
Shezie kembali menatap cincinnya lalu pada Henry.
“Aku tidak mengerti kenapa kau membelikanku cincin lagi?” tanya Shezie.
Henry menjalankan mobilnya dengan pelan, merayap dijalan raya.
“Karena kau harus pulang denganku, orangtuaku pasti bertanya-tanya kenapa kau tidak memakai cincin. Tadi aku pesannya dadakan, untung ada satu cincin yang mirip, aku heran kenapa kau gampang sekali menjualnya,” jawab Henry, matanya lurus kedepan kearah jalan raya yang selalu ramai.
“Pulang? Kau akan membawaku pulang ke rumah majikanmu? Maksudku ke rumah orang tuamu?” tanya Shezie, menatap Henry.
“Iya,” jawab Henry, menganggukkan kepalanya tanpa menoleh.
“Tidak, tidak, aku tidak mau! Kau merasa rugi memberiku uang 100 juta hanya untuk bekerja sehari?” tuduh Shezie.
“Aku akan memberimu uang lagi kalau kau mau menjadi istriku beberapa waktu kedepan,” jawab Henry.
“Apa? Makudmu apa? Aku masih harus bersandiwara?” tanya Shezie.
“Iya,” jawab Henry.
“Tidak ,tidak Henry, kita berpura-pura dengan pernikahan saja itu sudah suatu kesalahan, aku tidak mau melanjutkan kesalahan itu. Seharusnya aku menolak tawaranmu dari awal, aku tidak mau mempermainkan pernikahan lagi, sudah cukup!” kata Shezie, menggelengkan kepalanya.
“Orang tuaku tidak mengijinkan kita bercerai. Sebenarnya dari kemarin orang tuaku menyuruhku menjemputmu pulang tapi aku tidak menemukanmu, aku tidak tahu rumahmu dimana,” ujar Henry.
Shezie diam mencoba memahami apa yang Henry katakan.
“Aku tidak mungkin terus-terusan jadi istrimu,” kata Shezie.
Henry membelokkan mobilnya keluar dari jalan raya, berhenti di tanah yang lapang. Diapun menghandap Shezie dan menatapnya.
“Aku tidak bisa mengatakan pada orang tuaku kalau aku membayarmu,” kata Henry.
Shezie mengalihkan padangannya dari tatapan Henry, kenapa sekarang dia merasa gugup jika mata itu menatapnya? Apalagi kalau mengingat pria itu adalah suaminya yang menikahinya dengan sah. Diapun memilih menatap keluar sana ke arah jalanan yang terang oleh lampu jalan.
“Ayahku sudah memilihkan rumah untuk kita, aku tidak tega mengecewakannya,” ucap Henry.
Shezie menyandarkan tubuhnya ke jok mobil. Dia tidak bisa menjadi istri Henry terus terusan, karena dia harus mengurus ibunya.
“Aku akan membayarmu, asal kau mau melanjutkan pernikahan ini beberapa waktu lagi,” kata Henry.
Shezie menoleh pada pria yang sedang menatapnya itu.
“Tapi aku tidak bisa, aku punya urusan lain, aku punya kehidupan sendiri, aku tidak mungkin terus-terusan denganmu,” ujar Shezie
“Aku akan membayarmu lebih dari cukup daripada kau harus bekerja di café atau berakting jadi selingkuhan orang,” kata Henry, mencoba memluluhkan Shezie.
“Aku tidak bisa mengecewakan orang tuaku. Aku butuh waktu untuk kita bercerai, mereka tidak menyetujui perceraian ini karena pernikahannya juga baru kemarin, mungkin kalau sudah berjalan satu atau dua bulan, mereka akan mengerti kalau melihat kita terus terusan bertengkar,” lanjut Henry.
“Jadi maksudmu aku harus jadi istrimu satu atau dua bulan begitu?” tanya Shezie.
“Ya sepertinya begitu,” jawab Henry.
“Artinya aku harus tinggal bersamamu begitu?” tanya Shezie lagi.
“Ya begitu, sampai orangtuaku mengijinkan untuk bercerai,” jawab Henry.
“Tapi aku punya privasi sendiri yang kau tidak perlu tahu,” kata Shezie.
“Ya aku mengerti,” jawab Henry.
Shezie terdiam lagi, dia ingat perkataan ibunya, bagaimana marahnya ibunya karena dia mendapatkan uang dengan mudah dan mengira dia mendapatkan uang dari pria hidung belang.
“Aku bukan istri bayaran, dari awal pekerjaanku hanya beracting jadi selingkuhan orang tapi bukan istri bayaran,aku tidak bisa bersamamu, aku minta maaf, kerjasama kita sudah selesai, tidak bisa dilanjutkan lagi,” kata Shezie, membuat Henry patah semangat.
“Kau butuh uang berapa?” tanya Henry.
Ditanya begitu Shezie merasa tertarik tapi dia teringat lagi kemarahan ibunya soal uang yang digunakan untuk kemo itu. Bagaimana kalau ibunya tahu dia menjadi istri orang bukan atas cinta tapi demi uang, dia jadi istri bayaran, ibunya pasti tidak akan memaafkannya.
“Maaf aku tidak bisa, aku lebih baik mencari uang dengan caraku sendiri tapi tidak untuk jadi istri bayaran, aku minta maaf,” kata Shezie, membuat Henry semakin lesu. Diapun bersandar ke jok mobilnya, Shezie juga melakukan hal yang sama. Keduanya tidak ada yang bicara.
Henry kemudian melirik Shezie, dia merasa Shezie berbeda dari biasanya, dia terlihat lebih pendiam dan murung.
“Kau serius tidak akan mengambil pekerjaan ini?” tanya Henry.
Shezie melihat cincin dijarinya.
“Aku tidak bisa menerima cincin ini,” kata Shezie, dia akan melepaskan cincinnya, tapi tangan Henry langsung menahannya dengan menggenggam tangannya.
“Aku minta kau memikiran permintaanku baik-baik. Katakan berapa uang yang kau butuhkan?” ujar Henry, menatap Shezie, tanpa melepaskan pegangan tangannya.
Shezie melihat tangannya yang digenggam tangan pria itu, lalu menatap pria yang sedang menatapnya itu.
“Kau bisa sebutkan berapa aku harus membayarmu,” kata Henry, masih menatap Shezie, dari waktu kewaktu dia menyadari kalau gadis itu memiliki wajah yang cantik hanya terlihat tidak terawat dan tidak feminim.
“Kau tidak perlu melakukan apa-apa, hanya menunda perceraian satu atau dua bulan saja. Aku berjanji tidak akan ikut campur urusanmu, kita hidup masing-masing,” lanjut Henry.
“Aku tidak bisa tinggal terus bersamamu,” ucap Shezie, masih menatap pria itu.
Dalam hatinya dia merasa takut kalau terlalu dalam berada di kehidupan pribadi Henry dia akan merasa Henry suami yang sesungguhnya dan itu akan sangat menyakitkan jika waktunya bercerai nanti. Sekarang saja dia mulai merasa serba salah jika pria itu menatapnya, seperti saat ini apalagi dengan menggenggam tangannya, jantungnya berdebar sangat kencang, dia merasa gugup.
“Tidak selalu, kita bisa atur kapan ada dirumah atau kau pulang ke rumahmu. Kita dapat rumah dari ayah jadi tidak perlu satu rumah dengan ayah dan ibu. Kita bebas melakukan apa saja,” kata Henry.
Shezie masih diam merenung.
“Kau butuh uang berapa? Aku akan menyanggupinya. Aku juga akan memberimu uang bulanan jadi kau tidak perlu bekerja di café itu lagi,” kata Henry lagi.
Shezie masih diam.
“Katakan saja,” ucap Henry, terus membujuk.
“Kau serius akan memberiku uang yang banyak?” tanya Shezie.
Henry mengangguk, tatapannya tidak lepas dari melihat wajah itu, sampai lupa kalau dia masih menggenggam tangannya Shezie.
Shezie terus berfikir, kalau dia mendapatkan uang ratusan juta lagi dia bisa frever untuk pengobatan ibunya, jarang-jarang ada yang membayarnya dengan bayaran sebesar itu. Apa dia menerima saja tawaran Henry?
“Tapi aku tidak melakukan kewajiban apapun kan? Hanya statusku istrimu saja?” tanya Shezie, memastikan.
“Iya, hanya untuk menunda perceraian, setelah semua aman untuk bercerai, kita bercerai,” jawab Henry.
Shezie merenung lagi, dia bingung akan memberikan alasan apa ibunya jika jarang pulang, apakah dia harus bilang kepada ibunya kalau dia ada pekerjaan keluar kota lagi? Kalau dia harus membayar hutang pada temannya di travel dengan pekerjaan?
“Kau jangan khawatir kau akan mendapatkan hakmu sebagai istriku, kau tidak akan kekurangan apa-apa, bagaimana?” tanya Henry lagi, berusaha meyakinkan Shezie.
Henry merasa bingung ternyata mengiming-imingi uang tidak semudah itu menaklukkan Shezie, ternyata Shezie bukanlah wanita matrealistis yang menghalalkan segala cara demi uang, meskipun dia bisa melihat sepertinya Shezie sangat membutuhkan uang tapi entah buat apa uang itu.
“Kau butuh 100 juta lagi sekarang? Akan aku berikan,” kata Henry, dia sudah tidak mau berbasa basi lagi, dia hanya mau Shezie menjalankan perannya sebagai istrinya sampai waktu yang tepat untuk bercerai.
Shezie tertawa mendengar perkatan Henry.
“Aku itu butuh uangnya 1M, Henry! Uang yang sangat besar yang aku kumpulkan dan tidak pernah terkumpul,” ucap Shezie, kini tawanya hilang karena dia ingat uang itu untuk membawa ibunya berobat ke luar negeri.
“Apa? 1 M? Kau memerasku?” bentak Henry dengan raut muka yang kesal dan melepaskan pegangan tangannya pada tangan Shazie, kemudian merubah posisi tubuhnya menghadap kearah depan.
“Tidak, aku memang membutuhkan uang dengan jumlah sekitar segitu, tapi aku tidak bisa menerima tawaranmu, aku tidak bisa, maaf,” kata Shezie.
“Kau keterlaluan, kau memerasku,” keluh Henry.
“Bukan begitu, tadi aku sudah mengatakan kalau aku punya kehidupan sendiri, aku tidak mau terikat denganmu karena ini bukan pernikahan sebenarnya sebuah pernikahan,” kata Shezie, berusaha meluruskan.
Henry terdiam beberapa saat terlihat sedang berfikir kemudian menoleh pada Shezie.
“Baiklah, aku setuju!” jawab Henry tiba-tiba membuat Shezie terkejut.
“Apa? Kau serius?” Shezie menatap Henry, menatap pria yang sekarang menghadapnya dan menatapnya.
“Aku serius, aku setuju,” jawab Henry, membuat Shezie merasa shock.
"Kau akan memberiku uang 1M?" tanya Shezie tidak percaya.
"Iya," jawab Henry.
Shezie langsung terdiam, apa dia sedang bermimpi?
***************