
Pagi itu Cristian sedang memakai sepatu olahraganya, sudah bersiap-siap untuk lari pagi saat ibunya menghampirinya.
“Kau akan lari pagi?” tanya Bu Sony.
“Iya Bu,” jawab Cristian.
“Dengan Hanna?” tanya Bu Sony lagi.
“Iya, beberapa hari ini Hanna hanya diam dirumah, aku akan mengajaknya keluar,” jawab Cristian, diapun selesai memakai sepatunya, lalu berdiri dan menatap ibunya yang juga sedang menatapnya.
“Ada apa Bu? Apakah semua baik-baik saja? Dari kemarin ibu terlihat murung,” tanya Cristian.
“Tidak, tidak apa-apa,” jawab ibunya.
“Apa ibu sakit?” tanya Cristian lagi.
“Tidak,” jawab ibunya sambil tersenyum.
Cristianpun diam, sebenarnya dia merasa heran, dari kemarin ibunya terlihat tidak banyak bicara dan murung, wajahnya juga terlihat lebih pucat dari biasanya. Tapi Cristian tidak bicara apa-apa lagi, dia pergi ke ruang makan mengambil bekal minumnya. Dilihatnya diatas meja ada lagi rantang-rantang makanan. Dia mengerutkan dahinya merasa heran, untuk siapa lagi rantang-rantang makanan itu? Masa ibunya ikut arisan tiap hari?
“Apa ibu ada arisan lagi?” tanya Cristian, saat akan keluar rumah bertemu ibunya di ruang tamu.
“Tidak,” jawab ibunya.
“Ibu mengirim makanan itu buat siapa?” tanya Cristian, membuat ibunya terkejut, sepertinya Cristian melihat rantang-rantang itu lagi.
“Untuk teman ibu, kemarin dia ketagihan makanan yang ibu buat, ibu ada janji dengannya jadi membawakannya makanan lagi,” jawab ibunya.
Meskipun Cristian merasa bingung, tapi dia tidak bicara apa-apa lagi, dia segera keluar rumah, akan menjemput Hanna di rumahnya.
Pasar itu seperti biasa begitu ramai penuh oleh pengunjung. Pasar tumpah yang diadakan pada hari-hari tertentu itu tidak pernah sepi. Berbagai macam jenis dagangan ada disana, dijual dengan harga yang murah meriah.
Pedagang jajanan pasar, kue-kue basah tampak berjejer memanjang sepanjang jalan, menjajakan dagangannya yang terlihat sangat cantik dan beranekaragam, membuat perut yang sudah lari pagi merasa lapar dan ingin membelinya.
Tapi lari pagi hari ini terasa berbeda, karena barisan penjual kue itu yang begitu panjang sudah terlewati dan Hanna sama sekali tidak menghentikan langkahnya untuk membeli. Gadis itupun tidak banyak bicara, gadis itu berjalan dalam diam, membuat Cristian merasa heran.
Biasanya Hanna paling suka membeli jajanan pasar setelah pulang lari pagi dengannya, tidak dengan sekarang, sepertinya tampilan jajanan yang lucu-lucu itu sama sekali tidak menariak minatnya, sungguh membuat Cristian bertanya-tanya.
“Apa kau tidak lapar?” tanya Cristian, saat mereka sudah melewati lokasi pasar dijalanan itu, mereka memasuki area jalan yang mulai lengang dipinggiran pantai.
“Tidak,” jawab Hanna, pendek.
Cristian menghentikan langkahnya, tapi ternyata Hanna masih saja berjalan sendiri, tidak menyadari kalau Cristian menghentikan langkahnya. Akhirnya diapun berjalan dibelakang Hanna. Apakah hanya perasaannya saja, Hanna bukannya merasa senang diajaknya lari pagi tapi gadis itu malah terlihat melamun saja.
Tiba-tiba muncul beberapa anak kecil berlari melewati Hanna dan menabraknya, membuat Hanna tersadar dari lamunannya.
“Hei! Hati-hati!” teriaknya pada anak itu yang hampir jatuh karena menabraknya.
Anak itupun segera berlari mengejar temannya. Hanna menoleh pada anak itu dan matanya terhenti saat melihat Cristian berada jauh darinya. Dia baru sadar ternyata dari tadi berjalan sendirian.
Cristianpun segera mengampirinya.
“Apa kau sedang sakit?” tanya Cristian.
“Tidak, aku baik-baik saja, mungkin karena aku jarang lari pagi jadi rasanya begitu lelah,” jawab Hanna, beralasan, padahal dia masih merasa sedih dengan kepergian Damian. Pria yang dicintainya itu sama sekali tidak menghubunginya. Handphone yang ada padanya seakan sia-sia saja.
“Bagaimana kalau kita istirahat saja duduk disana?” ajak Cristian, menunjuk sebuah bangku kayu yang ada dibawah pohon menghadap ke pantai. Tidak jauh dari sana banyak yang berjualan es kelapa muda.
Hanna hanya mengangguk. Merekapun duduk dibangku itu. Cristian memberikan minumnya pada Lorena yang segera mengambilnya. Gadis itu tidak bicara apa-apa, hanya menatap kearah pantai.
Cristian memperhatikan jarinya Hanna, dia baru menyadari kalau Hanna menggunakan cicin itu terus, tentu saja bukan cincin yang diberikannya saat melamar Hanna dulu. Apakah itu cincin pemberian dari Damian? Dia bisa tahu itu adalah cincin yang sangat mahal.
Cristian juga merasa bingung dengan sikap diamnya Hanna. Tidak ada lagi senyum ceria di bibir gadis itu, tidak ada lagi semangat dari setiap geraknya meskipun Hanna masih bisa tersenyum hambar padanya. Apakah hati Hanna benar-benar tidak akan pernah kembali padanya?
Terdengar handphonenya Cristian berdering, diangkatnya telponnya itu.
“Satria? Ada apa Satria menelpon?” gumam Cristian.
“Halo!” sapa Cristian.
“Ada meeting dikantormu?” tanya Cristian. Hanna tampak hanya diam saja tidak memperdulikan Cristian.
“Memangnya Damian kemana? Kau yang memimpin sekarang?” tanya Cristian.
Mendengar nama Damian barulah Hanna menoleh, hatinya berharap Damian kembali pulang. Tapi itu hanya harapan yang sia-sia.
“Ke luar negeri? Baiklah! Nanti aku kesana,” jawab Cristian. Tidak berapa lama telponpun ditutup. Kini Cristian barulah mengerti, apakah karena Damian pergi ke luar negeri makanya Hanna jadi murung?
Cristian menoleh pada Hanna yang sedang menatapnya.
“Kalau kau ingin dengar kabar Damian, dia pergi keluar negeri, tidak ada disini,” kata Cristian. Hanna tidak menjawab, dia memalingkan mukanya menatap ke arah pantai.
“Ayo kita pulang, aku ada meeting dengan Satria,” kata Cristian.
“Kau saja yang pulang, aku masih mau disini, kau bisa kan membantuku memberitahu ayahku kalau aku ada disini?” jawab Hanna.
Cristian menatap Hanna yang tidak mau menoleh kearahnya.
“Baiklah, aku pulang. Tapi kau pulang jangan terlalu siang,” ucap Cristian.
Hanna hanya mengangguk. Cristianpun turun dari bangku itu meninggalkan Hanna.
Hanna menghela nafas dalam- dalam, mencoba meredam kesedihannya, dia sangat merindukan Damian. Ditatapnya air dipantai itu.
Baru beberapa langkah Cristian berjalan tiba-tiba dia teringat akan mengajak Hanna makan malam nanti malam, diapun membalikkan badannya, didengarnya gadis itu bicara pada diri sendiri, sambil memegang cincin yang ada di jarinya.
“Kenapa kau meninggalkanku?”gumam Hanna lagi sambil menunduk mengusap-usap cincin yang ada dijarinya.
Cristian tertegun mendengar ucapan Hanna itu. Gadis itu tidak tahu kalau Cristian masih berdiri dibelakangnya. Hati Cristian seketika merasa cemburu dan kecewa, ternyata Hanna masih mencintai Damian, ternyata itulah penyebabnya Hanna murung karena Damian meninggalkannya.
Tiba-tiba terbersit dibenaknya kenapa Damian meninggalkan Hanna? Apakah Damian memang menyerah karena Hanna akan menikah dengannya atau ada alasan lain?.
Akhirnya Cristian membalikkan badannya meninggalkan Hanna, rencana mengajak Hanna makan malam diurungkannya. Dia akan bergegas pulang ke rumah kakeknya untuk mandi berganti pakaian, dia sengaja pulang ke rumah kakeknya supaya bisa cepat ke kantornya Satria.
**********
Bu Sony datang ke rukannya Damian dengan membawa makanan dirantang-rantang seperti yang kemarin dilakukannya.
Saat memarkir mobilnya, Satpam menghampirinya.
“Siang Bu, ada yang bisa dibantu?” tanya satpam, menatap Bu Sony.
“Aku mencari Pak Damian, dia ada?” tanya Bu Sony.
“Pak Damian tidak ada Bu,” jawab Pak Satpam.
“Dia sedang keluar?” tanya Bu Sony.
“Bukan, Pak Damian sudah kembali ke ibukota kemarin, saya dengar mau langsung keluar negeri dalam waktu yang lama. Kalau ada perlu bisa langsung ke Bapak Satria,” jawab Satpam.
Mendengar jawaban dari satpam, Bu Sony sangat terkejut. Putranya pergi tanpa pamitan padanya? Apakah Damian marah padanya? Matanya langsung berkaca-kaca, menahan tangis. Hatinya merasa bersalah telah mengecewakan Damian, tapi apa yang harus dilakukannya? Dia tidak mau adik kakak bertengkar memperebutkan seorang gadis.
Persiapan pernikahan Hanna dan Cristian sudah hampir rampung, beberapa hari lagi mereka akan menikah, apakah pernikahan Cristian harus gagal lagi untuk yang kedua kalinya?
“Bu Sony!” terdengar suara Satria menghampiri Bu Sony yang masih mematung dekat mobilnya.
Satria menoleh pada Pak Satpam itu, lalu Pak Satpam itu pergi meninggalkan mereka.
Satria melihat mata Bu Sony yang berkaca-kaca.
“Ibu mencari kakakku?” tanya Satria.
Bu Sony menatap Satria dengan mata yang sudah berair, diapun mengangguk, air mata itu menetes di pipinya.
“Kakakku pulang kemarin,” ucap Satria.
Bu Sony tidak bicara, dia menghapus airmatanya. Satria menatapnya.
“Aku sudah tahu semuanya,” ucap Satria, membuat Bu Sony menatapnya.
“Kakakku sangat mencintai kakak ipar. Apa Ibu tahu kalau proyek Hanna Grand Lakeside ini diperuntukkan kakak ipar? Kakakku punya impian besar dengan kakak ipar, tapi sekarang impiannya sudah hilang musnah,” kata Satria.
“Kakak ipar? Apa maksudmu kakak ipar?” tanya Bu Sony.
“Semua keluarga besar, kerabat, rekan bisnis tahunya kalau kakak ipar itu istri kakakku, bahkan mereka sudah membuat resepsi, meskipun pernikahan mereka hanya kesalahfahaman. Kakakku sudah terbiasa menganggap kakak ipar istrinya. Bisa ibu bayangkan bagaimana perasaan kakakku kehilangan kakak ipar,” jawab Satria.
Perkataan Satria membuat Bu Sony terkejut, dia tidak tahu soal pernikahan palsu itu.
“Apa maksudmu? Mereka selama ini di anggap sepasang suami istri?” tanya Bu Sony.
“Iya, mereka tinggal bersama,” jawab Satria.
Jawaban Satria membuat kepala Bu Sony semakin pusing. Dia tidak menyangka kalau Damian dan Hanna sudah sedekat itu.
“Kakakku sudah terbiasa dengan kehadiran kakak ipar. Tapi yang paling penting adalah kakak ipar juga mencintai kakakku. Bukan saja kakakku yang tersakiti, kakak ipar juga menderita,” kata Satria lagi.
Butiran airmata menetes dipipinya Bu Sony, apakah dia sanggup mengatakan pada Cristian yang sebenarnya? Dia akan menyaksikan satu putranya lagi tersakiti. Apa dia tega?
Bu Sony mencoba memenangkan dirinya lalu menatap Satria.
“Aku mohon, biarkan Cristian tahu semuanya, biarkan kakak ipar bersama kakakku, karena mereka saling mencintai,” ucap Satria.
Bu Sony kembali menghapus airmatanya.
“Ini sangat tidak adil buat kakakku. Aku bukannya tidak mengerti perasaan Cristian, tapi kakak ipar juga berhak bahagia. Kakak ipar mencintai kakakku,” kata Satria.
“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Aku ingin semua putraku bahagia,” ucap Bu Sony.
“Kalau ibu tidak siap bicara dengan Cristian, bolehkah aku yang mengatakan hal yang sebenarnya pada Cristian alasan kenapa kakakku meninggalkan kakak ipar?” tanya Satria, menatap Bu Sony yang terdiam.
Bu Sony menatap Satria.
“Aku akan mencoba bicara dengan Cristian dan Pak Sony,” ucap Bu Sony.
Meskipun ini pahit, tapi kenyataan ini sudah tidak bisa ditutupi lagi. Semua harus dibuka, biarkan Hanna memilih dengan siapa dia akan menikah, dan Cristian harus rela kalau Hanna ternyata memilih Damian.
Bu Sony melihat pada kantong makanan yang di bawanya.
“Ini makanan buat Damian buatmu makan siang saja, makanlah,” kata Bu Sony sambil memberikan kantong itu. Satria segera menerimanya.
“Aku pulang,” kata Bu Sony.
Satria hanya mengangguk. Bu Sonypun segera masuk ke dalam mobilnya. Satria hanya menatap kepergian mobil itu sampai keluar gerbang, mobil itu berbelok kearah kiri.
Dari sebelah kanan di kejauhan muncul mobilnya Cristian, dia merasa heran, melihat sebuah mobil yang dia hafal betul kalau itu mobil ibunya, keluar dari rukannya Damian.
Ada apa ibunya datang ke rukan Damian? Ada urusan apa? Siapa yang ditemui ibunya? Bukankah kata ibunya akan bertemu temannya yang memintanya membawakan makanan itu? Banyak pertanyaan muncul di benaknya Cristian.
**************