
Hanna merasakan ada nafas yang begitu dekat dengannya, dia merasa ada suatu pergerakan yang… diapun membuka matanya, dan benar saja wajah pria itu berada didekat wajahnya, sangat dekat.
Damian berbaring menelungkup di tempat tidur, melipat kedua tangan di dadanya, sedang menatapnya. Wajah tampannya yang segar sepertinya sudah mandi dengan rambutnya yang sedikit basah, berada hanya bebepara senti dari wajah Hanna, pantas saja dia merasa seperti ada hembusan nafas yang begitu dekat.
Tentu saja hembusan nafas itu tercium harum dan segar karena pria itu sudah mandi dan tentunya sudah gosok gigi dan kumur-umur dengan cairan untuk menyegarkan mulut, tercium segar di hidungnya Hanna.
Melihatnya membuat Hanna berfikir seharusnya pria itu membangunkanya bukan dengan manatapnya saja, seharusnya dia menciumnya juga dan mengucapkan selamat pagi padanya, kalau itu terjadi, maka pagi ini akan terasa sangat indah.
“Kau sedang memikirkan apa?” tanya Damian, dia sudah bisa menebak kalau wanita itu sedang berfikir macam-macam.
“Tidak memikirkan apa-apa,” jawab Hanna.
“Aku bisa menebaknya,” kata Damian, masih menatap Hanna.
“Menebak apa?” tanya Hanna.
“Kau pasti ingin ketika kau bangun aku mengucapkan selamat pagi dan menciummu kan?” tebak Damian, tidak bosan-bosannya melihat wajah wanita itu meskpin baru bangun tidur.
“Ternyata kau benar-benar bisa telepati ya,” ucap Hanna, dia lupa kalau Damian kadang-kadang bisa membaca fikirannya.
“Aku sudah tahu isi di kepalamu ini,” kata Damian mengetuk ngetuk satu jarinya di kening Hanna beberapa kali.
“Kalau begitu apa kau tahu apa yang aku fikirkan sekarang?” tanya Hanna masih berbaring miring dan menatap Damian, dia sama sekali tidak bergerak, tubuhnya masih berada dibalik selimut.
“Tentu saja kau masih membayangkan aku menciummu,” jawab Damian.
“Kau salah, aku ingin buang air!” teriak Hanna, seketika bangun melempar selimutnya dan turun dari tempat tidur, berlari ke kamar mandi.
Damian terbengong melihatnya, bukankah dia sekarang sedang mencoba untuk beromantis-romantis? Kenapa Hanna menghancurkannya?
“Hanna!” teriak Damian.
“Aku sedang mencoba bersikap romantis kenapa kau menghancurkannya?” teriak Damian.
“Aku sakit perut Damian! Aku terlalu banyak makan pedas!” teriak Hanna dari dalam kamar mandi. Membuat Damian geleng-geleng kepala, tidak habis fikir dengan sikap wanita itu. Diapun bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar itu.
Setelah dari kamar mandi dan berpakaian, Hanna menyisir rambutnya di depan cermin. Dari cermin itu terlihat bayang-bayang dua buah koper didekat tempat tidur. Dia mengerutkan keningnya, kenapa ada kopernya juga disana? Apa mereka akan pergi-pergi jauh? Apa Damian yang mengepak barang-barangnya?
Dari luar rumah terdengar juga suara mesin mobil dinyalakan. Apa Damian akan pergi? Bangun tidur sepagi ini pria itu sudah tampan sekali, sudah mandi dan berpakaian rapih, mau kemana dia?
Tidak berapa lama, pintu kamar terbuka, pria yang dibayangkannya itu masuk ke kamar mereka.
“Kau sudah mandi rupanya, jadi kita bisa langsung berangkat,” kata Damian, berdiri menatap Hanna yang sedang menyisir rambutnya itu.
“Kau akan pergi kemana?” tanya Hanna, menoleh pada Damian yang sedang memperhatikannya.
“Bukankah kau ingin ke ibukota?” Damian balik bertanya.
“Ke ibukota? Kau serius?” tanya Hanna, dia terkejut ternyata mereka akan ke ibukota.
“Tentu saja, aku juga sudah mengepak barang-barangmu, yang penting-penting saja,” kata Damian.
Hanna mendekati Damian.
“Tapi kan kau sedang sibuk,” kata Hanna.
“Tidak apa-apa, aku juga ada urusan ke ibukota,” ucap Damian.
Hanna langsung tesenyum senang. Pria itu membuatnya bahagia saja. Kalau dia ke ibukota minimal dia bisa menghindari supaya dia tidak ditemukan ayahnya, meskpin hanya sementara karena pasti Damian akan kembali lagi kesini karena proyeknya butuh waktu lama.
“Terimakasih kau mengabulkan permintaanku, kau benar-benar sangat perhatian padaku,” ucap Hanna dengan terharu.
“Kau salah, bukan karena perhatian padamu, aku hanya kasihan saja kau sudah capek capek berpura-pura perhatian padaku,” kata Damian, membuat Hanna sebal mendengarnya. Pria ini sangat mahal bermanis manis dengannya.
“Dari pada bicara denganmu, mending aku cek isi koperku, benar tidak kau membawakan barang-barangku?” tanya Hanna, sambil menghampiri kopernya dan disimpan diatas tempat tidur, lalu diapun duduk disamping koper itu langsung membukanya.
“Tentu saja semua yang kau butuhkan ada disana,” jawab Damian.
Hanna melihat isi kopernya, diceknya ternyata benar, pakaian-pakaian yang sering dia gunakan sudah ada disana. Diapun tesenyum, ternyata Damian sangat memperhatikannya. Dan senyumnya hilang saat menemukan lingeri pavoritenya disalah satu tumpukan bajunya itu, bukan itu saja, ada beberapa daleman yang lain juga. Dia langsung terbelalak.
“Ini? Kau membawakan lingeriku ini?” tanya Hanna, menatap Damian, wajahnya terlihat memerah.
“Juga dalemanku yang lain?” lanjutnya, tidak percaya sambil menatap daleman-daleman itu.
“Iya, kau suka memakai pakaian dalam itu kan, aku pilihkan pakaian dalam yang sering kau pakai saja,” kata Damian, kini duudk didekat koper disebrangnya Hanna.
“Kau, kau kenapa bisa tahu aku suka menggunakan ini?” tanya Hanna, sambil memperlihatkan lingeri pavoritnya pada Damian. Prasangka-prasangka buruk terus bermunculan di benaknya.
“Ya tau saja,” jawab Damian, bersikap biasa saja.
“Hem!” Hanna menyimpan lingerinya kembali keatas koper dengan keras, diapun bangun, berdiri menatap Damian dan bertolak pinggang.
“Jadi selama ini kau suka mengintip intipku saat aku tidur?” bentaknya. Pria itu balas menatapnya.
“Tidak,” jawab Damian, menggeleng.
“Kalau tidak, kenapa kau tahu daleman yang sering aku pakai?” tanya Hanna lagi masih dengan bentakannya, kedua tangannya masih bertolak pinggang, dia benar-benar tidak suka dengan sikapnya Damian yang menurutnya tidak senonoh.
“Ya tahu saja!” jawab Damian, tanpa dosa.
“Bagaimana kau bisa tahu kalau kau tidak mengintip intip bajuku saat aku tidur? Jadi selama ini kau bertindak tidak senonoh padaku?” bentaknya lagi.
“Buat apa aku mengintip-intip? Tanpa aku intippun terbuka sendiri,” jawab Damian.
“Apa maksudmu terbuka sendiri? Alasan saja! Ternyata kau pria yang heueuuueh!” Hanna menggeretukkan giginya dengan kesal. Apalagi melihat wajah Damian yang tanpa dosa, membuatnya semakin sebal saja. Hanna tidak menyangka kalau Damian berbuat seperti itu.
Pria yang menurutnya menyebalkan itu menatapnya.
“Sudah aku katakan aku tidak megintip intip daleman yang kau pakai,” kata Damian.
“Aku tidak percaya!” ucap Hanna masih dengan nada ketus.
“Apa kau sadar setiap bangun tidur kau selalu berselimut?” tanya Damian, masih menatapnya.
“Dimanapun kau tinggal kau akan merasa dingin jika tidur, karena kau tidur tidak bisa diam, ke kanan, kekiri, semua area tempat tidur kau ubek, kadang kepalamu ada dibawah kakiku dan kakimu ada didadaku, huh! Karena kau tidak bisa diam, jadi dalemanmu suka terlihat kemana-mana, membuatku pusing saja melihatnya. Jadi aku yang menyelimutimu setiap aku bangun,” kata Damian, membuat Hanna terkejut.
“Apa? Aku tidur tidak bisa diam?Aku kan berselimut,” tanya Hanna, tidak percaya.
Damian mengangguk.
“Jadi maksudmu kalau tidur bajuku terbuka dan kau melihat dalemanku?” tanya Hanna, warna wajahnya sudah mulai berubah.
Damian mengangguk lagi.
“Apa benar begitu?” tanya Hanna, wajahnya semakin merah saja, dia membayangkan tidur dengan arah yang tidak beraturan seperti yang Damian bilang tadi, kepalanya ada di kaki Damian dan kakinya ada didadanya dan dalemannya tersingkap? Ya ampuuun..bagian yang sangat privasi itu terihat kemana-mana, dan saat Damian
bangun, Damian melihat daleman yang dia pakai? Oh tidak...kenapa memalukan seperti ini? Hanna langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Haa sangat memalukan sekali!” keluhnya.
Damian bangun dari duduknya, berjalan mendekati Hanna.
“Jadi jangan suka menuduhku kacam-macam, itu terbuka sendiri, mau tidak mau aku terpaksa melihatnya setiap pagi. Jadi kau berselimut karena aku menyelimutimu, kasihan kau kedinginan,” kata Damian, semakin membuat Hanna tidak punya muka saja.
“Sudah tidak usah malu, tiap malam aku tahu apa yang kau pakai dibalik bajumu itu,” kata Damian lagi.
Hanna semakin malu saja,seharusnya dia tidur menggunakan celana panjang. Jadi celana dalamnya tidak akan terlihat kemana-mana. Pantas saja setiap pagi dia selalu berselimut dengan rapih ternyata Damian yang menyelimutinya? Aduuh bagaimana ini?
Damian menarik kedua tangan Hanna yang menutupi wajahnya.
“Sudah, ikhlaskan saja apa yang terjadi,” kata Damian.
Mendengar ucapannya membuat Hanna jadi kesal dan langsung saja tangannya berpindah menempel kewajah Damian.
“Ikhlaskan, ikhlaskan! itu sangat memalukan tau!” umpat Hanna. Damian malah tertawa.
“Lagipula kau tidur seperti itu, tidak bisa diam, kekanan kekiri, tempat tidur habis kau obek,” kata Damian.
“Masa sih aku begitu? Kalau bangun tempat tidurnya selalu rapih,” ucap Hanna, diapun melihat ke arah tempat tidur yang rapih, hanya ada selimut yang tadi dia lempar itu.
“Itu kan aku yang membereskan,” kata Damian.
“Apa benar begitu? Aku tidak percaya,” jawab Hanna.
“Kalau tidak percaya, kita pasang cctv, biar kau tahu kalau kau tidur seperti apa,” jawab Damian.
“Cctv di dalam kamar ? Tidak tidak, itu akan sangat memalukan,” Hanna menggeleng gelengkan kepalanya.
“Ya biar kau percaya,” kata Damian. Hanna langung saja cemberut.
“Ayo mau berangkat tidak?” tanya Damian.
“Iya iya,” jawab Hanna, kembali berjalan menuju tempat tidur, dan memasukkan daleman-dalemannya yang tadi dikeluarkan.
Damian hanya menatapnya dengan senyum tertahannya. Menggoda wanita ini membuatnya terasa lucu. Lihat saja wajahnya yang merah itu dan bibirnya yang memberengut kesal, pasti Hanna dongkol sekeli.
“Tapi kau jangan khawatir,” kata Damian.
“Khawatir apa?” tanya Hanna, sambil menoleh kerah Damian.
“Aku suka melihatnya,” jawab Damian.
Seketika Hanna langsung melemparkan celana dalam yang ada ditangannya yang tadi akan dimasukkan koper, celana dalam itu terlempar jauh sampai mengenai wajahnya Damian.
Pluk! Salah satu barang rahasia itu menempel dimukanya Damian. Hanna langsung tertawa melihatnya.
Damianpun mengambilnya barang yang ada di wajahnya itu.
“Apa ini?” tanyanya, melihat barang yang dilempar Hanna tadi.
Melihat Damian memegang celana dalamnya, Hanna langsung beranjak dan merebutnya dari tangan Damian.
Saat melihat apa yang tadi menempel diwajahnya, pria itu malah tertawa, membuat Hanna kesal dan memasukkan daleman-dalemannya ke koper.
“Kau selalu meledekku!”keluh Hanna.
“Aku tunggu dibawah ya. Kalau kau mau sarapan, sarapan dulu, aku sudah sarapan tadi,” ucap Damian.
Hanna tidak menjawab, bibirnya masih saja cemberut, membayangkan setiap malam pria itu melihat daleman yang dia pakai, benar-benar di obral.
Tok tok tok…terdengar pintu kamar yang terbuka diketuk. Satria suda berdiri disana.
“Kakak, kau jadi pulang hari ini?” tanyanya.
“Iya,” jawab Damian, menoleh kearah Satria.
“Baiklah, hati-hati dijalan,” kata Satria.
“Tidak perlu bilang hati-hati! Tidak perlu perhatian padanya!” potong Hanna dengan ketus, membuat Satria bertanya-tanya ada apa dengan kakak iparnya itu? Diapun menoleh ke arah Damian, pria itu hanya tersenyum menahan tawanya.
“Stop menertawakanku! Keluar! Keluar kalian dari karmarku!” usir Hanna.
“Ada apa dengamu?” tanya Satria keheranan, menoleh lagi pada Hanna lalu pada kakaknya.
“Hatinya sedang galau!” jawab Damian.
Mendengar perkataan Damian membuat Hanna sebal saja, diapun mengambil sebuah bantal lalu dilempar kearah Damian. Tapi pria itu buru-buru mendorong Satria mengajak keluar dari sana dan menutup pintunya. Pluk! Batalpun jatuh mengenai pintu.
**************
Wwwkkk hiburan dipagi hari, maaf ya kalau garing, seperti biasa yang penting author sendiri yang bisa senyum.
Tiga hari nunggu like 1000 ternyata baru sampai 900 saja
Jangan lupa like vote dan komen