Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH 71 Pertengkaran di rumah Shezie



Shezie menunduk sedih dengan airmata yang terus menetes dipipinya. Dia menangis sesenggukan.


“Aku melakukan semua ini demi ibu! Aku tidak pernah menjual diriku!” kata Shezie.


“Ibu sudah mengatakan berkali-kali ibu tidak mau kau mendapatkan uang dengan cara yang tidak benar, tapi kau tidak pernah mendengarkan perkataanku,” maki Bu Vina.


“Aku tidak pernah menjual diri Bu,” ucap Shezie.


“Apa bedanya dengan menjadi istri bayaran pria kaya itu? Kau juga tinggal satu rumah, apa itu namanya? Tidak ada orang yang mau membayarmu cuma-cuma tanpa menyentuhmu!” kata Bu Vina.


“Ibu salah faham. Henry membayarku bukan untuk melakukah hal yang tidak-tidak! Dia membayarku karena untuk mengatasi malu keluarganya karena dicemooh orang, itu yang sebenarnya. Aku tidak tahu ibu dapat informasi darimana soal ini,” ujar Shezie, mencoba menjelaskan.


“Jangan katakan kalau ibu dapat informasi dari Martin kan Bu? Dia hanya ingin menjelekkanku!” lanjut Shezie.


Bu Vina menatap Shezie.


“Dia itu calon suamimu, dia sudah bersabar dengan semua ini. Bahkan dia masih mau menikahimu meskipun kau sudah menjadi istri bayaran pria kaya.” Bu Vina masih membela Martin.


“Martin tidak sebaik yang ibu kira,” ucap Shezie.


“Tidak baik bagaimana? Dia akan menikahimu dengan benar,  orangtuanya datang melamar, dia selalu menjaga ibu. Tidak seperti pernikahanmu dengan pria itu! Sudah menikah demi uang, tidak meminta restu, orang tuanya juga tidak datang menemuiku, pria macam apa begitu?” hardik Bu Vina.


“Aku tahu itu semua salah Bu, Aku minta maaf. Tapi sekarang aku dan Henry, kami sepakat untuk melanjutan pernikahan ini Bu,” kata Shezie.


“Apa maksudmu bicara begitu?” Bu Vina menatap Shezie dengan tajam.


“Aku dan Henry saling mencintai, kami akan melanjutkan pernikahan ini,” jawab Shezie.


“Kau gila ya? Kau sudah bertunangan dengan Martin, kau akan menikah dengan Martin!” maki Bu Vina, dengan amarah nya yang meledak-ledak. Seketika kepalanya langsung terasa pusing dan dadanya sesak.


“Bu!” teriak Shezie,  menghampiri ibunya dan mengulurkan tangannya tapi tangan ibunya menepiskan tangannya Shezie tidak mau dibantu.


“Jangan menyentuhku!” bentak Bu Vina.


“Bu,” airmata Shezie langsung tumpah mendapat penolakan ibunya.


“Kau sudah mengecewakanku Shezie, kau tidak perlu memperdulikanku lagi,” kata Bu Vina, memegang dadanya yang semakin sesak, diapun berjalan perlahan dan duduk di kursi.


Shezie akan menghampiri lagi tapi langkahnya terhenti karena tangan Bu Vina menghalanginya lagi.


Bu Vina merasakan kepalanya juga semakin pusing, pandangan matanya semakin buram.


“Bu, kita ke rumah sakit ya,” kata Shezie.


“Tidak, tidak perlu,” tolak Bu Vina, bersikeras masih memegang dadanya yang semakin sakit.


“Bi! Bi Ijah!” teriak Bu Vina.


Bi Ijah yang sedang ada di halaman belakang segera berlari masuk saat namanya dipanggil.


“Bu! Ibu kenapa?” tanya Bi Ijah, memegang tangannya Bu Vina.


“Bantu aku ke kamar!” jawab Bu Vina.


Shezie mengulurkan tangannya lagi akan membantu ibunya berdiri tapi Bu Vina menepiskan tangannya lagi. Hatinya semakin sedih melihatnya. Ibunya benar-benar marah padanya. Bi IJah memapah Bu Vina masuk ke kamarnya.


Shezie melihat ibunya meraba-raba tembok, melihatnya membuatnya merasa sedih, ibunya sudah mulai tidak bisa melihat.


Bi Ijah membantu Bu Vina berbaring. Shezie hanya menatap ibunya sambil berdiri memantung di pintu, airmata terus membasahi pipinya.


Melihat reaksi ibunya begitu, sudah dipastikan ibunya tidak akan merestui pernikahannya dengan Henry.  Shezie sudah terlanjur mencintai Henry, dia ingin selalu bersama Henry , dia tidak mau menikah dengan Martin.


Shezie duduk bersimpuh di lantai di dekat pintu kamar ibunya yang sekarang tertutup, sengaja ditutup oleh Bi Ijah tadi.


Tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang masuk kerumahnya, karena pintu utama belum ditutup sedari tadi.


“Shezie!” panggil orang itu yang ternyata Martin.


“Kenapa kau duduk dibawah?” Martin menghampiri akan membangunkan Shezie tapi Shezie menepiskan tangannya itu.


“Bagaimana ibu? Apa yang terjadi? Pintu terbuka begitu saja,” tanya Martin, menahan kesal dihatinya, lagi-lagi Shezie menolaknya, hatinya semakin muak saja diperlakukan begini oleh Shezie.  Shezie tidak menjawab.


Martin melihat pintu kamar Bu Vina yang tertutup, dalam hati dia tertawa, sepertinya tadi sudah ada pertengkaran hebat antara Shezie dan ibunya.


Shezie bangun dan menatap Martin yang juga menatapnya. Shezie menarik tangan Martin membawanya keluar dari  rumahnya.


“Kita perlu bicara!” kata Shezie, langkahnya berhenti diteras rumah. Diapun melepaskan tangannya Martin.


Martin menatap gadis itu, memperhatikan Shezie dari atas sampai bawah, diapun tersenyum dalam hati.


“Si Brengsek itu benar-benar bisa merawatnya, gadisku terlihat semakin cantik,” batinnya.


“Jangan panggil aku sayang!” bentak Shezie.


“Kau ini kenapa selalu bersikap begitu padaku, aku ini calon suamimu!” seru Martin dengan


kesal.


“Kau salah! Aku istrinya Henry sekarang jadi aku tidak akan pernah menikah denganmu,” ujar Shezie. Martin malah tertawa mendengarnya.


“Sekarang iya, tapi sebentar lagi bukan. Aku yakin ibumu akan menyuruhmu meninggalkan pria itu. Kau tidak akan punya pilihan lain,” kata Martin.


“Aku tidak akan pernah meninggalkan Henry, aku tidak akan pernah bercerai darinya, aku mencintainya,” ujar Shezie.


Martin lagi-lagi tertawa.


“Sudahlah jangan memaksakan diri, jodohmu itu aku, bukan Henry,” kata Martin.


Shezie menatap pria itu makin lama semakin muak saja melihatnya, pria bermuka dua.


“Apa yang kau katakan pada ibuku sampai ibuku jadi seperti itu? Ibuku tidak mungkin keluar dari rumah sakit jika kau tidak bicara apa-apa pada ibuku,”tanya Shezie.


“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya kalau kau istri bayarannya Henry, hanya itu,” jawab Martin.


“Kau sudah berjanji untuk tidak mengatakan hal itu pada ibu! Kau juga malah mengantar ibu datang ke rumahnya Henry,” maki Shezie dengan kesal.


“Kau ingin aku menepati janjiku? Kau sendiri apa? Kau masih berhubungan dengan pria itu padahal aku sedang menyiapkan acara pernikahan kita. Bahkan kau pergi keluar negeri dengan pria itu,” kata Martin.


“Sudah aku katakan, aku tidak menyukaimu, aku tidak mau menikah denganmu,” ujar Shezie.


Martin berjalan mendekati Shezie  dengan wajah yang memerah menahan marah. Tiba-tiba tangannya mencengkram dagunya Shezie.


“Aku tidak butuh kau cinta padaku atau tidak! Kau fikir aku akan diam saja kau perlakukan aku seperti ini?” bentaknya.


Shezie terkejut dengan sikap Martin yang mencengkram dagunya dengan kasar. Pria itu terlihat sangat marah.


“Martin lepaskan! Kau menyakitiku!” kata Shezie.


“Aku peringatkan sekali lagi, kau akan membayar semua perlakuanmu padaku!” ancam Martin.


“Apa yang kau lakukan pada istriku?” tiba-tiba ada teriakan yang mengagetkan mereka.


Shezie terkejut melihat siapa yang datang, Henry berlari menghampiri mereka. Setelah dekat, tangan Henry langsung mengunci lehernya Martin, membuat Martin terkejut dengan gerakan yang tiba-tiba itu, diapun merasa sesak.


“Kau macam-macam dengan istriku, aku patahkan lehermu!” ancam Henry.


Martin merasakan jepitan tangan Henry semakin kuat di lehernya  semakin membuatnya sesak.  Terpaksa Martin melepaskan cengkraman di dagunya Shezie. Henrypun melepaskan tangannya dan mendorong tubuh Martin menjauh.


“Kau benar-benar tidak tahu malu, kau terus mengganggu istriku!” Maki Henry.


“Kau yang tidak tahu malu! Sudah jelas-jelas Shezie adalah caon istriku tapi kau tidak mau melepasnya! Dia itu hanya istri bayaranmu! Jangan sok memiliki!” balas Martin.


“Kau salah, Shezie sekarang adalah istriku, benar-benar istriku, jadi sebaiknya kau pergi sejauh mungkin jangan pernah kembali lagi!” usir Henry.


“Kau yang harus pergi bukan Martin!” tiba-tiba ada suara yang menyela dari dalam rumah. Semua orang menoleh kearah pintu, ternyata Bu Vina sudah berdiri dipintu dipegangi oleh Bi Ijah.


Bu Vina terbangun karena mendengar suara ribut- ribut diluar jadi memaksakan keluar dari kamarnya.


“Bu, jangan usir Henry, Henry suamiku,” kata Shezie berjalan mendekati ibunya.


Bu Vina menatap Shezie lalu beralih pada Henry.


“Kalian tidak pernah minta restu apapun padaku, jadi aku tidak akan pernah menganggap pernikahan kalian ada, “ kata Bu Vina.


“Aku minta restu sekarang,” kata Henry, berjalan menghampiri Bu Vina.


“Sudah terlambat, aku sudah tahu pernikahan macam apa yang kalian lakukan. Martin sudah melamar Shezie lebih dulu, jadi Shezie akan menikah dengan Martin. Kau siapkan berkas perceraian dengan putriku secepatnya,” kata Bu Vina, menatap Henry dengan pandangan yang mulai samar-samar, kadang jelas kadang buram.


“Tidak Bu, Shezie istriku, kami menikah dengan sah. Aku tidak akan pernah menceraikannya,” kata Henry.


“Benar apa yang dikatakan Henry Bu, tolong restui kami,” pinta Shezie, juga mendekati ibunya.


Bu Vina menatap Shezie dengan tajam.


“Kau tidak mendengarkan perkataanku, jangan pernah menganggap aku ibumu lagi!” ucap Bu Vina, membuat Shezie terkejut.


“Bu! Kenapa ibu bicara begitu? Jangan menyuruhku untuk memilih, aku mencintai Henry, Henry suamiku Bu!” kata Shezie, airmata langsung menetes saja dipipinya, hatinya sedih ibunya berkata begitu.


***********