Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-86 Malam di Gapura ‘Hanna Grand Lakeside’



Damian menatap Hanna yang juga menatapnya.


“Kenapa kau ingin ke ibukota?” tanya Damian, tidak mengerti dengan permintaan Hanna itu.


“Aku hanya merasa bosan saja disini,” jawab Hanna, kini mengalihkan pandangannya menonton televisi.


“Kau ingin jalan-jalan? Disini ada juga supermarket, banyak tempat yang indah indah juga,kau bisa main kesana, aku tidak pernah melarangmu,” kata Damian.


“Kau benar, nanti aku akan berbelanja kesana,” jawab Hanna. Dia tidak bisa ngotot untuk ke ibukota karena nanti Damian semakin curiga dengan keinginannya.


“Kita bisa ke ibukota,” ucap Damian tiba-tiba, membuat Hanna terkejut dan menoleh kearahnya.


“Benarkah?” tanyanya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Diapun segera bangun lalu menghampiri Damian, duduk disampingnya.


“Kita akan ke ibukota?” tanya Hanna, sambil menatap Damian.


Damian balas menatap wanita disampingnya itu.


“Tapi tidak sekarang, nanti kalau pekerjaanku agak longgar,” ucap Damian, membuat Hanna kembali kecewa. Dia tidak tersenyum lagi.


“Ada yang kau sembunyikan dariku?” tanya Damian.


“Tidak, tidak ada,” jawab Hanna menggeleng.


“Pakailah mantelmu, kita keluar,” ucap Damian.


“Keluar kemana? Ini sudah malam,” tanya Hanna menoleh pada pria itu yang langsung bangun, mengambil jaketnya.


“Diluar sangat dingin,” kata Damian.


Meskipun Hanna tidak mengerti, tapi dia menurut, segera mengambil mantelnya yang panjang.


Beberapa waktu kemudian mobil Damian meluncur di jalan raya.


“Sebenarnya kau mau mengajakku kemana? Aku sudah makan,” kata Hanna.


“Aku tidak mengajakmu makan,” ucap Damian, matanya focus ke depan.


“Terus kau mau mengajakku kemana?” tanya Hanna.


Damian tidak menjawab. Mobil terus melaju dijalanan yang lengang, mereka memasuki jalanan yang hanya ada tanah-tanah kosong  terhampar luas.


“Kenapa kau mengajakku ke tempat ini?” tanya Hanna.


Damian tidak menjawab. Dia membelokkan mobilnya ke sebelah kanan tanah yang kosong itu, kemudian dia memutar posisi mobilnya menghadap ke arah jalan raya.


Akhirnya mobilpun berhenti.


“Ayo,” ajak Damian.


“Kenapa kita berhenti disini? Sangat sepi, menakutkan,” ucap Hanna.


“Tidak, kau kan tidak sendirian, ada aku bersamamu,” jawab Damian, membuat Hanna tertawa.


“Kau puitis sekali,” ucapnya. Masih tertawa, matanya menatap pria itu.


Damian tidak menghiraukannya, dia turun dari mobilnya berjalan ke depan mobil dan bersandar disana.


“Kau semakin aneh saja, sebenarnya buat apa kita malam-malam begini ke lapangan berdua-dua, kau tahu, tempat ini sangat seram, sangat menakutkan,” kata Hanna.


“Kemarilah,” Damian mengulurkan tangannya kearah Hanna. Wanita itu langsung mendekatinya dan ikut bersandar dimobilnya Damian.


Tiba-tiba tangan Damian menarik pinggangnya supaya mendekat membuat tubuh Hanna merapat ketubuhnya. Lagi-lagi jantung Hanna dag dig dug tidak jelas kalau Damian bersikap seperti ini. Bahkan sekarang pria itu masih memeluk pinggangnya.


“Lihatlah kedepan,” kata Damian, tangannya mengulur arah depan.


“Apa? Lihat ke depan?” tanya Hanna, diapun menatap kearah depan sesuai pentunjuk Damian dan matanya langsung terbelalak.


Disebang sana, di pinggir jalan raya itu, berdiri tegak sebuah gapura  bertuliskan ‘ Hanna Grand Lakeside ‘  dengan lampu lampu warna-warninya yang indah.


Gapura itu berdiri kokoh di depan lapangan yang luas itu yang akan dijadikan real estate. Benar-benar megah.


Hanna maju beberapa langkah menatap gapura itu. Ada haru dihatinya, ternyata Damian benar-benar memberi nama proyeknya dengan namanya.


“Damian, aku tidak menyangka kau benar-benar memberi nama proyekmu dengan namaku, aku fikir kau bercanda,” seru Hanna, masih takjub dengan keindahan gapura itu.


“Bagaimana menurutmu? Bagus kan?” tanya Damian.


“Sangat bagus, tapi…” Hanna membalikkan badannya menghadap Damian.


“Tapi apa?” tanya Damian, menatap Hanna.


“Kenapa kau masih menggunaan lake itu, disini pantai bukan danau,” tanya Hanna.


Damian tampak diam beberapa saat, membuat Hanna merasa tidak enak, sudah dibuatkan namanya masih saja protes nanti gimana kalau Damian mengganti nama proyeknya lagi tidak ada nama Hanna nya?


“Karena kau punya kenangan di pantai ini, aku tidak suka,” jawab Damian, mengalihkan pandangannya menatap gapura itu tidak lagi menatap Hanna.


Mendengarnya membuat Hanna terdiam. Dia teringat lagi perkataan Satria kalau Damian cemburu pada Cristian.


“Tapi nama itu sangat bagus, sangat cocok, aku suka!” seru Hanna sambil tersenyum senang. Damian sudah tahu pasti Hanna akan bersikap begitu.


Hanna kembali membalikkan badannya menatap gapura itu. Dia masih tidak menyangka pria ini benar-benar memberi nama proyeknya dengan namanya.


Diapun kembali menghadap Damian, dan menghampirinya bersandar  lagi di mobilnya Damian. Lagi-lagi Damian menarik pinggangnya supaya lebih dekat padanya.


“Terimakasih kau memberi nama proyekmu dengan namaku,” kata Hanna, menoleh pada Damian. Pia itu tidak bicara apa-apa, dia hanya menatap tulisan itu.


Hanna menggeser posisi bersandarnya menjadi  lebih dekat pada Damian, dia menatap wajah disampingnya itu yang masih menatap kearah gapura. Hanna mendekatkan wajahnya ke pipi kiri Damian dan sebuah kecupan menempel di pipinya Damian. Damian tampak terkejut tidak menyangka Hanna akan mencium pipinya.


Damian pun menoleh pada Hanna, menatap wanita disampingnya itu yang masih menatapnya dengan wajahnya yang merah. Hati Hanna deg degan saat mencium pipi Damian tadi, sendirinya juga terkejut tidak menyangka kalau dia akan spontan mencium Damian, sungguh membuatnya malu.


Tangan kanan Damian menyentuh pipinya Hanna. Hanna bisa merasakan tangan itu terasa begitu dingin.


“Seharusnya kau mencium pipiku satu lagi,” kata Damian membuat Hanna tertawa dan langsung mencium pipi Damian sebelah kanan. Damian bisa melihat wajah Hanna yang memerah karena malu. Wanita ini, hanya sebuah ciuman dipipinya saja terlihat sangat gugup dan malu. Damianpun balas mencium pipinya Hanna.


“Kemarilah,” ucap Damian, kembali mengulurkan tangannya meraih pinggangnya Hanna. Hanna langsung bersandar dibahunya Damian dan melingkarkan kedua tangannya memeluk Damian. Ini adalah pelukan yang benar-benar disadari keduanya. Bukan lagi pelukan saat Damian tidur dan mengigau.


Malam ini udaranya sangat dingin tapi terasa hangat dihati Hanna. Pria yang sedang dipeluknya sekarang tidak pernah banyak mengucapkan kata manis untuknya, tapi sikapnya sangat teramat manis, dan dia merasa bahagia karenanya. Tanpa perlu ucapan cinta yang berlebih, apa yang dilakukannya menunjukan kalau dia mencintainya.


“Aku tidak bisa ke ibukota sekarang, aku benar-benar sibuk,” ucap Damian.


Hanna tidak menjawab, dia masih menikmati memeluk Damian. Meskipun dia khawatir ayahnya menemukannya, tapi dia tidak mau memberatkan Damian.


“Atau kau bisa ke ibukota dengan Satria,” lanjut Damian.


“Tidak ah aku tidak mau, kau tahu sendiri aku sering bertengkar dengannya,” ucap Hanna.


“Memangnya apa sih yang kalian ributkan?” tanya Damian.


“Dia selalu mengejekku,” jawab Hanna.


“Mengejek?” tanya Damian lagi, mengerutkan keningnya.


“Iya,” Hanna mengangguk.


“Apa kata Satria?” tanya Damian.


“Kenapa kau tertawa?” Hanna melepas pelukannya dan berdiri di hadapan Damian menatap pria itu.


“Karena kau memang tidak cantik,” jawab Damian.


“Damian, kau sangat menyebalkan!” gerutu Hanna. Damian masih saja tertawa.


“Terus apa lagi kata satria?” tanya Damian, menghentikan tawanya.


“Kataya lebih cantik pacar-pacarmu,” jawab Hanna.Mendengarnya membuat Damian tertawa lagi.


“Kenapa kau tertawa lagi?” protes Hanna.


“Ya memang kenyataannya begitu,” jawab Damian.


“Ih,” gerutu Hanna, kembali cemberut.  Kemudian dia melangkah semakin mendekati Damian.


“Mana pipimu? Sini, aku tidak jadi mencium pipimu, batal! Sini aku hapus!” seru Hanna dan langsung menggosok-gosok pipinya Damian yang kanan dan kiri dengan telapak tangannya.


“Kau ini kenapa?” tanya Damian menatap Hanna yang masih menggosok-gosok pipinya.


“Tidak ada ciuman dariku, batal, sudah ku hapus, aku tidak jadi menciummu, tidak jadi!” seru Hanna lagi. Membuat Damian bengong lalu dia tertawa.


“Mana ada sudah mencium dihapus lagi, ya tidaklah. Aku sudah merasakan bibirmu mencium pipiku tidak bisa dibatalkan,” kata Damian.


“Tidak bisa, batal, batal!” seru Hanna lagi.


Lagi-lagi Damian tertawa, menurutnya tingkah Hanna itu sangat lucu. Apalagi dengan wajahnya yang sekarang sudah cemberut, kesal padanya.


Tapi tiba-tiba Hanna  beseru, membuat Damian menghentikan tawanya.


“Tapi kalau difikir-fikir, aku tidak peduli mau dikatakan jelek juga yang penting kau cinta padaku, iya kan?” kata Hanna, kini tersenyum manis.


Damian malah menggeleng, tentu saja membuat Hanna kesal lagi, bibirnya semakin monyong saja.


Tapi kemudian pria itu menarik tubuhnya ke pelukannya dan langsung mengecup keningnya, membuat Hanna kembali tersenyum. Dasar Damian, tidak mau ngaku melulu, batinnya.


“Kenapa kau tidak jujur saja padaku, kalau kau itu cinta padaku?” tanya Hanna, sambil memeluk Damian.


“Kenapa aku harus mengatakan itu?” tanya Damian.


“Ya harus, supaya aku yakin,” jawab Hanna.


“Yakin apa?” tanya Damian.


“Ya yakin kalau kau cinta padaku, kalau kau tidak mengatakannya aku tidak yakin kau cinta padaku,” kata Hanna, kini mendongak menatap wajah Damian.


“Jadi kalau tidak mengatakannya artinya tidak cinta?” tanya Damian.


“Iya,” jawab Hanna, mengangguk.


“Tapi aku memang tidak mengatakannya, itu artinya..” ucap damian.


“Tidak, kau cinta padaku!” potong Hanna, membuat Damian tersenyum.


 Tangan kanan Damian mengusap rambutnya Hanna yang tertebak angin malam menutupi sebagian wajahnya. Dia sangat suka menggoda Hanna, yang kadang menanggapi candaannya dengan serius.


“Jadi kau tidak mau ke ibukota dengan Satria?” tanya Damian.


“Tidak mau,” jawab Hanna, menggeleng.


“Aku akan selalu bersamamu,” ucap Hanna.


“Tentu saja, kontrakmu kan belum selesai,” kata Damian. Hanna langsung melepas pelukannya dan menatap Damian.


“Kau benar, kenapa aku lupa soal kontrak itu ya,” ucap Hanna.


 “Kau akan kena finalti banyak, sudah berapa kali kau tidak memelukku,” kata Damian. Hanna langsung cengengesan.


“Aku yang membayarmu untuk memelukku, malah aku yang memelukmu,” protes Damian membuat Hanna tertawa.


“Memangnya kau akan mengambil uangmu lagi?” tanya Hanna.


“Tentu saja,” ucap Damian.


“Dasar kau pelit,” gerutu Hanna.


“Ya aku memang pelit,” jawab Damian, mengangguk.


“Ih!” Hanna langsung cemberut.


Tapi benar sih kalau difikir fikir, malah kebalik, Damian yang sering memeluknya, padahal dia yang di bayar untuk memeluk Damian, seharusnya Hanna kena finalti dan uangnya hangus dan juga finalti…Tunggu!


Ngomong-ngomong soal finalti, tiba-tiba Hanna teringat sesuatu, finalti bukan karena tidak memeluk saja, tapi juga tidak boleh jatuh cinta.


“Damian! Kau kena finalti!” Tiba-tiba Hanna berteriak.


“Finalti apa?” tanya Damian tidak mengerti.


“Di kontrak itu kan tertulis kalau kita tidak boleh jatuh cinta,” kata Hanna.


“Terus?” tanya Damian.


“Kau jatuh cinta padaku, kau kena finalti!” seru Hanna.


“Kau harus membayar lagi 40 M!” serunya lagi bersemangat.


Damian melipat kedua tangannya sambil menatap Hanna.


“Kenapa kau bersemangat sekali membahas finalti 40M?” tanya Damian.


“Ya karena perjanjiannya begitu,” ucap Hanna.


“Tapi kan aku tidak bilang jatuh cinta  padamu,” kata Damian.


“Kau kan mengatakannya saat aku tidur itu,” ucap Hanna.


“Itu tidak sah, masa mengatakan cinta saat kau tidur, mungkin hanya mimpimu saja. Kalau kau tidur kau tidak akan mendengar aku mengatakan cinta,” kata Damian, membuat Hanna terdiam, iya ya, kalau dia tidur harusnya tidak mendengar ucapannya Damian.


“Sepertinya kau bermimpi,” ucap Damian lagi. Dia semakin merasa lucu saja melihat Hanna kebakaran jenggot.


“Oh aku tahu sekarang, kau tidak mengatakan cinta padaku secara langsung karena kau takut kena finalti!” seru Hanna.


Lagi-lagi Damian tertawa melihat Hanna begitu frustasi. Kedua tangannya mengulur lagi menarik Hanna ke pelukannya.


“Kita pulang sekarang?” bisiknya ke telinga Hanna.


“Aku masih mau memelukmu,” ucap Hanna.


Damian mengusap punggung wanita dalam pelukannya itu. Dirasakannya Hannapun memeluknya sangat erat.


**************


 Jangan lupa vote vote vote