Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-55 Ulat Bulu



Hanna masih bersandar di pohon besar itu, berkali-kali dia mengusap airmatanya, berkali-kali pula airmata terus menetes di pipinya. Masih terngiang-ngiang ditelinganya segala ucapannya Damian. Apa seburuk itukah dirinya sampai Damian mengatakan tidak mungkin menikahinya kalau dia tidak hamil? Dia sama sekali tidak pernah menjebak pria itu, buat apa? Tapi melihat Damian terus mencarinya, hatinya tidak tega, tapi untuk apa juga dia menemui Damian lagi? Buat apa dia bersama terus dengan Damian dengan status yang tidak jelas, buat apa?


Diapun mengela nafas panjang, cukup lama dia bersandar di pohon itu. Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang dingin ditangannya. Yang dingin-dingin itu bergerak perlahan, Hanna merasa geli, lalu diliriknya tangan kanannya itu dan matanya langsung terbelalak kaget, diapun berteriak kencang.


“Ulaaat!” teriaknya histeris, langsung berjingkrak jingkrak menepis nepis tangannya yang ada ulat bulunya itu.


“Aaw!! Aaaw! Ulaat!” teriaknya, sampai keluar dari persembunyiannya. Orang orang tampak banyak yang menghampiri.


“Ada apa?”


“Ada apa?” tanya mereka.


“Ulaat! Ulaatt iiih ulat di tanganku!” teriak Hanna sambil menyodorkan tangannya pada siapa saja yang mendekatinya.


“Ulat bulu ditanganku!” teriaknya masih histeris, sambil memejamkan matanya.


“Ulat bulunya sudah tidak ada!” kata sebuah suara.


“Sudah tidak ada?” Hanna membuka matanya sedikit, mengintip  tangannya, benar ulat bulunya sudah tidak ada.


“Ternyata sudah tidak ada,” gumammnya lega, menghela nafas panjang, tapi itu hanya sementara saja, diapun berteriak lagi saat suara orang bicara lagi.


“Sepertinya jatuh ke kakimu,” kata suara itu.


“Apa? Kaki? Tidak! Iih!” Hannapun menendang nendang kakinya kembali berteriak teriak.


“Ada di belakangmu!” kata suara itu.


“Apa? Dibelakang?” teriak Hanna langsung memeluk suara itu, kepalanya menoleh ke bahunya, tapi ulat bulu itu tidak bisa dilihatnya kalau ada dipunggungnya.


“Ulat bulu itu ada di belakangku! Tolong!” teriaknya lagi.  Tapi kemudian dia tersadar, mana ada ulat bulu dibelakangnya? Ulat bulu kan kecil, emang orang ada di belakang? Diapun menegangkan jemarinya, kenapa dia memeluk orang itu? Dan kenapa dia merasa sering memeluk tubuh orang itu? Damian? Tidak mungkin dia memeluk Damian, kenapa semua orang yang dipeluknya seperti memeluk Damian? Diapun membuka matanya perlahan mengintip orang yang dipeluknya itu, diapun langsung memejamkan matanya lagi. Dia tidak sedang bermimpi kan?


“Ulat bulunya sudah tidak ada,” kata suara itu. Hanna masih tidak membuka matanya.


“Apa kau akan terus memelukku seperti ini?” tanya suara itu.


“Apa? Memeluk?” gumam Hanna.


“Semua orang memperhatikan kita,” kata suara itu.


“Semua orang?” tanyanya.


“Iya,” jawab suara itu.


Hannapun membuka matanya, yang pertama dilihatnya orang-orang berdiri menatapnya, ada yang senyum senyum, ada yang memfoto dengan hapenya juga. Hem jangan-jangan dividio dan akan dikirim ke medsos dan jadi viral, sangat memalukan. Lalu diapun menengadah menatap orang yang dia peluk itu. Jantungnya langsung berhenti berdetak. Mata pria itu menatapnya.


“Bukankah tadi kau sudah pergi kearah sana?” tanyanya dengan lirih, sambil menunjuk kearah kanan jalan, buru-buru melepas pelukannya. Wajahnya langsung memerah karena malu.


“Jadi kau tahu aku mencarimu dan kau malah bersembunyi dipohon yang berulat itu?” tanya orang itu, yang ternyata Damian.


“Gara-gara ulat itu jadi kau tahu aku bersembunyi di pohon itu,”keluhnya.


Damian hanya menatapnya. Kemudian…


“Aduh,” keluh Hanna, sambil menggaruk-garuk tangannya.


“Aduh!” keluhnya lagi, kembali menggaruk bahunya.


Damian langsung memegang tangan Hanna dan dilihatnya ternyata bentol bentol merah.


“Kau kena ulat bulu tadi, jadi gatal-gatal,” kata Damian.


“Bagaimana ini? Gatal sekali,” keluh Hanna kembali menggaruk tangannya.


Damian menoleh kearah mini market yang dekat tempat mereka berdiri itu.


“Ayo kita beli obat oles disana,” ucapnya, sambil menarik tangan Hanna menggenggamnya erat. Tapi Hanna masih menggaruk-garuk.


“Kau saja, aku tunggu disini, aku gatal gatal,” kata Hanna.


“Kalau aku membiarkanmu disini kau akan pergi dan aku harus mencarimu lagi,” kata Damian, sekarang berganti memeluk pinggang Hanna, karena tangan Hanna masih menggaruk garuk. Hanna terpaksa mengikuti Damian masuk ke mini market itu.


Sekarang mereka duduk di sebuah kursi dipinggir trotoar yang ada di halaman parkir mini market itu.


“Sini tanganmu,” ucap Damian, sambil meraih tangan kanan Hanna yang bentol-bentol, lalu di olesnya oleh obat yang tadi dia beli. Hanna hanya menatap pria yang menunduk mengobati tangannya, tidak ada yang mereka ucapkan, semuanya terdiam.


“Mana lagi?” tanya Damian.


“Kaki,” jawab Hanna. Damian langsung berjongkok, mengoles bentol bentol di kaki Hanna. Hanna hanya menunduk memperhtaikan pria itu mengoles kakinya. Kalau melihat sikap Damian seperti ini, hatinya merasa terharu, hanya saja sikap manisnya itu bagaikan rasa manis yang beracun.


“Mana lagi?” tanyanya Damian tiba-tiba mendongak membuat Hanna terkejut ketahuan sedang memperhatikannya.


“Leherku,”jawab Hanna. Damian segera duduk disamping kiri Hanna.


“Biar aku saja,” ucap Hanna, akan mengambil botol dari tangan Damian, Hanna merasa geli saja kalau Damian menyentuh lehernya. Tapi Damian malah menjauhkan botol itu, dan tangan kanannya menyibakkan rambutnya Hanna, dilihatnya leher wanita itu merah bentol bentol juga, diapun segera mengolesnya dengan obat itu tanpa bicara apa-apa, Hanna hanya diam meskipun merasa risih, tangan itu menyentuh lehernya.


“Mana lagi yang gatal?” tanya Damian.


“Di hatiku,” jawab Hanna.


“Mana sini, aku oles,” ucap Damian, tangannya bergerak ke dada Hanna dan terhenti, saat tangan wanita itu menepuk jidatnya.


“Modus!” ucap Hanna.


“Tadi katamu hatimu gatal juga kan? Aku akan mengolesnya,” ucap Damian.


Hanna langsung mencibir. Keduanyapun terdiam menjadi canggung. Damian menutup botol itu.


“Aku minta maaf atas perkataanku tadi,” ucap Damian, dengan sungguh-sungguh. Terlihat sekali kalau dia sangat menyesal.


“Aku benar-benar minta maaf,” lanjutnya.


“Ayo kita pulang,” ucap Damian, kini menoleh pada Hanna. Wanita itu hanya tertunduk tidak bicara.


“Aku mengkhawatirkanmu,kau akan tinggal dimana di kota besar ini? Kau juga tidak punya uang. Aku harap kau mau memaafkanku, aku benar-benar menyesal, “ ucap Damian.


Hanna masih diam.


“Aku krisis kepercayaan,” kata Damian, kini dia mengalihkan pandangannya ke jalanan yang masih macet dengan kendaraan. Sekarang Hanna yang menatap pria itu.


“Wanita yang bersamaku tidak pernah benar-benar mencintaiku,” lanjut Damian.


Hanna masih menatapnya. Apakah pria ini sedang curhat?


“Mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkanku,” ucap Damian lagi.


“Makanya aku tidak pernah terikat dengan wanita manapun. Aku tidak percaya pada mereka,” lanjut Damian lagi. Hanna masih diam. Kini Damian menatapnya, Malah Hanna yang sekarang menatap ke jalanan.


“Ayolah kita pulang,” ajak Damian.


“Untuk apa aku ikut denganmu?” tanya Hanna tanpa menoleh. Sebenarnya dia masih merasakan sakit juga sedih dihatinya.


“Untuk saat ini aku minta maaf, aku belum menjanjikan apapun padamu. Aku hanya ingin kau pulang bersamaku,” jawab Damian. Hanna terdiam. Melihat Hanna diam, Damianpun diam. Sepertinya kali ini akan sulit untuk membujuk Hanna.


“Hari sudah larut, ayo pulanglah. Aku mengkhawatirkanmu, aku tidak mau kau tidur dijalanan,”kata Damian.


“Aku akan tidur di hotel,” jawab Hanna.


“Kau tidak punya uang, kau tidak bisa bayar hotel,” kata Damian.


“Aku akan menggadaikan cincin pernikahan ini,” ucap Hanna, merentangan jari tangannya. Tiba-tiba tangan damian memegang jarinya.


“Jangan, itu cincin pernikahan kita jangan kau jual!” Larang Damian dengan keras.


“Kenapa? Pernikahan kita juga palsu, buat apa cincin ini?” ucap Hanna, kini menatap Damian yang masih memegang tangannya.


“Jangan! Kau tidak boleh menjualnya, itu cincin pernikahan kita! Ayo pulanglah bersamaku. Hari sudah malam, kau pasti lelah,” bujuk Damian.


“Aku tidak mau memelukmu lagi,” kata Hanna.


“Ya tidak apa-apa, aku yang akan memelukmu. Ayo pulanglah,” bujuk Damian lagi.


Hanna masih Diam. Damian sudah kebingungan harus bagaimana membujuk Hanna.


“Kau belum memaafkanku?” tanya Damian. Hanna diam.


“Aku tahu aku sudah menyakitimu, tapi yang penting sekarang kau pulang bersamaku. Aku khawatir kalau kau tidur diluar,” ajak Damian lagi. Hanna masih diam.


“Baiklah, sepertinya kau tidak mau pulang,” ucap Damian, menyerah.


Hanna masih tidak menjawab.


“Ada ulat bulu!” seru Damian tiba-tiba.


“Mana?” tanya Hanna tersentak kaget, dengan spontan menggeser duduknya kedekat Damian yang langsung memeluk pinggangnya. Seketika Hanna sadar kalau Damian mengerjainya. Pria itu malah tersenyum berhasil memeluknya.


“Kau mengerjaiku,” ucap Hanna.


 Tanpa bicara apa-apa lagi, tiba-tiba tangan sebelahnya Damian meraih lututnya dan langsung berdiri mengangkat tubuhnya, menggendongnya.


“Damian! Kau apa-apaan? Turunkan!” teriak Hanna. Merasa terkejut, Damian benar-benar menggendongnya. Beberapa pasang mata tampak memperhatikan mereka. Tapi Damian tidak peduli, kakinya melangkah kearah rumahnya.


“Damian, malu dilihat orang!” kata Hanna, dia risih saat ada orang yang lewat tersenyum melihat mereka. Terpaksa tangannya memeluk Damian jangan sampai dia terjatuh.


“Kau tidur saja kalau malu, jangan melihat orang,” kata Damian.


Hanna hendak memaksa turun, tapi Damian malah memperet tangannya.


“Bukankah katamu kau bosan menggendongku?” ucap Hanna.


“Ini yang terakhir,” jawab Damian.


“Kau selalu bilang terakhir tapi kau selalu menggendongku lagi,” kata Hanna.


“Tidak bisakah kau diam atau aku akan..” belum tuntas ucapannya Damian, Hanna langsung mengangguk dan diam.


“Bagus,” ucap Damian. Terpaksa Hanna mengalah. Tapi di dalam hati dia merasa lucu, bukankah ini pertama kalinya pria itu menggendongnya yang dalam keadaan sadar dan tidak tidur lagi?


Ditatapnya wajah yang ada di depannay itu yang denagn seriusnya melangkahkan kakinya, menggendongnya menuju ke rumah dan tidak memperdulikan orang-orang melihatnya. Jantung Hanna sepanjang jalan berdetak kencang tidak karuan. Bagaimana dia tidak akan jatuh cinta jika Damian semanis ini? Kau hanya PHP, Damian, batinnya.


Saat memasuki rumahnya, ternyata Satria belum tidur, dia sedang duduk di teras, dengan kedua kaki diatas meja, dan tangannya mengotak atik handphonenya.


Melihat kakaknya menggendong istrinya, dia langsung mengerutkan keningnya. Kepalanya melirik pada Damian lalu pada Hanna yang buru-buru memejamkan matanya pura-pura tidur, dia malu sekali dilihat Satria.


Damian sama sekali tidak peduli, dia langsung masuk saja ke rumah lewat pintu yang terbuka lebar.


Satria tampak mengerutkan keningnya, apakah telah terjadi sesuatu? Bukankah tadi kakaknya keluar rumah sendiri dengan tergesa-gesa? Kenapa sekarang menggendong Hanna? Apakah mereka bertengkar dan sekarang baikan? Sangat membingungkan. Diapun melihat layar di handphonenya. Ada sebuah pesan tempat dimana dia akan bertemu besok. Pengirimnya adalah Cristian.


******************


Jangan lupa lile vote dan komen


Baca juga karya yang lain ya,


-         “Kontes Menjadi Istri Presdir” episode : Lomba memasak


-         “My Secretary 3” Always Loving You (Jodoh yang Tertukar)


            Episode : Si Kembar yang Usil