
Shezie menoleh pada ibu mertuanya.
“Diminum Bu, hanya air putih,” ucapnya, sambil beranjak mengambilkan minuman kemasan dan disimpan di depan Hanna, dia mencoba membuat suasana supaya tidak canggung. Hatinya ketar-kertir saja melihat sikap ibunya yang ketus seperti itu.
Hanna menghela nafas sebentar, dia bisa melihat kalau ibunya Shezie memang tidak menyukai kehadirannya.
“Martin, siapa Martin?” tanya Hanna, pura-pura tidak tahu, dia ingin tahu apa pendapat ibunya Shezie soal Martin.
“Martin tunangan putriku, mereka seharusnya sudah menikah sekarang,” kata Bu Vina.
Suasana terasa begitu tegang didalam ruangan ini. Bu Vina sama sekali tidak menoleh pada Hanna. Dia hanya duduk miring dan menghadap tembok, padahal kata Dokter Arfan, matanya sudah mulai menangkap cahaya. Shezie tahu siapa ibunya itu karena memang tdiak menyukai Henry.
“Tentu saja putrimu tidak bisa menikah dengan pria lain, karena putrimu sudah menikah dengan putraku,” ucap Hanna, dia mulai kesal juga melihat sikap ibunya Shezie itu, seakan –akan Henry tidak lebih baik dari Martin.
“Menikah? Apa itu bisa di katakan menikah jika orangtua mempelai wanita juga tidak tahu pernikahan itu,” ucap Bu Vina.
“Kami sekelurga meminta maaf. Seharusnya suamiku datang hari ini hanya saja sekarang dia sangat sibuk, banyak sekali pekerjaannya jadi tidak bisa datang,” kata Hanna.
“Orang kaya dan sibuk,” gumam Bu Vina terdengar dengan nada sinis.
Shezie semakin ketus saja melihat sikap ibunya yang tidak ramah.
“Iya sangat sibuk,” ucap Hanna, dengan hati yang tidak enak dengan sikap ibunya Shezie yang sinis.
“Maaf kami tidak melakukan lamaran yang layak untuk Shezie,” ucap Hanna, dia akan bicara lagi tapi dipotong oleh Bu Vina.
“Tentu saja karena kami miskin, memang seharusnya tidak perlu diadakan lamaran, nanti membuat malu,” kata Bu Vina.
Hanna mengerutkan dahinya, kenapa perkataannya ibu Sezie seakan menyudutkannya terus?
“Tidak begitu, bukan soal itu, Semua terjadi karena kesalah fahaman,” kata Hanna.
“Tentu saja, itu karena putramu memang tidak menghargai orang lain,” ucap Bu Vina.
“Tidak, bukan begitu, hanya saja karena mungkin ibu sudah tahu alasannya, Henry tidak benar-benar menikah Shezie waktu itu,” kata Hanna.
“Tentu saja aku mengerti, sangat mengerti, pria kaya memang selalu begitu, menganggap semua hal bisa dibeli dengan uang,” ucap ibunya Shezie.
Hanna terdiam, makin lama dia makin tidak suka dengan sikapnya ibunya Shezie ini.
“Saya datang kesini untuk meluruskan semuanya,” kata Hanna.
“Tidak ada yang perlu diluruskan,” potong Bu Vina.
“Harus Bu, supaya tidak terjadi kesalah fahaman,” ucap Hanna, mencoba sabar dengan sikap Bu Vina yang terus memojokkan.
“Ibu mungkin sudah tahu kalau Henry membuat kesalahan, meminta Shezie untuk menjadi istrinya secara diam-diam, kami sekeluarga mohon maaf atas masalah ini, kami juga tidak tahu apa yang dilakukan anak-anak muda ini,” kata Hanna.
Bu Vina tampak diam saja belum menyahut.
“Sekarang Henry berubah fikiran, dia dan Shezie saling mencintai dan mereka ingin melanjutkna pernikahan mereka dengan pernikahan yang sebenarnya, jadi hari ini saya ingin melamar Shezie untuk Henry, kalau soal acara resminya bisa di bicarakan menyusul,” kata Hanna.
Bu Vina merobah sikap duduknya, kini wajahnya menatap lurus pada Hanna.
“Maaf, aku tidak bisa menerima lamaranmu,” kata Bu Vina, membuat Hanna terkejut.
Shezie dan Henry tidak terlalu karena mereka sudah tahu bagaimana kersanya sikap ibunya Shezie.
“Tapi kenapa? Kami siap jika ada persyaratan,” kata Hanna.
“Aku hanya ingin mereka bercerai, karena Shezie akan menikah dengan Martin,” ucap Bu Vina.
Hanna mencoba menyabarkan hatinya demia Henry.
“Bu, tidak bisakah ibu memirkirkan hal ini, mereka sudah menikah dengan sah, bahkan kami juga mengadakan pesta yang cukup meriah, mereka juga sekarang saling mencintai, jadi tidak ada salahnya kalau kita sebagai orangtua hanya mengikuti apa yang anak-anak mau, yang penting mereka bahagia,” kata Hanna.
“Putriku tidak akan bahagia menikah dengan putramu,” ucap Bu Vina.
Shezie langsung memotong.
“Aku bahagia Bu, menikah dengan Henry,” kata Shezie.
“Itu hanya awal saja, aku tidak percaya,” kata Bu Vina.
“Apalagi dengan Martin Bu, aku tidak menyukai Martin,” ucap Shezie.
“Ibu sudah mengenal Martin bertahun-tahun, aku tahu seperti apa Martin, sangat jarang pria yang mau menikahi gadis yang mempunyai ibu yang berpenyakitan seperti aku, Martin sangat tulus mencintaimu,” kata Bu Vina.
Hanna menatap Bu Vina.
“Bu, tidak bisakah jangan memaksakan sesuatu yang mereka tidak suka? Putraku dan putrimu saling mencintai, biarkan mereka melanjutkan perniakahannya. Kalau memang perlu diadakan menikah ulang juga aku tidak masalah, kita buatkan resepsi dimempelai wanita juga boleh, seluruh biaya akan kami tanggung, katakan saja ingin di adakan dimana, persyaratannya apa, akan kami sanggupi, asalkan biarkan mereka tetap besama dan restui mereka,” kata Hanna panjang leber
“Maaf, Shezie adalah putriku, aku yang membesarkannya dengan susah payah, aku berhak untuk menentukan mana yang baik untuk putriku atau tidak,” kata Bu Vina.
“Iya saya mengerti Bu. Ibu dengar sendiri tadi Shezi memilih bersama Henry. Aku senang dia menjadi istri putraku, aku berjanji akan menyayanginya seperti putriku sendiiri,” ucap Hanna.
“Maaf, aku tidak bisa. Kami sudah terlanjur menerima lamarannya Martin, sebelum Henry melamarnya,” kata Bu Vina.
“Soal keluarganya Martin, aku akan bicara dengan mereka, Ibu tidak perlu khawatir,” ucap Hanna.
“Apa maksudmu bicara begitu? Kau merasa berkuasa sampai bisa mengendalikan orang lain?” tanya Ibunya SHezie, membuat Hanna terkejut dan tersinggung dengan perkatananya.
“Bukan begitu Bu, aku hanya ingin membuat semua masalah selesai. Kami akan menemui keluarganya Martin, kami akan berusaha bicara dengan mereka, supaya mereka tidak merasa sakit hati atas pembatalan rencana pernikahannya Martin dan Shezie,” kata Hanna.
“Kau tidak perlu melakukan itu, karena aku tidak akan pernah merestui pernikahan Shezie dan Henry, pernikahan yang hanya untuk main-main dan aku juga menganggap pernikahn itu tidak ada,” ujar Bu Vina.
“Aku minta maaf atas kesalahan putraku, putraku sudah mengakui kesalahannya, tidak bisakah kau memaafkan putraku juga putrimu?” tanya Hanna.
“Meskipun aku memafkannya aku tetap tidak akan merestui mereka,” kata Bu Vina.
“Kenapa?” tanya Hanna. Tidak menyangka kalau ibunya Shezie begitu keras hati.
“Karena aku lebih merasa tenang kalau Shezie menikah dengan Martin, aku tahu Martin seperti apa, Martin sangat bisa dipercaya untuk menjaga putriku,” jawab Bu Vina,membuat Hanna diam dan melirik pada Henry.
“Sekali lagi aku memutuskan, Shezie dan Henry harus bercerai, karena Shezie akan segera menikah dengan Martin. Sekarang pengacaranya Martin sedang mengurus gugatan cerai dari Shezie. Aku harap kalian tidak mempersulit proses perceraiannya dan Henry segera menandatangani surat cerainya, supaya semua masalah ini cepat selesai, dan aku ingin menjalani hari-hariku dengan tenang,” kata Bu Vina.
Mendengarnya benar-benar membuat Hanna kecewa. Dia menatap Shezie yang sudah memerah matanya akan menangis, melihat lagi pada putranya yang hanya diam membisu.
“Bu, aku harap ibu akan mempertimbangkannya lagi, terkadang apa yang diperkirakan kita sebagai orang tuanya merasa benar tapi tidak dengan yang fikiran anak-anak kita,” ucap Hanna.
“Tidak ada yang perlu dipertimbangkan. Aku sangat mengenal putriku. Aku sudah memilihkan pria yang tepat, putriku akan bahagia dengan Martin,” kata Bu Vina, benar-benar tidak tergoyahkan.
“Bu, aku hanya ingin menyampaikan kalau aku sangat mencintai putrimu,” ucap Henry, menatap ibunya Shezie lalu pada Shezie.
Bu Vina tidak menjawab
Hanna menoleh pada Henry lalu pada Bu Vina.
“Baiklah Bu, aku dan putraku mohon diri. Jika ibu berubah fikrian, jangan segan untuk memberitahu kami. Kami akan senang jika Henry dan Shezie kembali bersama,” kata Hanna, sambil berdiri.
Dengan berat hati Henrypun berdiri. Dia menoleh pada Shezie yang airmatanya sudah menetes saja dipipinya.
Shezie bergegas akan bangun, tapi ibunya melarangnya.
“Shezie, duduk!” kata ibunya.
Shezie menoleh pdaa ibunya lalu pada Henry juga Hanna.
“Semoga kau bahagia Nak,” ucap Hanna pada Shezie, tangannya langsung meraih tangan Henry menariknya keluar dari ruangan itu.
Kaki Henry melangkah keluar, tapi kepalanya menoleh pada Shezie, istrinya itu duduk kembali dikursinya dan menangis. Dia sungguh bingung, dia bukannya tidak bisa bersikap keras, memaksa Shezie untuk membawanya bersamanya meskipun tanpa restu ibunya. Tapi melihat ibunya Shezi yang sakit itu, apa dia tega membuat Shezie menjadi anak yang durhaka pada ibunya?
Hanna dan Henry berjalan dengan lesu menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Tiba-tia Hanna menghentikan langkahnya dan menatap Henry.
“Ada apa Bu?” tanya Henry.
“Ibu minta maaf, ibu tidak berhasil melamar Shezie,” ucap Hanna.
Henry menatap ibunya dengan sedih tapi bibirnya tersenyum.
“Aku tahu ibu sudah berusaha melakukan yang terbaik buatku, aku sayang ibu,” ucapnya sambil memeluk ibunya dan mencium pipinya.
Di pintu ruang rawat inap Bu Vina, Shezie berdiri bersandar dipintu melihat kepergian suami dan ibu mertuanya, airmata terus menets dipipinya dia sangat sedih. Baru saja ya baru saja dia mengawali pernikahannya dengan indah, tapi seakan dunia tidak mengjinkan mereka bahagia, dengan cepat kebahagian itu dicabut begitu saja, sekarang yang tersisa adalah penderitaan, rasa sedih dan kecewa.
“Kau harus menerima semua ini. Ini adalah yang terbaik buatmu. Bukan buatmu saja tapi juga buat Henry, keluarga Henry,” ucap ibunya.
Shezie menoleh pada ibunya ingin dia membantah, tapi dia tidak berani menyakiti ibunya lagi. Dia hanya bisa pasrah menerima keputusan ibunya.
Shezie menoleh lagi kearah lorong, suami dan mertuanya sudah tidak terlihat, hatinya semakin tersayat-sayat, mungkin dia tidak akan pernah bertemu dengan Henry lagi, selamanya, selamanya.
*************