Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-112 Terbongkarnya pernikahan palsu



Seharian ini Hanna gelisah menunggu kabar baik dari Damian. Tapi hari sudah siang Damian belum memberi kabar atau mungkin langsung bekerja karena merasa jenuh, dia keluar dari rumah. Saat turun dari tangga, dia melihat sebuah mobil masuk kehalaman. Hanna terkejut saat melihat siapa yang datang, ternyata Cristian. Tentu saja dia tidak seharusnya terkejut karena perusahaan Cristian bekerja sama dengan perusahaannya Damian.


Cristian keluar dari mobilnya, menatap Hanna yang baru turun dari rumahnya. Diapun menghampirinya.


“Kau mau keluar?” tanya Cristian, menatap gadis yang dia cintai itu.


Hanna menatap Cristian, hatinya merasa tidak nyaman, sepertinya tatapannya Cristian agak berbeda. Biasaya dia menghindari menatapnya sekarang begitu jelas menatapnya dengan tajam.


“Tidak, aku hanya jenuh saja di dalam rumah terus,” ucap Hanna.


“Kalau begitu bagaimana kalau kita makan siang? Aku juga mengajak Damian,” kata Cristian.


Dari dalam kantor keluar seseorang yang langsung menatap mereka. Damian menghentikan langkahnya. Kenapa dari hari kehari dia merasa cemburu setiap melihat Cristian, tidak seperti awal awal dia mengetahui kalau Cristian adalah pengantin prianya Hanna.


“Damian!” panggil Cristian. Damian segera menghampiri.


“Kalian sudah janjian?” tanya Hanna.


“Aku mengajak Damian makan siang, ternyata ada kau, jadi kau ikut saja makan siang dengan kami,” kata Cristian. Entah kenapa Hanna merasa ada yang lain dari sikapnya Cristian. Hanna juga tidak tahu, apa itu.


Hanna menoleh pada Damian yang juga menatapnya.


“Kau tidak keberatan aku ikut makan siang dengan kalian?” tanya Hanna.


“Tentu saja tidak, sayang, ayo!” ajak Damian, tangannya langsung menarik pinggangnya Hanna.Wajah Cristian langsung merah melihatnya, tapi dia tidak bereaksi apa-apa.


“Kita pakai mobilku saja,” kata Cristian. Beranjak duluan menuju mobilnya diikuti Hanna dan Damian.


Sepanjang jalan mobil itu menyusuri jalanan dipinggiran pantai.


“Kau tau berapa lama aku mengenal Hanna?” tanya Cristian pada Damian yang duduk disampingnya.


“Aku tidak tahu,” jawab Damian.


“Dari aku kecil. Waktu itu ibuku sering bepergian menemani ayahku mengurus bisnisnya ke luar kota juga keluar negeri. Ayahku sangat sibuk dan jarang pulang jadi ibuku menemaninya dan aku dititipkan pada kakekku supaya pendidikanku tidak terganggu,” ucap Cristian.


Hanna mendengarkan dari belakang mobil, dia heran kenapa Cristian membahas masa lalu mereka? Hatinya semakin mencurigai sesuatu.


“Sebenarnya orangtuaku sudah menjemputku tapi ada satu alasan yang membuatku memilih tinggal dengan kakekku, kau tahu alasannya?” tanya Cristian.


“Tidak tahu,” jawab Damian.


“Alasannya adalah karena aku menyukai Hanna,” kata Cristian.


Mendengar perkataan Cristian, membuat Hanna semakin curiga saja.


“Cristian, rumah makannya masih jauh?” tanya Hanna mencoba menberi isyarat supaya Cristian menghentikan ceritanya. Tapi Cristian tidak menggubrisnya.


“Aku dan Hanna bersama sama dari kecil, seiring waktu kami dewasa kamipun pacaran. Aku sangat mencintai Hanna,” lanjut Cristian.


Bukan Hanna saja yang merasakan sesuatu pada Cristian tapi juga Damian. Dia merasa Cristian akan menagtakan sesuatu. Hatinya mulai merasa terbakar cemburu sepertinya Cristian sengaja bercerita kedekatannya dengan Hanna.


“Dan kau tahu kenapa aku akan menikah dengan Hanna?” tanya Cristian.


“Tidak tahu,” jawab Damian.


“Karena aku melamarnya dan dia menerimakau, maka terjadilah hari pernikahan itu. Kemudian tiba-tiba semua berubah, Hanna pergi meninggalkan pernikahan kami, dia menumpang sebuah mobil mewah,” ucap Cristian.


Kini mobilnya keluar dari jalan raya dan menyusuri pinggiran pantai, lalu berhenti.


“Hanna menumpang mobilmu,” lanjut Cristian.


Damian terdiam juga Hanna. Mereka tidak tahu apa sebenarnya yang ingin Cristian katakan.


“Cristian, apa maksudmu membahas hal itu?” tanya Hanna yang duduk dibelakang.


“Benarkan apa yang aku katakan? Kau menumpang mobilnya Damian?” tanya Cristian. Hanna akan menjawab tapi Damian lebih dulu menjawabnya.


“Iya, dia menumpang mobilku,” jawab Damian dengan tegas, tatapannya lurus kedepan.


Hanna merasakan aura peperangan yang tidak mengenakkan. Kedua pria yang duduk didepannya itu menatap lurus ke depan.


“Aku tahu kalian belum menikah,” kata Cristian tiba-tiba. Membuat Hanna terkejut, sedangkan Damian hanya diam saja.


“Cristian! Apa maksudmu? Aku dan Damian sudah menkah , dan aku sedang hamil,” kata Hanna.


“Hentikan kebohonganmu!” teriak Cristian, sambil memukul stir mobilnya dengan keras.


Hanna terdiam melihat kemarahannya Cristian. Pria itu keluar dari mobilnya. Berdiri tidak jauh dari mobil itu. Damian membuka pintu mobil.


“Damian!” panggil Hanna, dia khawatir Damian akan bertengkar dengan Cristian.


Tapi Damian tidak mendengarnya, diapun keluar dari mobilnya. Akhirnya Hanna juga mengikutinya. Hatinya merasa khawatir mereka akan berkelahi.


“Aku mengikuti permainanmu, sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Damian, berdiri disamping Cristian, kedua pria itu ini menatap pantai yang tenang di kejauhan. Ketenangan air dipantai itu tidak setenang hati merkea.


“Aku mau mengambil kembali hakku,” kata Cristian.


“Apa maksudmu dengan hak?” tanya Damian. Keduanya semakin tegang saja.


Hanna berdiri dibelakang mereka, dia bingung harus bicara apa.


“Damian, Cristian, kalian tidak perlu membahas ini, kita kan mau makan siang, aku sudah lapar,” kata Hanna.


Cristian langsung membalikkan badannya menatap Hanna.


“Stop Hanna, jangan pura-pura lagi, jangan dilanjutkan lagi sandiwara ini!” teriak Cristian.


“Cristian..” Hanna juga menatap Cristian.


“Aku tidak mengerti apa yang ada dikepalamu sampai membuat kebohongan seperti ini! Kau membohongiku, membohongi keluargamu, aku kecewa padamu Hanna!” kata Cristian dengan nada tinggi, menatap Hanna dengan tajam penuh kemarahan.


“Cristian apa yang kau bicarakan?” tanya Hanna.


“Kau masih tidak mengerti juga? Buat apa kau berpura-pura menjadi istrinya? Buat apa? Kau juga pura-pura hamil kan?” tanya Cristian.


Hanna pun terdiam,dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Damian masih berdiri menatap kearah pantai tanpa bicara.


“Jadi kau mau apa?” tanya Damian, akhirnya bicara tapi tanpa menoleh.


“Hanna tidak akan pergi!” ucap Damian dengan tegas, diapun berbalik menghadap Cristian.


“Aku akan tetap membawanya pergi, dia pengantinku!” kata Cristian.


“Dia sudah meninggalkanmu, itu artinya apa? Tidak ada ikatan apa-apa lagi antara kau dan Hanna,” ucap Damian.


“Kita akan melanjutkan pernikahan yang tertunda,” kata Cristian.


“Tidak Cristian! Aku tidak mau menikah denganmu!” potong Hanna.


“Aku mencintai Damian!” lanjutnya.


Cristian menoleh pada Hanna.


“Aku tidak akan membiarkan kau bersama pria yang tidak bermoral ini!” teriak Crsitian.


“Apa maksudmu kau bicara begitu? Damian pria yang baik!” ucap Hanna, merasa kesal karena Cristian menjelekkan Damian.


“Pria yang baik? Membuatmu jadi istri pura-pura itu pria yang baik? Kalau dia pria yang baik dia akan menikahimu dengan benar!” teriak Cristian semakin marah.


“Damian sudah melamarku, kami akan menikah,” kata Hanna.


Cristian tertawa sinis mendengar ucapannya Hanna.


“Kau yakin dia akan menikahimu? Membiarkanmu menjadi istri pura-puranya berbulan bulan, kau juga pura-pura hamil, kau sudah buta Hanna. Pria ini sudah mempermainkanmu!” ucap Cristian.


“Kau salah faham Cristian, semua tidak seperti yang kau bayangan,” kata hanna.


“Aku heran padamu, kau baru saja mengenalnya, kau sudah dibutakan atas nama cinta, kau sudah dimanfaatkannya, dan kau menerima begitu saja? Kau membohongi semua orang, membohongiku, membohongi orangtuamu? Dia bukan pria yang baik, Hanna. Sadarlah!” ucap Cristian, bersikeras.


“Kau tidak bisa memaksanya, Hanna milikku sekarang,” kata Damian.


Cristian menoleh pada Damian yang masih berdiri menatap kearah pantai, dia mendengarkan perdebatan Hanna dan Cristian.


“Aku tidak akan memberikan Hanna padamu, aku akan membawanya pulang!” ucap Cristian. Tangannya memegang tangan Hanna, tapi tangan Damian juga memegangnya.


“Kau tidak bisa membawanya!” ucap Damian dengan tegas.


“Aku akan tetap membawanya!” kata Cristian, mereka saling menatap penuh permussuhan.


Hanna melihat dua tangan pria itu memegang tangannya. Diapun menoleh pada Cristian.


“Cristian, aku minta maaf, aku tidak bisa ikut denganmu, aku akan tetap bersama Damian,” kata Hanna.


Cristian menatap Hanna.


“Kau serius dengan ucapanmu?” tanya Cristian.


Hanna mengangguk. Matanya bersitatap dengan mata Cristian.


“Aku memilih bersama Damian,” jawab Hanna.


Akhirnya Cristian melepaskan tangan Hanna, menoleh pada Damian, lalu beranjak meninggalkan mereka, memasuki mobilnya menjalankan dengan kencang meninggalkan pantai itu. Sekarang Hanna dan Damian berdiam di pinggir pantai itu.


Hanna menatap Damian, matanya mulai berkaca-kaca.  Apakah ini pertanda dia dan Damin akan berpisah? Bagaimana kalau Cristian bicara pada ayahnya?


Damianpun menatap Hanna.


“Apa yang aku takutkan selama ini akhirnya terjadi juga,” ucap Hanna.


“Kau jangan cemas, semuanya akan baik-baik saja,” kata Damian, mengulurkan tangannya memeluk Hanna.


“Apa Cristian akan bicara pada ayah?” tanya Hanna dengan suara pelan.


“Tidak apa-apa bicara juga, kau jangan kahwatir, aku akan tetap menikahimu,” jawab Damian, sembil mencium kepalanya Hanna yang bersandar didadanya.


***********


Siang itu Pak Louis ada urusan ke kantor pemerintahan bersama dengan asistennya.


Saat berjalan menuju pintu kantor itu, seseorang memanggilnya.


“Pak Louis!” panggil suara itu, membuat Pak Louis menghentikan langkahnya menoleh pada arah suara. Seorang pria yang seumuran dengannya menutup mobilnya.


“Pak Denis!” panggil Pak Louis.


“Kau sedang disini?” tanya Pak Louis saat Pak Denis sudah ada didepannya, merekapun bersalaman  begitu juga dengan asistennya Pak Louis.


“Iya, kebetulan aku ada urusan,” jawab pria yang dipanggil Pak Denis itu.


“Bagaimana dengan putrimu itu? Sebaiknya kau secepatnya mengurus data pernikahan putrimu, sangat tidak bagus kalau memang putrimu sudah menikah tapi tidak sah dimata hukum,” kata Pak Denis, membuat Pak Louis terkejut.


“Maksudmu apa?” tanya Pak Louis.


Pak Denis tampak mengerutkan dahinya keheranan.


“Pak Cristian belum menyampaikan hasil pencarian data itu?” tanya Pak Denis.


“Hasil? Cristian?” tanya Pak Louis tidak mengerti.


“Pak Cristian mencari data perikahan Putrimu, Hanna dan Damian, dan hasilnya tidak ada catatan pernikahan mereka,” jawab Pak Denis.


Pak Louis sampai bengong mendengarnya, dia benar-benar terkejut.


“Aku sudah meminta temanku di ibukota untuk mengecek barangkali pernikahannya di ibukota atau di daerah lain, tapi setelah dicari-cari datanya, putrimu tidak tercatat dimanapun,” kata Pak Denis.


Raut wajah Pak Louis berubah menjadi merah. Apa maskudnya pernikahan Hanna tidak tercatat, sedangkan mereka membuat pesta resepsi begitu mewah. Damian, pria itu, pria itu telah melecehkan putrinya.


“Pak Denis terimakasih atas bantuannya, maaf aku ada pelu, nanti kita bicara lagi,” kata Pak Louis lalu melirik pada asistennya dan beranjak dari tempat itu.


Hatinya Pak Louis semakin terbakar, dia sangat marah dengan kelakuannya Hanna dan Damian. Sebagai orangtua perempuan dia merasa tidak dihargai putrinya dipermainkan seenaknya oleh Damian. Benar dugaannya, pria kaya raya seperti Damian tidak akan bisa menghargai wanita. Dia tidak terima putrinya dipermainkan.


“Kita ke kantor Hanna Grand Lakeside,” kata Pak Louis pada supirnya.


“Baik Pak,” jawab Pak supir. Mobilpun melucur menuju kantornya Damian.


***********