Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-29 Kembali ke rumah mertua



Sore hari bahkan sudah mulai gelap saat acara digedung itu selesai. Henry masih bercakap-cakap dengan beberapa temannya. Shezie hanya diam mendengarkan. Dia hanya sesekali melirik suaminya itu lalu melihat orang-orang yang mulai meninggalkan gedung itu.


Shezie melirik tangannya masih menggandeng lengannya Henry. Pria itu membiarkannya begitu tidak takut risih atau apa.


“Ayo kita juga pulang,” terdengar Suara Henry membuyarkan lamunannya setelah di ber say goodbye dengan temannya. Shezie hanya tersenyum pada teman-temannya Henry itu.


“Iya, ayo,” jawab Shezie. Dia mengikuti langkahnya Henry keluar dari gedung itu.


“Apa kau akan terus-terusan menggandengku seperti itu?” Perkataan Henry membuat Sheze terkejut, diapun melihat tangannya.


“Bukankah katamu aku boleh menggandengmu?” tanya Shezie.


“Acara sudah usai, teman-temanku juga sudah pulang masa kau terus-terusan mengandengku?” keluh Henry.


Shezie langung melepaskan pelukannya, bibirnyapun jadi cemberut.


“Ternyata kau baik-baik itu cuma didepan teman-temanmu!” keluh Shezie.


“Karena kau sangat kaku beracting! Kau melamun terus!” ujar Henry.


Sheziepun diam, dia memang banyak melamun dan bengong, kerena entah kenapa ada perasaan yang berbeda di dalam lubuk hatinya, dia merasa benar-benar berada dalam kehidupan suaminya.


“Kau bengong lagi kan? Ayo masuk!” ajak Henry sambil masuk ke mobilnya.


Shezie tidak bicara apa-apa  lagi, dia mengikuti langkahnya Henry masuk ke dalam mobilnya Henry itu.


 


Tidak berapa lama mobil itu melaju meninggalkan gedung itu yang sudah mulai sepi.


**********


Hanna sangat senang saat melihat Henry datang berdua dengan Shezie, apalagi melihat Shezie dengan penampilannya yang berbeda, gadis itu terlihat lebih cantik sekarang.


“Sayang, Ibu senang kau sudah membawa istrimu pulang!” seru Hanna pada Henry lalu menoleh pada Shezie.


“Kau terlihat sangat cantik!” ucap Hanna sambil tersenyum pada menantunya.


“Trimakasih Nyonya, eh Ibu,” jawab Shezie, juga sambil tersenyum.


“Ayo masuklah. Apa kalian sudah makan malam? Jam makan malamnya sudah lewat, bisa minta koki untuk menyiapkannya lagi,” kata Hanna, tangannya memeluk bahunya Shezie, membawa menantunya masuk ke dalam rumah.


“Kami sudah makan diacara Bu, aku mau istirahat saja!” jawab Henry, sambil melangkah meniggalkan  ibunya dan Shezie.


“Henry!” panggil ibunya, membuat Henry menoleh.


“Ada apa Bu?” tanya Henry.


“Kau lupa mengajak istrimu?” tanya Hanna.


Seketika Henry tersadar, dia sudah membawa Shezie ke rumahnya itu artinya dia akan sekamar dengan gadis itu.


Henry mengalihkan padangannya menatap Shezie.


“Ayo! Aku fikir kau akan bicara dengan ibu,” kata Henry beralasan,pedahal dia memang lupa dan enggan mengajak Shezie sekamar dengannya.


“Aku masuk dulu Bu!” ucap Shezie, sambil tersenyum.


“Iya, istirahatlah!” kata Hanna membalas senyumnya Shezie.


“Ayahmu ada diruang kerja!” teriak Hanna.


“Iya nanti aku menemui ayah!” jawab Henry, dia kembali melangkah menuju kamarnya diikuti oleh Shezie.


Hanna memperhatikan kepergian mereka, kenapa putranya itu tidak bersikap mesra pada istrinya, putranya terlalu cuek, fikirnya. Akhirnya Hanna juga melangah mengikuti langkahnya Henry tapi bukan akan ke kamarnya Henry tapi dia akan ke ruang kerjanya Damian.


“Sayang!” panggil Hanna sambil mengetuk pintu ruang kerja suaminya.


“Iya!” jawab Damian dari dalam ruangan.


Hanna mendorong pintu itu, melongokkan kepalanya, dilihatnya suaminya sedang duduk di kursi kerjanya. Diapun masuk dan menghampirinya.


“Henry sudah pulang, bersama Shezie,” kata Hanna, membuat Damian mendongak menatap istrinya, menghentikan pekerjaannya.


“Dia sudah berhasil membawa istrinya pulang?” tanya Damian.


“Iya,” jawab Hanna.


“Ayah!” terdengar suara di pintu yang terbuka itu, Hanna dan Damian menoleh kearah suara, ternyata Henry masuk keruangan itu.


“Sayang, kau sudah membawa istrimu pulang?” tanya Damian,


“Iya,” jawab Henry, tangannya mengulur ke arah pintu, masuklah Shezie.  Saat gadis itu masuk, Damian tampak terkejut saat melihat penampilan Shezie yang berubah, dia langsung terdiam. Kenapa gadis itu lama semakin lama mengingatkannya pada seseorang? Matanya sedikit memicing kembali mengingat-ingat seseorang yang mirip dengan gadis itu.


“Sayang!” panggil Hanna kerena malihat reaksi Damian yang diam itu dan hanya menatap Shezie.


“Oh iya, Ayah senang kalian sudah berama lagi,” ucapnya sambil tersenyum dan sedikit gugup.


Hanna melihat gelagat itu, dia heran kenapa suaminya tampak terkejut, bukankah dia sudah beberapa kali melihat Shezie? Sebelumnya dia memang mengatakan Shezie mirip seseorang tapi sekarang dia terlihat seperti lebih kaget setelah Shezie merubah penampilannya.


“Apa kabarmu Tuan? Eh Ayah?” tanya Shezie.


“Aku baik. Kau juga terlihat sangat cantik,” Jawab Damian menatap Shezie lekat-lekat, memorynya kembali berputar ke masa yang silam. Shezie tersenyum mendapat pujian dari mertuanya.


Damian bangun dari duduknya, menghampiri putranya.


“Henry, ayah sudah membelikanmu rumah, kau bisa langsung menempatinya, terserah kau mau kapan menempatinya. Supaya kalian bisa leluasa,” kata Damian, sambil menyentuh bahunya Henry.


“Iya ayah, Ibu sudah memberitahuku, besok kami akan kesana, kalau Shezie merasa cocok kita akan langsung pindah saja,” kata Henry, sambil melirik Shezie.


“Aku ikut saja, sayang,” ucap Shezie, memanggil Henry sayang sambil tersenyum pada suaminya. Henry merasa geli dalam hati, gadis itu memanggilnya sayang didepan orang tuanya, bohong banget.


“Bagus kalau begitu, kalau ada yang kalian tidak suka, kalian bisa merubahnya, terserah kalian saja, buat rumahnya senyaman mungkin,” ucap Damian.


“Mudah mudahan kalian betah disana, dan jangan suka ribut-ribut lagi, kalian pengantin baru, tidak baik ribut-ribut terus,” ucap Hanna, menatap Henry dan Shezie.


“Henry , kau harus merubah sikapmu untuk memutuskan semua pacarmu, kau hanya boleh menyayangi istrimu saja,” kata Hanna.


Henry hanya diam saja mendengar perkataan ibunya, lalu Hanna menoleh pada Shezie.


“Kau juga, Shezie, belajarlah menerima baik dan buruknya suamimu, kalian sudah menikah sekarang harus saling menyayangi,” ucap Hanna.


“Iya Bu,” jawab Shezie, sambil tersenyum dan melirik Henry yang tidak bereaksi apa-apa.


“Ibu senang mendengarnya,” kata Hanna lagi, kembali menoleh pada Henry.


“Kau juga harus berjanji! Jangan menyakiti istimu lagi!” ucap Hanna.


“Iya Bu,” jawab Henry, dalam hati dia bicara dalam hati bagaimana bisa bisa dia menyayangi Shezie sedangkan dia dan Shezie tidak ada hubungan apa-apa.


“Baiklah, kami istirahat dulu, ayah, ibu,” ucap Henry, menoleh pada ayah dan ibunya.


Selama mereka bicara Damian hanya memperhatikan Shezie jantungnya semakin bedebar tidak karuan, keringat dingin mulai menyerangnya, dia berusaha keras mengumpulkan kembali memorynya, wajah Shezie semakin mengingatkannya pada seseorang, wajah yang familiar tapi dia tidak terlalu mengingatnya, hanya hatinya merasa dia mengenal seseorang yang mirip dengan Shezie.


“Iya, kalian istirahatlah, besok bisa melihat rumah kalian,” kata Hanna, sambil menoleh pada suaminya.


“Sayang!” panggil Hanna, yang merasa heran karena Damian hanya diam saja.


Damian terkejut saat merasakan tangan istrinya menyentuh lengannya.


“Ya ya, kalian istirahat saja. Sebenarnya aku ngin menanyakan acara tadi, cuma kalian pasti lelah, besok saja kita bicara, Henry,” ucap Damian, kembali tersadar dengan lamunannya.


“Ya ayah, nanti kita bicara, aku mau ganti baju dulu,” ucap Henry, lalu melirik pada istrinya.


“Ayo!” ajak Henry, yang diangguki oleh Shezie. Merekapun keluar dari ruangan itu.


Hanna hanya mengangguk dan tersenyum, lalu menoleh pada Damian, ternyata suaminya itu menatap Shezie sampai gadis itu menghilang dibalik pintu.


“Kau kenapa?” tanya Hanna, kembali mengagetkan Damian.


“Tidak, tidak apa-apa,” jawab Damian.


“Kau memandang Shezie seperti itu, kau tertarik padanya?” tuduh Hanna, menatap suaminya.


“Kau ini bicara apa? Masa aku menyukai menantuku, suka ngawur!” kata Damian.


“Habisnya kenapa kau memperhatikannya terus?” tanya Hanna.


“Setelah di dandani begitu, Shezie terlihat cantik, di sangat cocok dengan Henry kan? Dia juga terlihat gadis yang baik,” jawab Damian, mencari-cari alasan.


“Benar, “ ucap Hanna, mengangguk.


“Kau masih mau bekerja? Aku  lelah dan ingin istirahat,” kata Hanna, sambil menatap wajah suaminya.


“Istirahat saja duluan, aku masih ada pekerjaan,” jawab Damian, memeluk pinggang istrinya, Hanna langsung balas memeluknya.


“Baiklah aku tidur duluan, jangan bekerja terlalu larut, nanti kau sakit,” ucapnya, sambil sedikit berjinjit dan mencium bibir suaminya.


“Selamat malam,” ucapnya.


Damian kembali meraih pinggang istrinya lalu membalas mencium bibirnya.


“Satu ciuman masih tidak cukup,” ucapnya, sambil tersenyum menatap mata istrinya.


“Kalau begitu cepatlah selesaikan pekerjaanmu, aku tunggu dikamar,” kata Hanna.


Damian kembali mengecupnya.


“I love U sayang,” ucapnya.


“I Love U too,” jawab Hanna, barulah Damian melepas pelukannya.


Meskipun pernikahan mereka sudah bertahun-tahun lamanya, rasa cinta Damian pada istrinya itu tidak pernah berkurang, dia masih merasa mencintainya seperti dulu. Diperhatikannya istrinya keluar dari ruangan itu sampai menghilang dibalik pintu, barulah dia kembali duduk ke kursinya, mengerjakan pekerjaannya kembali.


***********


Aku coba lagi up meskipun lola dan sudah diulang lagi, aku ganti lagi provider yang dulu meski cepat habis quotanya. Kalau bisa up syukur kalau tidak, ya sudah tidak jadi up.