
Kamar ini begiu hening, tidak ada seorangpun yang bicara. Hanna melirik Damian yang sedari tadi sedang mengetik sesuatu dengan laptopnya di atas sofa panjang berselonjor kaki. Karena sofanya digunakan pria itu, jadi Hanna kebagian tiduran di tempat tidur tanpa mengantuk karena seharian tadi dia tidur terus di mobil dari sejak di Bali.
Tapi ternyata dengan keheningan ini membuatnya tidak nyaman. Sudah berguling sana guling sini, tengkurap, terlentang, sepi rasanya tidak mengerjai Damian. Kini dia tengkurap dengan posisi kepalanya dipinggir tempat tidur.
“Damian, ssst ssst!” panggilnya.
“Hem!” balas Damian, tanpa menoleh, dia terlihat sangat sibuk.
Melihat reaksi Damian seperti itu, membuat Hanna tidak enak juga kalau mengganggunya.
“Apa kau tidak akan tidur?” tanya Hanna.
“Pekerjaan ku masih belum selesai,” Jawab Damian.
“Kau tidur saja duluan, tidak usah menungguku,” lanjut Damian.
Hanna terdiam, menatap Damian yang masih menatap laptopnya. Ditatapnya pria tampan itu. Bukankah sikapnya belakangan ini sangat manis? Biasanya dia tidak suka kalau dia tidur duluan dan melupakan tugasnya untuk memeluknya saat mengigau.
Kedua tangannya menopang dagunya masih menatap Damian.
Pria ini sangat tampan, pekerjaannya banyak, tidak bisa menetap dalam satu kota. Jika tanpa dirinya yang menemaninya, jadi kemarin-kemarin dia pergi sendiri? Atau ditemani Pak Indra? Kasihan sekali dia. Hemm pasti memang pacarnya banyak diberbagai kota. Pria itu tidak mau jujur apakah dia punya pacar atau tidak. Yang Hanna ingat, waktu di Paris itu, Damian sempat keluar dengan teman-temannya mengencani wanita entah pacar atau hanya untuk bersenang senang saja.
“Damian, sepertinya aku teringat sesuatu,” kata Hanna.
“Apa?” tanya Damian, pandangannya tidak lepas dari laptopnya.
“Waktu di Paris itu kau pergi dengan teman-temanmu untuk mencari wanita kan? Aku fikir kau akan pulang pagi, ternyata malamnya kau pulang, kenapa?” tanya Hanna. Damian tampak mengingat-ingat.
“Memangnya kenapa?” tanya Damian.
“Ya kenapa kau tidak bersama teman-teman itu? Apa wanita itu kurang cantik?” tanya Hanna. Damian tidak menjawab.
“Aku yakin kau terbiasa main-main dengan wanita itu kan? Aku bisa membayangkan, kau pergi ke kota satu ke kota yang lainnya, dari Negara satu ke Negara lain, sendirian, pasti kau kesepian kan?” kata Hanna.
“Tidak,” jawab Damian.
“Tidak?” tanya Hanna, menantap pria itu yang sama sekali tidak melihatnya.
“Tidak? Kan ada kau yang setiap saat mengoceh mengganggu pekerjaanku,” kata Damian. Hanna langsung mencibir.
“Aku bertanya waktu dulu, bukan sekarang. Aku ingin tahu dulu kau seperti apa?” tanya Hanna.
“Kenapa kau belakangan ini kepo sekali?” tanya Damian.
Hanna akan bicara tapi kemudian tidak jadi karena Damian sudah duluan bicara.
“Apa kau menyukaiku?” tanya Damian, membuat Hanna terkejut.
“Kau ini bicara apa? Kau kan yang menembakku tadi siang, kau juga hampir menciumku di pantai, kenapa jadi menuduhku aku yang menyukaimu?” tanya Hanna. Diapun tidak bicara lagi. Tidur terlentang, melempar selimutnya lebih ke atas menutupi seluruh wajahnya. Hanna mulai menggerutu di balik selimut.
“Pria itu selalu membalik balikkan fakta, dia yang bertanya, apa kau mau jadi pacarku satu-satunya? Kenapa kau tidak mau menikah denganku? Dia juga bilang ingin menciumku, dia bilang aku kurus tapi dia selalu memelukku, hem, dasar pria hidung belang tidak punya pendirian, si playboy cap kampak. Eh tiba-tiba bertanya apa kau menyukaiku? Pertanyaan apaaan? Hii iih, kenapa ada pria yang seperti itu di dunia ini? Lagipula kenapa aku sampai terus-terusan besamanya, kesana kemari kaya tas gendongnya saja, kemana-mana ikut,ngintiiil terus, kau dihukum 24 jam, kau harus ikut kemanapun aku pergi, huh, membuatku stress saja,” gerutu Hanna, bergumam sendiri dibalik selimut tebalnya, lalu mencibir sendiri. Kemudian diapun menghentikan bicaranya dan menurunkan selimut dari wajahnya, dan dia hampir saja berteriak kaget saking terkejutnya, karena wajah Damian sudah ada di atasnya menatapnya.
“Kau dari tadi membicarakannku?” tanya Damian. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Hanna, memandang terbalik.
“Kenapa wajahnya dekat sekali?” batin Hanna, jantungnya langsung berdebar kencang juga terkejut, tidak menyangka Damian ada di dekatnya dan pasti mendengar apa yang dia katakan dibalik selimut tadi.
“Tidak,”jawab Hanna menggeleng dengan gugup.
“Pria hidung belang, tidak punya pendirian, playboy cap kampak, apa aku seperti itu?” tanya Damian, tidak melepas tatapannya pada Hanna.
“Oh tidak, kau salah dengar, aku tidak bicara begitu,” elak Hanna sambil ternyum, mencoba menguasai dadanya yang terus berdebar-debar kencang. Si pria tampan itu kenapa melihatnya begitu dekat begini. Bibirnya tepat di atas matanya.
“Kenapa kau dekat dekat denganku, apa kau akan menciumku?” tanya Hanna spontan. Dia bisa membayangkan, jika bibirnya ada di atas matanya, berarti pria itu sedang menatap bibirnya. Haa ah..pria yang genit, keluhnya dalam hati.
“Apa kau mau aku menciummu?” tanya Damian.
“Oh tidak, tidak jangan,” tolak Hanna.
“Kalau begitu, kau diam, tidur, atau aku akan menciummu supaya kau diam!” ancam Damian. Mata Hanna menatap bibir diatasnya itu yang bicara. Kenapa pria itu memliki bibir yang sexi, fikirnya. Hus!
“Ya, ya aku akan tidur, aku akan diam,” jawab Hanna, dia mulai berkeringat dingin.
“Bagus, sebaiknya kau tidur dan diam, kau sangat menggangguku,” keluh Damian, lalu menjauh dan kembali ke sofanya, membuat dada Hanna terasa lega.
Hannapun buru-buru bangun dan mengambil posisi tidur yang nyaman, dia masih berkeringat dingin, bagamana kalau pria itu tiba-tiba menciumnya?Oh tidak, tidak, jangan, apa nanti arti ciuman itu? Pra itu belum menyatakan cinta padanya! Tapi bibir pria itu sangat sexi. Hannaaa….kau berfikir apa?
“Apa kau masih tidak bisa diam?” tanya Damian, membuat Hanna bangun dan menatapnya. Apa pria itu mendengar suara hatinya?
“Tidur! Jangan berfikir macam-macam!” seru Damian, tanpa menoleh, dia kembali bekerja.
Hanna mengerutkan dahinya, apa dia bisa bertelepati? Sampai bisa tahu apa yang orang lain katakan dalam hati?
“Apa kau tidak bisa tidur saja?” tanya Damian lagi.
Wah sepertinya dia memang bisa bertelepati, coba aku tes, fikir Hanna.
“Sudah aku bilang, jangan berfikir macam-macam, kau tidur saja,” kata Damian lagi, mulai kesal.
Ternyata benar, dia bisa membaca fikiranku! Wah gawat kalau begitu, dia pasti geer aku bilang bibirnya itu sexi! Batin Hanna lagi, lalu diapun menutup mulutnya.
“Kenapa kau menutup mulutmu? Apa sebenarnya kau yang ingin menciumku?” tanya Damian.
“Jangan berfikir macam-macam! Tidur!” teriak Damian, melihat Hanna malah seperti memikirkan sesuatu sambil menutup mulutnya.
“Sepertinya aku memang harus menciummu supaya kau diam dan tidur,” gerutu Damian, sambil menyimpan laptopnya.
“Tidak! Tidak! Baik aku akan tidur,” ucap Hanna, tangannya mengarah pada Damian.
Damian menatapnya sekilas, lalu kembali mengambil laptopnya dan disimpan di pangkuannya.
Hanna mengerucutkan bibirnya.
“Aku harus tidur, padahal aku belum mengantuk,” batinnya.
Tapi dari pada pria itu menciumnya, dia akan semakin tidak bisa tidur, huh.
Akhirnya Hanna kembali berbaring dan berselimut, mencoba memejamkan matanya.
Terdengar suara handphone Damian berbunyi, pria itu langsung mengangkatnya.
“Ya, ya. Paling aku sampai besok siang sampai disana. Jadi kau harus sudah disana pagi-pagi sebelum aku datang,” terdengar Damian bicara.
Hanna mencoba memejamkan matanya, tapi telinganya mendengar percakapannya Damian dengan orang itu di telpon, sepertinya dia bicara dengan pak Indra. Bagaimana dia bisa tidur, pria itu bicara di telpon dengan keras, sangat berisik. Diapun menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, tapi ternyata masih juga mendengar suara pria itu. Hanna menurunkan selimutnya, melihat Damian berjalan ke arah jendela, ya lumayan suaranya mulai mengecil, diapun kembali menutup wajahnya dengan selimut. Tiba-tiba terdengar lagi suara Damian lebih keras, Hanna menurunkan lagi selimutnya melihat apa yang dikerjakan pria itu, ternyata menelponnya berdiri dekat tempat tidur, pantas berisik. Pria itu kembali berjalan kearah sofa, masih terus berbicara. Suaranya mulai mengecil. Hanna menarik nafas panjang, dia kembali menutup wajahnya dengan selimut. Sekarang tidak ada lagi suara, hening. Hem, kemana dia? Kenapa tidak ada lagi suara? Membuatnya penasaran saja. Hannapun menurunkan lagi selimutnya dan dia langsung terkejut, pria itu berdiri bertolak pinggang, menatapnya.
“Kau kenapa?” tanya Hanna.
“Apa yang harus aku lakukan supaya kau diam dan tidur?” tanya Damian, dengan kesal.
“Kau ini kenapa?” Hanna balik bertanya, keheranan.
“Kau terus bergerak, kau menggangguku!” jawab Damian.
“Kau ini aneh, kenapa kau marah marah padaku?” tanya Hanna lagi.
“Karena kau terus bergerak kesana kemari, kau juga mengintipku,” kata Damian.
“Tadi kan kau menyuruhku tidur, diam, tidak bicara, tapi kau tidak menyuruhku berhenti bergerak,” jawab Hanna, membuat Damian semakin kesal.
Diapun naik ke tempat tidur.
“Hei hei kau mau apa?” tanya Hanna.
“Aku mau tidur saja!” jawab Damian. Tidur terlentang, kedua tangannya menopang dibawah kepalanya.
Hannapun bangun dan menatapnya.
“Kau kenapa lagi?” tanya Damian.
“Kau akan tidur?” tanya Hanna.
“Iya,” jawab Damian, memejamkan matanya. Hanna hanya menatapnya.
“Kau juga tidur,” ucap Damian.
“Aku akan menunggumu, untuk memelukmu kalau kau mengigau,” jawab Hanna.
Seketika Damian seperti menyadarai sesuatu. Wanita itu selalu menunggunya saat tidur, memeluknya sampai dia tidak bermimpi buruk lagi, tapi dia sering mengeluh jika wanita itu tidur disiang hari. Ada perasaan bersalah dihatinya. Diapun membukakan matanya.
“Ada apa?” tanya Hanna.
“Malam ini kau libur,” jawab Damian dengan pelan.
“Apa? Libur?” tanya Hanna. Damian mengangguk.
“Jadi aku tidak perlu menunggumu tidur?” tanya Hanna.
Damian mengangguk. Hanna langsung tersenyum senang dan dia turun dari tempat tidur, membuat Damian keheranan, diapun jadi bangun dan menatap Hanna.
“Kau mau apa?” tanya Damian.
Hanna mengambil handphonenya yang ada di meja, langsung berbaring di sofa.
“Mau main game! Tadi aku mendownload game baru, pasti seru!” ucap Hanna.
“Hanna! Aku meliburkanmu untuk tidur, bukan main game!” teriak Damian.
“Aku belum mengantuk!” jawab Hanna, dan langsung asyik dengan handphonenya.
Damian menatap Hanna sebentar, akhirnya diapun berbaring dan berbalik dia yang sekarang menutup seluruh tubuhnya dari kaki sampai kepala dengan selimut.
****************
Hiks hiks jadi ingin tertawa…lucu buat author sendiri ya… ga kan pusing kalau garing buat pembaca..hehe..
Jangan lupa votenya, banyak yang baca tapi votenya sedikit, baru ngeuh!
Tidak bosan bosan mengingatan untuk baca karya author yang lain yang masih on going.
- “My Secretary” season 2(Love Story in London)
- “Kontes Menjadi Istri Presdir”