Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-51 Satu tempat tidur



Karena ada mertuanya menginap,  Shezie terpaksa tidak bisa kembali ke rumah sakit. Dia hanya menelpon Bi Ijah saja, supaya memberitahunya kalau ada apa-apa pada ibunya.


“Bi aku harus lanjut kerja di café jadi pulang malam dan tidak bisa ke rumah sakit, terlalu malam,” kata Shezie, berbohong.


“Kalau ada apa-apa dengan ibuku cepat kabari aku,” lanjut Shezie.


Henry berbaring sambil menatap istrinya itu yang sedang menelpon. Dia tahu istrinya menghawatirkan ibunya, tapi Shezie menepati janjinya tetap berada disisinya karena dia membutuhkannya.


Seharian ini dia gelisah memikirkannya, setelah gadis itu ada lagi dirumah, hatinya menjadi lebih tenang.


Shezie menutup telpon Bi Ijah, dilihatnya di sebuah kaca lemari suaminya itu memperhatikannya, diapun menoleh.


“Kenapa kau menatapku terus?” tanya Shezie.


“Kau terlihat lelah, istirahatlah,” jawab Henry.


“Iya, aku sangat lelah. Aku akan mandi dulu,” jawab Shezie lalu beranjak dan menuju kamar mandi.


Henry masih bersandar dibantal- bantal yang ditumpuk di sandaran tempat tidur, dengan melipat kedua tangannya. Dia memikirkan hubungannya dengan Shezie selanjutnya. Ibunya Shezie, orang tuanya, juga Martin.


Terdengar suara kamar mandi dibuka, sepertinya gadis itu selesai mandi dan berpakaian. Benar saja, wangi sabunnya masih tercium, dia lebih segar sekarang.


“Aku fikir kau sudah tidur,” ucapnya pada Shezie, sambil mengambil bantal dan selimut, akan dibawa ke sofa tempat tidurnya.


“Kau boleh tidur disini,” kata Henry tiba-tiba membuat Shezie terkejut, berdiri menatap Henry sambil memeluk bantal dan selimut di perutnya.


“Kau boleh tidur disini,” ucap Henry, tangannya menepuk kasur disampingnya yang kosong.


Shezie masih menatapnya lalu menoleh ka tempat tidur, apa iya dia akan tidur bersama Henry? Kemarin juga dia tidur seranjang dengan Henry dan tidak terjadi apa-apa padanya, pria itu tidak macam-macam.


“Kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Henry, kembali menepuk kasur di sampingnya.


Dengan ragu, akhirnya Shezie menyimpan lagi bantal dan selimutnya, lalu naik ke tempat tidur. Dia juga duduk seperti Henry bersandar dipinggir tempat tidur, sangaja pinggir, karena tidak mau terlalu berdekatan dengan pria itu, walau bagaimanapun mereka bukan suami istri yang sebenarnya.


Melihat sikap Shezie itu membuat Henry tersenyum. Diapun menoleh pada Shezie yang sedang menarik selimutnya menutupi kakinya yang berselonjor. Shezie terkejut saat dua buah tangan menarik pinggangnya bergeser lebih ke tengah tempat tidur.


“Henry!” teriaknya dengan kaget, tidak menyangka pria itu akan berbuat seperti itu.


“Kau jatuh kalau duduk terlalu pinggir!” kata Henry, lalu mengambil bantalnya Shezie ditata dibelakang punggungnya Shezie.


“Sudah!” kata Henry,  bukan itu saja yang dilakukan Henry, dia mendorong bahunya Shezie supaya bersandar di bantal itu.


Shezie semakin terkejut melihat tubuh pria itu di depannya merapihkan posisi bersandarnya, membuat wajah pria itu begitu dekat padanya. Jantungnya langsung berdebar kencang saja dan berubah menjadi gugup.


Merasa Shezie manatapnya, Henry menghentikan gerakannya balas menatap mata itu.


“Kenapa?” tanyanya, karena Shezie hanya diam membisu. Henry menatap wajah yang seharian ini muncul terus di benaknya.


“Tidak apa-apa,” jawab Shezie. Mereka hanya saling bertatapan dan bingung harus bicara apa.


“Sudah nyaman sekarang,” kata Henry, bergerak menjauh lalu diapun duduk bersandar disamping Shezie. Keduanya kembali diam tidak bicara.


“Apa rencanamu selanjutnya?”tanya Henry kemudian, sambil melirik Shezie yang ada disampingnya.


“Tidak ada rencana apa-apa, aku hanya menjalani pekerjaanku saja,” jawab Shezie.


Henry terdiam lagi.


“Aku bingung bercerai denganmu,” jawab Henry kemudian, membuat Shezie menoleh kearahnya.


“Kenapa?” tanya Shezie.


“Entahah, ternyata aku tidak tega membuat orang tuaku kecewa,” jawab Henry, padahal dalam hati bukan itu saja, karena dia juga semakin berat melepaskan Shezie.


Shezie tidak menjawab.


“Biasanya kapan pengantin baru bisa langsung hamil?” tanya Henry.


“Aku juga tidak tahu, aku belum pernah hamil. Sepertinya satu atau dua bulan bisa hamil,” jawab Shezie.


“Bagaimana kalau orang tuaku masih mengharapkan kau hamil?” tanya Henry, membuat Shezie menoleh.


“Kenapa kau bertanya begitu? Kau ingin membayarku mengandung anakmu?” tanya Shezie.


“Apa kau mau?” tanya Henry membuat Shezie terkejut.


“Kau ini bicara apa? Aku tidak mau pekerjaan ini jadi kebablasan, aku bukan wanita bayaran seperti itu. Kau tahu aku terpaksa mau menikah denganmu karena aku butuh uangmu karena aku ingin membawa ibuku berobat keluar negeru dan kau mau membayarku 1M!” kata Shezie.


“Aku mau membiayai ibumu berobat keluar negeri asal kau mau memperpanjang pernikahan ini,” jawab Henry.


“Fikiranmu seperti sedang kacau Henry, masa aku harus hamil segala, kau kan bisa menikah dengan kekasihmu,” kata Shezie, menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tapi kau kan istriku,” jawab Henry.


“Ibuku akan marah kalau tahu semua ini. Tahu kau menikahiku tanpa restunya saja membuatnya drop. Kalau aku mengecewakan ibuku akan sia-sia semua perjuanganku untuk kesembuhannya. Aku tidak mau kehilangan ibuku. Kalau ibuku meninggal, aku akan dengan siapa di dunia ini, aku sendirian tidak punya sanak saudara lagi,” kata Shezie, sambil menunduk sedih, membuat rambutnya jatuh menutupi wajahnya.


“Jadi kau memilih menikah dengan Martin?” tanya Henry.


“Entahlah, aku menerimanya karena ibuku yang meminta,”jawab Shezie.


“Kau mau membuang buang waktumu untuk hidup bersama Martin? Aku rasa dia malah akan menyakitimu nanti,” kata Henry.


“Entahlah aku juga bingung, memangnya kalau lebih lama menikah denganmu itu yang terbaik untukku? Apalagi harus hamil segala, perutku akan gendut dan ibuku akan melihatnya,” tanya Shezie.


“Aku tampan kan?” tanya Henry tiba-tiba, membut Shezie menoleh dan menatapnya.


“Kau bicara apa?” tanya Shezie.


“Aku tampan kan?” tanya Henry lagi balas menatap Shezie. Pertanyaan itu membuat Shezie tertawa.


“Pertanyaanmu itu aneh-aneh saja. Kau ingin aku memujimu? Kau sangat tampan,”jawab Shezie sambil mencubit kedua pipinya Henry sambil tertawa.


“Kau juga cantik,” ucap Henry, membuat Shezie terkejut.


“Apa?” tanyanya malah bengong, kedua tangan Henry memegang tangan Shezie yang mencubit pipinya.


“Bayi kita pasti akan sangat lucu kan?” kata Henry, membuat Shezie tertawa lagi tapi hatinya benar-benar menajdi gelisah dan serba salah.


“Kau sedang membayangkan wajah bayi kita kalau aku hamil anakmu begitu?” tanya Shezie, Henry mengangguk.


“Kau tunggu sebentar!” ucap Shezie, sambil turun dari tempat tidur. Henry menatapnya, melihat apa yang akan dilakukan Shezie.


Shezie menuju laci lemari, dia mengambil beberapa lembar kertas HVS dan alat tulis, lalu sebuah kaca rias kecil,  lalu naik lagi ke tempat tidur, duduk lagi disamping Henry, sebuah bantal disimpan diatas kakinya menjadi alas untuk menulis.


Disodorkannya alat rias itu pada Henry.


“Pegang!” ucapnya.


“Buat apa?” tanya Henry.


“Pegang saja dulu,” jawab Shezie.


“Kau akan menulis apa?” tanya Henry keheranan, mencondongkan tubuhnya kebelakang punggung Shezie melihat gadis itu menggambar di kertas itu.


Shezie menoleh pada Henry, menatapnya sebentar lalu ke kertas itu dan menggambar lagi.


“Cermin- cermin-cermin!” seru Shezie.


“Apa?” Henry kebingungan.


Shezie menarik tangan kanan Henry yang memegang cermin supaya berada didepannya, diapun berkaca, lalu menunduk dan menggambar lagi.


Karena posisi tangan kanannya yang ditarik Shezie ke depan Shezie, membuat tubuh Henry semakin menempel ke punggung Shezie, helaian helaian rambutnya menyentuh wajahnya, membuat Henry mau tidak mau mencium rambut itu.


**************