Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-30 Satu Kamar



Shezie melangkahkan kakinya mengikuti langkahnya Henry yang menuju kamarnya. Pria itu membuka pintu kamar langsung masuk dan akan menutup pintu kamarnya, terhenti saat melihat Shezie berdiri dipintu, diapun menatapnya.


“Apa kau akan membiarkanku tidur diluar?” tanya Shezie, balas menatap mata Henry.


Henry menghela nafas pendek, diapun membuka pintu kamarny lagi dengan enggan, Shezie langsung masuk ke kamar itu.


Brugh! Pintu kamar itu kembali ditutup Henry.


Shezie masih berdiri mematung dia bingung, apa dia sekarang benar-benar harus satu kamar dengan Henry?


“Apa aku boleh tidur di kamar tamu saja?” tanya Shezie sambil menoleh pada Henry. Pria itu sudah melepas jasnya yang dia simpan sembarang di sofa, dan sekarang membuka kancing lengan kemejanya.


“Aku juga maunya begitu, kau tidur di kamar tamu,” jawab Henry , sekarang menggulung lengan kemejanya.


“Sekarang aku mau mandi dan aku kerepotan berganti pakaian, kenapa arsitek rumah ini harus menyimpan pakaianku berjauhan dengan kamar mandi? Sangat tidak efisien,” keluh Henry, sekarang dia membuka sepatunya.


“Aku akan duduk disofa itu, jadi aku tidak akan melihatmu tidak berpakaian,” kata Shezie, dengan wajahnya yang langsung pucat, diapun buru-buru pergi ke sofa, menghadap televisi dan menyalakannya.


Henry berdiri memperhatikannya, tapi tidak bicara apa-apa, diapun segera pergi ke kamar mandi.


Mendengar suara pintu kamar mandi yang ditutup, Shezie menoleh kearah pintu, ternyata benar pria itu sedang mandi.


Shezie memindah mindah chanel yang tidak menarik baginya, karena bosan, dia melirik tasnya yang tadi dia simpan diatas sofa, diambilnya ponselnya dan melakukan panggilan ke nomor ibunya.


“Ya Bu, aku baik-baik saja,” kata Shezie, berdiri sambil menatap sebuah lukisan didinding. Tidak disadarinya Henry keluar dari kamar mandi itu tidak dengan handuk kecilnya lagi tapi menggunakan piyama handuk.


Dilihatnya gadis itu sedang menelpon seseorang, diapun berjalan melewatinya akan ke walk-in closet tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Shezie bicara dengan si penelpon.


“Apakah asisten rumah tangganya sudah datang Bu? Syukurlah kalau sudah datang, dia bisa menginap kan? Aku tenang kalau ibu ada yang menemani,” terdengar suara Shezie bicara. Henry yang mendengar pecakapan Shezie mengerutkan keningnya.


Ibu? Kenapa Shezie memanggil orang yang ditelpon itu ibu? Bukankah Shezie mengaku yatim piatu?


“Ibu jangan khawatir, aku sudah sampai di kantor travelnya. Iya, nanti kalau aku selesai tugasku aku pulang dulu menjenguk ibu,” ucap Shezie.


“Aku akan menjaga diri baik-baik, ibu juga jaga keseahtan. Dah ibu, aku sayang ibu, cup!” lanjut Shezei, sambil menutup telponnya, ada senyum dibibirnya, dia merasa tenang ibunya tidak rewel tentang keberadaannya. Diapun membalikkan badannya dan langsung berteriak saat melihat sosok yang sudah berdiri di belakangnya dari tadi.


“Aw! Kenapa kau mengagetkanku?” teriak Shezie, sambil memegang dadanya.


Henry tidak menjawab, masih menatap Shezie.


“Sejak kapan kau berdiri disitu?” tanya Shezie, meskipun Henry menggunakan piyama tetap saja dia merasa risih karena sudah menebak dibalik piyama itu pria itu tidak memakai apa-apa.


“Kau punya ibu? Katamu kau yatim piatu?” tanya Henry, menatap Shezie.


“Apa perlu kau menanyakan itu?” tanya Shezie.


“Kau benar, aku tidak perlu mengenalmu lebih jauh,” jawab Henry, lalu beranjak meninggalkan Shezie.


Melihat kepergian Henry, Shezie hanya menghela nafas panjang. Dia harus tetap ingat kalau hubungannya dengan Henry hanya sebatas rekan kerja. Keterlibatan emosional secara pribadi akan membuatnya susah lepas dari Henry, kalau sampai itu terjadi, dia akan menderita kalau sudah bercerai nanti.


Shezie kembali duduk di sofa itu, dia juga merasa lelah, tapi dimana dia akan tidur? Satu ranjang dengan pria itu? Tentu saja tidak bukan? Ah sepertinya malam ini dia tidak akan bisa tidur, dia cemas, bagaimana kalau pria itu macam-macam saat dia tidur?


Terdegar suara pintu dibuka.


“Kau tidak mandi?” tanya Henry, saat melihat Shezie hanya duduk duduk saja.


Shezie menoleh kearah Henry dan menatapnya. Pia itu sudah berpakaian menggunakan baju santai dengan kaos putih berlengan pendek memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kekar, rambutnya masih agak basah dengan air bekas dia mandi, tapi pria itu terlihat lebih segar.


“Aku nanti tidur dimana? Aku tidak mau tidur denganmu,” kata Shezie.


Henry melihat ke sekeliling kamar.


“Aku tidak suka tidur di sofa, jadi kau tidur di sofa,” jawab Henry.


Shezie menoleh kearah sofanya, untung sofanya sangat empuk jadi tidak masalah kalau dia tidur di sofa.


“Baiklah,” jawab Shezie.


“Pakaianmu sudah ada didalam, kau bisa langsung memakainya,” kata Henry,  sambil mendekati tempat tidur lalu naik dan merebahkan tubuhnya berbaring  terlentang untuk mengurangi rasa pegal dipunggungnya.


Shezie berdiri menatap Henry yang berbaring terlentang sambil memejamkan matanya. Diapun segera pergi ke walk-in closet mengambil pakaian gantinya yang sudah dikirimkan oleh butik yang dikunjunginya tadi siang.


Shezie terpaksa harus berganti  pakaian di kamar mandi, daripada harus berjalan melewati tempat tidur dari kamar mandi ke walk-in closet, apalagi ada pria itu yang sedang berbaring di tempat tidur.


Saat keluar dari ruangan itu, pria itu masih berbaring dengan satu tangan yang menopang dikeningnya. Shezie berjalan melewatinya sambil meliriknya, memastikan apakah pria itu sudah tidur atau cuma pura-pura tidur saja. Dia merasa tidak nyaman kalau harus mandi di kamar itu, jangan-jangan nanti Henry malah mengintipnya, laki-laki kan tidak  ada yang bisa dipercaya.


“Kau tidak ada kerjaan ya?” bentak Henry tiba-tiba, tanpa membuka matanya, membuat Shezie terkejut.


“Kau belum tidur?” tanya Shezie.


Henry membuka matanya menoleh pada Shezie yang berdiri disamping temat tidur dengan satu tangan memegang baju gantinya.


“Kalau kau mau mandi, mandi saja! Kenapa menggangguku?” Hardik Henry dengan kesal.


“Aku hanya memastikan kau sudah tidur atau beum?” jawab Shezie.


“Memangnya mau apa?” tanya Henry.


“Aku mau mandi,” jawab Shezie.


“Ya tinggal mandi! Tidak usah menggangguku!” hardik Henry, tambah kesal saja.


“Aku tidak nyaman kalau sementara aku mandi kau belum tidur,” jawab Shezie.


“Repot amat, aku mau tidur mau tidak, tidak ada hubungannya dengan kau mandi!” ujar Henry.


“Ada!” seru Shezie.


“Apa?” tanya Henry keheranan.


“Bagaimana kalau kau mengintip saat mandi?  Dikamar ini kan tidak ada siapa-siapa, tidak ada jaminan kalau kau tidak mengintipku, bisa saja kau pura-pura tidur kemudian mengintipku,” ucap Shezie sambil memicingkan matanya.


Henry menatap Shezie dangan tajam.


“Aku tidak setertarik itu padamu, sampai-sampai harus mengintipmu segala, tidak ada kerjaan!” umpat Henry, kemudian memiringkan tubuhnya merubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Shezie.


Mendengar jawaban Henry itu membuat Shezie memberengut, apa tidak ada kata-kata yang lebih enak didengar selain tidak tertarik? Ih! Sheziepun segera pergi ke kamar mandi.


“Awas ya kalau kau mengintip!” serunya.


Henry menutup telinganya dengan bantal, gadis itu repot sendiri! Henry kembali memejamkan matanya, menguap beberapa kali dan diapun terlelap.


Shezie masuk ke kamar mandi, kembali melihat kesekeliling memeriksa kamar mandi yang luas itu, jangan sampai ada kamera mengintai dikamar mandi itu. Setelah merasa aman,  diapun cepat cepat mandi dengan hati was-was, terus- terusan melihat ke pintu, jangan-jangan Henry mengintip di balik pintu. Meskipun katanya tidak tertarik, tapi yang namanya laki-laki kan semuanya buaya, batinnya, bisa saja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.


Setelah mandi dan berpakaian, Shezie berjalan mengendap-endap menuju pintu. Lalu pintu dibuka dengan cepat, dia bemaksud menangkap basah jika ternyata Henry sedang mengintipnya, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa dibalik pintu, hatinya menjadi lega. Perlahan kakinya keluar dari kamar mandi, dilihatnya Henry sudah tidur terlelap, hatinya menjadi lega.


“Ternyata dia sudah tidur,” gumam Shezie, menatap Henry yang terlelap


Diraihnya batal dan selimut lalu dibawa ke sofa, dia mengalah harus tidur disofa, namanya juga dia yang dibayar Henry dia tidak mungkin dengan tidak sopan tidur satu ranjang dengan pria yang memperkerjakannya.


Terpaksa dia berbaring di sofa senyaman mungkin. Sofa itu sangat lembut, bantal dan selimutnya juga sangat lembut dan harum, bukan itu saja semua ruangan ini sangat harum, nyamannya menjadi orang kaya, batinnya. Sedang merasa-rasakan nyamannya dirungan itu akhirnya Shezie pun terlelap.


Malam semakin larut…dua insan itu terlelap dalam mimpinya masing-masing. Tapi selang beberapa waktu kemudian,tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Gedebut!


Suara itu lumayan keras, membuat Henry terbangun dari tidurnya, dia duduk ditempat tidur dan melihat kesekeliling mencari arah sumber suara. Matanya terhenti pada sosok yang ada dilantai disamping sofa, ternyata gadis itu jatuh dari sofa. Shezie berusaha bangun dengan matanya yang tetap terpejam dan rambut yang acak-acakan, kembali naik ke sofa tidur berselimut.


Henry kembali merebahkan tubuhnya akan melanjutkan tidurnya, tiba-tiba.. Gedebut!


Suara itu berbunyi lagi, Henrypun terbangun, sekarang tidak terlau mecari lokasi suara, dia langsung melihat kearah Shezie, ternyata gadis itu jatuh lagi seperti yang tad,  bangun dengan mata terpejam sambil memegang selimutnya, naik lagi ke sofa dan kembali tidur.


Melihatnya, Henrypun kembali berbaring, baru juga beberapa menit suara gedebut itu berbunyi lagi membuat Henry kembali bangun. Lagi-lagi gadis itu sedang kembali naik ke sofa. Henry memberengut kesal bagaimana dia bisa tidur kalau harus menadengar Shezie jatuh terus-terusan?


Baru juga Henry akan merebahkan tubuhnya, Shezie sudah terjatuh lagi dari sofa, membuat Henry kesal. Apa yang harus dilakukannya supaya bisa tidur tenang tanpa suara gedebut gedebut lagi?


Dilihatnya Shezie kembali berbaring di sofa dan terlelap, tapi sayang gara-gara terbangun beberapa kali Henry jadi tidak bisa tidur, sudah dipastikan gadis itu akan jatuh lagi ke lantai.


Henry menghela nafas panjang lalu turun dari tempat tidurnya, menghampiri Shezie yang sudah terlelap. Diapun berjongkok menatap gadis yang tertidur lagi itu. Terdiam sesaat, mimpi apa dia harus mengalami hal seperti ini, memperistri gadis yang tidak tahu asal usulnya.


Tiba-tiba gadis itu menggeliatkan tubuhnya, sama seperti tadi, dia hampir saja terjatuh lagi kelantai kalau Henry tidak segera menangkapnya. Henry terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu dia tidak mungkin menghindar dan membiarkan Shezie terjatuh kelantai.


Berada di pelukannya Henry membuat Shezie tidak bangun, kalau tadi jatuh ke lantai dia langung bangun dan pindah lagi ke sofa, tapi jatuh ke tangannya Henry dia masih terlelap, membuat Henry tersenyum jengah.


“Kenapa jatuh ketanganku kau tidak bangun?” gumam Henry, wajah gadis itu malah menyusup kedadanya, membuatnya menahan nafas. Terpaksa Henry mengangkat tubuh Shezie perlahan, memindahkannya ke tempat tidur lalu menyelimutinya.


Henry menatap gadis yang kini berbaring di tempat tidur itu, kalau gadis itu tidur disana, dimana dia tidur? Dia tidak mungkin tidur satu ranjang dengan Shezie. Diambilnya bantal dan selimut, dengan lesu Henry pergi ke sofa, terpaksa dia yang mengalah tidur disofa.


*************