Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-105 Akal Bulus Martin



“Aku minta maaf, tapi aku harus membatalkannya,” ucap Shezie.


Martin masih terdiam, dia menahan marah yang sebenarnaya ingin meledak saat itu juga.


“Aku sedang hamil bayinya Henry, aku tidak bisa menikah denganmu, aku juga tidak mau menggugurkan kandunganku,” kata Shezie.


“Apa kau akan kembali pada Henry?” tanya Martin, berusaha untuk mengendalikan diri.


“Tidak, aku tidak tahu,” jawab Shezie.


“Kau serius akan meninggalkanku? Aku sepertinya berubah fikiran,” ucap Martin.


“Berubah fikiran apa?” tanya Shezie.


“Aku akan menerimamu dan bayimu,” jawab  Martin.


“Tidak Martin, aku tidak bisa. Aku sudah memutuskan untuk sendiri, aku juga siap jika memang aku harus sendiri membesarkannya,” jawab Shezie.


“Aku minta maaf,” ucap Shezie.


Martin kembali diam, wanita itu benar-benar tidak memikirkannya, seenaknya membatalkan dan membiarkannya dalam kerugian besar.


Pelayan datang membawakan minuman buat Martin dan Shezie.


“Silakan!” kata pelayan itu, akan menyimpan minuman diatas meja tapi ternyata Martin juga menyimpan ponselnya diatas meja, sehingga tangannya menyenggol gelas minuman itu dan membuat minuman itu tumpah ke bajunya Martin.


“Hei apa yang kau lakukan?” bentak Martin sambil berdiri, membuat banyak mata menoleh kearahnya.


Martin menepuk-nepuk minuman yang ada di jas dan celananya yang basah.


“Maaf Pak, Maaf, aku tidak sengaja,” kata pelayan itu dengan muka pucat.


Mendengar ada ribut-ribut, Manager  Resto hotel langsung menghampiri.


“Apa yang terjadi?” tanya Manager Resto.


“Saya menumpahkan minumannya, saya tidak sengaja Pak,” kata pelayan itu.


“Kau ceroboh,” gurutunya lalu menoleh pada Martin.


“Bagaimana ini? Bajuku jadi kotor! Aku juga tidak membawa ganti!” hardik Martin dengan kesal.


“Maaf Pak, ini kesalahan kami, kami mohon maaf,” ucap Manager Resto.


“Maaf Pak,” kata pelayan itu.


“Kau mengotori bajuku,” keluh Martin lagi.


“Maaf Pak, ini salah kami. Pasti kami akan bertanggungjawab. Silahan Bapak ke kamar tamu disini, nanti kami akan menyiapkan pakaian gantinya. Saya benar-benar minta maaf,” kata Manager hotel itu.


Martin menoleh pada Shezie yang masih berdiri terkejut dengan kejadin itu.


“Sayang, kau tunggu disini, aku berganti pakaian dulu,” kata Martin.


Tidak ada yang bisa dilakukan Shezie selain mengangguk, padahal sebenarnya dia ingin pulang saja. Akhirnya dia terpaksa menunggu dan kembali duduk.


Martin pergi bersama Manager hotel tadi. Palayan yang tadi mengambil lap untuk membersihkan meja dan lantai yang basah.


Tiba-tiba terdengar suara ponsel dimejanya. Ternyata ponselnya Martin tadi bergetar diatas meja. Shezie mengacuhkannya meskipun ponsel itu bergetar berkali-kali. Akhirnya getaran ponsel itu berhenti juga. Dia tidak mau mengangkatnya.


Tidak berapa lama Manager Resto yang tadi datang lagi.


“Permisi, maaf Bu,” ucapnya.


“Iya ada apa?” tanya Shezie, menatap pria itu.


“Ponselnya Pak Martin ketinggalan. Beliau sedang menunggu telpon penting.  Beliau minta Ibu mengantarkan ponselnya,” kata Manager Resto.


“Mengantarkan ponsel?” tanya Shezie keheranan.


“Pakaian gantinya sedang diambilkan, jadi lumayan menunggu lama, maaf, ,” kata Manager itu.


“Kau saja yang memberikannya,” kata Shezie, sambil memberikan ponsel itu.


“Maaf Bu, karyawan dilarang membawa barang berharga  tamu,” jawab Manager Resto itu.


Shezie terdiam, dia harus mengantarkan ponsel Martin? Jangan-jangan ini akal bulus Martin? Ponsel itu kembali bergetar, mungkin memang ada telpon penting.


“Beliau ada di kamar 214, saya akan mengantar ibu,” kata Manager Resto itu, membuat Shezie merasa lega.


“Baiklah ayo,” kata Shezie sambil berdiri dan membawa ponsal Martin yang terus bergetar.


Shezie pun pergi bersama manager hotel menuju kamar 214.


Setelah naik lift, mereka menyusuri lorong-lorong kamar hotel. Shezie melihat deretan normor kamar itu sudah sampai ke nomor 214.


Terdengar ponsel Manager Resto berbbunyi.


“Maaf, saya menerima telpon dulu,” ucapnya, lalu menghentikan langkahnya dan menerima panggilan itu.


“Apa? Ya ya aku kesana sekarang,” ucap Manager Resto itu.


“Ini kamarnya Bu, Maaf saya langsung permisi, ada yang penting,” ucap Manager Resto itu.


“Baiklah, terimakasih,” jawab Shezie, dia tidak bisa meminta Manager Resto  menunggunya karena pria itu terlihat sangat sibuk.


Shezie kembali melihat nomor yang tertera di dipintu 214. Diapun mengetuknya berulang-ulang.


“Martin! Martin!” panggilnya.


Tidak ada jawaban dari dalam.


“Martin! Martin!” panggilnya.


Ponsel Martin yang ada ditangannya terus saja bergetar. Shezie melihat pintu itu ternyata tidak ditutup rapat. Diapun mendorong pintu itu perlahan sambil memanggil-manggil Martin.


“Martin!” panggilnya, masih tidak ada yang menyahut.


Shaziepun melongokkan kepalanya kedalam kamar itu.


“Martin! Martin! Ini ponselmu!” kata Shezie, terdengar dari dalam suara air dikamar mandi yang berbunyi. Sepertinya Martin sedang ada dikamar mandi.


“Martin!” Martin!” panggil Shezie, berjalan masuk.


“Martin, ini ponselmu!” teriak Shezie.


Tendengar suara air itu berhenti.


“Ini ponselmu! Aku simpan disini!“ teriak Shezie lagi, sambil menyimpan ponsel itu diatas tempat tidur.


“Aku kembali ya, aku tunggu dibawah!” kata Shezie.


Pintu kamar mandi perlahan terbuka, Sheziepun membalikan badannya melihat kearah kamar mandi. Dia sangat terkejut saat melihat yang keluar dari kamar mandi bukanlah Martin tapi pria yang dilihatnya sekilas sedang bicara dengan Martin tadi di restaurant.


“Kau siapa?” tanya Shezie terkejut.


“Mana Martin?” tanya Shezie lagi, sambil melihat ke sekeliling ruangan yang sepi, hanya ada mereka berdua.


“Maaf, sepertinya aku salah kamar,” ucapnya dan akan beranjak tapi pria itu yang tidak lain Pak Jodi bicara.


“Kau tidak salah kamar, ini memang kamar kita,” kata Pak Jodi, membuat Shezie semakin terkejut dan membalikkan badannya lagi menatap Pak Jodi.


“Maksud Bapak apa? Kamar kita apa?” tanya Shezie menatap pria paruh baya itu.


Pak Jodi menatap Shezie dari atas sampai bawah.


“Pantas saja Martin menarifkkan harga yang mahal, ternyata kau sangat cantik,” kata Pak Jodi, berjalan mendekat.


Shezie melangkah mundur, jantungnya berdebar kencang, dia cemas dan gelisah.


“Tunggu tunggu! Maksud Bapak apa? Martin? Harga? Maksudnya apa?” tanya Shezie.


“Martin sudah menjualmu dengan harga tinggi, bahkan sebenarnya itu terlalu tinggi, tapi karena itung-itung membantu teman jadi aku menyanggupinya,” jawab Pak Jodi.


“Apa?” Shezie semakin terkejut, bagaikan disambar petir disiang bolong mendengarnya.


“Bapak jangan sembaranga bicara, Martin tidak mungkin melakukan itu!” kata Shezie, seketika merasakan kakinya begitu lemas, dadanya sesak dan dia  ingin mangis waktu itu juga.


Pak Jodi berjalan mendekat.


“Sebenarnya aku tidak tega menyentuh calon pengantinnya dia, tapi sebagai teman perlu saling membantu bukan? Atau memang dia sudah bosan,” kata Pak Jodi.


“Bapak tahu aku calon pengantinnya Martin?”tanya Sheie.


Menatap pria itu rasanya tidak percaya kalau Martin begitu tega menjualnya pada pria hidung belang, berumur pula.


“Kata Martin kalian batal menikah dan dia sudah mengeluarkan uang banyak untuk biaya pernikahan kalian jadi dia menjualmu untuk menutupi kerugiannya. Sebagai seorang teman, meskipun tarifnya sangat mahal, tidak ada salahnya aku membantunya mengembalikan uang kerugiannya, dan sebagai imbalannya, aku bisa memiliki calon pengantin wanitanya,” jawab Pak Jodi.


Dug! Tubuh Shezie menabrak tembok dibelakangnya, ternyata tidak ada ruang lagi untuk mundur. Airmata langsung tumpah ke pipinya.


“Sudahlah tidak perlu bersedih. Salah sendiri kau membatalkan penikahanmu dengan Martin. Apa kau tidak tahu dia orangnya memang tidak mau rugi. Sekarang kau bersamaku saja, lupakan soal Martin,” kata Pak Jodi.


“Maaf, aku tidak bisa,” ucap Shezie sambil menghapus air matanya, diapun membalikkan badannya akan beranjak menuju pintu tapi tiba-tiba Pak Jodi memegang tangannya.


“E e, kau tidak bisa begitu saja pergi ,aku sudah mentransfer sejumlah uang pada Martin,” kata Pak Jodi.


“Tolong lepaskan aku Pak, aku tidak tau urusan Bapak dengan Martin, tapi aku tidak mungkin menjual diri,” ujar Shezie.


“Aku juga tidak peduli dengan urusanmu dengan Martin. Kau juga harus mengerti aku sudah membayarmu dengan mahal, kau milikku sekarang!” Bentak Pak Jodi, mulai marah.


“Maaf , aku tidak bisa!” ucap Shezie, dia akan pergi menuju pintu lagi tapi tangan Pak Jodi memegang tangannya Shezie.


“Tidak bisa! Aku sudah membayarmu!” teriak Pak Jodi.


“Pak ,tolong lepaskan aku!” Shezie balas berteriak dan berusaha melepaskan tangannya Pak Jodi.


“Tidak bisa!” kata Pak Jodi yang mulai hilang kesabaran, menarik tangan Shezie dengan kuat supaya kembali masuk ke kamarnya.


“Jangan sampai aku berbuat kasar padamu!” maki Pak Jodi.


************


Reders maaf ya kemaren tidak jadi 2 bab, cos reviewnya lama, dari siang lolos reviesnya sore.


Hari ini 2 bab tapi jangan lupa likenya ditiap bab jangan disatuin.


Tapi lihat situasi ya ini kayanya masih gangguan deh.


******