Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-68 Kabar Ibu Shezie



Sinar matahari meninggi, tapi Shezie masih merasakan dingin pada tubuhnya. Tangannya menggapai-gapai mencari selimut, tapi yang diraba adalah dada telanjang yang ada di sampingnya. Diapun membukakan matanya, dia agak terkejut melihat Henry tidak berpakaian ada disisinya, begitu juga dirinya, pantas saja dia merakan udara yang dingin, kerena selimut itu hanya menutupi sebagian tubuhnya. Cepat-cepat ditariknya selimut itu menutupi seluruh tubuhnya dan juga diselimutkan pada suaminya.


Saat menyelimutkan selimut pada tubuh Henry, pria itu terbangun dan melihat istrinya sudah bangun sedang menyelimuti  tubuhnya. Tangannya Langsung memeluk punggung Shezie.


“Kau sudah bangun?” tanyanya.


“Aku kedinginan,” jawab Shezie, menoleh pada Henry.


Pria itu menarik punggung istrinya kepelukannya.


“Aku akan memelukmu supaya kau tidak kedinginan,” kata Henry.


Shezie berbaring di samping tubuhnya Henry.


“Kau ingin jalan-jalan kemana hari ini?” tanya Henry, sambil mengusap usap punggungnya Shezie.


“Aku tidak ingin kemana-mana, aku sangat lelah hari ini,” jawab Shezie, bersandar di bahunya Henry, merasakan kulit tubuhnya menyentuh kulit pria itu karena Henry memeluknya sangat erat.


“Aku minta maaf membuatmu lelah,” ucap Henry, sembil mencium rambutnya Shezie.


“Dari kemarin aku belum menelpon ibu,” kata Shezie.


Tangan Henry mengulur ke meja kecil yang ada disamping tempat tidur itu, diambilnya ponsel Shezie.


“Telponlah,” katanya, sambil memberikan ponsel itu. Shezie menerimanya lalu bangun dan duduk membelakangi Henry, membuat punggungnya tidak tertutup selimut.


Henry mengusap punggung itu, semalaman dia mencumbu tubuh istrinya itu, bahagia rasanya bisa memiliki orang yang dicintainya.


Shezie mendial nomor ibunya tadi ternyata tidak tersambung. Dia menghubunginya lagi masih juga tidak tersambung.


Melihat Shezie yang tidak berhasil menelpon, membuat Henry juga bangun dan duduk disamping Shezie, dia tidak mempermasalahkan selimut itu jatuh dari tubuhnya, tidak seperti istrinya yang menutupi bagian depan tubuhnya dengan selimut itu.


“Ibumu tidak bisa dihubungi?” tanya Henry.


“Iya, tumben sekali,” jawab Shezie.


“Coba kau telpon lagi mungkin ibumu sedang ada di kamar mandi,” kata Henry.


“Iya akan kucoba lagi,” jawab Shezie, diapun medial lagi nomor ibunya. Dibiarkannya pria di sampingnya itu memeluknya lagi dan menciumi bahunya.


“Kenapa aku merasa khawatir,” gumam Shezie.


“Coba kau telpon rumah sakit,” usul Henry.


Sheziepun menelpon rumah sakit.


“Aku ingin bicara dengan pasien atas nama ibu Vina, apakah bisa dihubungkan ke ruangannya?” kata Shezie.


“Ditunggu sebentar,” jawab operator rumah sakit.


Shezie menunggu sebentar, diapun menoleh pada Henry, pria itu tidak melepaskan kemsempatannya kembali mencium bibirnya.


“Aku mencintaimu,” kata Henry. Shezie tersenyum sambil menyentuh pipi suaminya.


“Kau bahagia bersamaku?” tanya Henry.


“Iya,” jawab Shezie, diapun balas mencium bibir suaminya, yang memeluk tubuhnya didekatkan ke dadanya. Shezie balas memeluk suaminya.


“Halo!” sapa suara disebrang.


“Ya, bagaimana?“ tanya Shezie, dibiarkannya Henry menciumi lehernya.


“Apa? Ibuku sudah pulang?” tanya Sheziw terkejut saat mendengar jawaban dari operator rumah sakit.


Mendengarnya membuat Henry terkejut dan melepaskan ciumannya juga melonggarkan pelukannya.


Mata Shezie menatap matanya Henry.


“Ibuku pulang paksa? Mencabut infusannya?” tanya Sheize, semakin terkejut saja.


“Apa ibuku baik-baik saja?” tanya Shezie.


“Apa? Ibuku masih harus dirawat tapi tetap ingin pulang?” tanya Shezie lagi.


Henry terkejut mendengar ucapan-ucapan dari Shezie. Kenapa ibunya Shezie tiba-tiba pulang? Sungguh aneh.


Tidak berapa lama Shezie menutup telponnya dan menatap Henry.


“Ibu tidak ada dirumah sakit, ibu pulang paksa padahal harusnya ibu masih diinfus,” kata Shezie, wajahnya menjadi pucat, matanya sudah mulai memerah.


“Kenapa ibumu tiba-tiba pulang?” tanya Henry.


“Aku juga tidak tahu, bagaimana ini Henry? Aku jadi khawatir, aku telpon beberapa kali tapi tidak tersambung, aku takut ada apa-apa dengan ibuku,” jawab Shezie.


“Padahal aku sudah mengirimkan perawat khusus buat ibumu,” kata Henry.


“Aku sangat khawatir,” ucap Shezie.


“Tenanglah, aku akan menyuruh orang untuk melihat ibumu dirumah. Kau sebutkan alamat rumahmu, aku kan belum pernah kerumahmu,” kata Henry, sambil mencium pipinya Shezie.


Shezie menyebutkan alamat rumahnya. Henry mengambil ponsel diatas meja kecil itu, melakukan panggilan pada seseorang dan menugaskannya untuk pura-pura menjadi kurir yang datang kerumahnay Shezie.


“Kau tenanglah, aku sudah menyuruh orang untuk melihat ibumu dirumah, tapi mungkin harus menunggu beberapa jam lagi karena perbedaan waktu disini dan disana,” kata Henry, menatap istrinya yang semakin pucat saja, sudah semalaman kurang tidur karena melayaninya ditambah sekarang ibunya tidak bisa dihubungi, wajahnya semakin putih saja seperti kapas.


Shezie menjawabnya dengan anggukan.


******


Di rumah Shezie.


Terdengar suara bel pintu berkali-kali. Bi Ijah membukakan pintu, dilihatnya ada seorang kuris paket berdiri dipintu dengan membawa sebuah paket.


“Paket,” kata petugas paket.


“Untuk Pak Sopian,” jawab kurir paket itu.


“Kau salah alamat, ini bukan rumahnya Pas Sopian,” kata Bi Ijah.


“Tapi alamatnya ini bukan?” tanya kurir sambil memperlihatkan alamat di paket itu.


“Oh bukan kau salah nomor, mungkin diblok yang lain,” kata Bi Ijah.


“Siapa Bi?” terdengar suara wanita dari dalam kamar.


“Ini Bu kurir paket, salah alamat!” jawab Bi Ijah.


Bu Vina segera keluar dari kamarnya dan menghampiri Bi Ijah yang sedang berhadapan dengan kurir paket itu.


“Paket untuk siapa?” tanya Bu Vina.


“Untuk Pak Sopian Bu,” jawab Kurir paket.


“Kau salah ini bukan rumahnya Pak Sopian, kau cek di blok yang lain saja,” kata Bu Vina.


“Baik Bu akan saya coba cari di blok lain, mungkin salah mencantumkan nomor rumah,” kata kurir paket itu lalu diapun pergi meninggalkan rumahnya Bu Vina.


Setelah keluar dari halaman rumahnya Bu Vina, kurir itu menelpon seseorang.


Henry sedang membuatkan teh buat Shezie , saat ponselnya berbunyi.


Shezie yang sedari tadi hanya berbaring saja, bangun mengambilkan ponsel Henry yang ada ditempat tidur. Mereka malas keluar hari ini, jadi Shezie hanya tiduran saja menungu kabar ibunya dengan gelisah.


Henry menghampiri Shezie dan memberikan cangkir teh sedangkan Shezie memberikan ponselnya Henry.


“Bagaimana?”tanya Henry, berdiri didepan Shezie, dia menatap pria yang hanya menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada itu. Dia jadi teringat awal-awal tinggal bersama Henry, jangankan untuk berhubungan intim, melihat telajang saja membuatnya sangat risih tapi sekarang dada pria itu begitu jelas ada dihadapannya.


“Bu Vina sudah pulang Pak, kondisinya baik-baik saja,” kata kurir paket itu.


“Oke, terimakasih,” jawab Henry, sambil menutup ponselnya.


“Sayang, ibumu baik-baik saja, dia ada dirumah,” kata Henry, membuat Shezie merasa lega mendengarnya.


Henry juga merasa senang melihat wajah istrinya yang tidak secemas tadi. Diapun duduk dipinggir tempat tidur.


“Apa kau ingin pulang melihat ibumu?” tanya Henry.


Shezie menatap pria itu.


“Kau tidak apa-apa jika aku pulang? Aku khawatir kenapa ibuku pulang paksa dari rumah sakit,” kata Shezie.


“Tentu saja aku tidak apa-apa, aku akan mengantarmu bertemu ibumu,” kata Henry.


“Jangan!” larang Shezie.


“Kenapa?” tanya Henry.


“Aku tidak mau ibuku marah,” jawab Shezie.


“Sayang, kita sudah sepakat akan melewati masalah ini bersama, aku tidak masalah kalau ibumu mecaciku, yang penting sekarang aku ingin hidup bersamamu saja, “ kata Henry.


Shezie menatap Henry.


“Kau harus ingat aku suamimu sekarang, aku akan bertanggung jawab atas dirimu,” kata Henry.


Shezie masih menatap Henry. Henry benar, dia adalah suaminya sekarang, dia sudah menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk pria ini.


“Acara bulan madu kita terganggu, aku minta maaf,” kata Shezie.


“Tidak apa-apa, kita bisa kesini lagi kapan saja kau mau,” jawab Henry sambil mencium keningnya Shezie.


“Minumlah tehnya supaya kau lebih tenang,” kata Henry, diambilnya cangkir yang ada di tangannya Shezie, lalu diminumkan pada istrinya itu.


“Kau ingin kita pulang kapan? Kurasa besok lebih baik supaya kau tidak terlalu lelah, kau juga butuh istirahat, yang penting ibumu baik baik saja di rumah,” ujar Henry, sambil menarik tangan Shezie dan meminum teh dari cangkir itu.


“Sepertinya kau memang hobi menghabiskan minumanku,” kata Shezie menatap cangkir yang kosong itu.


“Tehnya sangat manis,” ucap Henry sambil tersenyum.


“Kau membuatnya tanpa gula! Kau hanya mecari-cari alasan untuk menciumku,” kata Shezie.


“Sepertinya aku tidak boleh berpura-pura lagi, bibirmu memang sangat manis,” ucap Henry kembali mendekatkan wajahnya mencium bibir iatrinya. Shezie melingkarkan tangannya keleher pria yang sudah menjadi suaminya  sekarang, benar-benar suaminya.


“Kita pulang besok,” kata Henry, sambil melepas ciumannya.


“Iya,” jawab Shezie, dalam benaknya masih banyak pertanyaan, ibunya tidak mungkin pulang tiba-tiba kalau tidak terjadi sesuatu.


Tangannya kembali meraih ponselnya, melihat pesan atau panggilan yang tidak terjawab, ternyata ada nomornya Martin melakukan panggilan berkali-kali kemarin.


“Martin,” ucap Shezie.


“Martin?” tanya Henry.


“Martin  ada menelpon beberapa kali kemarin, pasti Martin bicara yang tidak-tidak pada ibu.” Kata Shezie.


“Menurutmu ibumu pulang bersama Martin?” tanya Henry.


“Iya,” jawab Shezie.


Henry menarik tubuh Shezie kedalam pelukannya.


“Tenanglah, jangan banyak fikiran, aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu,” kata Henry.


Shezie menyandarkan kepalanya kedada pria itu. Dia juga memeluk suaminya dengan erat, dia tahu Henry pastilah bisa dipercaya, dia tahu Henry akan bertanggungjawab atas dirinya.


************