Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-100 Kehamilan Shezie



Shezie menatap tajam Yulia.


“Katakan ada hubungan apa kau dengan Martin? Tadi aku mendengar pembicaraan kalin berdua,” kata Shezie.


“Kau menguping? tanya Yulia.


“Kau pacarnya Martin? Jadi selama ini kau pacaran dengan Martin?” tanya Shezie.


“Aku bingung harus bilang apa. Yang pasti aku selalu menemaninya jika dia membutuhkan seseorang untuk menemaninya. Kau fahamkan maksudku? Karena kau sebagai tunangannya sama sekali tidak peduli padanya, kau malah menikah dengan pria lain,” jawab Yulia.


Sheziepun terdiam, ternyata Yulia tahu betul hubungannya dengan Martin seperti apa. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia akan meminta Yulia untuk menjauhi Martin? Kepalanya terasa begitu berat, kepalanya semakin berkunang-kunang.


“Bukan kau saja kan wanita yang dikencani Martin?” tanya Shezie.


“Mungkin saja, dia kan punya uang,” jawab Yulia.


Bukan Shezie merasa cemburu Martin berkencan dengan wanita lain, karena dia memang tidak mencintai Martin, hanya saja, dia merasa bingung, mau seperti apa pernikahannya nanti kalau menikah dengan Martin? Kebiasaannya yang tidur dengan banyak wanita pasti tidak akan mudah dihentikan. Kepalanya semakin berat saja memikirkan semua itu. Apakah dia harus menuntut Martin supaya meninggalkan wanita-wanita itu dan setia padanya?


Shezie benar-benar merasakan pandangannya  semakin redup dan gelap gulita.


“Hei, kau tidak apa-apa?” tanya Yulia, kaget melihat Shezie bersandar ke tembok.


“Hei!” serunya lagi. Tiba-tiba wanita yang sedang bicara dengannya itu terjatuh kelantai.


“Hei kau kenapa?” teriaknya, sambil segera masuk ke toilet menghampiri tubuh Shezie yang tergeletak dilantai.


Martin yang sedang menyusul ke toilet, segera berlari saat mendengar Yulia beteriak dan berlari masuk kedalam toilet wanita.


Martin menyusul masuk ke toilet wanita. Dilihatnya Yulia mencoba membangunkan Shezie.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Martin.


“Aku tidak tahu, dia hanya tiba-tiba pingsan saja,” jawab Yulia.


“Kau pasti mengatakan sesuatu kan? Sudah aku katakan, tutup mulutmu!” maki Martin membuat Yulia kesal dan balas membentak Martin.


“Kalau iya kenapa? Aku kesal kau akan menikah dengannya! Kau mencampakkanku!” teriak Yulia.


“Kita tidak pernah ada komitmen apa-apa, aku juga memberimu uang yang banyak! Buat apa aku menikahimu? Kau hanya wanita murahan!” Martin balik memaki Yulia.


“Plak!” sebuah tamparan mendarat dipipinya Martin.


“Kau pria brengsek! Aku yakin pernikahanmu tidak akan berhasil!” maki Yulia sambil berdiri.


Martin akan menarik tangan Yulia tapi dia terkejut saat melihat dipintu toilet sudah berdiri teman-temannya menonton mereka. Bahkan Ronipun ada, dia hanya menatap Yulia tidak mengerti.


Yulia bergegas pergi keluar dari toilet itu menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya.


“Martin! Bawa Shezie keruangan lain, kita panggil Dokter!” seorang pria menghampiri Martin.


“Iya Gio., maaf aku mengacaukan acara pertunanganmu,” kata Martin.


Diapun segera mengangkat tubuhnya Shezie dibawa ke ruangan lain digedung itu.


Tidak berapa lama seorang Dokter yang dipanggil Gio segera datang dan memeriksa Shezie didalam ruangan itu. Martin dan teman-temannya menunggu didepan pintu.


Saat Dokter selesai memeriksa dan keluar dari ruangan tempat Shezie diperiksa, Martin langsung menghampiri, begitu juga teman-temannya.


“Bagaimana Dok? Saya calon suaminya,” tanya Martin.


“Jangan khawatir, ada kemungkinan pasien sedang hamil, untuk lebih pastinya silahkan dibawa ke Dokter kandungan bisa melakukan USG disana,” kata Dokter itu, sambil memberikan sebuah kertas rujukan ke Dokter kandungan pada Martin yang menerimanya dengan terbengong-bengong, ternyata Shezie sedang hamil. Itu artinya bayi yang dikandung Shezie adalah bayinya Henry.


“Sial! Kenapa Shezie sampai hamil segala?” umpatnya dalam hati.


Tentu saja keterangan Dokter itu terdengar jelas oleh teman-teman Martin yang tampak kebingungan. Tadi mereka mendengar perkataan Yulia dan Martin kalau mereka ada hubungan tapi ternyata yang hamil Shezie.


Semua mata menatapnya.


“Kenapa kalian menatapku? Kalian juga sudah biasa tidur dengan wanita kan?” hardik Martin lalu masuk kedalam ruangan itu.


Martin merasa kesal dengan kehamilan Shezie yang diluar perhitungannya. Belum dia juga malu oleh teman-temannya, apalagi kalau sampai temannya tahu bayi itu bukan bayinya.


Martin menghampiri Shezie yang baru siuman dan terduduk disofa panjang itu sambil memegang kepalanya.


“Kepalaku sangat pusing,” keluh Shezie.


Martin berdiri menatapnya dengan tajam. Shezie melihat ke seluruh ruangan lalu menoleh pada Martin.


“Kenapa aku ada disini? Bukankah tadi aku sedang di toilet?” tanyanya kebingungan.


Martin tidak menjawab, dia berjalan mendekat dan tiba-tiba tangannya mencengkram rahangnya Shezie dengan keras, membuat Shezie terkejut dan kesakitan.


“Martin!” ucapnya sambil menahan sakit.


Martin semakin kuat mencengkram rahangnya, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Shezie.


“Lama-lama aku muak melihatmu! Sok cantik! Sok jual mahal! Padahal tetap saja kau wanita murahan,” makinya.


“Martin, kau ini bicara apa?” tanya Shezie, tangannya memegang tangan Martin yang mencengkram rahangnya.


“Lepaskan!” kata Shezie, sambil menahan sakit.


“Kau mempermainkanku lagi! Kau membuatku malu!” maki Martin dengan nada ditahan karena tidak mau sampai terdengar oleh teman-temannya yang mungkin saja masih diluar.


Shezie semakin tidak mengerti dengan sikap Martin itu.


“Martin,ada apa denganmu?” tanya Shezie.


“Kau menyakitiku!” lanjutnya sambil meringis.


Akhirnya Martin melepaskan cengkramannya, gawat juga jika Shezie berteriak dan terdengar olah teman-temannya.


“Kita akan menikah dan ternyata kau malah hamil!” bentak Martin.


Tentu saja Shezie terkejut mendengarnya, dia menatap Martin dengan tidak percaya.


“Apa? Aku hamil?” tanya Shezie, sambil memegang perutnya.


Martin melempar kertas kearah Shezie yang tadi diberikan Dokter itu.


“Itu rujukan ke Dokter kandungan!” kata Martin dengan marah yang tertahan.


Shezie segera mengambil kertas itu. Dia benar-benar kaget saat membacanya, ada perasaan yang berkecamuk tidak  jelas dalam hatinya. Ternyata dia hamil, dia hamil bayinya Henry! Ada bahagia yang muncul dihatinya, dia mengandung bayi dari pria yang dicintainya. Matanya langsung berkaca-kaca, tangannya kembali menyentuh perutnya.


“Jangan drama! Ayo kita pulang! Urusan kita belum selesai!” maki Martin, tiba-tiba menarik tangan Shezie supaya turun dari sofa panjang itu.


Shezie terkejut dengan sikap kasarnya Martin. Pria itu benar-benar kasar, hampir saja dia terjatuh kelantai.


“Martin! Lepaskan!” teriak Shezie.


Mendengar Shezie berteriak, Martin melepaskannya, dia tidak mau teman-temannya mendengarnya.


“Ayo pulang!” ajak Martin, sambil membuka pintu ruangan itu.


Shezie mengikutinya dengan lesu. Dari waktu ke waktu Martin semakin memperlihatkan sifat buruknya. Dia tidak sanggup hidup bersama pria kasar seperti ini.


Kepala Shezie kembali terasa pusing matanya berkunang-kunang dia belum benar-benar sadar tapi Martin menariknya sekeras itu tadi. Diapun memaksakan diri mengikuti langkah Martin keluar dari gedung itu. Mereka lewat jalan belakang tidak berpamitan lagi pada Gio yang bertunangan malam itu.


Martin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Shezie sampai merasa takut karenanya.


“Martin! Apa yang kau lakukan? Kenapa aku ngebut dijalanan?” teriak Shezie, diapun menjerit saat mobil itu hampir saja menabrak sebuh motor di depannya.


Tidak terasa airmata menetes dipipinya. Rasanya dia benar-benar tidak sanggup kalau harus menikah dengan pria ini. Apa yang harus dikatakannya pada ibunya? Ini adalah impian ibunya untuk melihatnya menikah dengan Martin, apalagi ternyata dia sekarang sedang hamil anaknya Henry.


Shezie kembali berteriak kaget saat mobil itu tiba-tiba mengerem mendadak, hampir saja dia menabrak dashboard kalau tidak segera berpegangan.


Martin memiringkan tubuhnya menatap Shezie.


“Kau harus menggugurkan kandunganmu!” ucap Martin, membuat Shezie terkejut.


“Kau ini bicara apa? Aku tidak mau melakuannya!” kata Shezie.


“Aku tidak mau menikahi wanita yang sedang hamil!” teriak Martin.


“Sudah aku rugi mendapatkanmu jadi janda, kau hamil lagi!” bentaknya lagi.


“Aku sudah mengatakan dari awal aku dan Henry sudah serius menjalani pernikahan kami!” kata Shezie.


“Bulsyit dengan semua itu!” teriak Martin lagi, wajahnya benar-benar memerah karena marah. Diapun kembali menatap Shezie.


“Pokoknya kau harus menggugurkannya atau..” ucap Martin terpotong.


“Atau apa? Kau akan mengancamku memasukkanku ke penjara?” tanya Shezie.


“Tidak, tapi aku akan menuntut ibumu, biar ibumu tidak perlu keluar negeri dan mati membusuk dipenjara!” kata Martin.


“Jangan berani menyentuh ibuku!” teriak Shezie.


“Tentu saja akan aku lakukan, aku sudah muak padamu!” maki Martin lagi.


“Kau gugurkan kandunganmu atau ibumu masuk ke penjara, itu harus kau pilih!” kata Martin.


Mendengar perkataan Martin itu membuat Shezie merasakan sesak didadanya.


“Terserah kau mau mengatakan apa, pokoknya aku tidak akan menggugurkan kandungun ini!” teriak Shezie.


Martin terdiam, wajahnya semakin garang saja.


“Turun!” hardiknya.


“Apa?” tanya Shezie terkejut.


“Kataku turun! Turun!” bentak Martin.


Sheziepun segera meraih tasnya lalu turun dari mobilnya Martin. Begitu dia turun, Martin menjalankan mobilnya dengan cepat. Shezie hanya menatapnya dengan airmata kembali tumpah dipipinya.


Dia tidak mungkin membiarkan ibunya dituntut oleh keluarga Martin, tapi dia juga tidak mau kalau harus menggugurkan kandungannya. Dia begitu bahagia mendapatkan buah cintanya dengan Henry. Airmatapun semakin tumpah tidak tertahankan.


Shezie berjalan di jalanan kota dengan hati yang hancur porak poranda. Saat ada taxi lewat, diapun menyetopnya dan menyebutkan alamat rumahnya. Dia harus segera pulang, karena dia juga khawatir dengan kondisi ibunya yang sedang drop dan akan dia bawa ke rumah sakit besok pagi.


**********