
Bu Vina menatap Henry dengan tajam. Selain telah menikahi putrinya tanpa restunya, wajah pria ini mengingatkannya kembali pada seseorang yang dia kubur-kubur dalam-dalam.
“Sebaiknya kau pergi dari sini!” usir Bu Vina pada Henry.
”Aku tidak akan pergi Bu, aku suami putrimu,” kata Henry.
“Aku tidak akan pernah merestui kalian, aku menganggap pernikahan kalian tidak pernah ada,” ujar Bu Vina.
“Tapi pernikahan kami sah, Bu,” kata Henry.
“Sah katamu? Orang tuamu saja tidak pernah datang kesini melamar putriku, kau bilang sah?” bentak Bu Vina dengan suara keras.
Tiba-tiba Bu Vina memegang dadanya lagi, rasa sakit kembali dirasanya, pandangannya semakin kabur.
“Bu, ibu istirahat saja,” kata Shezie, mendekati Bu Vina akan membantu ibunya tapi Bu Vina menolaknya.
“Jangan menyentuhku!” maki Bu Vina.
“Bu, jangan begitu aku putrimu!” ucap Shezie dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
“Kalau kau menganggap aku ibumu kan tidak akan melakukan kebohongan ini,” ujar Bu Vina.
“Bu, aku minta maaf, aku melakukannya terpaksa, karena aku ingin membawa ibu ke rumah sakit di Luar negeri, Henry mau membayarku 1 M asal aku mau jadi istri bayarannya. Asal ibu tahu hanya itu perjanjiannya tidak ada yang lain. Aku hanya ingin ibu sembuh,” kata Shezie, mencoba menjelaskan.
Bu Vina terkejut mendengarnya, tapi tetap saja dia tidak suka putrinya membohonginya.
“Aku sudah mengatakan berkali-kali aku lebih baik mati daripada mendapatkan uang dari hasil yang tidak benar!” kata Bu Vina.
“Sungguh Bu, perjanjiannya cuma itu, aku bukan jual diri Bu,” ucap Shezie, airmatanya sudah menganak sungai dipipinya.
Martin terdiam mendengar penjelasannya Shezie, pria ini ternyata membayar Shezie 1M, gila! Bagaimana Shezie tidak memilih melanjutkan pernikahannya dengan Henry, hanya jadi istri pura-pura saja bayarannya 1M! Ternyata pria itu benar-benar kaya, dia sih ogah harus bayar wanita yang cuma pura-pura jadi istrinya dengan bayaran semahal itu, ga ada untungnya, yang ada buntung.
“Oh jadi begitu? Ternyata benar kau merendahkan dirimu demi uang!” ujar Martin mulai mengompori lagi.
“Diam kau! Kau hanya membuat ibuku tambah marah saja!” maki Shezie.
Martin tersenyum, memang itu yang di inginkannya, dia ingin Henry dan Shezie terlihat salah dimata Bu Vina.
Henry mendekati Bu Vina.
“Bu, aku suami putrimu sekarang, aku akan membawa ibu berobat keluar negeri seperti yang Shezie mau, aku mau membantu pengobatan ibu sampai ibu sembuh,” kata Henry.
Bu Vina menatap Henry dengan tajam, seakan dia sedang berhadapan dengan pria yang mirip dengan Henry dimasa lalu.
“Simpan saja uangmu, aku tidak butuh uangmu! Pria kaya mentang-mentang punya uang suka memperlakukan orang lain seenaknya,” maki Bu Vina, kata-kata yang seakan ingin dia ucapkan pada prianya di masa lalu itu.
Henrypun kembali diam, ternyata sulit bicara dengan ibunya Shezie.
Bayangan masa lalu kembali melintas di kepalanya Bu Vina, kenapa dia harus melihat pria yang mirip dengan seseorang yang sudah dia kubur dalam-dalam itu malah sekarang bersama putrinya? Sering melihatnya seakan mengungkit lagi rasa sakit dihatinya.
Bu Vina merasakan kepalanya semakin berat, pandangannya semakin kabur, tangannya menggapai-gapai mencari pegangan, Bi Ijah langsung membantunya masuk.
Shezie hanya mematung melihat ibunya masuk. Dia sedih ibunya masih marah padanya. Henry merasa kasihan melihat Shezie diperlakukan seperti itu oleh ibunya.
Diapun menghampiri Shezie menyentuh tangannya, menatapnya sambil tersenyum memberi semangat.
“Heh, sebaiknya kau pergi, Tuan rumah disini tidak menginginkan kehadiaranmu!” usir Martin pada Henry.
Henry tidak memperdulikan perkataaan Martin.
“Sayang, ayo kita pulang!” ajak Henry pada Shezie.
“E e apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh seenaknya membawa tunanganku!” teriak Martin.
Henry menoleh pada Shezia, lalu menarik tangan Shezie, mengeluarkan cincin yang ada dijari tengahnya Shezie. Kemudian dia meraih tangannya Martin dan menyimpan cincin itu ditangan Martin.
“Aku kembalikan cincin pertunanganmu, jadi istriku bukan tunanganmu lagi,” kata Henry.
Martin menatap cincin yang ada di tangannya, cincin pertunanganya itu.
“Apa-apan ini? Aku tidak terima cincin ini dikembalikan!” maki Martin.
“Pertunangan kalian sudah putus,” kata Henry.
“Tidak bisa!” maki Martin.
Martin mendekati Shezie dan meraih tangannya Shezie tapi di halangi oleh Henry.
“Sayang, pakai lagi cincinnya, ibumu akan marah,” kata Martin, menjual nama ibu Shezie.
“Istriku bukan tunanganmu lagi, camkan itu!” bentak Henry, dia kesal Martin memaksa terus.
“Ayo sayang, kita pulang,” kata Henry.
“Tidak Henry, aku harus bicara dengan ibuku,” ucap Shezie.
“Sekarang ibumu sedang marah, besok kita kembali lagi,” kata Henry.
Akhirnya Sheziepun mengangguk, dia masuk ke dalam mengambil tasnya. Saat akan keluar dia dihadang oleh Martin.
“Sayang! Bagaimana dengan cincin ini? Kau pakai lagi, ibumu akan marah!” kata Martin, dia akan meraih tangan Shezie tapi keburu tangan itu diambil Henry.
“Jangan memaksa istriku!” bentak Henry, sambil menarik tangannya Shezie keluar dari rumah itu.
“Sayang! Tunggu!” teriak Martin, berusaha mengejar.
Tapi Shezie sama sekali tidak menoleh, dia mengikuti langkahnya Henry pergi menuju mobilnya yang di parkir dipinggir jalan. Henry membukakan pintu mobil itu, Sheziepun masuk.
Henry segera menjalankan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumahnya Shezie, tidak dipedulikannya Martin terus memanggil manggil Shezie.
Akhirnya Martin menghentikan langkahnya, menatap cincin ditangannya dengan bingung, apa artinya pertunangan mereka sudah putus? Tidak, tidak bisa, dia tidak akan membiarkan Shezie bahagia dengan pria itu.
Martinpun kembali masuk ke rumah Shezie, dilihatnya Bu Vina hanya duduk dipinggir tempat tidur menahan sakit kepala yang di rasanya. Pandangannya semakin gelap, bahkan saat Martin berdiri di pintu kamarnya, Bu Vina tidak tahu apakah itu Martin atau orang lain, untung saja dia hafal dengan suara Martin.
“Bu, apa kau tahu yang dilakukan Shezie padaku?” tanya Martin.
“Apa?” tanya Bu Vina, matanya hanya melihat bayang-bayang hitam yang berdiri dipintu.
“Pria itu mengembalikan cincin pertunangan ku dengan Shezie,” kata Martin, memperlihatkan cincin ditangannya tapi Bu Vina tidak melihatnya.
“Jadi Shezie pergi?” tanya Bu Vina.
“Iya, dia dibawa pria tidak tahu malu itu,” jawab Martin.
Bu Vina benar-benar kesal pada putrinya, dia sangat marah. Jelas-jelas dia tidak merestui pernikahannya dengan Henry, sekarang malah pergi lagi dengan pria itu.
“Kau tenanglah, aku tidak akan pernah merestui pernikahan mereka. Kau harus yakin Shezie tetap akan menikah denganmu,” kata Bu Vina.
“Iya Bu, aku akan bersabar menunggu Shezie. Persiapan pernikahanku sedang dikerjakan Bu, jangan sampai aku malu tidak jadi menikah dengan Shezie,” ujar Martin, sengaja membuat Bu Vina merasa tidak enak hati.
“Kau sabarlah, aku yakin besok Shezie akan kembali lagi,” ujar Bu Vina, kini pandanganya sudah gelap gulita.
“Baiklah, aku sangat mengandalkan Ibu, Ibu sudah aku anggap seperti ibuku sendiri,” kata Martin.
“Iya nak, kau bersabar ya,” ucap Bu Vina.
“Baiklah Bu, aku pulang dulu,” kata Martin.
“Iya,” jawab Bu Vina, Martin membalikkan badannya saat Bu Vina batuk-batuk.
Diapun menoleh dan mengerutkan keningnya saat melihat Bu Vina menggapai-gapaikan tangannya mencari sesuatu ke meja yang dekat tempat tidur itu yang tidak jauh dari tempat duduknya, sepertinya mencari gelas minum.
Martin kembali mengerutkan keningnya, dia berjalan mendekat sangat pelan, tangannya melambai-lambai di depan wajahnya Bu Vina, dan Bu Vina diam saja, ternyata penyakit kankernya Bu Vina semakin parah, matanya Bu Vina tidak bisa melihat, seperti yang sudah diberitahukan oleh Dokter Arfan. Diapun tersenyum. Dia yakin kalau Shezie melihat kebutaan ibunya, dia tidak akan lagi menolak menikah dengannya.
Henry membawa Shezie pulang kerumahnya. Wajah istrinya itu terlihat memerah, matanya sembab, dia menangis terus sepanjang jalan.
“Sudahlah, jangan menangis terus,” kata Henry, membawa Shezie duduk di sofa diruang keluarga.
“Bagaimana aku tidak sedih, ibu marah padaku, ibu tidak merestui pernikahan kita” kata Shezie.
Henry duduk disamping Shezie, memeluk bahunya.
“Sekarang ibumu marah, tapi sebentar lagi sudah tidak marah, tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya, apalagi kau putri satu-satunya. Ibumu hanya masih belum menerima kenyataan saja, karena cara pernikahan kita tidak benar, aku tidak melamarmu pada ibumu juga orang tuaku tidak pernah berkunjung ke rumahmu,” kata Henry.
Shezie menatap Henry.
“Orang tuaku akan pergi ke luar negeri, sekitar 2 sampai 3 minggu, kalau mereka sudah kembali, aku akan bicara pada mereka untuk melamarmu pada ibumu, jadi ibumu tidak akan marah lagi,” kata Henry. Mengusap airmata di pipinya Shezie lalu mengecup bibirnya.
“Apa yang harus aku lakukan sekaranag?” tanya Shezie.
“Kau istirahat saja di rumah, aku akan berangkat bekerja. Maaf aku tadi mengikutimu karena aku khawatir padamu,” jawab Henry.
Shezie masih menatap wajah suaminya itu. Henry memegang kedua tangan Shezie.
“Besok kita menemui ibumu lagi minta restu. Jika ibumu masih menolak, kita datang lagi besoknya, jika masih menolak juga, kita datang lagi besoknya, begitu terus sampai ibumu mau merestui pernikahan kita, kau setuju?” tanya Henry.
Shezie mengangguk sambil tersenyum, suaminya sangat pengertian, membuatnya semakin menyayanginya. Seandainya ibunya tahu betapa baiknya suaminya itu.
*******