Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-53 Henry tidak mau menceraikan Shezie



Shezie masih berdiri menatap Henry.


“Coba kau ulang, apa aku tidak salah dengar? Kau tidak akan menceraikanku?” tanya Shezie.


Henry membalas tatapannya itu.


“Bagaimana menurutmu?” Henry malah balik bertanya.


“Kenapa bertanya padaku? Dari awal kita hanya menunda perceraian saja bukan berarti tidak akan bercerai. Aku sudah bertunangan dengan Martin, aku akan menikah dengannya,” kata Shezie.


“Kau tidak akan bisa menikah dengan Martin kalau aku tidak mau menceraikanmu,” ucap Henry.


“Kenapa kau tidak mau menceraikanku?” tanya Shezie kebingungan.


“Tentu saja, kau kan harus mengandung anakku,” jawab Henry membuat Shezie semakin terkejut saja.


Diapun berjalan mendekati pria itu. Kedua tangannya memegang kepalanya Henry, telapak tangannya ditempelkan dikening pria itu, lalu ditempelkan ke pipinya, juga ke lehernya Henry sambil memicingkan matanya, seperti sedang memeriksa pasien.


“Henry, panasmu sangat tinggi! Kau akan kejang-kejang sebentar lagi, kau harus masuk ICU!” seru Shezie dengan raut muka serius, lalu bertolak pinggang dan mengeleng-gelengkan kepalanya.


Henry hanya mengerutkan dahinya melihat reaksi Shezie itu.


“Tapi buan ICU di rumah sakit ini, tapi di rumah sakit jiwa! Kau gila Henry!” ujar Shezie lalu beranjak meninggalkan pria itu yang malah tertawa melihat gadis itu pergi.


“Aku belum selesai bicara denganmu!” teriak Henry.


“Aku tidak mau bicara dengan orang gila!” balas Shezie balas berteriak juga, dia terus berjalan menuju ruangan kemo ibunya, mengintip-intip dikaca yang ditutup gorden.


Hatinya benar-benar gelisah, jantungnya berdebar kencang, bukan tentang ibunya, tapi pria itu, dia masih tidak percaya dengan perkataannya Henry, pria itu benar-benar mempermainkan hatinya. Entah benar entah tidak perkataannya, bagaimana mungkin Henry tidak mau menceraikannya dan menyuruhnya mengandung anaknya.


“Dia benar-benar gila!” gumamnya, sambil membalikkan badannya dan langsung terkejut karena dia menabrak tubuh seseorang, tubuh pria yang disebutnya gila itu. Dia jadi ikut ikutan gila karenanya, membayangkan dia hamil besar mengandungn anaknya Henry, mimpi juga tidak hamil oleh pria itu yang sebenarnya memang suaminya.


Mata merekapun bertemu.


“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Shezie dangan ketus.


“Apakah kemonya belum selesai?” tanya Henry.


“Belum,” jawab Shezie, lalu pergi menjauh dari tempat itu, menghampiri kursi tunggu yang berada di sebrang ruangan ibunya kemo itu, diapun duduk.


Matanya terhenti pada sosok pria itu yang masih membelakanginya karena melihat ke dalam ruangannya itu.  Henry sebernarnya pria yang baik, hanya saja kalau untuk memperpanjang pernikahan ini, rasanya sangat membingungkan dengan statusnya, apakah Henry akan menyewanya untuk mengandung anaknya atau memang Henry akan memperistri dirinya selamanya?


Tiba-tiba Henry menoleh, Shezie buru-buru memalingkan mukanya, membuat Henry mengerutkan dahinya lagi lalu tersenyum dan menghampiri. Diapun duduk disamping Shezie.


“Aku rasa gambar-gambar bayi itu lumayan bagus, aslinya akan jauh lebih tampan dan cantik,” ucap Henry, bersandar ke sandaran kursi tunggu itu.


Shezie merobah posisi duduknya menghadap Henry yang menghadap ke depan jadi dia hanya bisa menatap wajahnya itu dari samping. Dari sudut manapun pria itu memang sangat tampan, sebenarnya akan sangat membanggakan jika pria itu menjadi suami yang sesungguhnya.


“Dengar, aku tidak mungkin mengandung anakmu,” kata Shezie.


“Kenapa?” tanya Henry, sekarang dia menoleh menatap Shezie.


“Ya karena kalau untuk hamil itu kau harus menyentuhku-nyentuhku, aku tidak bisa membayangkan itu semua,” kata Shezie.


“Kenapa tidak bisa?” tanya Henry, menatap gadis itu yang terlihat pucat, tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


“Tentu saja tidak bisa,” ucap Shezie.


“Kenapa? Aku tidak masalah kalau harus menyentuhmu,” ucap Henry.


“Apa?” Shezie terbengong mendengar jawaban Henry.


Pria itu mengangguk, Shezie langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tidak, tidak, Henry, kau sudah gila! Kau harus dibawa kerumah sakit jiwa! Ya ampun aku tinggal dengan orang gila ternyata!” seru Shezie, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, membayangkan Henry menyentuhnya demi bisa membuatnya hamil.


Dirasakannya ada dua tangan yang meraih tangannya untuk membuka wajahnya, dilihatnya Henry malah mendekat kanwajahnya padanya, semakin membuat jantungnya berdebar-debar.


“Masalahnya orang tuaku juga ingin kita punya bayi,” ucap Henry.


“Kau sangat menakutkan!” kata Shezie.


“Itu karena aku lelah dan ketiduran,” elak Shezie. Padahal dalam hati bertanya apakah benar karena dia lelah jadi dia mau dipeluk pria itu semalaman? Aaah tidak, ini benar-benar membuatnya malu, kenapa Henry membahas masalah itu?


Henry tambah ingin tertawa saja melihat gadis itu yang semakin pucat pasi.


“Aku tidak mau pulang lagi kerumahmu,” kata Shezie.


“Tidak bisa, kau kan istrku, jadi harus pulang bersamaku ke rumahku, makanya aku menemanimu disini. Jadi kau tidak bisa kemana-mana,” ujar Henry.


“Kau seperti psikopat sekarang,” keluh Shezie, semakin terkejut saja dengan pernyataan Henry.


Henry menatap gadis yang semakin pucat pasi itu bahkan sekarang di  keningnya muncul keringat-keringat kecil terlihat sekali kalau dia sangat gugup, tapi terlihat lucu di mata Henry. Melihatnya membuat Henry semakin yakin ternyata dia memang menyukai gadis itu, sangat lucu rasanya dia jatuh cinta pada istrinya sendiri.


“Aku akan menggugat cerai,” kata Shezie.


“Atas dasar apa? Aku tidak melakukan kesalahan apapun sebagai suami, aku memberimu nafkah, tempat tinggal yang layak, pakaian, kendaraan, uang, aku sangat memperhatikanmu,” ucap Henry.


Shezie akan bicara tapi dipotong Henry.


“Tapi aku memang melakukan satu kesalahan padamu, ada yang tidak aku berikan,” ucap Henry.


Shezie tersenyum senang mendengarnya, itu akan jadi alasannya untuk menggugat Henry.


“Aku tidak memberikanmu nafkah batin, aku benar-benar bersalah padamu, aku minta maaf,” ucap Henry dengan mimic wajah di serius-serius kan, jawabannya membuat Shezie melongo.


“Kau ini bicara apa?” tanya Shezie.


“Iya,benar kan?” Henry balik bertanya.


“Kau benar-benar tidak waras,” jawab Shezie, perasaannya semakin tidak karuan saja mendengar ucapan-ucapannya Henry.


Henry akan bicara lagi tapi tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, membuatnya menghentikan godaannya pada Shezie dan melihat kearah pintu.


“Bagaimana Dok, semua berjalan lancar?” tanya Shezie sambil menghampiri Dokter Arfan.


“Iya, seperti yang saya jelaskan kemarin, biarkan pasien istirahat,” kata Dokter Arfan.


“Baik Dok, terimakasih,” jawab Shezie, Henry berdiri disamping Shezie.


“Sudah bisa ditengok?” tanya Shezie lagi.


“Belum, kau tunggu saja diruang perawatan, nanti perawat akan membawa ibumu kalau semua sudah beres,” jawab Dokter Arfan.


“Baik Dok, terimakasih,” jawab Shezie, melangkah mundur memberikan jalan buar Dokter Arfan yang akan meninggalkan tempat itu, kemudian disusul oleh beberapa Dokter dan Asisten Dokter.


“Rambut ibuku akan rontok, ibuku akan mengalami mual yang hebat dan mungkin penglihatannya akan kabur…” gumam Shezie.


“Semua akan baik-baik saja, kau sudah melakukan yang terbaik buat ibumu,” ucap Henry memberi semangat.


Shezie menoleh pada pria disampingnya itu, kembali teringat lagi perkataan Henry tadi, diapun membuang muka. Henry tersenyum melihatnya.


“Aku jadi ingin menciummu,” gumam Henry.


“Apa?” Shezie terkejut mendengarnya dan menatap pria itu yang balas menatapnya.


“Kau ini, dari hari kehari kau semain aneh,” gurutu Shezie, lalu beranjak meninggalkan Henry.


Henry merasa geli melihat Shezie yang kebakaran jenggot menghindarinya. Padahal dia sebagai suaminya berhak atas Shezie, tapi dia bukan pria seperti Martin yang suka memaksa maksa orang, dia hanya perlu memastikan diri kalau dia memang menyukai Shezie, dan perjuangannya untuk mempertahankan pernikahannya baru dimulai.


Shezie bener-benar kesal dengan sikapnya Henry itu, pria itu dari hari ke hari semakin membingungkan, masa dia tidak mau menceraikannya, eh sekarang mau menciumnya, benar-benar stress Henry.


Tiba-tiba Shezie dikejutkan dengan sebuah tangan yang meraih tangannya, jari- jarinya itu menyusup diantara jari-jarinya, siapa yang melakukan itu padanya? Siapa lagi kalau bukan suaminya? Yang dengan tanpa berdosanya malah berjalan menjajari langkahnya dan sama sekali tidak menoleh padanya.


Shezie akan melepaskan pegangannya Henry tapi pria itu malah menguatkan genggaman jemarinya diantara jari-jarinya. Akhirnya Shezie pun diam tiada guna juga dia tarik-tarikan tangan dengan Henry.


Merekapun berjalan terus di lorong rumah sakit itu sambil berpegangan tangan tanpa ada yang bicara, menuju ruangan rawat inap ibunya Shezie.


************