
Hanna selesai mandi dan berpakaian. Dia akan keluar kamar, bersamaan dengan Damian masuk ke dalam. Dia langsung menatap Hanna, wanita itu sudah berdandan cantik dan menurutnya agak sexy.
“Kenapa kau memakai baju itu?” tanya Damian.
“Kenapa dengan bajuku?” Hanna balik bertanya, tidak mengerti.
“Ganti!” seru Damian.
“Apaan ganti. Kau ada-ada saja. Awas, Arya sudah menunggu!” kata Hanna, mencoba keluar kamar. Tapi Damian menghalangi.
“Aku bilang ganti,” ulang Damian.
“Memangnya kenapa dengan bajuku?” tanya Hanna, sambil melihat pada pakaiannya.
“Kau terlalu sexy,” jawab Damian.
“Masa sih? Biasa saja, kau terlalu berlebihan. Kita kan akan ke pantai, tidak apa-apa sedikit bersantai, masa aku harus pakai baju resmi terus?” gerutu Hanna, lalu keluar kamar dengan cemberut, lama-lama pria itu tingkahnya semakin membingungkan, fikirnya.
Damian akhirnya mengikuti langkah Hanna dengan berat hati, kenapa dia merasa tidak rela Hanna pergi dengan pria itu?
“Kau serius mau ikut?” tanya Hanna, saat mereka sudah di depan rumah. Arya sedang memarkir mobilnya.
“Iya,” jawab Damian mengangguk.
“Masa aku kencan kau jadi orang ketiga,” kata Hanna.
“Berkencan itu makan malam, bukan ke pantai,” ucap Damian.
“Sama saja, pergi berdua-dua ya berkencan namanya, tapi karena kamu ikut jadi tidak berkencan lagi namanya,” keluh Hanna.
“Anggap saja aku bodyguardmu,” jawab Damian.
“Aku tidak punya uang untuk membayar Bodyguard. Lagi pula aku tidak butuh Bodyguard,” kata Hanna.
“Kau tidak perlu membayarku, gratis,” ucap Damian.
“Gratis juga aku tidak mau, kencan masa pakai bodyguard,” gerutu Hanna.
“Kau ini. Aku menjagamu dari hal yang tidak diinginkan!” seru Damian, mulai kesal.
“Maksudmu apa hal tidak diinginkan?” tanya Hanna, tidak suka dengan perkataan Damian.
“Kau kan belum mengenal pria itu. Bagaimana kalau dia pria jahat?” kata Damian.
Hanna menatap Damian.
“Aku juga tidak mengenalmu,” ucap Hanna.
“Tapi aku bukan orang jahat,” jawab Damian.
“Arya juga bukan orang jahat. Lihat wajah tampannya, tidak ada tanda-tanda orang jahat kan?” ucap Hanna.
Tut Tut Tut! Arya membunyikan klakson mobilnya, yang sudah berhenti di dekat mereka. Hanna akan masuk ke pintu depan, malah ditahan oleh Damian.
“Kenapa?” tanya Hanna, menatap Damian.
“Kau dibelakang!” ucap Damian.
“Kau ini, aku akan berkencan, masa di belakang,” gerutu Hanna.
“Di belakang atau tidak jadi pergi!” kata Damian dengan tegas. Hanna langsung cemberut. Kenapa sih dengan sikap Damian ini. Akhirnya dia duduk di belakang.
Arya mengerutkan keningnya, dia bingung kenapa tidak Hanna yang duudk di depan, malah Damian. Tapi dia tidak bicara apa-apa, dia hanya tersenyum pada Hanna lewat kaca kecil diatasnya. Damian sebal melihatnya.
Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang menuju pantai tempat wisata. Ternyata banyak sekali pengunjung yang sedang berjemur.
Hanna berdiri menatap pantai dari kejauhan. Anginnya terasa lumayan kencang, sampai meriak-riakkan rambut Hanna yang tergerai. Arya berdiri di samping Hanna.
“Pantainya sangat indah kan,” kata Arya.
“Kau benar, sama indahnya dengan tempat tinggalku,” jawab Hanna.
“Ayo kita kesana,” ajak Arya. Tangannya akan menggandeng tangan Hanna, tiba-tiba Damian muncul diantara mereka, dan mendahului memegang tangan Hanna.
“Ayo,” ajak Damian, tidak peduli dengan tatapan tidak sukanya Hanna.
Arya hanya tersenyum saja dan berjalan bersama mereka menuju pesisir pantai.
Arya berjalan pindah ke sebelah kiri Hanna, jadi Hanna ada ditengah tengah pria itu.
Tiba-tiba Damian pindah ditengah-tengah mereka, membuat Hanna dan Arya menatapnya, tapi Damian cuek saja tidak menanggapi protes mereka. Tangannya berganti memegang tangan kiri Hanna.
“Bodyguard itu berjalannya di belakang, bukan disamping,dan juga tidak memegang tanganku seperti ini,” bisik Hanna pada Damian, sambil mengacungkan tangannya yang dipegang Damian.
“Aku Bodyguard yang special,” jawab Damian.
“Ih,” Hanna menggerutu. Kalau caranya begini, hilang sudah arti dari jalan-jalan. Bagaimana bisa menikmati jalan-jalan dengan Arya, dihalang-halangi Damian terus, fikirnya.
“Aku ingin kakiku kena air,” kata Hanna.
“Ayo,” Damian menarik tangan Hanna supaya lebih dekat ke pantai.
“Tunggu sebentar,” kata Arya. Hanna dan Damian menghentikan langkahnya. Arya berlari ke seorang pedagang accesoris. Dia membeli gelang dari cangkang kerang kerang yang lucu, diapun kembali menghampir Hanna.
“Mana tanganmu?”tanya Arya. Hanna mengulurkan tangannya. Arya memasangkan gelang itu.
“Cantik bukan?” kata Arya.
“Kau benar, sangat cantik,” jawab Hanna. Melihat Hanna tersenyum senang dengan pemberian Arya, Damian jadi kesal. Tangannya melambai memanggil pedagang itu, yang segera menghampiri.
“Aku membeli ini, ini, ini,” Damian mengambil beberapa acesoris lagi.
“Kau pakai ini!” kata Damian, sambil mengalungkan sebuah accesoris kalung pada Hanna.
“Aku tidak suka, ribet,” kata Hanna, sambil melepas kalungnya.
“Kau mau yang mana? Kau pilih saja,” kata Damian. Pedagang itu langsung mempromokan dagangannya, memperlihatkan satu persatu.
“Semuanya bagus,” ucap Hanna.
“Ya sudah kalau begitu aku beli semua,” kata Damian pada pedagang itu yang langsung tersenyum senang dan menghitung berapa yang harus dibayar Damian.
“Tapi aku lebih suka yang ini,” ucap Hanna, mengacungkan gelang yang dia pakai, sambil menatap Damian. Pria itu tampak kecewa.
Pedagang itu menyebutkan sebuah angka pada Damian. Damian segera meraih dompetnya, menghitung uangnya dan diberikan pada pedagang itu, yang terus tersenyum senang karena dagangannya habis.
“Ambil saja kembaliannya,” kata Damian kembali memasukkan dompet ke saku celananya, lalu menoleh pada Hanna. Tapi ternyata wanita itu sudah tidak ada di sana. Dilihatnya dia berjalan di tepi yang berair berdua dengan Arya. Mereka tampak asyik mengobrol dan tertawa-tawa. Dilihatnya Hanna menendang nendang ombak yang mengenai kakinya.
“Pak, ini accesorisnya, karena bapak bayar lebih, tanggungannya bisa bapak bawa sekalian,” kata pedagang itu.
Damian menatap pedagang itu, tanpa bicara apa-apa lagi, kini mereka duduk berdua dipasir itu menatap kearah pantai.
Hanna masih menendang –nendang ombak yang mengenai kakinya.
“Iya, aku sering menangkap ikan bersama ayahku,” jawab Hanna.
Arya menoleh kearah Damian yang duduk bersama pedagang itu.
“Pria itu, apa dia suamimu?” tanya Arya.
“Bukan,” jawab Hanna sambil tersenyum.
“Bukan? Tapi kenapa dia selalu bilang begitu?” tanya Arya.
“Dia hanya bercanda. Kami saudara jauh. Dia sedang ada pekerjaan disini, aku hanya menemaninya, sekalin berlibur,” jawab Hanna. Arya hanya mengangguk-angguk.
Damian menoleh pada pedangan itu yang terlihat sudah tua.
“Kau sudah lama berjualan?” tanya Damian pada pedagang itu.
“Sudah puluhan tahun,” jawab pedangan itu.
“Apa cukup penghasilanmu untuk menghidupi keluargamu?” tanya Damian lagi.
“Ya dicukup- cukupkan. Anakku 4,” jawabnya.
“Wah kau sangat hebat, apa istrimu tidak pernah mengeluh karena pekerjaanmu ini?”
“Tidak, dia sangat mencintaiku, menerima apa adanya. Dia mensyukuri berapapun penghasilanku, dia istri yang baik, dia yang merangkai accesoris ini,” jawab pedagang itu.
“Bapak sendiri, apa sudah berkeluarga?” tanyanya, menatap Damian lalu pada Hanna yang sedang berjalan berdua dengan Arya.
Ditanya begitu Damian merasa bingung. Kenapa sekarang begitu berat mengatakan kalau Hanna itu istrinya? Apakah karena dia harus menjawab dengan hati?
Pedagang itu malah tertawa.
“Kau mencintainya?” tanya pedagang itu sambil melihat kearah Hanna.
“Apa?” Damian terkejut. Pedangan itu kembali tertawa.
“Cepat lamar dia, sebelum orang lain melamarnya,” kata pedagang itu, Damian jadi ikut tertawa.
“Tidak, tidak dia bukan tipeku,” Damian menggeleng.
Pedagang itu tertawa lagi.
“Cinta itu tidak harus datang dari yang kita sukai, kadang orang yang asalnya benci bisa jadi cinta. Tidak ada yang tahu,” jawab pedagang itu.
Damian tertegun mendengarnya. Apa maksud pedagang ini kalau dia mencintai Hanna, begitu?
“Kau bercanda, aku tidak mencintainya,” Damian menggeleng.
“Kau tidak perlu malu untuk mengakuinya. Tidak ada yang salah dengan cinta,” kata pedagang itu.
“Entahlah aku tidak tau,” jawab Damian.
Seorang anak laki-laki berlari menghampiri mereka.
“Ayah, kata ibu pulang dulu! Makan,” ucapnya sepertinya anak dari pedagang itu.
“Baiklah pak, aku pulang dulu. Terimakasih kau sudah memborong daganganku. Ingatlah, jangan memendam perasaanmu atau kau akan didahui orang lain,” kata bapak pedagang itu sambil tersenyum, diapun berdiri dan langsung menggandeng anaknya. Damian hanya tersenyum melihat mereka pergi.
Diapun kini sendiri dengan accesoris disampingnya. Menatap pada wanita yang masih menyusuri pinggiran pantai itu.
Dilihatnya dirinya yang duduk sendiri lalu pada tanggungan accesoris itu. Apa yang dilakukannya disini? Dirinya, seorang pengusaha kaya raya, duduk sendiri di tanah berpasir ini hanya untuk menunggu seorang wanita yang tidak jelas asal usulnya itu? Diapun tersenyum, menertawakan dirinya sendiri. Kenapa dia bisa melakukan hal bodoh hanya untuk seorang wanita yang menurutnya tidak sesuai tipenya? Wanita yang belakangan ini menemaninya setiap hari, yang memeluknya saat mengigau, sampai dia seperti orang gila saat tahu wanita itu tidak ada. Apakah dia sudah jatuh cinta pada Hanna?
Damian menggeleng gelengkan kepalanya. Dia tidak yakin dengan perasaannya, mungkin dia hanya takut kehilangan pelukan dari Hanna, karena pelukan wanita itu mengobati mimpi buruknya selama ini.
Seorang wanita menghampirinya, tangannya langsung memilih milih accesoris ditanggungan itu.
“Yang ini berapa?” tanya wanita itu. Damian tampak bingung.
“Aku tidak tahu,” jawab Damian.
“Ko tidak tahu? Aku mau yang ini,” kata wanita itu sambil mengambil salah satu gelang dan mengeluarkan uang.
“Berapa?” tanya wanita itu lagi.
“Terserah saja, biasanya berapa,” jawab Damian, kebingungan.
Wanita itu memberikan selembar uang.
“Kau sangat tampan, kenapa berdagang accesoris. Kalau cocoknya jadi model,” kata wanita itu, sambil tersenyum lalu pergi. Damian hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tidak berapa lama berdatangan lagi wanita-wanita yang membeli accesorisnya Damian. Mau tidak mau Damian membiarkan mereka membelinya.
Hanna yang masih bermain ari sambil mengobrol dengan Arya, menoleh ke belakang, ternyata baru sadar kalau Damian tidak ada. Pantas dia merasa sepi tidak ada yang menganggunya, ternyata Damian tidak menyusulnya.Diapun mengedarkan pandangannya mencari pria itu, dan dilihatnya Damian sedang dikelilingi wnaita-wanita yang membeli accesoris.
Terdengar handphone Arya berbunyi. Pria itu langsung mengangkat hpnya., berbicara dengan si penelpon, kemudian dia menoleh pada Hanna.
“Hanna, aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa lama-lama menemanimu. Aku ada urusan mendadak. Apa kau akan pulang sekarang sekalian aku antar atau kau masih ingin disini?” tanya Arya.
“Mm sepertinya aku masih ingin disini. Biar nanti aku pulang bersama Damian,”jawab Hanna.
“Baiklah, Aku minta maaf ya. Lain kali aku luangkan waktu untuk mengajakmu ke tempat
wisata yang lain,” kata Arya.
Hanna hanya mengangguk dan tersenyum. Aryapun meninggalkannya sendirian.
Damian menatap tanggungan dagangannya yang habis terjual. Tangannya memegang banyak uang, dia tidak tau apakah dia untung atau rugi karena dia tidak tahu harga accesoris itu.
“Kau tidak menyisakan satupun accesoris untukku?” tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya. Ditatapnya pemilik suara itu.
“Kemana pria itu?”tanya Damian karena Hanna datang sendiri.
“Arya pulang duluan, ada urusan mendadak,” jawab Hanna, sambil menatap tanggungan yang
kosong.
“Daganganmu habis laris manis rupanya,” ucap Hanna.
“Padahal aku masih mau memilih,” lanjut Hanna, dengan kecewa.
“Sini tanganmu,” kata Damian sambil mengulurkan tangannya pada Hanna, yang langsung menerimanya. Damian merogoh sakunya. Ditangannnya ada sebuah giok giok kecil berwana hijau yang dirangkai menjadi sebuah cincin, lalu dipasangkan pada jarinya Hanna.
“Baguskan? Untung tadi aku sempat memisahkannya untukmu,” ucap Damian.
“Sangat bagus,” ucap Hanna sambil mengacungkan telapak tangannya ke atas, melihat cincin rangkaian giok hijau itu yang melingkar dijarinya.
“Apa kau sedang melamarku?” tanyanya tanpa menoleh pada Damian. Yang ditanya malah terkejut dengan pertanyaannya.
“Kau seperti sedang melamarku saja,” ulang Hanna, kini beralih menatap Damian.
*****************