
Shezie masih memeluk Henry dengan erat, seakan tidak pernah mau melepaskannya lagi, membuat Henry semakin merasa tidak tega untuk melepaskan pelukannya. Meskipun beberapa orang yang akan ke toilet memperhatikan mereka.
Henry sedikit menunduk melihat kearah Shezie yang masih membenamkan wajahnya didadanya, dia sungguh tidak tega melepasnya.
“Bu,” panggil Henry, membuat Shezie terkejut, diapun menengadah menatap wajahnya Henry, pria itu menatap kearah lain, membuatnya menoleh kearah pandangannya Henry, Shezie terkejut melihat ibu mertuanya itu sudah berdiri didekat mereka.
Hanna melihat bekas menantunya itu masih memegang kemejanya Henry dengan erat. Saat Shezie melihatnya, perlahan wanita itu melepaskan kemejanya Henry dari pegangannya.
Melihat sikap mereka , membuat Hanna semakin tidak tega melihatnya, dia bisa melihat mereka masih sangat saling mencintai, hatinya ikut merasa sedih membayangkan betapa sakitnya perasaan orang yang saling mencintai tapi harus berpisah.
“Kau juga makan disini?” tanya Hanna pada Shezie.
“Iya Bu,” jawab Shezie dengan pelan.
Hanna menatap Henry yang tampak bingung, putranya itu menoleh pada Shezie yang ternyata tangan kanannya mantan istrinya itu masih memegang belakang kemejanya.
Henry menatap wajah Shezie lekat-lekat, sungguh tidak bisa dipungkiri kalau dia masih mencintainya. Saat dia akan bicara tapi terdengar suara seorang pria mengagetkan semuanya.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya suara pria itu dengan keras, membuat semua orang terkejut dan menoleh kearahnya.
Martin sudah berdiri didekat mereka, menatap Henry dan Shezi dengan tatapan marah, apalagi posisi berdiri Shezie dna Henry sangat berdekatan.
Martin langusng menarik tangan Shezie dengan kuat, membuat Shezie tersentak kaget dan pegangannya pada kemaja belakang Henry terlepas, diapun jadi mendekat pada Martin.
“Aku dan Shezie akan menikah, kalian tidak ada hubungan apa-apa lagi, sebaiknya kau menjauh darinya!” maki Martin pada Henry dengan marah.
Kepergian Shezie ke toilet dia fikir tidak akan lama, tapi ternyata dia sudah menunggu lebih dari 15 menit belum kembali juga membuatnya menyusul Shezie dan ternyata melihat Shezie berduaan dengan Henry dengan posisi yang begitu dekat.
Belum juga Henry bicara, Martin langsung menarik tangan Shezie dengan kuat meninggalkan tempat itu.
“Kita cari tempat makan yang lain!” ucapnya dengan langkah cepat.
Tidak ada yang bisa dilakukan Shezie selain mengikuti langkahnya Martin, dengan kepala yang terus menoleh ke belakang menatap Henry seakan meminta pertolongan.
Henry sungguh bingung ingin rasanya dia mengejarnya, tapi melihat kehadiran ibunya disana, dia mengurungkan niatnya, dia tidak mau hubungan ibu dan ayahnya bermasalah karena dia bersikeras untuk kembali bersama Shezie.
“Sayang, kita kembali ke meja,” ajak Hanna pada Henry.
Putranya itu hanya mengangguk. Hanna bisa melihat kekecewaan diwajahnya Henry, tapi putranya tidak bicara apa-apa lagi, hanya mengangguk dan mengikutinya meninggalkan tempat itu.
Sepanjang acara makan malam itu Hanna tidak banyak bicara, dia terus memikirkan kejadian tadi. Sudah terlihat jelas bagaimana Henry dan Shezie yang masih begitu saling mencintai.
Begitu juga sikapnya Henry, dia mendadak tidak mau berkomentar apapun soal pekerjaan yang sedang dibicarakan ayahnya dengan ayahnya Andrea, fikirannya terus pada Shezie, dia benar-benar tidak rela melihat mantan istrinya itu dibawa Martin.
Apa yang harus dilakukannya? Apakah dia harus bersikeras memaksa Shezie untuk kembali padanya? Setelah perceraian itu dia fikir akan bisa melupakannya sedikit lebih sedikit tapi ternyata rasa cintanya terasa semakin kuat, ternyata dia begitu mencintai Shezie.
“Sikapmu sangat aneh, kenapa kau jadi sangat pendiam?” tanya Damian, saat mereka tiba di rumah. Pria itu Berdiri menatap Hanna yang menyimpan tasnya diatas tempat tidur lalu duduk disana dengan lesu.
“Sayang, ada yang ingin aku tanyakan padamu,” kata Hanna, menatap Damian.
“Soal apa?” tanya Damian, balas menatap istrinya keheranan.
“Apa kau masih punya perasaan pada ibunya Shezie?” tanya Hanna, membuat Damian merasa terkejut mendengarnya.
“Sebaiknya tidak perlu membahas masalah itu. Henry dan Shezie sudah bercerai, tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi,” kata Damian.
“Justru itu masalahnya makanya aku menanyakannya padamu,” ucap Hanna.
“Kau ini sangat aneh, bukankah itu semua sudah sesuai keinginanmu? Aku mengikuti apa yang kau mau karena aku juga tidak mau rumahtangga kita berantakan karena masalah ini,” kata Damian, masih berdiri di depannya Hanna.
Hanna meraih tangannya Damian yang masih berdiri didekatnya.
“Sayang, kau belum menjawab pertanyaanku,” ucap Hanna.
Damian tidak langsung menjawab, dia malah terdiam.
“Apa kau masih punya perasaan pada ibunya Shezie?” tanya Hanna lagi, meskipun dalam hatinya merasa was-was Damian akan menjawab iya.
Damian segera duduk disampingnya Hanna, menatap mata istrinya lekat-lekat, dia bisa tahu apa yang dirasakan istrinya itu.
“Sejak aku jatuh cinta padamu, tidak ada wanita lain yang aku cintai selain kau,” jawab Damian, sambil membalas pegangan tangannya Hanna.
“Apa kau bicara jujur?” tanya Hanna, mencoba mencari jawaban dimatanya Damian.
“Buat apa aku berbohong?” jawab Damian.
“Itu karena aku hanya merasa bersalah telah menyakitinya, dan aku tidak tega melihat kondisinya sekarang, hanya itu, aku sudah menjelaskannya padamu,” jawab Damian, membuat Hanna terdiam beberapa saat.
“Apa kau mau berjanji jika Henry kembali pada Shezie, kau tidak akan jatuh cinta lagi pada ibunya Shezie?” tanya Hanna, membuat Damian terkejut.
“Kau ini bicara apa sayang? Henry dan Shezie sudah bercerai, itu sudah keputusan yang terbaik untuk semuanya,” jawab Damian.
“Tolong jawab pertanyanku,” ucap Hanna, menatap matanya Damian.
Damian balas menatapnya, menatap wanita yang sangat dicintainya itu, sedikitpun tidak pernah terbersit dibenaknya untuk menyakitinya.
“Tidak sayang, itu hanya masa lalu, bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada wanita lain, cintaku padamu sudah lebih dari cukup membuatku bahagia. Aku bahagia dengan pernikahan kita, aku tidak mungkin merusaknya, ” kata Damian.
“Benarkah?” tanya Hanna, langsung tersenyum merasa bahagia dengan ucapannya Damian.
“Tentu saja,” jawab Damian, dengan hati yang bertanya-tanya dengan sikapnya Hanna itu. Diapun mendekatkan wajahnya lalu mencium bibirnya Hanna. Hanna menyentuh wajah suaminya, dia juga sangat mencintai Damian.
“Tadi Henry bertemu Shezie di toilet, mereka sedang berpelukan. Aku fikir setelah bercerai Henry akan bisa melupakan Shezie, ternyata aku salah, mereka masih saling mencintai, aku merasa bersalah karena telah membuat putraku tersakiti demi egoku,” kata Hanna, setelah Damian melepaskan ciumannya.
“Henry dan Shezie bertemu di toilet?” tanya Damian. Hanna mengangguk.
“Mereka berpelukan?” tanya Damian lagi. Hanna mengangguk lagi.
“Bisakah kita mempersatukan mereka kembali?” tanya Hanna.
“Kau serius?” tanya Damian, merasa terkejut.
“Iya sayang, aku merasa sedih dan sakit hati kau perhatian pada ibunya Shezie. Aku takut kau akan jatuh cinta lagi pada ibunya Shezie, tapi ternyata melihat penderitaan putraku aku merasa lebih sakit,” ucap Hanna.
Damian menatap Hanna yang sekarang menunduk, seakan menahan rasa sedihnya.
Tangan Damian menyentuh wajahnya Hanna supaya menatapnya. Hannapun kini menatap wajah suaminya itu.
“Aku minta maaf telah membuatmu merasa seperti itu. Aku minta maaf membuatmu merasa resah dengan kehadiran ibunya Shezie. Aku menerima keputusanmu karena aku tidak mau pernikahan kita hancur. Aku sudah bahagia hidup bersamamu dan Henry. Aku tidak mau pernikahan kita hancur karena masa laluku. Aku akan merasa bersalah jika membuatmu terus terusan merasa cemburu dan menyakitimu,” ucap Damian.
“Jadi kau berjanji tidak akan jatuh cinta lagi pada ibunya Shezie?” tanya Hanna.
“Iya aku berjanji. Aku tidak akan jatuh cinta lagi pada ibunya Shezie,” jawab Damian.
“Kalau begitu aku akan bicara pada Henry untuk mengijinkannya rujuk dengan Shezie,” kata Hanna.
Damian menggelengkan kepalanya.
“Kenapa?” tanya Hanna.
“Vina tidak merestui mereka. Shezie akan menikah dengan Martin,” jawab Damian.
“Shezie tidak mencintai Martin, dia akan menderita kalau menikah dengan Martin,” ucap Hanna.
“Tapi Martin juga tidak akan melepaskan Shezie,” kata Damian.
“Kau harus membantuku untuk membuat Martin melepaskan Shezie,” ujar Hanna.
“Apa maksudmu?” tanya Damian.
“Ya maksudku… meskipun ini sepertinya terkesan licik tapi Shezie tidak mencintai Martin. Kasihan juga Shezie. Kau bisa menggunakan kekuasaanmu untuk menekan Martin dan keluarganya,” jawab Hanna.
Damian terdiam mendengarnya.
“Bagaimana sayang? Kau kan bisa membuat perusahaan ayahnya Martin bangkrut. Kau bisa membuat rekan bisnis ayahnya Martin menghentikan kerjasamanya, kemudian kau bisa menawarkan bantuan pada perusahaan ayahnya Martin asalkan Martin mau melepaskan Shezie,” usul Hanna.
Damian melamun, selama hidupnya, dia tidak pernah melakukan hal buruk seperti itu.
“Sayang, tidak ada cara lain untuk menekan mereka,” ucap Hanna, mengusap bahunya Damian.
“Apa tidak ada ide yang lain? Aku harus membuat keluarga Martin bangkrut?” tanya Damian.
“Ini demi kebahagiaan putra kita. Shezie juga mencintai Henry. Martin juga bukan pria miskin yang membutuhkan uang, kita tidak bisa mengimi-iminginya uang untuk meninggalkan Shezie. Kita harus melakukan sesuatu yang berdampak sangat besar pada keluarga Martin supaya mereka akan mengikuti keinginan kita,” lanjut Hanna.
“Baiklah, akan aku fikirkan, aku ingin tahu seperti apa perusahaannya keluarganya Martin itu,” kata Damian,membuat Hanna merasa lega. Diapun langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Damian dan mengecup bibirnya.
“Kalau ada maunya, kau baru menciumku,” keluh Damian, membuat Hanna tertwa. Tapi tawanya langsung hilang saat bibirnya Damian sudah menutup mulutnya dengan ciumannya.
***************