Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-64 Cinta yang terpendam



Pagi ini Damian sudah rapih dengan memakai kemejanya, dia tidak menggunakan jas, karena dia tidak akan ke kantor hari ini. Dilihatnya Hanna masih tidur ditempat tidur sendirian. Kenapa sendirian? Karena gara-gara insiden handphone nyelip di sofa, Hanna tidak mau tidur dengannya jadi terpaksa Damian yang tidur di sofa.


Damian menatap Hanna yang masih tidur. Marahan seperti itu seperti suami istri beneran. Diapun tersenyum dan duduk disamping Hanna yang masih terlelap. Baru saja dia meminta bagian keuangan untuk mentransfer uang 40M untuk wanita ini. Uang yang sangat banyak tapi dia tidak peduli. Kebahagian wanita ini segalanya baginya. Segalanya?


Disentuhnya rambutnya dengan lembut, dibelainya berulang-ulang. Dari hari ke hari dia merasa semakin menyayanginya. Dia tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti dia akan berpisah dengan wanita ini, hidupnya akan hampa tanpa kehadirannya disisinya.


Disentuhnya pipinya yang terasa dingin, pindah ke hidungnya yang mancung, dia tidak kuat untuk tidak menyentuh bibirnya dengan jarinya. Diapun perlahan mendekatkan wajahnya akan menciumnya tapi terhenti saat menyadari sesuatu. Kalau Hanna tahu dia menciumnya dia harus membayar lagi 40M. Sepertinya dia akan bangkrut sebelum menikahi Hanna. Diapun tersenyum mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan Hanna. Benar-benar konyol dia selalu bersama-sama dengan wanita yang sebenarnya tidak dia ketahui asal usulnya.


“Aku mencintaimu,” ucapnya tiba-tiba. Damian agak terkejut dengan ucapan yang terlontar tiba-tiba itu. Apakah benar dia mencintainya? Dia terpaku sesaat. Apa yang barusan dia ucapkan? Cinta? Dia mencintai Hanna? Benarkah dia mencintai Hanna? Bisakah kata-kata itu dia ucapkan saat Hanna tersadar dan dia memberikan cincin lamaran untuknya? Cukup lama Damian terdiam.


“Jangan katakan kalau kau akan menciumku, Damian,” tiba-tiba Hanna terbangun, membuka matanya dan menatapnya. Damian terkejut. Bukan terkejut Karena ketahuan akan menciumnya, tapi terkejut apakah Hanna mendengar apa yang dikatakannya? Dia sadar karena Hanna punya pengalaman buruk dengan pernikahan, Hanna pasti tidak akan dengan mudah menerima lamarannya.


Wanita itu masih menatapnya. Sebenarnya wajah mereka berdekatan seperti ini membuat jantung Hanna berdebar kencang dan merasakan kegugupan yang amat sangat. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika Damian benar-benar menciumnya.


“Aku masih punya 40M untuk menciummu,” ucap Damian, tatapannya sangat lembut, membuat Hanna tertawa.


“Kau sangat lucu, kau akan jatuh miskin jika melakukannya,” ucap Hanna.


Tapi ternyata Damian tidak tertawa, sepertinya dia tidak merasa guyonannya itu lucu membuat Hanna diam. Ada apa dengan pria ini? Dia masih menatapnya. Damian tidak bicara apa-apa, dia hanya menatap mata cantik wanita itu. Hatinya yang bicara, dia mencintainya, ya dia mencintainya, ternyata aku mencintaimu Hanna, batinnya.


“Kau kenapa? Kau baik-baik saja?” tanya Hanna, kebingungan, karena dengan wajah yang berdekatan seperti ini tapi Damian tidak bergerak sedikitpun bahkan tidak bicara atau berekspresi apa-apa.


“Cepatlah mandi, kita akan melakukan perjalanan,” ucap Damian dengan lirih hampir berbisik. Dug dug dug dug jantung Hanna bertalu talu. Pria itu bicara sangat lirih, membuatnya merinding. Ko merinding? Emang hantu? Iya kau memang hantu Damian. Kau hantu yang selalu bergentayangan di dalam hatiku.


“Kita akan pergi?” tanya Hanna dengan pelan, jadi ikut-ikutan terbawa suasana, menatap mata pria itu.


Damian mengangguk.Tangannya kembali mengusap rambut Hanna. Pria ini bersikap begitu lembut, membuatnya merasa nyaman dan merasa disayang.


“Iya,bersiap-siaplah,” ucapnya dengan mesra. Mesra? Hanna mengerjapkan matanya. Pria ini bicara dengan mesra? Tiba-tiba Damian mencium keningnya, membuat Hanna terkejut lagi. Tapi dia tidak bicara apa-apa, hanya sedikit bingung dengan sikap Damian pagi ini.


“Ayo bersiap-siaplah, aku tunggu di meja makan,” kata Damian, melepas belaian tangannya dirambut Hanna, lalu bangun dari duduknya.


Hanna terdiam, apa dia tidak salah dengar tadi? Damian mengatakan mecintainya? Dia pura-pura tidak mendengar tadi. Dia sengaja supaya Damian tidak tahu kalau dia mendengar ucapannya. Dia takut, ya dia takut, hubungan ini tidak akan menghasilkan apa-apa, yang ada hanya kekecewaan keduanya. Hanna tidak tahu apakah suatu hari nanti dia akan kembali kepada orangtuanya, menikah dengan Cristian dan meninggalkan Damian untuk selamanya.


“Aku juga mencintaimu,” ucapnya dengan lirih, ada butiran bening menetes di pipinya. Dia


masih berbaring memeluk selimutnya.


Dibalik pintu Damian terdiam mendengar apa yang diucapkan Hanna. Seperti dugaannya Hanna mendengar apa yang dia katakan dan wanita itu pura-pura tidak mendengarnya. Dia sudah menduga semua ini akan sangat berat buat Hanna. Wanita itu tidak akan dengan mudah menerima lamarannya meskipun dia mencintainya.


Di meja makan, tampak hening tidak ada yang bicara. Satria melirik kakaknya kemudian melirik kakak iparnya, mereka tidak bicara, apakah mereka sedang bertengkar? Tapi sepertinya tidak, hanya mereka diam saja, Satria terus menebak-nebak. Hingga selesai makanpun mereka tidak bicara. Ny.Sofia tampak tidak ikut sarapan pagi ini.


“Aku duluan, kau makanlah yang banyak,” ucap Damian, tangannya mengusap punggung Hanna. Lagi-lagi Satria menatap mereka. Ada apa dengan mereka? Membuatnya bingung saja.


Setelah Damian pergi, Satria tidak bisa membendung rasa keponya.


“Kakak ipar, apa yang terjadi pada kalian? Apa kalian bertengkar? Kakakku masih marah soal ayunan itu? Dia menyuruh orang untuk menyimpannya di gudang,” kata Satria.


“Apa? Ayunan itu disimpan di gudang?” tanya Hanna. Satria mengangguk.


“Sepertinya dia cemburu. Baru sekarang aku melihatnya seperti itu,” jawab Satria.


“Maksudmu apa?” tanya Hanna.


“Sepertinya kakakku benar-benar mencintaimu,” gumam Satria.


“Kau ini bicara apa? Aku istrinya tentu saja dia mencintaiku,” kata Hanna.


Satria malah tertawa.


“Kau memang suka menggodaku, apa tidak kau lihat dia marahnya seharian karena kau mendorong ayunannya,” ucap Hanna.


Lagi-lagi Satria tertawa.


“Soalnya aku baru tahu kalau dia cemburuan,” jawab Satria. Hanna terdiam.


“Mulai sekarang aku tidak akan dekat-dekat denganmu lagi, aku takut kakakku marah,” ucap Satria.


“Bagus kalau begitu,” kata Hanna. Lagi-lagi Satria tertawa.


Hanna selesai makannya. Dia berdiri Satria juga berdiri.


“Kau selesai juga?” tanya Hanna.


“Tentu saja, kakakku bisa marah kalau aku berlama-lama ,” jawab Satria.


“Maksudmu kau akan ikut pergi dengan kami?” tanya Hanna.


“Apa maksudmu ke pantai?” tanya Hanna, terkejut, dia tidak tahu kalau perjalanan hari ini adalah ke pantai untuk meninjau proyek real estatenya Damian. Kepalanya rasanya mau pecah mengetahui hal ini. Dia harus memikirkan lagi cara untuk tidak bertemu Cristian, tapi bukankah kalau ke pantai dia bisa melihat orangtuanya? Ya dia akan melihat ayah ibunya dari kejauhan, karena dia tidak mungkin langsung menemui mereka. Cuma kalau dengan Satria ikut juga, masalah akan semakin rumit, karena adik iparnya ini sangat kepo pasti akan sangat merepotkannya.


Hanna segera kembali ke kamarnya, dia akan mengambil tasnya. Ternyata Damian ada dikamarnya dia sedang melihat sesuatu di dompetnya.


Damian menatap foto didalam dompetnya, dia merindukan ibunya. Dia ingin jika dia bisa menikahi Hanna nanti dia sudah bisa menemukan ibunya. Dia ingin ibunya melihat pernikahannya.


“Kau merindukan ibumu?” tanya Hanna.


“Iya,” jawab Damian.


Hanna terdiam, dia pergi mengambil tasnya.


“Aku berharap sebelum aku menikah nanti aku sudah menemukan ibuku, aku ingin ibuku menyaksikan aku menikah,” kata Damian.


Hanna terdiam. Pernikahan? Damian membicarakan pernikahan?


“Kita akan pergi ke pantai?” tanya Hanna.


“Iya,” jawab Damian sambil menutup dompetnya.


“Satria ikut?” tanya Hanna lagi.


“Iya, dia sudah janji dengan Cristian, jika aku ke pantai dia akan ikut,” jawab Damian.


Hanna tidak bicara lagi. Damian menoleh ke arahnya.


“Apa kau sudah siap?” tanya Damian. Hanna mengangguk.


“Ayo,” ajak Damian, berjalan mendekat dan meraih tangannya, membuat Hanna gugup. Bukankan Damian sudah terbiasa main drama bersikap mesra padanya? Beda rasanya kali ini, Hanna tahu pria itu mencintainya, dia tahu sikapnya itu karena Damian mencintainya bukan drama-dramaan lagi.


Tapi Hanna tidak bicara apa-apa, hanya mengikuti langkahnya Damian yang menuntun tangannya.


Diluar Satria sudah siap. Melihat kakak dan kakak iparnya bergadengan tangan, membuatnya tanda tanya. Bukan karena belum melihat mereka mesra, Cuma mesra kali ini, dengan sikap merekanya yang saling diam. Kalau mereka bertengkar pasti tidak akan saling berpegangan tangan. Membingungkan.


Satria duduk dibelakang kemudi. Damian membukakan pintu mobil untuk Hanna.


“Masuklah,” ucap Damian. Hanna segera masuk, menyusul Damian masuk, duduk disamping Hanna.


“Kau tidak duduk di depan?” tanya Hanna pada Damian.


“Dia jadi supir kali ini,” jawab Damian.


Hanna tertawa sambil menoleh kearah Satria.


“Baik Tuan, Hamba akan mengantar kemanapun Tuan dan Nyonya akan pergi,” ucap Satria.


Hanna tertawa lagi. Tapi segera dihentikan tawanya saat melihat Damian diam saja. Entah merasa candaan Satria tidak lucu, entah apa. Ah tak taulah.


Mobilpun melaju meninggalkan rumahnya Damian.


Perjalanan ke pantai sangat lumayan jauh. Duduk di mobil berjam jam sangat membosankan. Hanna mengatur-atur kursinya supaya dia bisa berbaring.


“Kau mau apa?” tanya Damian.


“Aku lelah mau sedikit rebahan, perjalanan masih jauh,” jawab Hanna.


Damian mendekatinya, tangannya malah menegakkan lagi kursinya Hanna.


“Kenapa? Aku mau berbaring,” kata Hanna, menoleh pada Damian.


Tanpa menjawab pertanyaan Hanna, tangan Damian menarik tubuh Hanna supaya berbaring dipangkuannya. Hanna terkejut dibuatnya, kepalanya jatuh ke pangkuannya Damian. Dilihatnya Satria tersenyum mengejek, dia balas mencibir adik iparnya itu.


Cibirannya hilang saat sebuah tangan membungkam mulutnya. Ternyata pria ini tidak suka dia berakrab-akrab dengan Satria.


Hannapun diam, berusaha senyaman mungkin tidur dipangkuannya Damian.


Sekarang semuanya sudah serba terbalik. Dulu dia yang memeluk Damian, tapi sekarang Damian yang sering memeluknya. Dulu Damian yang berbaring dipangkuannya jika mengigau, sekarang dia yang berbaring dipangkuan Damian.


Hannapun mencoba memejamkan matanya, meskipun adik iparnya masih suka menggodanya. Pura-pura membunyikan klakson padahal tidak ada apa-apa yang perlu di klakson. Lagi pula klaksonnya tidak terdengar kedalam. Dasar adik ipar kepo. Hannapun mengabaikannya.


*************


Jangan lupa like vote dan komen