Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-94 Rencana makan malam



Andrea bergegas menghampiri ibunya yang sedang duduk bersantai sambil membuka tabloid wanita.


“Bu! Ibu harus bergerak cepat!” seru Andrea.


“Bergerak cepat apa?” tanya Bu Yogi tanpa menoleh.


“Henry sudah resmi bercerai dengan Shezie, jangan sampai orang lain lebih dulu tahu kalau Henry duda dan orang orang tahu kalau Henry itu sebenernya tidak pelit, pasti banyak yang akan menjodoh-jodohkan dengannya!” jawab Andrea dengan terburu-buru lalu duduk disamping ibunya.


Bu Yogi menurunkan tabloidnya dan menoleh pada Andrea.


“Jadi Henry sudah resmi bercerai?” tanya Bu Yogi.


“Iya, bahkan dia memberikan harta gono gini pada Shezie, tapi wanita itu menolaknya!” jawab Andrea.


“Apa? Baru menikah juga diberikan harta gono gini? Bisa kaya mendadak gadis itu,” kata Bu Yogi terperangah kaget..


“Makanya Bu, ternyata Henry tidak pelit, ibu salah menilainya, seharusnya ibu bersabar tidak menyuruhku meninggalkannya,” ucap Andrea.


“Iya Ibu minta maaf, kalau tahu Henry itu sebenarnya royal, sudah dari dulu ibu mengusahaan supaya Henry menikah denganmu,” kata Bu Yogi.


“Benar, jadi apa yang akan ibu lakukan sekarang?” tanya Andrea.


“Ibu akan menelpon ayahmu supaya mengundang keluaga Pak Damian makan malam di restaurant mewah. Mereka ada disini kan?” jawab Bu Yogi.


“Sepertinya begitu,” ucap Andrea mengira-ngira.


Bu Yogi langsung meraih ponselnya dan menelpon suaminya untuk mengundang keluarganya Damian makan malam di restaurant mewah.


Andrea menatap ibunya sambil tersenyum dia bahagia ada kesempatan lagi bersama Henry lagi. Bukannya dia tidak mencintai Henry, hanya sikap Henry yang pelit itu membuatnya kadang tidak tahan, tapi ternyata semua terbukti Henry sebenarnya tidak pelit, hanya mungkin dia memang hati-hati dalam memilih calon istri.


**********


Hanna berada di teras meksipun hari sudah gelap. Malam itu suaminya dan Henry belum pulang. Dia jenuh menunggu didalam rumah, jadi memilih duduk saja diluar meskipun udaranya sangat dingin.


Tidak berapa lama, dlihatnya ada sinar mobil memasuki  gerbang . Itu mobilnya Damian dan Henry.


Hannapun bangun dari duduknya,  berjalan ka pinggir teras menyambut kedatangan suaminya.


Damian dan Henry segera turun saat mobil mereka berhenti di teras rumah.


“Kenapa kau ada diluar?” tanya Damian, menghampiri Hanna.


“Aku jenuh menunggu didalam, sendirian dirumah benar-benar sepi,” jawab Hanna.


Damian langsung memeluk pinggang istrinya dan menciumnya.


“Ada undangan makan malam,” kata Damian, masih sambil memeluk istrinya.


“Undangan makan malam dari siapa?” tanya Hanna.


“Dari Pak Yogi, kebetulan dia menawarkan kerjasama yang menurutku prosfeknya sangat bagus,” jawab Damian.


Mendengar nama Pak Yogi, Hanna langsung menoleh pada Henry yang menghampiri mereka.


“Sayang, kau terlihat lelah, capatlah istirahat,” kata Hanna.


“Iya Bu!” jawab Henry.


Hanna kembali menoleh pada Damian.


“Siapa saja yang di undang? Kenapa kau mengatakannya padaku?” tanya Hanna.


“Pak Yogi mengundangmu juga Henry,” kata Damian.


“Henry?” tanya Hanna keheranan. Merasa namanya disebut, Henry menghentikan langkahnya dan menoleh pada orang tuanya.


“Ada apa denganku?” tanya Henry.


“Pak Yogi mengundang makan malam besok malam, dengan ibu dan kau juga,” jawab Damian.


“Aku tidak akan ikut,” jawab Henry, akan masuk kedalam rumah tapi Damian bicara lagi.


“Ayahkan sering bolak balik ke luar negeri, kau harus ikut, karena Pak Yogi akan mengajukan proyek kerjasama yang bagus profeknya,” kata Damian.


“Baiklah,” jawab Henry,  sama sekali tidak bersemangat langsung masuk ke dalam rumah.


Damian menoleh pada Hanna.


“Kenapa dia? Sepertinya keberatan diajak makan malam oleh Pak Yogi,” tanya Damian.


“Kau lupa, Andrea itu anaknya Pak Yogi,” jawab Hanna.


“Oh Iya, memangnya kau dengan Bu Yogi masih suka bertengkar?” tanya Damian.


Damian mengangguk-angguk tidak bicara lagi, dia meraih bahu istrinya mengajarnya masuk ke dalam rumah.


Hanna merenung memikirkan apa maksud dari undangan makan malamnya Pak Yogi, apa benar karena bisnis atau memang ingin mendekatkan Andrea dan Henry? Jangan-jangan Bu Yogi tahu kalau Henry bercerai dari Shezie dan akan menjodohkan Andrea lagi?


“Kau kenapa?” tanya Damian, karena istrinya seperti sedang berfikir serius.


“Aku memikirkan Andrea. Apa menurutmu Pak Yogi itu berencana mendekatkan Henry dengan Andrea?” jawab Hanna.


“Aku tdak tahu, aku hanya bicara bisnis dengan Pak Yogi, tidak ada membahas Andrea,” jawab Damian.


“Andrea itu sebenarnya sudah bertunanagan, tapi Andrea tidak menyukai tunangannya itu. Dia mau bertunangan karena dipaksa ibunya untuk melupakan Henry, jadi Andrea itu masih mencintai Henry,” kata Hanna, menjelaskan.


Damian menghentikan langkahnya dan menoleh pada Hanna.


“Jadi Andrea masih mencintai Henry?” tanya Damian.


“Kata Bu Yogi sih begitu,” jawab Hanna.


Damian mengerutkan dahinya, kembali memeluk istrinya melangkahkan kakinya kembali menuju kamar mereka.


“Apakah itu bagus? Henry juga butuh seseorang untuk bisa melupakan Shezie,” Tanya Hanna.


Damian tidak menjawab, hati kecilnya dia tidak tega Henry harus kehilanagn wanita yang dicintainya, tapi tidak ada jalan lain, atau keluarga ini akan berantakan. Henry tidak akan bahagia meskipun bersama dengan Shezie. Hanna pasti akan selalu cemburu sepanjang hidupnya, dan bisa jadi malah berbalik tidak menyukai Shezie, Vina juga tidak menyetujui Shezie menikah dengan Henry.


“Kau kenapa?” tanya Hanna, membuat Damian terkejut tidak menyangka Hanna sedang memperhatikennya.


“Tidak apa-apa,” jawab Damian.


“Kau berfikir  keputusan yang Henry ambil itu tidak baik?” tanya Hanna.


“Kenapa kau bicara begitu?” Damian balik bertanya, sambil membuka pintu kamarnya.


Hanna menatap suaminya yang masuk kamar duluan, wajahnya langsung saja ditekuk dan memberengut.


Damian akan menutup pintu, dilihatnya wajah istrinya seperti itu, dia sudah menebak apa yang ada difikirannya Hanna. Tapi dia tidak bicara apa-apa, dia sangat lelah sudah seharian bekerja, diapun langsung masuk ke kamar mandi.


**************


Di rumah Shezie…


“Sayang, karena sudah malam aku pulang dulu,” kata Martin.


“Iya, terimakasih kau sudah mengurus ibuku sampai pulang,” kata Shezie.


“Iya,” jawab Martin, sambil keluar dari rumahnya Shezie diikuti Shezie. Diapun membalikkan badannya dan menatap Shezie.


“Besok malam, aku ingin mengajakmu makan malam. Selama ini kita jarang sekali makan malam,” kata Martin.


Shezie menatapnya, dia ingat saat makan malam waktu itu malah Martin membawanya ke hotel, membuatnya merasa trauma. Untung saja Henry menyelamatkannya waktu itu.


Martin seperti tahu apa yang difikirkan Shezie.


“Aku berjanji tidak akan macam-macam. Waktu itu aku cemburu karena kau bersama Henry, tapi sekarang aku tenang kau sudah berpisah dari Henry dan kau hanya menjadi milikku seorang,” kata Martin, menatap gadis didepannya itu.


Meskipun dia tahu kalau Shezie sudah menjalin hubungan dengan Henry, entah kenapa sebelum memiliki wanita itu rasanya hatinya belum puas, dia tidak peduli Shezie bukan gadis lagi, dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia bisa memilikinya. Dia juga berencana memamerkannya pada teman-temannya nanti atas keberhasilannya mendapatkan gadis yang selalu menolaknya saat di kampus.


“Baiklah,” ucap Shezie, mengangguk dengan berat hati. Tidak ada cara lain selain mengiyakan keinginannya Martin. Dia akan menikah dengan pria itu mau tidak mau, karena dia tidak akan pernah bersatu dengan Henry. Demi ibunya dan kebaikan semua orang, dia selalu melepaskan rasa cintanya pada suaminya.


Setelah Martin pulang, Shezie menutup pintu rumahnya dan menguncinya, lalu diapun masuk kekamarnya.


Dibukanya lemari pakaian itu, diambilnya gulungan kain yang dia sembunyikan di tempat yang tersembunyi. Diapun duduk dipinggir tempat tidur dan membuka kain itu. Ada senyum di bibir Shezie saat melihat isi kain itu, gaun pengantinnya. Untung saja dia belum sempat menjualnya, kalau tidak, tidak ada satupun kenangan yang tertinggal.


Dia masih begitu mencintai Henry, sangat mencintainya, karena ini adalah awal -awal jalinan cintanya dengan Henry dan ternyata hanya berusia seujung kuku, pernikahan yang hanya menumbuhkan rasa cinta lalu kembali membuatnya jatuh dan layu.


Tidak terasa linangan air bening mulai berkumpul dikelopak matanya, mengingat masa-masa bersama Henry. Ternyata dia begitu mencintainya, ternyata begitu berat berpisah dengan pria yang dicintainya. Dipeluknya gaun pengantin itu dan Sheziepun tidak bisa membendung airmatanya lalu menangisi gaun itu.


Hatinya begitu terasa sakit menyadari kenyataan yang harus dijalaninya sekarang.


Sepasang mata melihat dicelah pintu yang terbuka sedikit karena Shezie tidak menutupnya dengan rapat.


Melihat putrinya menangisi gaun pengantinnya, ada sedih menjalar dihatinya Bu Vina. Apakah dia sudah terlalu egois membiarkan putrinya berpisah dengan Henry? Tangannya akan meraih pegangan pintu tapi tertahan, apakah menemui Shezie sekarang adalah waktu yang tepat? Tapi sepertinya tidak, sepertinya Shezie butuh waktu untuk menyendiri.


Dilihatnya lagi putrinya itu masih menangisi gaun pengantinya. Bu Vina pun menjalanan kursi rodanya meninggalkan tempat itu kembali ke kamarnya.


**************


Readers, like semakin sedikit hanya tinggal sisa-sisa pembaca setia, semoga author bisa menulisnya sampai tamat ya..


Trimakasih buat yang masih setia.


************