Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-14 H-1



Setelah dari restaurant itu Shezie pergi menuju rumah sakit. Dilihatnya ibunya terlihat lebih segar sekarang.


“Bagaimana hari ini? Apa ibu merasa lebih baik?” tanya Shezie.


Ibunya yang sudah bisa duduk dengan bersandar, menatapnya sambil tersenyum.


“Sudah lebih baik, sepertinya dua hari lagi ibu bisa pulang dan rawat jalan,” jawab ibunya, dia memikirkan berapa uang yang harus dikeluarkan Shezie tiap harinya jika terus terusan berada dirumah sakit.


“Aku senang mendengarnya,” kata Shezie, sambil mencium pipi ibunya.


Ibunya menatapnya melihat Shezie lebih pendiam dari biasanya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya ibunya.


“Aku baik-baik saja,” jawab Shezie sambil tersenyum. Padahal dalam hatinya dia memikirkan perkataannya Henry, dia bukannya tidak sakit hati dimarahi orang ditempat umum, dimaki dengan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan, tapi hanya itu cara dia mendapatkan uang banyak dengan cepat untuk biaya pengobatan ibunya yang sangat besar.


Ditatapnya ibunya yang sedang memperhatikannya.


“Bu, dua hari besok aku ada pekerjaan di café cabang tempatku bekerja, jadi aku tidak pulang,” kata Shezie, padahal besok adalah hari pernikahannya dengan Henry.


Seandainya itu adalah hari pernikahan yang sebenarnya dia ingin memberitahukannya pada ibunya, tapi ini adalah hari pernikahan pekerjaannya bukan pernikahan yang sebenarnya.


“Diluar kota?” tanya ibunya.


“Iya. Besok aku tidak bisa menjenguk ibu,” jawab Shezie berbohong, di hari pernikahan pasti dia akan sibuk seharian berada dipelaminan.


“Kau tinggal dimana?” tanya ibunya.


“Di mes yang sudah disediakan kantorku, bersama teman-teman,” jawab Shezie.


Ibunya masih menatapnya, Shezie memalingkan muka mencoba menghindar dari tatapan ibunya karena dia telah berbohong.


“Kau belum cerita kau mendapatkan uang dari mana untuk biaya ibu kemo?” tanya ibunya.


“Kebetulan uangku sudah terkumpul, cukuplah untuk biaya kemo sekarang, mudah-mudahan ibu bisa cepat sembuh dan tidak perlu ada kemo kemo selanjutnya,” kata Shezie sambil tersenyum.


Dalam hati Shezie merasa bersalah karena sudah berbohong pada majikannya Henry dengan bilang dia yatim piatu padahal ibunya masih hidup.


“Terima kasih sayang, kau sudah sangat membantu ibu,”ucap ibunya.


Shezie tersenyum dan kembali menghampiri ibunya lalu memeluknya.


“Semoga kelak kau mendapatkan pria yang tepat untukmu, yang menyayangimu. Jadi kalau ibu sudah tidak ada, ada yang menjagamu,” ucap ibunya sambil mengusap rambut putrinya.


“Ibu jangan bicara begitu,” kata Shezie. Ibunya masih membelai rambut Shezie.


“Bu!” panggil Shezie.


“Apa sayang?” tanya ibunya.


“Bagaimana rasanya menikah?” tanya Shezie.


“Menikah?” Ibunya balik bertanya.


 Shezie mengangguk, masih menyandarkan kepalanya di dada ibunya.


“Tentunya kita akan merasa bahagia jadi pengantin, karena kita akan mengikat janji dengan pria yang kita cintai,” jawab ibunya.


Mendengar jawaban ibunya membuat Shezie terdiam. Besok adalah hari pernikahannya, apakah dia akan bahagia?


“Pernikahan itu sakral sayang, Jangan sesekali mempermainkan pernikahan. Kau harus menjaga pernikahan dengan baik, jangan sampai terpisah, biar maut saja yang memisahkan,” kata ibunya.


“Bagaimana dengan Martin? Dia pria yang baik, dia selalu menjenguk ibu,” kata ibunya.


“Aku tidak menyukainya Bu, aku hanya menganggapnya teman,” jawab Shezie.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dipintu. Ibunya dan Shezie menoleh kearah pintu yang terbuka sedikit, ternyata yang dibicarakan sudah ada disana.


“Aku membawakan beberapa buah,” ucap Martin, sambil masuk dengan parcel buah ditangannya, lalu disimpan diatas meja.  Diapun berjalan mendekati ibunya Shezie.


“Bagaimana kabar ibu? Ibu terlihat lebih sehat! Maaf beberapa hari ini aku sibuk jadi baru sempat menjenguk sekarang,” kata Martin, bertanya pada ibunya Shezie tapi matanya melirik kearah Shezie yang diam saja mengacuhkannya.


“Terimakasih kau sangat perhatian pada ibuku,” ucap Shezie, dia tahu kebaikan Martin karena ada maunya. Jika dia mau menikah dengan Martin tidak ada jaminan pria itu akan benar-benar menyayanginya dan ibunya. Bisa jadi kebaikannya hanya rayuan belaka.


“Beberapa hari yang lalu ibu sudah di kemo, sekarang ibu merasa lebih baik menurut Dokter, dua tiga hari lagi bisa pulang rawat jalan,” kata ibunya Shezie.


Mendengar ibunya Shezie sudah dikemo membuat Martin terkejut dan menoleh pada Shezie, dia bertanya-tanya Shezie dapat uang darimana? Jangan-jangan dari pria yang menyukai Shezie? Tidak bisa, dia tidak bisa membiarkan Shezie bersama pria lain. Dari bangku kuliah dia mengejarnya, dia tidak bisa begitu saja membiarkan Shezie dengan pria lain.


“Aku ingin bicara denganmu!” kata Martin pada Shezie.


Gadis itu segera bangun dari duduknya, lalu keluar dari ruangan itu diikuti Martin.


“Kau dapat uang dari mana untuk biaya berobat ibumu?” tanya Henry saat mereka sudah diluar.


“Itu bukan urusanmu!” Jawab Shezie.


“Tentu saja jadi urusanku, aku sudah menawarimu biaya berobat ibumu tapi selalu kau tolak!” kata Martin.


“Kau sudah tahu jawabannya, aku tidak mau menikah denganmu!” ujar Shezie.


“Apa yang kau lakukan dengan pria itu?” tanya Martin tiba-tiba dengan tatapan curiga.


“Pria? Pria apa?” tanya Shezie terkejut dengan pertanyaannya Martin.


“Tentu saja pria itu! Tidak ada pria yang mau memberikan uang sebesar itu dengan cuma-cuma!” kata Martin dengan nada emosi.


“Sudah aku katakan itu bukan urusanmu!” bentak Shezie, dia kesal karena Martin selalu ikut campur urusannya.


“Kau selalu menolakku, apa kurangnya aku? Aku mau membantu pengobatan ibumu asal kau mau menikah denganku, itu lebih baik daripada kau merendahkan dirimu pada laki-laki hidung belang!” kata Martin lagi, membuat Shezie marah.


 “Jaga mulutmu! Berani-beraninya kau bicara begitu!” maki Shezie.


“Apa lagi yang bisa kau lakukan untuk mendapatkan uang sebesar itu kalau tidak melakukan hal yang seperti itu?” tuduh Martin, semakin membuat Shezie sakit hati.


“Pergi kau! Pergi!” teriak Shezie, mengusir Martin.


“Kau akan menyesal!” umpat Martin, diapun pergi meninggalkan Shezie. Dia benar-benar kesal, Shezie terus saja menolaknya, entah harus dengan cara apa lagi supaya Shezie mau menikah dengannya. Dalam hatinya semakin penasaran siapa pria yang sudah menjadi kekasih gelapnya Shezie, yang sudah memberinya bantuan kemo ibunya. Dia harus mencari tahu.


Setelah Martin pergi, Shezie duduk diruang tunggu itu dengan lesu. Tidak terasa airmatanya menetes dipipinya. Dia tidak mungkin membiarkan ibunya terus memburuk dari hari ke hari, dia tidak mau kehilangan ibunya, hanya ibunya satu-satunya yang dimilikinya.


Shezi menarik nafas panjang, dia sudah menerima uangnya Henry. Sebenarnya kalau difikir-fikir, pria itu sangat baik,  dia rela mengeluarkan uang tabungannya karena tidak mau membuat majikannya malu. Yang pasti uang itu pasti dikumpulkan dengan susah payah  selama menjadi supir keluarga itu, tapi pria itu tidak seperti Martin yang memberi bantuan dengan embel-embel menikah dengannya.


Shezie sadar dengan jumlah uang sebesar itu siapa pria yang akan memberinya cuma-cuma apalagi tidak saling kenal seperti Henry? Tapi pekerjaan yang ditawarkan Henry begitu mudah, hanya jadi pengantin saja, Sheziepun tersenyum, ternyata supir itu sangat baik, batinnya.


Besok adalah hari penikahannya, dia harus kembali bekerja menjadi pengantinnya Henry, pengantin satu hari, setelah itu bertengkar dengan Henry lalu pergi dari rumah, beres, gampang, urusannya sudah selesai.


Setelah merasa lebih tenang, Shezie bangun dari duduknya dan kembali masuk keruangan ibunya dirawat.


***************