Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-128 Kenyataan yang pahit



Bu Sony masih terdiam meskipun Damian sudah memintanya turun. Dadanya terasa tiba-tiba sesak, setelah sekian lama Damian perpisah dengannya, hidup dalam kesepian, dalam kesendirian, kini diapun malah mencintai calon istri adiknya. Sudah terbayang di depan mata bagaimana kecewanya Damian kalau tahu Hanna adalah calon istri adik kandungnya.


Seandainya dia melamarkan Hanna untuk Damian, bagaimana dengan Cristian? Kalau Hanna memilih Damian, Cristian akan tersakiti dan membenci Damian, karena calon istrinya direbut oleh kakaknya sendiri.


Karena sudah melihat Bu Astrid membuka pintu, Damian lebih dulu menghampiri Bu Astrid.


“Aku menepati janjiku, aku datang bersama ibuku,” kata Damian.


Bu Astrid tidak menjawab, mulutnya terasa terkunci karena rasa sedih dan ingin menangis begitu menyesakkan dada. Dia bisa membayangkan beberapa menit kemudian apa yang akan terjadi saat Damian tahu kalau Hanna adalah calon istri adiknya.


Mata Bu Astrid menatap Damian dengan tatapan nanar, matanya terlihat sudah memerah. Damian merasa heran, kenapa Bu Astrid memandangnya seperti itu? Kenapa? Ada apa?


“Apakah semua baik-baik saja?” tanya Damian, mendapat perasaan yang tidak enak melihat sikap Bu Astrid itu.


“Semua baik-baik saja, masuklah,” jawab Bu Astrid, memberi Damian jalan.


Damian tidak segera masuk, dia menoleh pada ibunnya yang mulai turun dari mobilnya. Dia juga heran dengan sikap ibunya yang tidak bersemangat melamarkan Hanna untuknya, apakah karena Hanna calon istri orang lain? Damian memilih menunggu ibunya tiba.


“Apa kabarmu?” tanya Bu Sony menatap Bu Astrid yang juga menatapnya. Bu Sony menatap dengan banyak pertanyaan, ternyata kau sudah tahu lebih dulu kalau Damian mencintai Hanna.


“Baik,” jawab Bu Astrid dengan tatapan yang sedih, dia bisa merasakan bagaimana hancurnya hati Bu Sony. Tapi tidak ada yang bisa diperbuatnya. Yang boleh memberitahu Damian kalau Hanna adalah calon istri adiknya adalah ibunya sendiri.


“Masuklah,” sambut Bu Astrid.


Damian memeluk bahu ibunya, mengajak masuk. Bu Sony tidak banyak bicara begitu juga dengan Bu Astrid. Hati mereka diliputi kesedihan dan kebingungan, mereka tidak tega kenyataan pahit ini akan dialami Damian.


Pak Louis muncul dari dalam rumah, langkahnya terhenti sejenak, lalu berubah bersikap lebih tenang. Matanya bertemu dengan pandangannya Bu Sony. Hatinya juga jadi ikut prihatin, melihat tatapan Bu Sony yang menyimpan kesedihan. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena ini adalah kenyataannya, Damian dan Cristain mencintai putrinya.


“Pak Louis, ini ibuku, ibu kandungku,” Damian memperkenalkan ibunya pada Pak Louis.


“Aku sudah berpisah dengan ibu dari aku kecil, aku senang sekarang ibuku sudah ditemukan,” lajut Damian.


Pak Louis tidak menjawab, dia hanya mengulurkan tangannya pada Bu Sony untuk bersalaman. Bu Sony menerima uluran tangan Pak Louis dengan gemetaran, dengan hati yang gelisah.


“Silahkan duduk,” kata Bu Asrid.


Tidak ada kata yang diucapkan Bu Sony, karena dia menahan tangis yang tiba-iba ingin meledak begitu saja.


Kini mereka sudah duduk berhadap diruang tamu itu. Suasana begitu hening, Damian kebingungan melihat keadaan itu. Kenapa semua orang diam?


Beberapa saat kemudian


“Ini ibuku,” lanjut Damian dengan bingung karena mereka semua terdiam terus.


“Kami datang kesini ingin melamar Hanna,” kata Damian lagi lalu menoleh pada ibunya.


“Bu!” panggil Damian pada Bu Sony, sambil menoleh. Bu Sony pun menatapnya, kini matanya terlihat semakin memerah akan menangis, membuat Damian bingung.


Pak Louis menoleh pada Bu Astrid.


“Panggilkan Hanna,” kata Pak Louis.


Bu Astrid menatap suaminya sebentar, lalu beranjak bangun dari duduknya.


Damian menoleh pada ibunya yang kini menunduk, airmata ternyata sudah jatuh kepangkuannya, menetes ke pergelangan tangannya.


“Bu!” panggil Damian, dia bingung karena ibunya hanya diam saja malah menangis. Kenapa ibunya menangis? Dia sungguh tidak mengerti.


Bu Astrid datang bersama Hanna ke ruangan itu. Hanna berdiri menatap Damian dan tersenyum, dia sangat senang bisa melihat pria yang dicintainya itu. Sebenarnya dalam hati Hanna ingin berhambur memeluk pria tampan itu, dia ingin mengatakan kalau dia mencintainya, dia memilihnya, dia akan menerima lamarannya.


Damian menatap Hanna dengan binar-binar mata yang bahagia, dia juga senang bisa melihat Hanna lagi. Dia beharap Hanna akan menerima lamarannya, supaya mereka bisa segera menikah.


Tapi senyum Hanna berangsur-angsur hilang saat melihat siapa yang bersama Damian, ibunya Cristian. Ada hubungan apa Damian dengan ibunya Cristian? Katanya Damian akan datang bersama ibu kandungnya, ko bersama ibunya Cristian?


Hanna masih berdiri mematung menatap Damian lalu pada ibunya Cristian.


Damian langsung berdiri dan menghampiri Hanna.


“Sayang, aku datang membawa ibuku, ibuku akan melamarmu untuk menjadi istriku, aku sudah menepati janjiku padamu,” ucap Damian, dia langsung meraih tangannya Hanna. Dia tidak bisa memeluknya karena dia ingat Pak Louis melarangnya untuk memeluk Hanna.


Damian menatap Hanna lalu menatap ibunya yang menatapnya dengan mata yang sudah memerah dan tetesan airmata jatuh ke pipinya. Dia bingung kenapa ibunya menangis? Apakah itu artinya tangis bahagia?


Tidak ada yang bisa diucapkan ibunya Damian, dia malah menangis. Bu Astrid pun sama. Pak Louis hanya diam.


Hanna menatap Damian.


“Ibu?” tanya Hanna, tidak mengerti.


“Iya Ibu, ini ibu kandungku, yang selama ini aku rindukan, yang selama ini aku cari. Inilah ibu yang selalu ada dalam mimpi burukku setiap malam,” jawab Damian.


Hanna terkejut mendengarnya, rasanya seperti mimpi mendengar apa yang dikatakan Damian itu, ternyata Bu Sony adalah ibunya Damian.Rasa gelisah langsung menyerangnya.


Hanna menatap ibunya Damian yang juga ibunya Cristian itu, dia tidak bicara apa-apa, matanya langsung berkaca-kaca, bagaimana dia bisa memilih Damian kalau ternyata Damian itu kakaknya Cristian. Rasa heran karena kemiripan Cristian dan Damian kini terjawab, karena mereka saudara kandung.


Damian bingung melihat Hanna malah menangis, melihat ibunya juga menangis sesenggukan, melihat Bu Astrid juga sedang mengusap airamata yang menetes dipipinya. Pak Louis hanya diam.


“Kenapa? Ada apa? Kenapa kalian menangis? Bu? Ada apa?” tanya Damian, diapun menghampiri ibunya, duduk disampingnya dan meraih tangan ibunya.


“Ada apa Bu? Ini Hanna, wanita yang aku cintai, yang aku minta pada ibu untuk melamarnya menjadi istriku,” kata Damian ditengah kebingungannya.


Bu Sony menatapnya diantara genangan airmatanya.


“Bu, ada apa?” tanya Damian dengan lirih, hatinya merasa tidak enak dengan keadaan seperti ini, tangannya menghapus airmata ibunya.


Bu Sony malah semakin menangis, airmata itu masih saja tumpah, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Damian.


Damian semakin bingung saja, dia melihat orang yang dalam ruangan itu satu persatu, terhenti pada Pak Louis.


“Pak katakan ada apa? Ada apa dengan kalian?” tanya Damian, menuntut penjelasan.


Bu Sony malah menangis sesenggukan, dia tidak kuasa untuk memberitahu yang sebenarnya. Dia tidak mau menyakiti hati putranya itu.


Pak Louis menatap Damian.


“Hanna, calon istri Cristian, adikmu!” jawab Pak Louis.


Mendengar jawaban dari Pak Louis membuat Damian terkejut bukan main, dia benar-benar shock dia tidak percaya, lalu diapun tertawa dipaksakan.


“Bapak jangan bercanda. Aku datang dengan ibuku serius melamar Hanna, kenapa kau mengatakan hal yang tidak tidak?” tanya Damian dengan hati yang porak poranda, berhadap Pak Louis hanya bercanda saja dengan perkataannya.


“Benar Nak, Ibu kandungmu adalah ibunya Cristian. Kalau kau melamar Hanna lagi itu artinya kau melamar wanita yang akan menjadi istri adikmu,” jawab Pak Louis, serius.


Damian menghentikan tawanya dan menatap Pak Louis. Dia masih tidak percaya dengan perkataan Pak Louis. Ibunya adalah ibunya Cristian? Maksudnya apa? Tapi melihat keseriusan diwajah Pak Louis, Damian yakin Pak Louis tidak bercanda. Diapun menoleh pada ibunya yang masih menangis dan menatapnya.


“Bu, apa ini Bu? Apa benar yang di katakan Pak Louis?” tanya Damian.


Bu Sony tidak menjawab.


“Apa benar kalau Cristian itu adikku?” tanya Damian,bibirnya terasa bergetar mengatakan hal itu. Wajahnya langsung berubah pucat.


Bu Sony mengangguk, sambil mengusap aimatanya, mencoba menenangkan dirinya supaya bisa bicara.


“Benar sayang, Cristian adik kandungmu, dia seayah dan seibu denganmu, dia adalah bayi yang ibu kandung saat ibu berpisah dengan ayahmu,” jawab Bu Sony dengan terbata-bata mencoba bicara disela isak tangisnya.


Entah harus digambarkan dengan kata-kata seperti apa? Kaget, terkejut, shock, tidak menyangka, tidak percaya, kecewa, sedih, patah hati, hancur, entah apa lagi kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana rasa kecewa dan rasa pahit yang Damian rasa saat ini.


Rasanya dia tidak percaya wanita yag dia cintai ternyata calon istri adik kandungnya, pengantin pria yang Hanna tinggalkan itu adalah adik kandungnya. Hatinya benar-benar hancur.


Diapun menoleh pada Hanna yang masih berdiri dengan arimata yang menetes dipipinya. Hannapun menatapnya dengan sedih, melihat kenyataan ini apa dia sanggup meninggalkan Cristian untuk menikah dengan Damian? Atau sebaliknya menolak Damian dan terpaksa menikah dengan Cristian?


Damian terdiam beribu bahasa dan menunduk. Bu Sony langsung memeluknya.


“Maafkan ibu Nak, ibu tidak tahu apakah ibu harus melamar Hanna untuk menikah denganmu sedangkan dia calon istri adikmu?” ucap Bu Sony. Dia memeluk erat putranya yang hanya diam menunduk.


Damian tidak berkata apa-apa. Dia merasakan hatinya yang hancur dan kecewa mendapati kenyataan Cristian adalah adik kandungnya. Dia senang mengetahui dia masih memiliki adik selain Satria, tapi dia kecewa karena adiknya ternyata calon suami wanita yang dicintainya. Apakah dia akan ngotot ingin menikah dengan Hanna dan tetap merebut calon istri adiknya itu?


*************


Jangan lupa like dan vote nya ya.