagi! Kau lebih perhatian pada Henry, kau mengabaikanku, kau menduakan diriku, aku merasa dimadu!” jawab Hanna dramatis.


Damian menghela nafas panjang lalu kembali menatap Henry dan tersenyum pada putranya itu.


“Habiskan makanmu ya,” ucap Damian, tangannya melap bubur yang ada di bibirnya Henry.


“Ceritanya kau mau protes? Berdemo?” tanya Damian tanpa menoleh.


“Iya aku akan mencetak spanduk yang panjang dan lebar lalu berunjuk rasa, memperjuangkan hak –hakku sebagai istrimu!” jawab Hanna.


“Memangnya kau akan mengajak siapa?” tanya Damian.


“Aku akan mengajak ayah dan ibuku pasti mereka akan mendukung,” jawab Hanna.


“Tidak mungkin, mereka tidak akan mau,” jawab Damian. Menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku akan mengajak orang-orang!” jawab Hanna.


“Orang-orang siapa? Mereka tidak berkepentingan,” tanya Damian, kini menatap Hanna.


“Aku akan berunjuk rasa sendiri saja sambil memegang spanduk,” jawab Hanna memberengut, membuat Damian tertawa.


Tiba-tiba Hanna berteriak kaget saat tangan Damian menarik tangannya dengan kuat sampai membuatnya terjatuh kepangkuannya Damian. Hanna buru-buru memeluk Damian kalau tidak, dia akan terjungkal.


“Damian kau mengagetkanku!” teriaknya.


Damian menatap istrinya, sambil memeluknya.


“Bangun tidur, belum madi, mau unjuk rasa segala, kau cemburu pada anakmu sendiri?” tanya Damian.


Hanna menatap Damian.


“Karena sekarang kau lebih suka memeluk Henry daripada aku,” jawab Hanna, mengerucutkan bibirnya.


“Karena sekarang aku tidak mengigau lagi,” jawab Damian.


“Itulah yang aku takutkan,” kata Hanna, menatap suaminya.


“Takut apa?” tanya Damian.


“Kau tidak membutuhkan pelukanku lagi kau akan melirik wanita lain,” jawab Hanna.


Pria tampan itu malah tersenyum.


“Sebaiknya kau mandi dan keramas, cuci kepalamu supaya tidak berfikir yang macam-macam,” kata Damian, sambil mengacak-acak rambutnya Hanna.


Hanna menatap Damian, tangannya menyentuh pipi suaminya yang kelimis.


“Kalau aku tidak boleh mencium Henry, apa aku boleh menciummu?” tanya Hanna.


“Mencium Henry saja tidak boleh apalagi menciumku!” jawab Damian, membuat Hanna sebal.


“Semakin hari kau semakin menyebalkan!” gerutu Hanna sambil bangun dari pangkuannya Damian.


“Aku mau mandi, baru aku akan menciummu,” ucap Hanna sambil memberengut.


“Kita dua pria tampan anti mendapat ciuman dari ibumu yang belum mandi, iya kan sayang,” katanya sambil tersenyum pada Henry dan mencondongkan badannya, mencubit pipi putranya dengan gemas. Henry seperti mengerti ucapan ayahnya, dia juga ikut tersenyum.


Hanna yang melihatnya langsung mencibir.


“Hem kalian berdua memang sebelas dua belas,” gerutunya, lalu beranjak pergi menuju kamar mandi.


“Sayang bersiap–siap kita main ke pantai!” teriak Hanna dari dalam kamar mandi.


“Iya!” jawab Damian, kembali menoleh pada Henry.


“Kau sudah kenyang, sayang? Kita akan berjalan-jalan ke pantai, kalau tidak salah ada pasar tumpah, kau bisa naik permainan juga, kau senang?” tanya Damian pada Henry sambil membuka celemeknya, lalu mecium pipi mulusnya Henry.


“I Love u sayang,” ucapnya. Dia merasa bahagia sekali sudah memilki buah hati yang selama ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya, betapa bangganya menjadi seorang ayah.


*****


Setelah Hanna mandi dan sarapan, mereka pergi ke pantai. Ternyata memang hari ini sedang ada pasar tumpah, banyak yang bejualan di sepanjang jalan pesisir pantai itu.


“Kapan kau akan membangun pantai ini menjadi tempat wisata yang bagus?” tanya Hanna.


“Satria dan Cristain sedang menyiapkan program-programnya,” jawab Damian, saat mereka berjalan menyusuri pantai. Karena hari ini ada pasar tumpah , pantai terlihat begitu ramai.


Damian menggendong Henry, kemana-mana pria itu selalu menggendong Henry, Hanna hampr bisa dikatakan jarang sekali menggendong putranya itu. Suaminya sangat senang sekali kemana-mana membawa jagoannya itu.


Hanna melihat ada yang berjualan bakso tusuk, dia langung saja tergiur membelinya saat mencium aroma kuah baso dari panci yang terbuka karena banyak yang membeli.


Kakinya langsung berhenti di penjual bakso itu. Dia mengantri dengan anak-anak yang akan membeli.


Dilihatnya Damian berjalan duluan dengan Henry yang dibiarkaan berjalan sendiri didepannya. Anak kecil itu berjalan tidak dipegang ayahnya, karena tubuhnya yang masih kecil tentu saja Damian yang tinggi tidak bias berjaln sambil menuntunnya. Henry berjalan tanpa jeda, terus saja melangkahkan kaki kakinya yang kecil.


Karena dipantai itu begitu ramai, kehadiran mereka menyita perhatian. Henry yang lucu bersama pria tampan tinggi besar yang menemaninya, membuat beberapa wanita yang iseng menghampiri mereka sekedar ingin menyapa Henry atau menyapa ayahnya yang tampan. Bahkan ada yang memfoto-foto segala juga selfi.


Hann masih mengantri dengan tidak sabar, jadi dia langsung nyerobot.


“Pak, saya kan ngantri duluan, kenapa tidak dibikin-bikinkan juga?” protes Hanna.


“Lah Bu, kasihan anak-anak duluan, ibu kan sudah tua, jadi harus sabar,”jawab penjual bakso tusuk itu.


“Apa maskudmu aku tua?” protes Hanna.


“Ya kalau dibandingkan anak-anak itu, ibu ini sudah tua,” jawab penjual bakso itu membuat Hanna memberengut. Akhirnya dia mengalah menunggu lagi sampai gilirannya tiba.


Hanna memakan bakso tusuk itu yang rasanya sangat enak, entah berapa lama dia tidak merasakan makan makanan merakyat seperti ini. Dia terus berjalan sambil memakan baksonya, tapi mulutnya berhenti mengunyah saat melihat suami dan anknya banyak yang mengerubungi.


Yang paling membuatnya menjadi kesal karena beberapa yang berdiri didekat suaminya itu gadis-gadis cantik dengan pakaian mininya. Amarahnya langsung naik saja ke ubun-ubun.


Hannapun berlari menyusul suaminya.


“Hei, hei, apa yang kalian lakukan pada suami dan anakku? Hem?” teriaknya, membuat orang-orang menoleh kearahnya.


Hanna langsung bertolak pinggang, berdiri didepan Damian menatap wanita-wanita itu, terutama pada gadis-gadis itu.


“Pergi kalian! Jangan mengganggu suami dan anakku! Tidak ada kerjaan!” makinya. Orang- orang itupun segera bubar.


Hanna langsung menoleh pada Damian.


“Kau tebar pesona ya?” tanyanya, menatap Damian dengan tajam.


“Tebar pesona apa? Tanpa aku tebar juga sudah mempesona,” jawab Damian dengan ketus.


“Huh! Mempesona!” gerutu Hanna.


Damian tidak mempedulikan Hanna, dia membungkuk mengambil Henry yang mau main pasir, lalu digendongnya sambil membersihkan tangan-tangan mungilnya yang kotor oleh pasir.


“Pergi sedikit saja dari istrimu, kau sudah bergenit-genit ria,” keluh Hanna, sambil menyodorkan bakso tusuk ditangannya.


“Apa ini?” tanya Damian.


“Bakso tusuk,” jawab Hanna.


“Seperti anak kecil saja kau beli itu,” ucap Damian, terus bejalan menggendong Henry.


“Sekali-kali, tapi rasanya enak, nih,” Hanna menyodorkan lagi bakso itu ke mulut Damian, yang terpaska memakannya.


“Enakkan?” tanya Hanna. Damian merasa-rasakan rasa makanan itu dimulutnya.


“Kau benar, lumayan enak,” jawab Damian.


Merekapun terus menyusuri pinggiran pantai, sambil tangan Hanna menyodorkan bakso itu kemulutnya Damian. Tapi saat dia yang mau makan ternyata baksonya sudah habis.


“Ko habis? Katanya tidak suka,” gerutunya. Damian hanya tertawa.


Hanna berlari menuju tong sampah dibawah pohon kelapa untuk membuang sampahnya, lalu dia berlari lagi menyusul suami dan putranya menyusuri pantai, dia tidak mau ketinggalan, bisa-bisa banyak lagi gadis-gadis yang mengerubungi suaminya. Membuatnya tidak tenang membiarkan suami dan anaknya berdua.


Tangannya langsung memeluk tangan Damian.


“Biar tidak ada yang mengganggumu lagi,” ucap Hanna. Damian hanya tertawa lalu mencium kening istrinya, membuat Hanna bahagia saja.


**************