
Malam telah tiba, Henry pulang ke rumah, mendapati mobilnya Pak Andi ada dirumah, tapi saat dia masuk ke kamarnya Shezie tidak ada di rumah.
Ponselnyapun berdering, dilihatnya muncul nomornya Shezie.
“Ya Halo!” sapa Henry.
“Henry, malam ini aku tidak pulang,” kata Shezie.
“Kenapa?” tanya Henry, pura-pura tidak tahu.
“Sekarang kan jadwalnya aku tidur dirumah ibuku,” jawab Shezie.
Henrypun diam, ternyata Shezie memang tidak mau bercerita apa-apa soal pribadinya.
“Baiklah,” jawab Henry, sebenarnya dia ingin memberinya semangat tapi sudahlah, yang penting ibunya Shezie bisa menjalankan pengobatannya.
“Tapi besok kau kesini kan? Besok hari libur, biasanya travel penuh kalau hari libur,” kata Henry mengingatkan, kenapa sekarang hatinya merasa berat mengijinkan Shezie lama-lama tidak pulang?
“Kau harus ingat kau istriku, masa hari libur kau tidak ada dirumah,” lanjutnya, tapi kemudian tersadar kalau Shezie tidak pulang karena ibunya sakit.
Shezie terdiam sebentar, benar apa yang dikatakan Henry, dia tidak bisa lama-lama menemani ibunya, dia masih berperan menjadi istrinya Henry.
“Iya aku pulang besok,” jawab Shezie dengan pelan.
Henry bisa mendengar nada suara yang lemah itu, diapun tidak berniat berdebat dengan Shezie.
“Oke!” jawabnya.
Tidak berapa lama telpon pun ditutup. Henry menatap ponselnya, dari nada suaranya terdengar suara Shezie agak serak mungkin karena sudah menangis tadi, hatinya merasa kasihan melihat keadaan Shezie. Tapi kemudian Henry menggeleng-gelengkan kepalanya, kenapa dia jadi terus terusan memikirkan Shezie?
******
Di rumah sakit…
Shezie akan masuk kedalam ruangan ibunya, sambil memegang ponselnya, dia baru saja menelpon Henry memberitahu kalau dia tidak pulang malam ini.
Terdengar langkah kaki mendekatinya, Sheziepun menoleh kearah suara langkah itu ternyata Martin datang menghampirinya.
“Sayang, kau menunggu ibumu?” tanya Martin, membuat Shezie menatapnya dan mengurungkan niatnya masuk kedalam ruangan.
Martin balas menatap Shezie, sejenak dia terpesona melihatnya, dia takjub melihat perubahan gadis itu. Shezie tidak biasanya berdandan seanggun itu dengan dress yang bagus dan terlihat mahal juga sepatunya, rambutnya terlihat rapih, dia juga bermake up, gadis itu terlihat lebih cantik. Sangat jarang sekali Shezie tampak secantik ini, apalagi dengan bibir merahnya membuatnya tidak kuasa untuk menciumnya.
Martin berjalan lebih dekat, tangannya langsung mengulur memeluk pinggang Shezie, mendekatkan wajahnya akan mencium bibirnya Shezie, tapi gadis itu menghindar dan menjauh, tangannya melepaskan tangannya Martin yang ada dipinggangnya, Shezie menolak ciumannya Martin.
Lagi-lagi Shezie menolak membuat hati Martin merasa kecewa padahal mereka sudah bertunangan, untuk menciumnya saja gadis itu masih menolak, membuat hatinya kesal saja.
“Bukankah kita sudah bertunangan, kau calon istriku, tapi kau selalu menolakku,” ucap Martin tapi dengan nada pelan padahal dalam hatinya dia mengutuk gadis yang ada didepannya itu.
“Maaf,aku hanya canggung saja,” ucap Shezie, entah kenapa dia tidak mau Martin menyentuhnya, hatinya masih belum benar-benar bisa menerima Martin, dia tidak mencintai pria ini.
“Tidak apa-apa, aku harap kau harus sudah mulai mau menerimaku,” kata Martin, masih dengan hati yang kesal.
Shezie tidak menjawab, dia menatap Martin.
“Aku berterimakasih kau sudah menolong ibuku,” kata Shezie.
“Tidak perlu sungkan, kita akan segera menikah, ibumu adalah ibuku juga,” ucap Martin sambil tersenyum.
“Aku juga berterimakasih kau sudah membayar biaya pengobatan ibuku,” kata Shezie, membuat Martin terkejut, dia memang sudah bicara dengan Dokter Arfan soal pengobatan lanjut ibunya Shezie, tapi dia belum mengeluarkan uang untuk membayarnya karena jadwal kemo juga belum ditentukan kapan.
Martin akan bicara tapi Shezie sudah mendahuluinya.
“Tapi aku janji kalau aku ada uang aku akan menggantinya,” kata Shezie.
Martin masih bingung kalau begitu berarti ada yang membayarkan biaya pengobatan ibunya Shezie, tapi siapa? Sepertinya Shezie juga tidak tahu yang membayarnya siapa makanya mengira dirinya. Bukankah itu bagus? Dia tidak perlu mengeluarkan uang lagi tapi bisa mendapatkan simpati dari Shezie dan ibunya.
“Tidak usah, kau tidak perlu menggantinya. Kau calon istriku, sudah sewajarnya aku membantu ibumu,” kata Martin, seakan-akan dia yang membayar biaya pengobatan ibunya.
“Kau sangat baik Martin, aku sangat berterimakasih,” kata Shezie yang diangguki Martin.
“Kau akan melihat ibu?” tanya Shezie, sebenarnya dia tidak suka dengan kehadiran Martin tapi mengingat Martin yang menolong ibunya dan membayar biaya pengobatan ibunya, dia mencoba bersikap ramah, sangat tidak tahu diri kalau dia mengacuhkannya.
Martin mengangguk, Shezie segera masuk keruangan itu diikuti Martin.
Ibunya Shezie tersenyum saat melihat kedatangan Martin.
“Bagaimana kabar ibu?” tanya Martin, berjalan mendekat, menatap ibunya Shezie.
“Sudah lebih baik sekarang,” jawab Bu Vina.
“Syukulah,” ucap Martin, tersenyum ramah.
Bu Vina menatap Martin lekat-lekat.
“Nak, ibu ucapkan terimakasih karena kau sudah membayar biaya pengobatan ibu,” kata Bu Vina.
“Tidak apa-apa Bu, jangan sungkan,” ucap Martin.
“Ibu tahu kau adalah calon suami yang tepat buat Shezie. Ibu tahu kau sangat mencintai Shezie. Melihat kondisi ibu seperti ini, ibu akan senang kalau pernikahan kalian dipercepat,” kata Bu Vina, membuat Shezie terkejut mendengarnya.
“Bu, jangan memikirkan itu, ibu jaga kesehatan ibu saja,” ujar Shezie, dia tidak ingin cepat cepat menikah dengan Martin, malah dalam benaknya muncul pemifikiran cara untuk membatalkan pertunangannya.
Martin menoleh pada Shezie.
“Ibumu benar, kita memang harus secepatnya menikah, supaya ibu juga tenang dalan menjalani pengobatannya,” kata Martin.
Hati Martin semakin berbunga-bunga saja disuruh cepat-cepat menikah. Ternyata bantuan biaya pengobatan dari orang yang tidak diketahui identitasnya itu berdampak sangat besar, tapi dalam hatinya dia juga bertanya-tanya siapakah yang membayar biaya pengobatan ibunya Shezie?
Kalau pria itu pacarnya Shezie seharusnya Shezie tahu siapa yang orangnya tapi ini Shezie saja tidak tahu, apa mungkin ada pria yang diam-diam menyukai Shezie? Memikirkan hal itu membuat Martin gelisah, dia tidak mau kehilangan Shezie, mempercepat pernikahan adalah jalan yang terbaik. Jangan sampai Shezie mengetahui orang itu atau kesempatannya menikahinya akan gagal.
“Aku masih ada kontrak kerja dengan travel Bu,” jawab Shezie.
“Kau bisa mencoba membicarakannya,” kata ibunya.
“Benar sayang, kau tidak bekerja juga tidak masalah bagiku,” kata Martin, hatinya mulai kesal lagi dengan sikapnya Shezie yang menurutnya sangat jual mahal.
Shezie menatap ibunya akan protes tapi melihat wajah ibunya yang pucat seperti itu, dia merasa
tidak enak kalau harus berdebat soal itu, akhirnya Shezie memilih diam.
“Sayang, besok kan hari libur kau tidak bekerja di café, aku ingin mengajakmu makan malam,” kata Martin.
Shezie akan menolak dengan alasan kembali ke travelnya, tapi dia tidak mungkin meninggakan ibunya berhari-hari kalau kondisinya seperti ini. Dia akan bicara tapi ibunya mendahuluinya.
“Pergilah, kau tidak perlu menjaga ibu terus-terusan, sekarang kan ada Bi Ijah,” kata ibunya.
“Baiklah,” akhirnya Shezie menurut.
Martin tersenyum mendengarnya. Dia bahagia melihat Shezie mulai bertekuk lutut. Rasanya tidak sabar untuk segera menikahinya.
“Aku akan menjemputmu besok malam,” kata Martin.
Shezia tidak menjawab, mau tidak mau sepertinya dia memang harus membiasakan diri bersama Martin.
Ibunya senang melihat putrinya menerima ajakan Martin, dia juga merasa tidak enak Martin sudah begitu baik padanya tapi putrinya masih saja menolaknya, padahal Martin pria yang sangat baik.
Shezie membuka ponselnya dan dilihatnya dilayar wallpapaer pernikahannya, diapun tersenyum, Henry juga pria yang sangat baik, meskipun dengan berbagai dalih yang tidak masuk akal, pria itu sangat baik.
Tapi Shezie juga berharap supaya pekerjaannya dengan Henry cepat selasai, supaya dia bisa mendapatkan uang jasanya untuk mengganti uangnya Martin supaya dia bisa membatalkan pernikahannya dengan Martin.
*********
Baru up Readers, ternyata quotaku sudah habis lagi. Hadeueuh...kayanya ada yang salah dengan settingan modemku, tagihan quota bengkak hehe...
********