Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-99 Kemunculan wanita Martin



Sekitar pukul 7 malam, Martin menjemput Shezie. Sambil menunggu Martin datang, Shezie berada di kamar ibunya. Duduk disamping tubuh Bu Vina yang sedang berbaring.


“Bu, besok kita control. Aku ada rencana untuk membawa ibu berobat ke luar negeri,” kata Shezie.


“Tidak Shezie, biaya pengobatannya sangat mahal, meskipun Martin sudah berjanji akan mengobati ibu tapi itu terlalu mahal, ibu merasa tidak enak,” kata Bu Vina.


“Tidak Bu, ini bukan uang Martin, tapi ini uangku,” kata Shezie.


“Uangmu? Cafemu belum berjalan lama, biaya pengobatan di luar negeri juga sangat mahal bisa sampai milyaran, itu juga tidak menjamin ibu akan sembuh. Sudahlah tidak apa-apa, kita berobat disini saja, ibu hanya ingin bisa menyaksikan kau memakai gaun pengantin,” kata Bu Vina.


Shezie menatap ibunya yang berbaring lemah di tempat tidur.


“Ini uang dari Henry Bu, dia memberiku uang 1M untuk pengobatan ibu ke Luar Negeri,” kata Shezie.


“Kau menerima uang itu? Ibu tidak mau memakainya,” ucap Bu Vina dengan ketus.


“Bu, Henry tulus memberikannya padaku. Aku tidak bisa menolaknya. Lagipula dengan uang ini kita bisa pergi ke luar negeri. Aku ingin ibu sembuh,” kata Shezie, mencoba membujuk ibunya.


Bu Vina terdiam mendengarnya.


“Mau ya Bu, aku juga tidak mungkin mengembalikan uang ini pada Henry,” ucap Shezie.


Bu Vina tampak berfikir beberapa saat.


“Ya sudahlah terserah kau saja,” ucap Bu Vina.


“Besok kita ke rumah sakit, kita pindah pengobatan keluar negeri,” kata Shezie sambil tersenyum, dia senang ibunya mau menerima sarannya.


Terdengar suara ketukan dipintu rumah.


“Itu sepertinya Martin. Aku berangakt dulu Bu,” ucap Shezie.


Bu Vina tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja.


Benar saja, tamu yang datang itu memang Martin. Saat melihat Shezie dia langsung tersenyum senang. Dari hari kehari wanita di depannya itu terlihat tambah cantik apalagi dengan gaun yang dipakainya sekarang. Dia sudah membayangkan betapa bangganya dia memamerkan wanita yang dikejar -kejarnya itu akhrinya akan segera dinikahinya beberapa hari lagi.


“Ayo,” ajak Martin, mengulurkan tangannya. Shezipun mengikuti langkahnya keluar rumah.


************


Di gedung itu tampak sudah ramai oleh tamu undangan. Martin menarik tangannya Shezie  masuk kedalam ruangan itu. Teman-temannya sudah berdatangan dan menyapanya dengan berisik.


“Kau dengan siapa? Bukankah ini gadis adik tingkat itu?” tanya seorang temannya Martin, sambil menatap Shezie.


“Iya, dia Shezie. Aku kesini sekalian akan mengumumkan acara pernikahanku dengan Shezie!” jawab Martin, tersenyeum lebar, tangannya memeluk tangannya Shezie.


“Wah selamat! Akhirnya kalian berjodoh juga!” seru teman Martin yang lainnya.


“Kau benar-benar pejuang sejati! Dari jaman kuliah kau mengejarnyakan? Kau juga sering mengeluh ditolaknya!” seru temannya yang lain.


“Ah sudahlah, itu kan masa lalu, jadi kalian tidak perlu mencemoohku lagi, sekarang kalian lihat kan aku sudah mendapatkannya. Jangan lupa datang ke pernikahanku!” kata Martin dengan bangga.


Tidak ada yang Shezie perbuat, dia hanya menyaksikan Martin memamerkan dirinya pada teman-temannya.


“Kau serius akan menikah dengannya?” terdengar suara seorang wanita masuk kekerumunan itu. Semua orang menoleh kearahnya.


“Kau siapa?” tanya teman-temannya Martin.


Martin menoleh kearah wanita itu dan dia terkejut saat melihatnya. Wajahnya langsung pucat. Wanita itu adalah salah satu wanita yang sering diajaknya kencan.


Wanita itu menatapnya dan tersenyum.


“Halo, tunangan yang kesepian!” sapa wanita itu, membuat semua orang menoleh pada Martin.


“Kau mengenalnya?” tanya salah satu teman Martin.


“Dia temanku,” jawab Martin dengan agak gugup.


Shezie juga terkejut dengan kedatangan wanita itu.


Seorang pria tiba-tiba muncul dan langsung memeluk tubuh gadis itu dari belakang dan mencium pipinya.


“Ini Yulia,  pacar baruku!” kata pria itu.


Wanita itu membalas mencium pipi pria itu.


“Pacar barumu, Roni?” tanya temannya Martin.


“Iya,” jawab pria yang dipangil Roni itu.


Yulia itu tampak mencuri-curi pandang kearah Martin. Hal itu tidak luput dari penglihatannya Shezie. Apakah wanita itu menyukai Martin?


“Ku dengar kau akan menikah,” kata Roni pada Martin.


“Iya, datang ya,” kata Martin.


“Bagus kalau begitu, itu artinya kau tidak akan kesepian lagi,” ucap wanita itu sambil tersenyum pada Martin dengan sorot mata yang menggoda.


“Tentu saja,” jawab Martin.


Martin menoleh pada Shezie, dia tidak mau Yulia malah membuat keonaran di tempat ini.


“Sayang, kau haus? Kita panggil pelayannya, mana ya,” ucap Martin.


“Biar aku ambil saja kesana,” kata Shezie.


“Baiklah,” ucap Martin, Dia memang ingin Shezie pergi dan tidak bicara lagi dengan Yulia.


Shezie mengambil dua gelas minuman lalu menoleh ke tempat tadi ternyata dia melihat Martin meninggalkan teman-temannya. Diapun mengikuti kemana Martin pergi.


Martin berdiri di luar gedung dekat jendea bicara dengan Yulia.


“Heh, kenapa kau datang kesini?” tanya Martin.


“Kenapa? Aku bebas kemana saja,” jawab Yulia.


Shezie yang melihat Martin sedang berbicara dengan seseorang didekat jendela menghentikan langkahnya mendengarkan perbincangan Martin.


Martin menarik tangannya Yulia lebih dekat ke jendela, sehingga Shezie bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas. Diapun mengintip dicelah jendela ternyata Martin bicara dengan Yulia.


“Kau kenapa? Kau takut calon pengantinmu tahu?” tanya Yulia.


“Aku tidak mau kau bicara macam-macam dengan teman-temanku,” jawab Martin.


“Kau tenang saja, aku hanya berusaha akrab tadi,” kata Yulia.


“Awas kalau kau bicara macam-macam,” ujar Martin.


“Kenapa sih kau begitu ketus padaku? Tidak seperti lagi butuhnya saja! Seharusnya kau tetap bersikap baik padaku, jangan mentang-mentang sekarang akan menikah, kau bersikap acuh padaku,” kata Yulia.


Jantung Shezie semakin berdebar saja mendengarnya, apa maksud dari wanita itu? Ada hubungan apa Martin dengan Yulia?


Diapun masih mengintip dicelah jendela. Dilihatnya Yulia merapatkan tubuhnya ketubuh Martin seakan sudah terbiasa melakukannya, hati Shezie semakin tidak karuan. Yulia mendekatkan wajahnya yang cantik kewajahnya Martin.


“Kau sudah terbiasa berkencan denganku. Aku yakin setelah menikahpun kau akan mencariku,” kata Yulia, membuat Martin diam.


“Jadi jangan sok sok kau tidak membutuhkanku,” kata Yulia lagi. Kini tangannya menyentuh bibirnya Martin. Hati Shezie semakin merasa marah melihatnya.


“Tapi..aku selalu siap menemanimu kapanpun kau mau,” ucap Yulia, tangannya mengusap dadanya Martin dengan mesra.


“Hentikan! Jangan menggodaku disini!” ucap Martin, menepis tangan Yulia.


“Katakan dimana aku bisa menggodamu? Di tempat biasa?” tanya Yulia sambil tersenyum.


Kini Shezie membalikkan badannya tidak melihat kemesraan mereka, dia diam mematung, dia shock mendengar juga melihat Martin dan Yulia bicara. Kalau saja dia tidak melihat langsung mungkin dia tidak akan percaya. Martin yang sok-sok-an memperjuangkan cinta sejati padanya, ternyata sering berkencan dengan wanita itu? Bahkan wanita itu terang-terangan masih mau menemani Martin?


Shezie menyandarkan tubuhnya ke tembok. Siapa sebenarnya pria yang akan nikahinya itu?


Tiba-tiba Shezie mendengar langkah memasuki pintu, dia segera bersembunyi dibalik pas bunga besar yang ada di samping pintu itu. Dilihatnya Martin masuk kedalam ruangan itu, tidak lama kemudian wanita yang bernama Yulia itu.


Ada butiran bening yang tiba-tiba muncul dipelupuk matanya Shezie, dia merasa sedih dan kecewa, ternyata pria yang akan dinikahinya itu tidak sebaik dugaannya juga dugaan ibunya. Keraguan dalam hatinya terjawab sudah. Apa yang harus dikatakannya pada ibunya soal ini? Apa dia sanggup mengatakan hal buruk yang satu persatu keluar sifat aslinya Martin?


Dilihatnya Martin mencari-carinya. Shezie cepat-cepat mangusap air matanya dan masuk kedalam ruangan itu.


“Sayang! Kau kemana saja?” tanya Martin yang berdiri bergabung dengan teman-temannya yang lain.


Shezie segera menghampiri dengan menahan rasa yang tidak karuan dalam dadanya.


“Ini minumanmu,” ucap Shezie memberikan satu gelas pada Martin dengan tangannnya yang gemetar karena masih Shock dengan kenyataan itu.


Sheziepun segera mendekatkan gelas minumannya kemulutnya, tapi saat mencium aroma dari minuman itu tiba-tiba perutnya merasa mual.


“Ooek!” Shezie menutup mulutnya membuat semua orang menoleh kearahnya, begitu juga dengan Yulia yang sudah bergabung dengan Roni.


“Kau kenapa sayang?” tanya Martin.


“Perutku terasa tidak enak, aku ke toilet dulu,” jawab Shezie, diapun segera meninggalkan tempat itu.


Yulia hanya menatap kepergian calon istrinya Martin itu. Entah kenapa dia merasa tidak suka pada Shezie. Setiap Martin membutuhkan seseorang yang menemaninya Martin akan mencarinya tapi yang diperjuangkan cintanya hanya wanita itu. Enak bener wanita itu bisa menikah dengan Martin, selain tampan Martin juga kaya, sedangkan dia hanya dijadikan alat pelampiasan hasrat pria itu saja.


“Aku juga sepertinya mau ke toilet,” ucap Yulia.


Martin meliriknya dengan tajam tapi Yulia tidak peduli. Setelah Yulia pergi, Martin merasa was-was, dia khawatir Yulia bicara macam-macam pada Shezie. Dia bukannya takut Shzie tahu kalau dia sering berkencan dengan Yulia, yang jadi masalah adalah dia dan Shezie belum resmi menikah, bisa-bisa gagal pernikahannya jika Shezie tahu kalau Yulia adalah salah satu wanita yang suka dikencaninya.


Shezie merasakan kepalanya yang mendadak pusing saat mencium aroma minuman itu. Padahal minuman  itu hanyalah jus apel bukan minuman yang memabukkan atau semacamnya.


Setelah membasuh mukanya, dia melihat dirinya dicermin.


“Kau kenapa?” tanya suara dipintu yang mengagetkannya.


Shezie menoleh pada arah suara, ternyata ada Yulia bersandar dipintu masuk toilet yang kebetulan sedang sepi.


“Aku hanya merasa pusing dan mual saja,” kata Shezie.


“Benar begtu? Apa kau sudah periksa?” tanya Yulia.


“Periksa? Periksa apa?” tanya Shezie menatap Yulia.


“Bisa saja kau hamil, tapi yang pasti bukan oleh Martin kan, aku tahu pasti itu,” jawab Yulia membuat Shezie terkejut, apa dia hamil?


“Kenapa kau bicara begitu?” tanya Shezie.


“Aku yakin 100 persen kalau kau hamilpun itu bukan bayinya Martin,” jawab Yulia.


“Sepertinya kau sangat mengenal Martin,” ucap Shezie, menatap wanita itu.


“Tentu saja aku sangat mengenalnya, mengenal luar dalam, sampai dibalik pakaiannyapun aku sangat kenal,” kata Yulia, sambil tersenyum.


“Apa? Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” tanya Shezie, terbelakak kaget dengan ucapannya Yulia.


Yulia merasa senang melihat wajah pucat calon istrinya Martin itu.


***********