Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-4 Sisi lain Shezie



Shezie kembali mengejar Henry sampai ke mobilnya Henry. Dia tertegun saat Henry membuka pintu sebuah mobil mewah. Ternyata Henry benar-benar pria yang tajir, tapi kenapa dia begitu pelit? Membayar jasanya saja hanya 500rb. Atau Jangan-jangan dia pura-pura kaya dan hanya seorang supir saja?


“Kau sebenarnya supir kan?” tebak Shezie, membuat Henry menoleh kearah Shezie yang ada disebrangnya.


“Kau ini bicara apa?” tanya Henry.


“Kau sebenarnya supir!” jawab Shezie.


Henry malas berurusan lagi dengan Shezie dia membuka pintu mobilnya.


“Baiklah aku terima bekerjasama denganmu!” kata Shezie, membuat Henry menatapnya lagi.


“Apa?” tanya Henry.


“Aku akan membantumu dengan bayaran 500 ribu,” jawab Shezie.


Henry terdiam dan tampak berfikir.


“Karena aku tahu kau hanya seorang supir, gajimu pasti tidak seberapa, pasti pakaian bagusmu juga pemberian dari majikanmu kan,” kata Shezie lagi.


Henry tidak menghiraukan perkataannya Shezie, dia akan masuk ke mobilnya tapi Shezie bicara lagi.


“Kapan aku mulai beraksi?” tanya Shezie.


Henry berfikir sebentar, apa dia perlu bantuan Shezie untuk menghentikan Andrea mengejarnya lagi?


“Besok saja jam makan siang,” jawab Henry.


“Terus bagaimana dengan penampilanku?” Shezie berjalan memutari mobil dan berdiri di depan Henry.


“Apa lagi?” tanya Henry.


“Kau kan hanya membayarku 500 ribu jadi aku hanya akan memakai baju yang ada padaku saja aku tidak akan membeli baju mewah,” kata Shezie.


“Kau datang sebelum jam makan siang, nanti aku bawakan baju bekas ibuku,” jawab Henry.


“Apa? Yang benar saja, baju bekas? Aku tidak mau!” tolak Shezie.


“Lagian repot amat! Pakai saja baju yang ada. Mau pakai baju apapun tidak akan berubah,” gerutu Henry.


“Kau sendiri kan yang bilang pacarmu lebih cantik dariku? Masa aku yang selingkuhannya kalah cantik darinya!” kata Shezie.


“Ya sudah seperti kataku tadi, kau datang saja lebih awal, aku bawakan baju bekas ibuku!” jawab Henry, membuat Shezie kembali mencibir.


“Baju bekas ibumu, tidak mau! Aku pakai bajuku saja!” kata Shezie.


Henry tidak menjawab lagi, dia masuk ke mobilnya. Sheziepun meninggalkan Henry, lalu berjalan menuju gerbang  mall dengan bibirnya yang memberengut.


“Baju ibunya, sudah dipastikan bajunya pasti sudah ketingalan jaman. Cantik begini dibilang standar. Dia juga cuma supir pasti orangtuanya juga bukan orang kaya, bisa dibayangkan bagaiman baju ibunya, pasti jadul banget,“ gerutu Shezie, lamunannya terhenti saat melihat mobilnya Henry melewatinya tanpa mengklakson sedikitpun, Shezie hanya mencibir pada mobilnya Henry.


“Supir yang sok kaya! Kalau benar-benar  kaya kau tidak akan masalah membayar 5 juta. Ini cuma 500 ribu. Ya sudahlah, kasihan juga mungkin memang uangnya tidak ada lagi,” gumam Shezie, sambil menyetop taxi.


“Ke rumah sakit, Pak!” kata Shezie pada supir.


Taxipun meluncur dijalan raya menuju rumah sakit yang disebutkan Shezie.


Begitu sampai di rumah sakit, Shezie langsung datang ke sebuah ruangan, kebetuan sedang ada Dokter dan perawat di dalam.


“Pak Dokter Arfan! Bagaimana kondisi ibu Dok?” tanya Shezie.


“Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, pasien harus segera di kemo. Karena ibumu belum dikemo sekalipun jadi sel kankernya semakin menyebar,” jawab Dokter, membuat Shezie sedih mendengarnya.


“Iya Dok, saya sedang mengumpulkan uangnya. Setelah terkumpul saya pasti memberitahu Dokter untuk melakukan kemo,” kata Shezie.


Shezie menoleh pada ibunya yang berbaring lemah di tempat tidur pasien.


“Ibu, apa sudah merasa lebih baik?” tanya Shezie, mendekati ibunya dan mencium pipinya.


“Ibu lebih baik,” jawab ibunya.


Shezie tahu ibunya berbohong, kalau lebih baik tidak mungkin Dokter menyuruhnya cepat-cepat melakukan kemo.


“Aku masih mengumpulkan uang untuk biaya kemo,” ucap Shezie sambil mengeluarkan sebuah amplop yang diberikan pria yang di mall itu.


“Tapi sepertinya uangnya belum cukup,” ucap Shezie, mengintip isi amplop.


Kepalanya terus berfikir bagaimana cara mendapatkan uang dengan mudah untuk biaya berobat ibunya? Ada satu pekerjaan yang tersisa yaitu bekerja pada Henry tapi pria itu hanya membayarnya 500 ribu, tapi lumayanlah uangnya bisa digunakan untuk keperluan yang lain.


Ibunya menatapnya.


“Ibu minta maaf kau harus berhenti kuliah demi merawat ibu,” ucap ibunya.


“Tidak apa-apa Bu, hanya ibu satu-satunya keluarga yang aku miliki, aku ingin ibu sembuh,” ucap Shezie sambil tersenyum dan menyentuh tangan ibunya. Sentuhannya dibalas genggaman dari ibunya.


“Kau juga terpaksa harus bekerja,” lanjut ibunya.


“Iya tidak apa-apa Bu. Ibu lekas sembuh saja nanti aku bisa kuliah lagi,” jawab Shezie.


“Pakaianmu bagus, kau membeli baju baru lagi?” tanya ibunya, melihat baju yang dipakai Shezie.


“Ini pemberian dari teman Bu, dia orang kaya jadi baju bajunya banyak, aku bersyukur punya teman seperti dia,” jawab Shezie berbohong. Dia tidak mungkin memberi tahu ibunya kalau itu baju dari pria-pria yang memakai jasanya.


“Sebentar lagi aku berangkat bekerja Bu,” ucap Shezie, sambil melirik jam di di dinding.


“Kalau pulang malam hati-hati. Jangan mampir kemana-mana dulu langsung pulang,” kata ibunya.


“Iya,” jawab Shezie tersenyum pada ibunya.


Shezie tidak tahu harus bekerja apa lagi sampai mendapatkan uang banyak untuk biaya berobat ibunya. Dia hanya bisa menggunakan ijasah SMA karena kuliahnya terputus karena sudah tidak ada biaya lagi. Kesehatan ibunya semakin memburuk dan dia lebih membutuhkan uang untuk berobat ibunya.


Tentu saja bekerja di kantoran atau diperusahaan bonafid minimal harus S1, dengan ijasah SMA terpaksa dia bekerja di café yang gajinya tidak seberapa, sedangkan dengan penyakit ibunya yang parah dia membutuhkan banyak uang.


“Kalau uangku sudah terkumpul banyak, aku ingin membawa ibu berobat ke rumah sakit yang bagus di luar negeri, yang khusus mengobati kanker,” kata Shezie


“Tidak sayang, jangan memaksakan diri, ibu tidak mau kau sakit,” ucap ibunya.


“Aku juga tidak mau ibu sakit, ibu harus sembuh,” kata Shezie.


“Berobat di luar negeri itu sangat mahal, biaya hidupnya juga mahal, bisa menghabiskan uang ratusan juta,” ucap ibunya.


Shezie tidak bicara lagi, dia menatap ibunya dengan sedih, Dia lebih baik lelah bekerja demi ibunya sembuh, daripada ibunya harus meninggal dan dia hidup sendirian di dunia ini.


Tapi untuk mendapatkan uang ratusan juta dalam waktu singkat sangatlah sulit. Gaji di café entah kapan terkumpul sampai berjumlah ratusan juta.  Gaji sebulan sudah habis untuk berobat jalan ibunya. Sekarang untuk kemo saja belum terkumpul.


Shezie memeluk ibunya dengan sedih. Dia tidak mau kehilangan ibunya. Dia harus mencari uang banyak dalam waktu singkat, tapi apa? Pekerjaan apa yang bisa menghasilkan uang dalam waktu singkat?


“Katamu kau akan berangkat bekerja. Nanti kau terlambat,” kata ibunya.


Shezie segera bangun dan merapihkan rambut dan bajunya.


“Iya aku akan berangkat bekerja Bu, nanti malam pulang kerja aku kesini lagi,” kata Shezie.


Ibunya mengangguk. Shezie mencium pipi ibunya sekali lagi, barulah dia keluar dari ruangan itu.


*************