
Hanna membuka matanya dengan berat, tidur semalam sangat nyenyak, dibawah selimut tebal terasa sangat nyaman. Selimut tebal? Selimut tebal? Hanna langsung bangun dan duduk di tempat tidur. Melihat ke sekeliling kamar, lalu pada selimut yang menutupi tubuhnya.
Diapun mengerutkan keningnya. Perasaan tadi malam dia tidur diluar, kenapa sekarang ada di kamar? Apa Damian memindahkannya? Hanna menoleh kesampingnya, bantal masih tertata rapih, tidak ada bekas orang tidur disana. Diapun turun, melihat ke arah pintu kaca menuju kolam yang terkunci rapih, sekalian membuka gordennya. Semua aman. Tidak ada orang dikamar ini. Apa dia berjalan dalam tidur? Atau ada yang memindahkannya? Tapi siapa? Jelas jelas Damian tidak pulang tadi malam. Dia bermalam dengan wanita itu. Seketika hatinya kembali menjadi sedih. Hanna pun menggeleng gelengkan kepalanya menghilangkan bayangan Damian bersikap mesra pada wanita itu.
Kalau Damian tidak memindahkannya, siapa yang memindahkannya? Hantu? Ha? Apakah ada hantu di rumah ini? Ini kan rumah kosong yang tidak terisi berapa bulan lamanya meskipun bangunan baru. Biasanya kalau rumah kosong suka ada penghuninya. Tiba-tiba bulu kuduk Hanna merinding. Jangan-jangan dia dipindahkan oleh hantu. Benar-benar menakutkan. Bagaimana kalau hantu itu mengganggunya lagi? Dia harus bicara pada Damian supaya segera pergi dari rumah ini.
Hanna membuka jendela-jendela. Lalu mengambil handphonenya menelpon Damian. Tapi nomor itu tidak aktif. Kenapa nomor itu tidak aktif? Kemana dia? Apa saking tidak mau terganggunya bermalam bersama wanita itu sampai-sampai handphone juga dimatikan? Lagi-lagi ada rasa kecewa di hatinya. Dia merasa kecewa Damian mengabaikannya dan memilih bermalam dengan wanita itu.
Hari sudah siang, tapi Damian belum juga pulang. Kemana dia? Apakah sesenang itu dia bersama wanita itu sampai lupa pulang? Hati Hanna kembali merasa gelisah.
Hanna menuju dapur, mencari makanan yang bisa dimakan, perutnya terasa sangat lapar, dan ternyata hanya ada buah-buahan saja di kulkas. Tiba-tiba terdengar suara sebuah mobil diparkir di depan rumah. Hanna segera mengintip di balik jendela. Damian datang memakai taxi dengan membawa banyak belanjaan yang dibantu dibawa masuk oleh supir taxi.
Entah kenapa melihat Damian sekarang, Hanna merasa sebal, dia benci pria itu. Dia malas menyambutnya. Diapun kembali ke dapur. Duduk di meja makan mengupas buah apel.
Damian menghampirinya sambil menyimpan belanjaan di atas meja.
“Kau pasti lapar, banyak makanan disini,” kata Damian, sambil mengeluarkan sebuah kotak makanan berukuran besar diberikan pada Hanna.
Perut Hanna yang sejak tadi tidak bisa diajak kompromi, membuat tangan Hanna langsung meraihnya, tapi dilihatnya kotak makanan itu Cuma satu.
“Ko cuma satu?” tanya Hanna, menatap Damian.
“Iya, itu Maria yang membelikannya karena aku tidak sempat makan di apartemennya, aku hanya makan beberapa roti sudah kenyang,” jawab Damian. Entah kenapa jawaban itu membuat Hanna semakin sebal pada Damian.
Jadi wanita itu namanya Maria? Jadi kotak makanan ini dari Maria untuk Damian.
“Kau saja yang makan, aku tidak lapar,” ucap Hanna, sambil menggeser kotak makanan itu kearah Damian.
Dia juga kesal ternyata Damian menginap di partemen Maria. Bukankah dia tidak bisa tidur nyenyak jika tidak dipeluknya? Buktinya dia bisa tidur dengan Maria. Dasar pria hidung belang, runtuk hati Hanna. Bibirnya langsung mengatup rapat.
“Kau kenapa? Kau tidak lapar?” tanya Damian, menatap Hanna yang sedang mengupas apel lalu dimakannya.
“Kalau kau makan apel terus kau akan tembah kurus. Kau sangat kurus sekali. Coba kau lihat Maria, dia memilki tubuh yang bagus, dia rajin berolahraga dan menjaga tubuhnya,” kata Damian lagi.
Hanna semakin sebal mendengarnya, lagi-lagi Maria, lagi-lagi Maria. Kenapa selalu Maria yang keluar dari mulut Damian? Hannapun cemberut saja tidak menjawab.
Hanna jadi teringat perkataannya Satria kalau dia bukan tipenya Damian. Seketika hatinya menjadi kecewa. Dia menunduk sambil memakan apelnya.
“Kau kenapa? Kau sakit?” tanya Damian. tangannya mau menyentuh kening Hanna, tapi Hanna menjauhkan kepalanya. Membuat Damian keheranan.
“Aku tadi ke supermarket dulu. Maria memilihkan barang-barang apa saja yang aku butuhkan selama disini. Coba nanti kau rapihkan, ada yang kurang tidak? Kalau ada yang belum dibeli, Maria akan mengantarku berbelanja lagi,” kata Damian.
Hanna terdiam. Apa kau tau, Damian? Aku merasa sakit mendengarnya.Kau berbelanja berdua-duaan dengan Maria, kalian juga bermalam, batin Hanna.
“Aku mau berganti pakaian. Jam 2 siang aku akan keluar lagi dengan Maria,” kata Damian, sambil beranjak dari kursinya.
Lagi-lagi Maria, lagi-lagi Maria, terus saja Maria, batin Hanna.
“Aku mau pindah,” kata Hanna.
“Pindah? Apa maksudmu?” Damian menghentikan langkahnya.
“Ada hantu di rumah ini. Aku mau pindah.”kata Hanna.
“Apa? Hantu?” tanya Damian, membalikkan badannya menatap Hanna.
Hanna mengangguk.
“Kau melihat hantu dimana?” tanya Damian.
“Hantu itu memindahkanku dari kursi di kolam renang ke tempat tidur,” jawab Hanna. Damian mengerutkan keningnya. Jadi itu yang disebut hantu?
“Apa benar-benar hantu yang memindahkanmu?” tanya Damian.
“Iya, aku mau pindah rumah,” ucap Hanna.
Damian sejenak terdiam, jadi ternyata Hanna sama sekali tidak berfikir dia yang memindahkannya dan malah menuduh hantu?
“Rumah ini sudah dibeli dengan harga mahal. Nanti kita cari saja orang yang bisa mengusir hantu,” ucap Damian, sambil melangkah menaiki tangga.
“Pasti Maria tau dimana orang yang bisa mengusir hantu,” lanjut Damian, mempercepat langkahnya.
Hanna mengegerutukkan giginya. Dia kesal sekali Damian terus-terusan menyebut nama Maria.
Hannapun menuju kamarnya, mengabil tasnya, saat Damian masih di kamar mandi.
“Aku pergi!” teriak Hanna.
“Kau mau pergi kemana?” teriak Damian dari kamar mandi. Terdengar bunyi kran air menyala.
“Terserah kakiku mau pergi kemana!” teriak Hanna lagi.
“Kau jangan pergi! Tidak adak orang di rumah. Aku mau keluar dengan Maria!” teriak Damian.
Mendengar nama Maria lagi disebut, membuat Hanna semakin kesal. Tanpa bicara apa-apa lagi dia keluar rumah tidak menunggu Damian selesai dari kamar mandi.
Damian keluar dari kamar mandi,dilihatnya kamar itu kosong.
“Kenapa dia?” gumamnya.
Damian mengeluarkan handphonenya, menelpon seseorang.
“Maria, sepertinya aku tidak bisa keluar denganmu, istriku pergi tidak tahu kemana. Aku akan mencarinya,” kata Damian.
“Ya. Nanti malam saja kau ke rumah,” lanjut Damian.
Hanna mamanggil taxi, dengan tujuan yang tidak jelas. Entah kenapa dia merasa sebal dekat-dekat Damian, mending dia keluar mencari udara segar. Akhirnya dia meminta taxi membawanya ke tempat yang berjualan pernak pernik kerajinan.
Taxi berhenti di sebuah galery lukisan.
Seorang pria berumur menghampirinya.
“Anda mencari jenis lukisan apa?” tanya pria penjual lukisan itu.
“Aku hanya melihat-lihat saja,” jawab Hanna.
“Silahkan, silahkan, anda bisa melihat berbagai luksian bagus dan berkualitas disini,” sambut pria itu.
Hanna pun masuk ke galery lukisan itu. Berbagai jenis lukisan ada disana.
Hingga ada satu lukisan yang dia suka. Lukisan sebuah rumah di pantai kuta.
“Berapa harga lukisan ini?” tanya Hanna.
“Maaf, lukisan ini sudah ada yang membeli, Pembelinya sebentar lagi datang,” kata pria itu. Hanna mengerucutkan bibirnya, merasa kecewa. Karena dia suka sekali lukisan yang bertema rumah kecil dipantai. Setelah melihat lihat lukisan lain, dia kembali ke lukisan itu.
“Berapa harga lukisan itu? Aku ingin membelinya,” ucapnya lagi pada pria itu.
“Maaf, lukisan ini pesanan orang,” jawab pria itu tersenyum ramah.
“Iya aku tahu tapi aku suka lukisan ini, apakah aku bisa membelinya dari pembeli sebelumnya?” tanya Hanna.
Tiba-tiba pria itu berseru pada seseorang yang baru datang, yang hanya terdengar langkah sepatunya.
“Pak Made,lukisannya sudah selesai,” kata pria pemilik galery itu.
Hanna mengacuhkan kedatangan pria itu. Dia mengamati lukisan itu lagi.
“Aku ingin membelinya, berapa harga lukisan ini?” tanyanya tanpa menoleh.
Hanna bisa merasakan ada yang berdiri disampingnya.
“Kau suka lukisan ini?” tanya pria yang baru datang itu.
“Iya, aku suka. Kau membelinya harga berapa? Aku mau membelinya dua kali lipat,” kata Hanna.
“Benarkah?” tanya pria itu.
“Iya, berapa harganya?” tanya Hanna, masih tidak menoleh.
“200 juta,” jawab pria itu, membuat Hanna terkejut.
“200 juta hanya untuk sebuah lukisan?” Hanna berteriak kaget, dan menoleh kearah pria yang disampingnya itu. Melihatnya dia lebih kaget lagi, karena pria yang berdiri disampingnya itu sangat tampan, membuat matanya tidak mau berkedip, seketika dia merasa salah tingkah, tadinya dia membayangkan pria itu tua. Ternyata sangat jauh dari bayangannya. Pria itu berpakaian rapih dengan stelan jasnya dan sepatu hitamnya yang mengkilat.
Hanna tersenyum semanis mungkin. Seketika kesalnya pada Damian langsung lupa.
“Iya harganya 200 juta. Kalau kau mau membelinya 2x lipat kau harus mengeluarkan uang 400 juta,” kata pria itu, menolah pada Hanna.
“Mahal amat,” keluh Hanna.
“Karena ini lukisan special, aku memesannya pada seorang pelukis cacat yang tidak memiliki kaki. Karya-karyanya sangat bagus. Kau lihat sendiri, lukisan ini senutuhannya halus, begitu detil, sangat sempurna, seperti melihat sebuah foto,” kata pria itu. Tapi Hanna samasekali tidak memperhatikan apa yang diucapkannya, dia hanya melihat wajah pria tampan itu. Dia fikir Damian adalah pria paling tampan yang pernah dilihatnya, ternyata ada pria lain yang lebih tampan.
“Damian, jangan sok tampan, ada pria lain yang lebih tampan darimu,” batinnya.
“Hello!” Pria itu mengibaskan tangannya di depan wajah Hanna, membuat Hanna tersadar dan menjadi malu.
“Perkenalkan, namaku I Made Arya,” kata pria itu sambil mengulurkan tangannya.
“Namaku Hanna,” jawab Hanna sambil menerima uluran tangan pria itu yang terasa lembut. Fikirannya langsung pada Damian, apakah tangan Damian selembut tangan pria ini? Dari pertama kenal sepertinya dia tidak pernah berjabat tangan dengan Damian, atau pernahkah mereka berpegangan? Ah memikirkan Damian mengingatannya pada wanita yang bernama Maria itu, bibir Hanna kembeli cemberut.
Damian mengendarai mobilnya dengan pelan, mencari-cari Hanna, diapun berfikir kira-kira kemana Hanna pergi? Apakah ke tempat wisata? Atau..ya..terbersit di fikirannya Hanna pergi ke tempat yang menjual oleh-oleh atau semacamnya. Diapun memutar arah mobilnya.
*************
Bersambuuuung…readers, satu bab tidak cukup kan? Author aja senyum senyum sendiri hehe… Bagaimana
reaksi Damian jika melihat Hanna dengan pria lain?
Jangan lupa like dan komen
Baca juga “My Scerretary “ Ya. Persiapan Season 3( Kontes Menjadi Istri Presdir) special khusus buat pembaca setia “My Secretary” yang sudah 7 bulan menemani.