Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-97 Damian melamar Hanna



Seharian ini Hanna merasa senang, nanti malam Damian akan melamarnya. Rasanya tidak sabar dilamar Damian, itu artinya dia akan segera menikah dan terikat selamanya dengan pria itu.


Hannapun seharian berada disalon. Dia memanjakan dirinya dengan berbagai perawatan. Dia benar-benar sudah lama tidak ke salon.


Dilihatnya cincin dijarinya, sebenarnya Damian sudah memberinya cincin itu tapi cincin itu malah ditundanya di laci. Hanna membayangkan kira-kira sekarang Damian akan memberi cincin model apa ya? Katanya cincin 1 gram, dia merasa tidak percaya, pasti Damian berbohong.


Malampun tiba, Hanna sudah berdandan cantik dengan gaun terbaiknya.


Saat pintu kamarnya diketuk, dia langung cepat-cepat berlari kearah pintu dan membukanya,


ternyata Damian baru pulang kerja. Dia berdiri mematung dipintu, menatap Hanna.


“Kau kenapa? Apa aku terlihat cantik?” tanya Hanna.


Damian langsung tersenyum. “Kau selalu cantik,” jawab Damian, lalu mencium pipi Hanna,membuat Hanna tersenyum senang.


“Apa kita jadi makan malam?” tanya Hanna.


“Iya. Maaf, aku terlambat, aku bersiap-siap dulu, kau tunggu saja dibawah,” jawab Damian.


“Baiklah, aku tunggu dibawah, jangan lama-lama, aku sudah lapar,” ucap Hanna.


“Sudah lapar atau sudah tidak sabar aku melamarmu?” tanya Damian, sambil tersenyum.


“Dua-duanya,” jawab Hanna sambil tertawa.


“Baiklah aku bersiap-siap dulu,” jawab Damian sambil mengangguk, tangannya menyentuh pipi Hanna. Hanna kembali tersenyum, sikap Damian itu sangat menyejukkan, terlihat sekali kalau Damian begitu menyayanginya


Sementara Damian ke kamar mandi, Hanna menunggunya di  bawah dengan gelisah. Kenapa Damian mandi lama sekali?


Akhirnya yang ditunggunya muncul juga. Hanna melihat pria itu turun dari tangga. Damian terlihat berpakaian rapih dan formil, dia terlihat sangat tampan. Hanna tidak berkedip menatapnya. Rasanya tidak percaya pria itu akan melamarnya, akan menjadi bagian dalam hidupnya selamanya. Dia sangat mencintai pria itu.


Karena menatap dengan fikiran yang kemana-mana, tahu-tahu Damian sudah ada di depannya.


“Kalau kau terus menatapku seperti itu, kita tidak akan berangkat-berangkat,” ucap Damian.


Wajah Hanna langsung memerah, dia merasa malu. Diapun segera bangun dari duduknya, berdiri menatap Damian.


“Aku jadi tidak percaya diri,” ucap Hanna.


“Kenapa?” tanya Damian.


“Kau sangat tampan, apa aku pantas bersanding denganmu?” tanya Hanna.


“Aku tidak membutuhkan wanita yang pantas untukku, aku membutuhkan wanita yang mebuatku bahagia,” jawab Damian.


“Kau bahagia denganku?” tanya Hanna.


“Tentu saja, kalau tidak restaurantnya akan tutup sebentar lagi dan aku tidaa jadi melamarmu,” jawab Damian. Hanna kembali tertawa.


“Baiklah, kalau bgeitu ayo kita berangkat!” seru Hanna.


Damian mengangguk.


“Apakah aku boleh menggandengmu, pria tampan?” tanya Hanna.


“Tidak boleh,” jawab Damian.


“Kenapa?” tanya Hanna, terkejut.


“Aku bukan truk gandengan,” jawab Damian, membuat Hanna tertawa.


“Tentu saja boleh wanita cantik,ayo!” ucap Damian, sambil mendekatkan sikunya.


“Kau membuatku berbunga-bunga saja, aku senang kau menyebutku cantik,” kata Hanna, sambil menggandeng tangannya Damian. Dia benar-benar bahagia malam ini.


Damian membawa Hanna ke sebuah restaurant yang mewah dengan interior yang romatis. Hanna mengerutkan keningnya, bukankah ini restaurant yang dulu pernah dia kunjungi dengan Damian? Yang waktu itu dia betremu dengan Cristian dan membuat tangannya terluka terkena pecahan kaca.


“Kau membawaku kesini lagi?” tanya Hanna.


“Iya,” jawab Damian.


Hanna terdiam.


“Kenapa?” tanya Damian.


“Tidak, tidak apa-apa, tempatnya sangat indah,” jawab Hanna.


Damian memarkir mobilnya di halaman. Diapun turun membukakan pintu mobil buat Hanna. Tangannya mengulur memegang tangan Hanna.


“Terimakasih,” ucap Hanna, senyum terus mengembang di bibirnya.


“Ayo,” ajak Damian, mendekatkan siku tangannya pada Hanna yang langsung menggandengnya lagi. Merekapun memasuki restaurant itu.


Hanna agak terkejut saat mereka ke meja yang sama dengan waktu dulu dia dan Damian makan malam waktu itu.


“Kau memesan tempat duduk yang dulu juga?” tanya Hanna keheranan.


“Iya,” jawab Damian.


Dua orang pelayan restaurant menggeser keluar dua kursi yang berhadapan itu. Merekapun duduk disana.


Hanna menatap Damian, dia merasa heran, kenapa Damian mengajak makan ditempat yang sama seperti dulu.


Beberapa pelayan datang membawakan makanan dengan menu steak yang dulu juga.


Hanna menatap steak yang ada di piring didepannya, lalu menatap Damian.


“Kenapa?” tanya Damian, melihat Hanna yang kebingungan.


“Kau memesan Steak juga?” Hanna balik bertanya.


Damian mengangguk.


“Kau tidak suka? Waktu itu kau menghabiskannya,” jawab Damian.


“Ya ya aku suka,” jawab hanna, membuatnya bertanya-tanya apakah kali ini Damian menyimpan cincin didalam steak itu?


Merekapun mulai makan. Hanna mengiris steak itu sedikit-sedikit, dia menebak-nebak apakah ada cincin tidak dilamnya jadi dia mengirisnya sedikit sedikit.


“Kenapa kau makanya sedikit, katamu kau lapar,” kata Damian.


Hanna kembali menatap Damian.


“Aku menebak-nebek apa ada cincin didalamnya?” tanya Hanna. Damianpun tertawa.


“Tidak ada, kau sendiri yang bilang kau akan menelannya, aku tidak memasukkan cincin ke dalam steak itu,” jawab Damian, masih dengan tawanya. Hanna langsung cemberut.


“Kenapa? Kau masih berharap ada cincin didalam steak itu?” tanya Damian.


Hannapun mengangguk.


“Iya, bukankah itu sangat romantis? Di dalam makanan wanita yang akan kau lamar ada cincinnya, itu sangat romantic, Damian,” ucap Hanna masih cemberut.


Diapun memotong steaknya dengan ukuran besar dan memakannya. Seketika Hanna mengehentikan mengunyah saat merasakan ada sesuatu yang keras yang digigitnya.


Bibirnya bergerak-gerak merasa-rasakan yang ada dimulutnya itu.


“Kenapa?” tanya Damian.


Hanna berhenti mengunyah, tangannya langsung masuk ke mulutnya dan mengambil apa yang ada dimulutnya, dilihatnya benda itu. Dia terkejut saat benda yang ada dijari tangannya yang hampir tertelan olehnya itu adalah sebuah cincin.


Hanna menatap cincin ditangannya.


“Apa ini Damian?” tanya Hanna.


“Bukahkah itu yang kau mau? Ada cincin didalam steaknya? Seperti dalam film-film yang kau tonton?” tanya Damian, tersenyum melihat Hanna yang kebingungan. Wanita itu langsung tersenyum.


“Seperti dalam film-film ya,”ucap Hanna, sambil kembali membolak balikkan cincin dijarinya itu.


“Kau senang?” tanya Damian, menatap Hanna.


Hanna kembali menatap Damian dan mengangguk.


“Kau tahu itu artinya apa?” tanya Damian.


“Maksudmu apa?” tanya Hanna.


“Aku selalu ingin membuatmu bahagia,” jawab Damian, membuat Hanna terkejut, tidak melepaskan tatapannya pada pria itu.


Damian meraih tangan kiri Hanna dan menggenggamnya erat.


“Meskipun kadang keinginanmu terlihat konyol dan tidak masuk akal, aku mau melakukannya. Aku ingin selalu melihat senyummu, aku ingin setiap aku bangun tidur, aku bisa melihat wajahmu,” lanjut Damian.


Hanna semakin tidak bisa berkata apa-apa. Tidak bisa terbayangkan betapa bahagia hatinya mendengar ucapan Damian itu.


“Terimakasih kau sangat baik padaku, aku bahagia mendengarnya,” ucap Hanna, balas menggenggam tangannya Damian, rasanya dia tidak pernah ingin melepas genggaman itu.


Hanna melirik lagi pada cincin yang dipegang jarinya.


“Dengan cincin itu aku melamarmu,” ucap Damian.


Hanna menghentikan gerakan cincinnya dan menoleh ke arah Damian. Meskipun dari awal dia tahu mereka datang ke restaurant ini untuk melamarnya tapi ucapan dari mulutnya Damian itu terdengar sangat indah, dan membuatnya terharu.


“Kua serius melamarku?” tanya Hanna. Damian mengangguk.


“Tapi Damian, cincin ini…” gumam Hanna.


“Ini kan cincin yang kau bilang 1 gram itu kan? Itu tidak romantis, terlalu kecil, seperti cincin bayi,” jawab Hanna, mengerucutkan bibirnya.


“Kau tidak mau? Tapi aku ingin memberikanmu cincin itu,” ucap Damian. Kedua tanganya masih memegang tangan Hanna, meremas jari-jarinya dengan lembut.


Hanna menatap Damian yang juga menatapnya.


“Kau serius melamarku dengan cincin 1 gram ini?” tanya Hanna.


Damian mengangguk.


Hanna melihat cincin itu lagi.


Lingkar cincinnya sangat kecil dan tipis, dengan sebuah mata putih ditengahnya yang juga kecil.


“Kau lihat, cincin ini sangat kecil, kalau matanya hilang, akan susah mencarinya, dan kalau tidak ada matanya, dijual ke toko akan dipotong besar, paling harganya jadi ratusan ribu saja,” kata Hanna, lalu menoleh pada Damian.


Pria itu diam mendengarkan.


“Tapi aku tidak peduli dengan cincin yang sekecil apapun, asalkan kau melamarku, aku akan menerimanya,” jawab Hanna, kembali menatap Damian.


“Aku menerima lamaranmu,” ulang Hanna,


“Kau menerima lamaranku?” tanya Damian.


“Iya, aku menerima lamaranmu,” jawab Hanna, mengangguk. kini tangannya yang memegang cincin itu diulurukan kearah Damian.


“Kau ingin aku memakaikan cincinnya?” tanya Damian.


Hanna langsung mengangguk.


“Kau serius menerima lamaranku meskipun aku hanya melamarmu dengan cincin 1 gram ini?” tanya Damian.


“Iya. Kau kan yang bilang cincin 1 gram ini adalah symbol bahwa aku wanita satu-satunya dalam hidupmu. Aku memilih cincin ini daripada kau memberikan cincin berlian yang mahal tapi kau memiliki banyak wanita dalam hidupmu, aku tidak mau,” jawab Hanna.


Damian menatap Hanna, dia sangat terharu dengan ketulusannaya.


“Jadi kau menerima lamaranku?” tanya Damian lagi. Tangan mereka saling berpegangan.


“Iya aku menerimanya,” jawab Hanna, tersenyum lebar.


“Kita pakai cincinnya ya,” ucap Damian.


Hanna mengangguk.


Damian mengajak Hanna bangun dari kursinya. Kini mereka berdiri berhadapan.


“Mana cincinnya?” tanya Damian.


“Ini,” Hanna memberikan cincin itu.


“Apa sudah kau lap pakai tisu, ada ludahmu disini,” ucap Damian membuat Hanna cemberut.


“Memangnya kenapa? Kalau kau menciumku juga dimulutku juga ada ludahnya, a..!” ucap Hanna sambil


membuka mulutnya, membuat Damian tertawa.


“Apa maksudmu kau membuka mulut begitu? Kau mau menggodaku?” tanya Damian.


“Tidak, aku hanya menunjukkan saja,” jawab Hanna jadi ikut tertawa.


“Sini cincinnya,” pinta Damian, mengambil cincin yang dipegang Hanna.


Tangan kiri Damian memegang tangan kiri Hanna.


“Kemana cincinmu?” tanya Damian saat melihat jari-jari Hanna tidak memakai cincin itu.


“Aku simpan, aku hanya ingin memakai cincin lamaran darimu,” jawab Hanna.


Damian hanya tersenyum, diapun memasukkan cincinnya tapi ternyata longgar.


“Damian kebesaran, pantesan sangat kecil, lingkarnya terlalu besar,” kata Hanna.


Melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.


“Kalau begitu pakai dijari tengah saja,” kata Damian, sambil melepas cincin itu dan dipasangkan dijari tengahnya barulah cukup.


Hanna menatap Damian yang juga menatapnya.


“Ada apa?” tanya Damian.


“Mm itu..Dalam film film prianya berongkok kalau melamar gadisnya,” ucap Hanna. Damian terdiam.


“Kau ingin seperti dalam film juga? Kan tadi sudah cincinnya ada di steak,” kata Damian.


“Aku mau seperti itu,” jawab Hanna malah cengengesan.


Damian diam sejenak dan tawa Hanna langsung hilang saat melihat pria itu benar-benar berjongkok di depannya dengan satu kakinya ditekuk.


“Tapi Damian, ini cincinnya sudah kau pakiakan, dan tidak ada kotaknya,” kata Hanna, sambil melihat cincin di jarinya.


Tapi Hanna terkejut saat menoleh lagi kearah Damian, Pria itu berjongkok dengan memegang sebuah kotak cincin merah.


“Maukah kau menikah denganku?” tanya Damian, menatapnya.


Hanna benar-benar tidak bisa berkata-kata saat melihatnya dan lebih terkejut lagi saat melihat kotak itu berisi sebuah cincin berlian yang sangat cantik.


Hanna menatap cincin itu lalu menatap wajahnya Damian. Rasanya tidak percaya dan seperti mimpi pria tampan yang kaya raya itu melamarnya dengan sebuah cincin yang indah dan bertanya, apakah mau menikah denganku?


“Damian..” gumam Hanna, masih terkejut.


“Maukah kau menikah denganku?” ulang Damian.


Tanpa banyak kata lagi, Hanna langsung mengangguk, matanya berkaca-kaca saking bahagianya.


“Aku mau,” jawab Hanna dengan cepat.


Damian bangun dari jongkoknya, mengambil cincin di kotak itu dan menyimpan kotaknya diatas meja makan mereka.


Diraihnya tangan Hanna yang tadi, lalu memasangkan cincin yang cantik itu.


Hanna menatap jarinya yang kini ada dua buah cincin. Ternyata Damian sengaja membeli cincin 1 gram itu kebesaran, supaya dipasang dijari tengahnya dan jari manisnya menggunakan cincin berlian yang baru dipakaikan Damian.


Hanna menatap Damian, dengan butiran air bening di bola matanya.


“Kau benar-benar sudah melamarku?” tanya Hanna.


“Tentu saja,” jawab Damian.


“Aku sangat senang,” jawab Hanna, menatap Damian yang juga menatapnya.


“Aku mencintaimu,” ucap Damian, menatap mata cantik itu.


Mendengar Damian menyatakan cintanya membuat hanna semakin terharu, akhirnya pria itu mengatakan cinta padanya sambil menatapnya, tidak lagi saat dia tidur.


“Kau mengatakannya?” tanya Hanna.


“Iya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” jawab Damian, dengan tulus.


“Aku juga Damian, aku mencintaimu,” ucap Hanna dan langsung memeluk pria itu.


Damian balas memeluknya dengan erat.


“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi,” pinta Damian, di telinga Hanna.


Hanna mengangguk.


“Kau terikat selamanya denganku,” bisik Damian lagi.


Hanna kembali mengangguk.  Damian melepas pelukannya, lagi-lagi dilihatnya mata gadis itu berair.


“Kau bahagia?” tanya Damian, jarinya menghapus airmata Hanna yang mulai menetes. Hanna mengangguk.


Damin menundukkan wajahnya akan mencium bibir Hanna tapi terhenti, dia yakin pasti tidak akan berhasil, diapun hanya mencium pipi Hanna.


Tapi sejurus kemudian Hanna berjinjit dan mencium bibirnya dengan lembut, membuat Damian terkejut, merasakan bibir wanita itu menempel di bibirnya.


“Kau berhasil menciumku,” ucap Damian, saat Hanna melepas ciumannya.


Hanna mengangguk.


“Kalau begitu kau harus selalu menciumku,” lanjut Damian, membuat Hanna tertawa.


“Kenapa kalau aku yang menciummu selalu tidak berhasil?”gumam Damian tidak mengerti. Hanna kembali tertawa melihat Damian kebingungan.


Damian kembali memeluk Hanna lalu mencium keningnya.


“Aku mencintaimu,” ucapnya lagi.


“Aku juga,” balas Hanna, memeluk tubuh Damian lebih erat.


***********


Ini 2000 kata readers, meskipun author tidak pernah up crazy tapi katanya selalu banyak 1700-2000 kata tiap bab, malas motong-motongnya, ga enak bacanya kalau sedikit-sedikit.