
Henry terus mengikuti mobilnya Martin dengan hati yang dirasa-rasanya semakin ada hawa panas meletup-letup tapi letupannya masih kecil,karena memang dia menyadari statusnya sebagai suami yang tidak sebenarnya.
Mobil Martin memasuki sebuah restaurant mewah. Henry menghentikan mobilnya, mebiarkan mobilnya Martin parkir di dalam restaurant mewah itu.
Setelah agak lama, barulah Henry membawa mobilnya memasuki restaurant itu. Dia memarkir mobilnya berbeda tempat dengan Martin jangan sampai Shezie mengetahui kalau dia menguntitnya.
Henry turun dari mobilnya dan berjalan memasuki restaurant, tidak lupa dia memasang upluk mantelnya untuk menyembunyikan wajahnya.
Dilihatnya seluruh area restaurant itu, dilihatnya Martin dan Shezie duduk berhadapan dengan meja yang ditata rapih dan romantis. Henry semakin tidak suka saja melihat mement romantisnya Martin dan Shezie.
Henry juga bingung kenapa dia begitu kepo dengan acaranya Shezie? Apakah dia cemburu? Ah tidak, tidak mungkin dia cemburu, itu artinya dia menyukai Shezie, tidak, tidak mungkin dia menyukai Shezie.
Henry mendapatkan kursi yang tidak begitu jauh dari Martin dan Shezie, dia duduk miring sehingga Shezie tidak akan bisa melihat wajahnya. Sesekai Henry melirik kearah Shezie. Dilihatnya gadis itu sedang membaca menu begitu juga dengan Martin.
“Sayang, kau terlihat cantik malam ini,” kata Martin, menyimpan menunya diatas meja, matanya tidak lepas menatap Shezie, dia begitu tertatik ingin menciumnya tapi Shezie menghindar terus.
Shezie tersenyum, tidak menyadari pria itu terus memperhatikan gerak bibirnya yang merah.
“Aku tidak menyangka kalau Shezie didandani dia terlihat sangat cantik,” batin Martin. Dia semakin tidak ingin melepas gadis yang disukainya itu.
Shezie tidak menjawab pujian dari Martin.
“Aku sudah bicara dengan orangtuaku untuk mempercepat pernikahan kita sesuai dengan yang ibumu inginkan,” ucap Martin.
Shezie terkejut mendengarnya, dia memang tahu ibunya ingin mempercepat pernikahannya tapi tidak menyangka kalau Martin juga sudah bicara dengan orang tuanya soal itu.
Shezie menatap Martin yang sedang menatapnya.
“Rencananya kita akan menikah bulan depan,” kata Martin, semakin membuat Shezie terkejut lagi karena itu artinya dia masih menjadi istrinya Henry.
“Aku tidak bisa menikah denganmu secepat itu, aku masih terikat kontrak dengan travel,” dalih Shezie.
“Kau bisa berhenti dari travel itu. Kau janagn lupa kalau aku ini kaya, aku bisa menghidupimu dengan layak,” kata Martin.
Perkataan Martin itu membuat Shezie sebal.
Kita ini sudah bertunangan, aku akan menjadi kepala keluarga sebaiknya kau mulai terbiasa menurut padaku,” kata Martin dengan tegas.
Shezie akan protes tapi dia teringat ibunya yang menginginkan dia menikah dengan Martin. Shezie pun diam.
Henry tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dia hanya melirik Shezie dan Martin yang mulai menyantap makan malam mereka. Diapun sama, hanya saja dia makan sendirian.
Cukup lama Henry menunggu makan malam mereka, dia berfikir apakah dia akan pulang saja atau tetap akan menunggu sampai acara makan malamnya Shezie selesai.
Dilihatnya Shezie dan Martin berdiri meninggalkan meja mereka. Henry juga cepat-cepat berdiri meninggalkan mejanya.
Henry melihat dibalik tempok pintu keluar, Martin dan Shezie pergi menuju mobilnya Martin. Henry berjalan dengan lesu menuju arah yang berbeda. Tapi dia berbalik lagi dan bersembunyi di mobil yang lain ingin melihat samoai Shezie dan Martin pulang. Dia jadi bertanya-tanya apakah Martin akan mengajak mengantar Shezie pulang sekarang?
Dilihatnya mobil Martin melaju meninggalkan restaurant itu. Henry cepat-cepat menuju mobilnya, dia mencoba mengejar mobilnya Martin, dia masih mengikutinya.
“Martin, kita akan kemana? Ini bukan jalan menuju rumahku,” kata Shezie.
“Aku ingin kita bersantai dulu sebentar,” jawab Martin.
“Bersantai? Ini sudah malam, aku lelah, besok aku bekerja,” kata Shezie beralasan supaya cepat-cepat pulang.
“Hanya sebentar saja, apa salahnya kita bersenang-senang sedikit,” ucap Martin.
Shezie tidak bicara lagi, Martin terus melajukan mobilnya. Henry keheranan kenapa Martin tidak menuju jalan pulang kerumahnya Shezie? Dia pun terus mengikutinya.
Shezie terkejut saat Martin memblokkan mobilnya memasuki sebuah hotel mewah.
“Martin, ini kita mau kemana? Kenapa kita ke hotel?” tanya Shezie, hatinya sudah merasa tidak enak saja.
“Kita bersenang-senang dulu sebentar!” kata Martin.
“Maksudmu apa mengajakku bersenang-senang dengan membawaku ke hotel?” tanya Shezie dengan hati yang semakin gelisah, diapun pucat pasi.
Henry terkejut melihat mobil Martin belok memasuki hotel. Hatinya mendadak kecewa, ternyata hubungan Shezie dan tunangannya sudah terlampau jauh, ternyata Shezie memang sudah sangat dekat dengan tunangannya. Tiba-tiba hati Henry merasa kecewa. Tapi kenapa dia kecewa? Itukan hak asasinya Shezie.
Henry akhirnya memutuskan pulang saja, buat apa dia menguntit-nguntit gadis yang bukan siapa-siapanya.
Martin menghentikan mobilnya diparkiran.
Dia memiringkan tubuhnya menghadap Shezie, gadis itu mulai pucat dan berkeringat dingin.
“Sayang,” Martin mengulurkan tangannya menyentuh dagunya Shezie, dia tidak sabar ingin menciumnya.
Shezie menepiskan tangan Martin.
“Sayang, aku ini tunanganmu, sebentar lagi kita menikah,” kata Martin.
“Apa maksudmu membawaku ke tempat ini?” tanya Shezie.
“Kau tahu, kau sangat cantik malam ini, kau sangat menggodaku, aku rasa tidak ada salahnya kalau kita melakukan malam pertama sekarang, toh sama saja sekarang atau nanti setelah menikah, aku tidak sabar ingin memilikimu,” rayu Martin.
Mendengar jawaban Martin membuat Shezie terkejut.
“Kau ini bicara apa? Kau sudah gila?” maki Shezie.
Martin mendekatkan wajahnya semakin dekat pada wajahnya Shezie.
“Kau benar, aku sudah gila! Aku mencintaimu sudah bertahun-tahun lamanya, aku benar-benar gila kalau tidak sampai memilikimu,” ucap Martin, mendekatkan bibirnya akan mencium bibirnya Shezie.
Gadis itu langsung mendorong dadanya Martin.
Martin yang kembali mendapat penolakan dari Shezie samakin kesal saja.
“Kenapa kau selalu menolakku?” bentak Martin.
“Maaf Martin, aku ingin pulang, aku lelah,” kata Shezie. Dia ingin kasar tapi mengingat perhatian dan jasa Martin pada ibunya dia menahan diri.
Martin menghela nafas panjang, dia mencoba bersabar, tapi melihat wajah Shezie yang berkeringat malah membuat gadis itu terlihat sangat sexy.
“Baiklah baiklah kita pulang, tapi hanya sebuah ciuman saja tidak apa-apa kan.” ucap Martin, kembali mendekatkan wajahnya akan mencium Shezie. Shezie bingung apa dia akan membiarkan Martin menciumnya? Wajah itu semakin dekat dan ternyata Shezie masih tidak bisa menerima Martin, diapun menghindar, membuat Martin kesal dan tiba-tiba mencengkram dagunya Shezie.
“Kau ingin bermain-main denganku?” bentaknya, sambil menguatkan cengkramannya membuat Shezie terkejut dan dia juga merasa kesakitan.
“Martin, lepaskan, kau menyakitiku!” kata Shezie.
Martin segera melepaskan tangannya, dia menahan amarah yang mulai memuncak.
“Kita pulang!” kata Shezie, tapi ternyata Martin malah memeluk lehernya mendekatkan wajahnya lagi dan mencoba menciumnya dengan paksa.
Plak! Sebuah tamparan mendarat dipipinya Martin, membuat pria itu terkejut.
“Kau menamparku? Hanya aku meminta sebuah ciuman kau menamparku?” bentak Martin, menatap Shezie dengan mata merah karena marah.
“Maaf Martin, aku..aku..” Shezie bingung dia juga tidak tahu apakah tindakannya salah atau tidak, hati dan dirinya benar-benar tidak bisa menerima Martin.
“Kau fikir kau bisa lepas dariku? Aku sudah muak menunggumu terus! Setelah apa yang aku lakukan untuk ibumu kau masih saja menolakku! Kau wanita yang tidak tahu diri!” maki Martin, membuat Shezie semakin terkejut dengan sikapnya. Tidak ada lagi Martin yang lemah lembut perhatian dan murah senyum, itu semua berubah sekaran, pria itu memerah majahnya dan terlihat garang.
“Martin aku minta maaf, aku tidak bisa, kita pulang!” ucap Shezie, dia merasa takut melihat mata merahnya Martin, pria itu seperti kesetanan.
Tapi ternyata permintaannya tidak dituruti Martin. Pria itu malah memeluknya dengan kuat dan mencoba menciumnya lagi.
“Martin lepaskan, Martin lepaskan!” teriak Shezie sambil mendorong tubuhnya Martin mencoba melepaskan diri dari pelukan dan ciumannya Martin.
Tapi pria itu sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan menarik gaunnya Shezie sampai memperlihatkan bahunya. Shezie semakin panic, cepat-cepat merapihkan guunnya lagi.
“Martin, kau ini apa-apaan! Lepaskan aku!” teriak Shezie.
Martin malah mendekatkan lagi wajahnya akan mencium Shezie lagi.
“Martin lepaskan aku! Tolong! Tolong!” teriak Shezie, tangannya menggapai gapai mencoba menjauhkan wajahnya Martin yang terus ingin menciumnya.
Tok! Tok! Tok! Tiba-tiba terdengar suara sebuah ketukan dijendela kacanya Martin, membuat Martin menghentikan gerakannya.
Tok!tok!Tok! kembali seseorang mengetuk kaca jendelanya.
Martin kesal bukan main, ada yang mengganggu kesenangannya. Diapun melepaskan pelukannya, dan menoleh kearah jendela yang tertutup.
“Kau mau apa?” teriak Martin, sambil membuka kaca jendelanya.
Saat kaca jendela itu terbuka, tiba-tiba sebuah tangan mengepal masuk kadalam mobil dan menghajar wajahnya dengan keras! Bugh!
Bukan itu saja, sosok yang memukulnya membuka pintu mobil dan kedua tanagnnya langsung meraih kerah kemeja Martin menariknya keluar dari mobil.
Shezie semakin panik melihatnya, diapun buru-buru keluar.
Sebuah tendangan mendarat diperut Martin membuat pria itu jatuh tersungkur.
“Kau siapa? Berani-beraninya ikut camour urusanku!” maki Martin, sambil mencoba bangun dengan menahan sakit di perutnya.
Dia menatap sosok berdiri di depannya yang menggunakan mantel berupluk, dia tidak melihat jelas wajah sosok itu.
Shezie merapihkan gaunnya yang acak-acakan, wajahnya pucat rambutnya kusut, tangannya gemetaran saking takutnya dengan apa yang Martin lakukan padanya. Kini matanya mulai berkaca-kaca.
“Sebaiknya kau menyingkir dari hadapanku!” teriak Martin.
Tiba-tiba sebuah pukulan lagi mengena diwajahnya Martin yang langung sempoyongan kebelakang karena tidak mengira sosok itu akan memukulnya lagi.
“Kurang ajar kau! Siapa kau?” teriak Martin mencoba berdiri tegak sambil mengusap bekas pukulan
sosok itu.
Shezie juga terkejut dengan siapa sosok yang bermantel itu. Dia tidak tahu siapa sosok itu.
“Jangan ikut campur urusanku!” teriak Martin.
“Tentu saja ini akan jadi urusanku,” jawab sosok itu sambil membuka upluknya.
Martin menatap sosok pria itu, dia tidak mengenalnya sedangkan Shezie terkejut saat melihat Henry sudah ada disana.
“Henry,” gumamnya, dengan kebingungan tidak menyangka Henry ada di tempat itu. Apa yang Henry lakukan disini?
“Siapa kau? Jangan ikut campur!” tanya Martin.
“Aku suaminya, “ jawab Henry.
“Apa?” Martin terkejut saat pria itu menjawab pertanyaannya, begitu juga dengan Shezie yang langsung menutup mulutnya.
“Apa? Suami?” tanya Martin, masih kaget dengan jawaban pria itu.
"Benar, aku suaminya Shezie," jawab Henry.
************