
Shezie menatap Henry lekat-lekat.
“Maaf aku tidak bisa berhenti bekerja di café,” kata Shezie.
“Kenapa tidak bisa? Aku akan memberimu uang bulanan,”tanya Henry.
“Masalahnya ibuku hanya tahu aku bekerja di café itu,” jawab Shezie.
“Tapi kalau kau bekerja dicafe akan mempermalukan keluargaku, apa kau tidak mengerti?” ucap Henry dengan kesal.
Shezie berdiri menatap Henry.
“Kau selalu memikirkan dipihakmu, kau tidak memikirkan di pihakku,” protes Shezie.
“Tentu saja, karena aku yang membayarmu! Itu artinya aku yang mempunya hak untuk membuat aturan,” kata Henry, balas menatap wajahnya Shezie.
“Tapi bagaimana dengan ibuku? Martin akan tahu aku tidak bekerja di café itu, ibuku akan marah, apalagi kalau tahu aku jadi istri bayaranmu, ibuku akan melarangnya meskipun kau membayar mahal, ibuku tidak akan mengijinkannya,” ujar Shezie.
“Bilang saja kau pindah kerja diluar kota, kau tidak bisa pulang,” kata Henry.
“Aku sudah mengatakan pada ibuku kalau aku kerja ditravel juga jadi kadang kadang aku tidak pulang, tapi kalau lama tidak pulang, ibu tidak akan mengijinkan aku kerja jauh jauh dan aku juga tidak bisa membiarkan ibuku sendirian terus,” ucap Shezie.
Henry duduk dipinggir tempat tidur kembali menatap Shezie.
“Kau kan bisa membayar asisten rumah tangga untuk menemani ibumu,” ucap Henry.
“Itu sudah aku lakukan, makanya aku bekerja di café untuk menggaji ART itu,” kata Shezie.
“Baiklah, biaya ART ibumu aku yang bayar,” ucap Henry.
“Apa? Kau akan membayar gaji ART ibuku? Kau serius?” tanya Shezie, terkejut.
“Iya,” jawab Henry mengangguk, dia menggeser posisi duduknya kembali bersandar ditempat tidur itu.
Shezie masih berdiri menatapnya.
“Kau bilang saja kau bekerja diluar kota dan tidak pulang-pulang,” kata Henry.
“Enak saja tidak pulang-pulang,” gerutu Shezie.
“Kau bisa pulang seminggu sekali,” kata Henry.
“Kelamaan,” ujar Shezie.
“Ya repot kalau begitu,” kata Henry.
“Aku tetap harus bekerja di café itu, Martin akan mencari travel tempatku bekerja, aku akan ketahuan berbohong. Kau jangan lupa aku sudah bertunangan dengan Martin, dia pasti menyelidiki tempat kerjaku,” ucap Shezie.
“Kau menyukai si Martin itu? Aku fikir kau mencari uang dengan jadi selingkuhan orang itu karena kau memang tidak punya pacar,” tanya Henry, melipat kedua tangan didadanya sambil menatap Shezie yang sekarang duduk dipinggir tempat tidur.
“Ibuku terlanjur menyukai Martin, karena dia baik pada ibuku,” jawab Shezie.
”Seharusnya kau putuskan saja pertunangannya!” ujar Henry.
“Aku tidak mau mengecewakan ibuku!” sahut Shezie.
“Ya sudah begini saja, kau bisa bekerja di café itu,” kata Henry.
“Benarkah? Tapi bagaimana dengan keluargamu?” tanya Shezie, wajahnya langsung sumringah.
“Tapi bukan sebagai pelayan lagi,” jawab Henry.
“Maksudmu apa?” tanya Shezie.
“Kau sebagai pemilik café, aku akan membeli café itu!” jawab Henry, membuat Shezie terkejut.
“Membeli café itu? Kau serius? Café itu tidak sedang dijual!” seru Shezie, benar-benar tidak menyangka kalau Henry berfikir akan membeli café itu.
“Itu urusanku, jadi ibumu dan pria itu tahunya kau masih bekerja di café, tapi ingat kau tidak boleh memakai baju pelayan café lagi, kau pemiliknya!” kata Henry.
“Tapi…” Shezie tidak melanjutkan bicaranya, karena Henry bangun dari duduknya, meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
“Pak Beni, aku ingin membeli sebuah café, namanya..” Henry menoleh pada Shezie.
“Apa nama cafenya?” tanya Henry.
“Sabuga Café,” jawab Shezie.
Henry kembali bicara di telpon.
“Sabuga café,…ya aku tahu memang tidak sedang dijual. Kau bayar berapapun pemilik café itu hargakan asal aku bisa membelinya! Kerjakan sekarang juga, aku tunggu,” kata Henry, lalu menutup telponnya.
Shezie masih menatap pria yang berdiri sambil menelpon itu.
“Henry, harga cafenya pasti mahal, kau tidak perlu melakukan itu!” ujar Shezie.
“Kau diam saja,” jawab Henry, kemudian dia menelpon seseorang lagi entah siapa.
Shezie masih tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan Henry, apakah Henry sudah bersikap berlebihan? Buat apa membeli café itu segala?
Diliriknya pria itu yang kini sedang berdiri didekat jendela sambil menelpon.
Diperhatikannya dari atas sampai bawah, sebenarnya pria itu sangat mempesona, pasti banyak wanita-wanita yang menyukainya. Tiba-tiab Shezie tersadar, apakah Henry tidak mempunyai gadis yang dicintainya? Dia hanya jalan dengan Andrea itupun dia menyebutnya teman saja, terus siapa gadis yang ada di hati Henry?
“Kau kenapa?” tanya Henry tiba-tiba, membuyarkan lamunan Shezie.
“Tidak, aku hanya sedang berfikir apa kau mempunyai wanita yang kau sukai?” tanya Shezie.
“Tidak ada kerjaan bertanya begitu,”jawab Henry.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia langsung mengangkatnya. Shezie kembali memperhatikannya.
“Ya, dia mau menjualnya? Berapa?” tanya Henry pada si penelpon.
“Oke, aku setuju. Iya, untuk isriku,” jawab Henry.
Henry menoleh pada Shezie yang sedang menatapnya.
“Kau pemilik café itu sekarang!” kata Henry.
“Kau serius?” tanya Shezie, terkejut mendengarnya.
“Dari tadi kau serius-serius terus, memangnya aku main-main? Café itu sudah jadi milikmu sekarang, kau bisa bekerja disana bukan sebagai pelayan , tapi pemilik, kau mengerti sekarang?” kata Henry, sambil meninggalkan ruangan itu masuk ke kamar mandi.
Shezie masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya, apa benar café itu jadi miliknya sekarang?
Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, Shezie langsung berlari manghampiri Henry.
“Apa lagi?” tanya Henry.
“Berapa kau membeli café itu? Pasti mahal kan?” tanya Shezie.
“Hem, dua kali lipat dari pasaran,” jawab Henry.
“Berapa? Pasti Milyaran itu,” kata Shezie, kakinya melangkah mengikuti Henry yang berjalan menuju sofa tempat jasnya tadi disimpan.
Pria itu membuka gulungan lengan kemejanya.
Shezie masih mengikutinya, memiringkan kepalaya menatap Henry.
“Apa?” tanya Henry.
“Kau tidak perlu melakukan itu, itu pemborosan,” jawab Shezie.
Henry menatap Shezie lekat-lekat.
“Terus menurutmu, apa aku harus membiarkan istriku bekerja jadi pelayan disana sedangkan aku mampu membelinya, begitu? Sama saja dengan menambah masalah,” kata Henry.
“Aku jadi merasa tidak enak,” ucap Shezie, rasanya tidak percaya pria yang sangat pelit ini malah sepertinya tidak itung-itungan lagi dengan uangnya.
“Henry!” panggil Shezie.
“Apa lagi?” tanya Henry sambil memakai jasnya.
“Café itu jadi milikku?” Shezie balik bertanya.
“Sekarang juga sudah jadi milikmu,” jawab Henry.
“Maskudku kalau kita bercerai,” kata Shezie.
“Aku kan sudah bilang café itu sudah jadi milikmu, ya milikmu, buat apa aku mengambilnya lagi?” kata Henry, sambil mengancingkan kancing jasnya.
“Ternyata kau sangat baik,” gumam Shezie.
Henry menatapnya.
“Jadi sekarang jangan membuat lagi masalah, oke? Aku tidak mau pusing dengan hal-hal seperti ini,” kata Henry.
“Baiklah,” ucap Shezie.
Henry merapihkan jasnya, dilihatnya lagi Shezie sedang menatapnya.
“Apa lagi?” tanya Henry.
“Aku jadi penasaran siapa gadis yang akan kau nikahi nanti, gadis itu pasti sangat beruntung!” kata Shezie.
Henry tidak menanggapi.
“Aku ke kantor lagi, mulai besok kau urus cafemu sebaik-baiknya jangan sampai bangkrut!” ujar Henry.
“Tapi aku tidak pengalaman mengurus café,” ucap Shezie.
“Nanti aku kirimkan konsultan yang akan membantumu,” kata Henry, membuat Shezie semakin senang saja, pria ini benar-benar diluar dugaan. Dia sangat tidak itung-itungan tidak seperti awal-awal bertemu pelitnya minta ampun, benar-benar diluar dugaan.
Shezie mengikuti Henry keluar dari kamar itu, hatinya sangat bahagia, itu artinya dia bisa mengumpulkan uang lebih banyak untuk biaya pengobatan ibunya, dia merasa tenang sekarang, dia berharap ibunya akan benar-benar sembuh dan bisa menemaninya di dunia ini lebih lama lagi, dia merasa tenang tidak lagi was-was akan ditinggal ibunya.
Dilihatnya suaminya itu masuk ke mobil mewahnya dan menjalankannya meninggalkan rumah mereka.
Ada senyum di bibirnya Shezie, dia tidak menyangka akan merasakan semua ini. Apa ini yang dirasakan istri seorang konglomerat, apa-apa tidak pernah pusing dengan urusan uang? Tidak seperti dirinya yang banting tulang dengan hati yang terus gelisah dengan rejeki yang akan dia dapatkan esok harinya.
Shezie kembali masuk kedalam rumah, menuju kamarnya saat mendengar dering ponselnya di dalam kamar itu. Diapun segera masuk dan mengambil ponselnya ternyata Henry menelponnya. Baru juga pergi sudah menelponnya lagi, mau apa dia?
“Ya, halo,” sapa Shezie.
“Aku sudah mentransfer uang bulanan buatmu, buat membayar asisten ruma tangga ibumu juga, kau tinggal cek di atm,” kata Henry, membuat Shezie terkejut.
“Kau sierus?” tanya Shezie, tidak percaya.
“Dari tadi kau serius-serius terus, cek sendiri di atm, aku rasa itu sudah lebih dari cukup, terserah kau mau menggunakannya untuk apa,” kata Henry.
“Apa termasuk untuk biaya-biaya gaji pegawai dan dapur?” tanya Shezie.
“Tidak, itu sudah diurus Pak Wiryo. Kalau aku bilang uang bulanan itu bukan untuk biaya rumah tangga, tapi buatmu terserah kau mau apa,” kata Henry.
Mendengarnya membuat Shezie senang, kenapa uang sepertinya begitu mudah dia dapatkan sekarang?
“Terimakasih,” ucap Shezie.
“Ya,” jawab Henry, lalu menutup telponnya.
Shezie menatap ponselnya yang mati, rasanya tidak percaya, dia mendapatkan uang begitu mudahnya. Apakah Henry melakukan hal itu pada setiap wanita? Tapi dia sangat pelit, Andrea saja sampai masuk rumah sakit karena sakit maghnya kambuh, atau jangan-jangan…jangan jangan Henry menyukainya? Ah tidak mungkin, pernikahan ini hanya untuk menunggu waktu bercerai.
Shezie tidak menyangka Henry akan sebaik dan sepengertian ini, sungguh beruntung yang menjadi istrinya.
***********
Readers jangan lupa vote ya