
Henry mengajak Shezie ke sebuah rumah megah yang sudah dibelikan ayahnya. Shezie turun dari mobilnya Henry menatap takjub rumah megah itu. Seandainya Henry adalah benar suaminya, dia pasti akan sangat bahagia, tinggal bersama suami dan anak-anaknya di rumah indah ini. Tapi Shezie harus berhenti bermimpi, Henry hanya suami sementaranya.
“Aku heran, kenapa kau sering sekali melamun?” tanya Henry, berdiri bersandar di mobilnya sambil menatap rumah baru mereka.
“Rumahnya sangat bagus, harganya pasti mahal kan?” tanya Shezie, berdiri mematung membelakangi Henry .
“Nanti kalau kita sudah bercerai, kau kan bisa menikah lagi, mintalah pada suamimu rumah yang megah,” kata Henry.
“Itu artinya aku harus mendapatkan suami yang kaya raya, aku yakin rumah ini harganya milyaran apalagi ada di kawasan elit,” ucap Shezie, masih memandang rumah itu.
“Kalau begitu carilah pria kaya,” jawab Henry, sambil berjalan melewati Shezie.
“Apa ada pria yang mau denganku?” gumam Shezie, dia teringat pada ibunya. Apakah calon suaminya akan mau menerima keadaan ibunya yang membutuhkan biaya banyak untuk berobat? Pria seperti Martin saja belum tentu benar-benar mau membantu pengobatan ibunya. Iya kalau belum menikah tapi setelah menikah, apakah mau selamanya direpotkan ibunya?
Shezie melangkahkan kakinya mengikuti langkahnya Henry. Seseorang membuka pintu rumah itu.
“Selamat datang Pak! Saya Wiryo, kepala pelayan rumah tangga disini,” sapa pria itu, tersenyum pada Henry dan Shezie.
“Apa ada barang yang akan dibawa ke dalam?” tanyanya.
“Tidak ada, paling nanti ada dari butik membawakan pakaian pakaianku dan istriku,” jawab Henry.
Shezie menoleh pada Henry.
“Ada pakaian baru lagi?” tanya Shezie.
“Biar tidak usah repot-repot memindah-mindahkan pakaian,” jawab Henry.
Shezie diam, dia membayangkan berapa uang yang dikeluarkan Henry untuk membeli pakaian-pakaian baru, dia yakin walk-in closet dirumah inipun pasti sangat luas.
Henry melihat kesekeliling rumah itu, lalu menaiki tangga menuju lantai atas diikuti oleh Shezie.
Dilihatnya diatas ada sebuah pintu. Dia kebingungan karena bangunan diatas itu hanya ada satu pintu, itu artinya kamarnya hanya satu.
“Pak! Pak Wiryo!” teriak Henry.
“Iya, Pak!” jawab Pak Wiryo, buru-buru berlari menaiki tangga menghampiri Henry.
“Ini kamar utamanya cuma satu?” tanya Henry.
“Iya Pak,” jawab Pak Wiryo. Membuat Henry terkejut. Dia ingin cepat-cepat pindah karena ingin berpisah kamar dengan Shezie, kenapa ayahnya membelikan rumah yang besar tapi kamar utamanya cuma satu? Ini lelucon atau apa? Dimana mana rumah minimal ada 2 kamar.
“Apa tidak ada kamar lain?” tanya Henry.
“Ada tiga kamar dibawah tapi akan diisi oleh para pegawai disini Pak,” jawab Pak Wiryo.
Henry menatap Pak Wiryoo lalu pada Shezie.
“Kamar utama cuma satu?” tanya Shezie.
“Aku heran rumah sebesar ini kamar utamanya cuma satu!” keluh Henry, sambil berjalan dan membuka pintu kamar, Shezie mengikutinya, sedangkan Pak Wiryo kembali turun ke bawah.
“Jadi bagaimana? Aku tidak mau terus-terusan sekamar denganmu,” kata Shezie.
“Apalagi aku? Aku malah inginnya kita sudah bercerai sekarang, jadi tidak usah ribet-ribetan begini pindah rumah segala,” keluh Henry.
“Hemm kau yang memaksa supaya melanjutkan pernikahan ini,” ucap Shezie, sambil duduk di salah satu sofa yang ada dikamar itu.
Henry menoleh pada Shezie.
“Aku berangkat kerja dulu!” kata Henry tanpa menunggu jawaban dari Shezie, melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu.
Shezie tidak bicara apa-apa lagi, dia masih dikamar itu, tidak berapa lama terdengar suara mobil meninggalkan rumah itu.
Shezie segera meraih kantong yang dibawanya dari rumahnya Henry. Dikeluarkannya isi kantong itu yang berupa atasan dan celana jinsnya itu, diapun segera memakainya. Dia akan pulang dulu ke rumah menemui ibunya.
Saat keluar rumah, dia bertemu dengan Pak Wiryo.
“Ibu akan berangkat? Saya panggilkan supir!” kata Pak Wiryo.
Shezie berfikir sebentar, kalau dia langsung naik umum, dia tidak tahu alamat rumah ini. Kalau naik taxi, sangat boros, sayang uangnya.
“Baiklah!” ucapnya mengangguk.
Tidak berapa lama saat dia keluar dari rumah itu, dia terkejut saat melihat sebuah mobil yang sedang menunggunya di teras, sebuah mobil baru yang pastinya sangat mahal.
“Supir itu banyak sekali uangnya! Dia membeli mobil mewah untuk kendaraanku. Kalau saja aku benar-benar punya suami juga belum tentu aku dibelikan mobil semewah ini sama suamiku nanti,” gumam Shezie, sambil menyentuh body mobil yang mengkilat itu.
“Kita berangkat, Bu?” terdengar suara sapaan seorang pria. Shezie menoleh pada pria itu yang sudah berdiri di depannya menggunakan seragam supir.
“Iya,” jawab Shezie.
“Saya Andi Bu, ditugaskan Pak Henry untuk mengantar ibu kemanapun ibu pergi,” kata pria itu.
“Terimakasih, kita berangat sekarang,” ucap Shezie sambil tersenyum.
“Baiklah! Mari Bu!” Pak Andi itu membukakan pintu buat Shezie, yang segara masuk kedalamnya.
Sepanjang jalan Shezie merasakan nyamannya mobil mewah itu. Tapi dia tidak boleh terlena dengan kemewahan yang dimiliki Henry, dia tetap harus hidup seperti seadanya dia, supaya disaat dia becerai nanti dia tidak akan merasa mengeluh dengan ekonominya yang berbanding jauh dengan Henry.
“Ke halte bis saja,” jawab Shezie.
“Apa Bu? Halte Bis?” supir itu terkejut.
“Iya, turunkan aku dihalte Bis, terur kau boleh pulang, nanti kalau aku membutuhkanmu aku akan menelponmu,” kata Shezie.
“Tapi Bu, Pak Henry menugaskan saya mengantar kemanapun ibu pergi,” ujar Pak Andi.
“Kau kan sekarang sudah mengantarku,” ucap Shezie.
“Baiklah!” jawab Pak Andi meskipun kebingungan.
Akhirnya saat mobil itu mendekati halte bis, supiriya menghentikan mobilnya.
Shezie turun dari mobil mewah itu, lalu dia menyetop bis yang menuju arah tempat tinggalnya. Supirnya hanya menatapnya tidak mengerti karena majikannya memilih memakai bis daripada mobil mewahnya, diapun melajukan mobilnya kembali pulang ke rumah baru Henry.
Sesampainya dirumah, ternyata ada sebuah mobil sudah parkir didepan teras. Pak supir menghentikan mobilnya dibelakang mobil itu, lalu diapun turun.
“Pak Andi, kenapa sebentar? Kau tidak menunggu Bu Shezie?” tanya Pak Wiryo yang baru membuka pintu rumah.
“Bu Shezie naik bis!” jawab Pak Andi membuat Pak Wiryo terkejut.
Seseorang keluar dari ruangan itu.
“Siapa yang naik bis?” tanya pria itu yang tidak lain Henry, dia kembali kerumah karena hanphone-nya ketinggalan di kamarnya.
“Bu Shezie Pak, saya hanya diminta mengantarnya sampai halte saja,” kata Pak Andi.
“Sampai halte? Dia naik bis?” tanya Henry, Pak Andi mengangguk.
“Apa dia memakai atasan dan jins juga?” tebak Henry, kalau naik bis begitu Shezie pasti tidak mau kalau menggunakan gaun atau dress.
“Iya,Pak!” jawab Pak Andi.
Wajah Henry langsung berubah menjadi masam, kenapa Shezie begitu susah diatur, padahal dia sudah memberikan yang terbaik buatnya supaya nyaman selama bekerja dengannya. Benar-benar gadis itu tidak bisa diatur, batinnya.
Henry mengeluarkan ponselnya menelpon Shezie, ternyata nomornya tidak aktif.
“Kau tahu dia naik bis apa?” tanya Henry.
“Tahu pak,” jawab Pak Andi.
Henry tidak bicara lagi, dia melirik jam tangannya, dia harus segera ke kantor. Dia merasa bingung dengan sikap Shezie itu. Bagaimana kalau dia keluyuran dengan pakaian seperti itu dan bertemu orang yang mengenalinya sebagai istrinya? Pasti akan dicemooh, dan itu sama saja dengan mempermalukannya.
Karena beberapa kali menelpon Shezie tidak juga diangkat, Henry pun segera masuk ke mobilnya, menjalankannya menuju tempatnya bekerja.
Shezie turun dari bis di halte yang tidak jauh dari arah rumahya, kemudian dia naik angkot satu kali, barulah dia sampai di depan rumahnya. Dia keheranan saat melihat di depan rumahnya terparkir sebuah mobil mewah.
“Ada tamu siapa?” gumamnya.
Diapun melangkah maju dengan ragu-ragu. Saat sampai pintu dia mendengar ada percakapan ibunya dengan beberapa orang didalam, kerena pintu rumah itu terbuka.
“Sayang! Kau pulang!” terdengar suara ibunya menyapa, muncul di pintu yang terbuka itu.
“Iya Bu, aku pulang!” jawab Shezie sambil masuk kedalam rumah, matanya langung menoleh kearah tamu.
Shezie terkejut saat melihat tamu itu, ada Martin bersama seorang pria paruh baya dan seorang wanita seumuran dengan ibunya juga seorang gadis yang tidak beda jauh usianya dengannya.
“Sayang! Aku senang kau cepat pulang! Kami menunggumu lumayan lama!” ucap Martin sambil berdiri.
Mendengar dia dipanggil sayang, membuat Shezie sebal.
“Perkenalkan ini orang tuaku dan ini adikku,” kata Martin.
Shezie terkejut mendengarnya, ada apa Martin membawa orang tuanya kerumah? Juga dengan adiknya segala. Diapun menoleh pada ibunya.
Ibunya tersenyum menatapnya dan mengusap punggungnya.
“Duduklah!” kata ibunya, dengan ragu Shezie duduk dikursi yang kosong, sambil terus melirik ibunya.
Shezie menoleh pada orang tua Martin lalu tersenyum dan mengangguk.
“Halo om tante,” sapanya, lalu pada adiknya Martin.
“Halo!” sapa Shezie.
Ayahnya Martin hanya menatapnya dan mengangguk, ibunya hanya terseyum seperlunya begitu juga dengan adiknya.
“Sayang, aku mengajak orang tuaku kesini untuk melamarmu!” kata Martin.
Bagaikan disambar petir disiang hari mendengarnya, Martin melamarnya? Shezie tidak bisa berkata apa-apa, dia menoleh pada ibunya yang ternyata sedang menatapnya.
“Dan ibumu sudah menerima lamaranku!” ucap Martin, semakin membuat Shezie merasa shock.
************