Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-45 Menguntit



Makan siang kali ini sangat special, karena menu yang disajikan adalah menu yang akan  menunjang kesuburan.


Damian dan Henry menatap menu di meja itu, sayuran yang biasanya jarang ada diatas meja, kini menjadi menu utama.


“Kau harus makan ini yang banyak,” kata Hanna, memasukkan sayur itu ke piringnya Shezie.


“Sayang, kenapa makanannya seperti ini?” tanya Damian, menoleh pada istrinya.


“Ini special untuk menantu kita supaya cepat hamil, sayuran ini sangat bagus untuk kesehatannya,” jawab Hanna.


“Tapi kan aku tidak butuh makanan untuk kesuburan,” kata Damian.


“Sayang, kita punya anak satu-satunya, aku ingin Henry punya keturunan yang banyak, jangan satu saja,” jawab Hanna.


“Tidak begini juga dong sayang, aku tidak suka sayuran itu, kau kan bisa masak yang lain buatku,” keluh Damian.


“Kau belum mencobanya, rasanya enak, ayo makan,” kata Hanna, malah menyuapkan satu sendok sayur ke mulutnya Damian, yang terpaksa membuka mulutnya atau istrinya akan mengomel seharian.


Meskipun sayuran itu terasa aneh dimulutnya Damian, daripada disemprot istrinya dia akhrinya memakannya juga.


Henry diam tidak bicara dia bingung, begitu besarnya harapan ibunya untuk mendapatkan keturunan darinya, bagaimana kalau ibunya tahu kalau Shezie hanya istri sementaranya saja? Dan tidak mungkin memberikan keturunan untuk keluarganya.


Damian menatap Shezie yang sedang makan dengan lahap. Gadis itu terlihat lebih bening sekarang, ternyata Henry memang merawatnya dengan baik, hanya saja setiap melihat wajahnya  mengingatkannya pada wanita dimasa lalunya, yang kini sedang dicari kabar beritanya oleh orang-orang suruhannya, tapi sampai detik ini belum ada kabar apapun dari mereka.


“Kau belum bercerita orangtuamu meninggal saat kau berumur berapa tahun?” tanya Damian, membuat Shezie terkejut juga Henry kenapa Damian menanyakan hal itu lagi. Wajah Shezie langsung pucat setiap kali mengingat kebohongannya.


“Waktu aku kecil yah,” jawab Shezie sambil menunduk, dia tidak berani menatap mertuanya.


Henry hanya meliriknya sekilas, dia juga bingung kebohonagn ini jadi terus berlanjut, tapi kalau mengaku ibunya Shezie masih ada, semuanya akan semakin ribet, akhirnya dia memilih diam saja.


“Maaf, siapa yang meninggal duluan?” tanya Damian.


“Ayah, meninggal saat ada bencana banjir di desa kami,” jawab Shezie. Semua hening mendengarkan.


“Ibu…” Shezie terdiam, apakah dia harus kembali mengatakan kalau ibunya meninggal, dia tidak ingin ibunya meninggal.


“Ibu meninggal karena sakit,” lanjutnya dengan suara yang berat, kebohongan yang sangat berat, kebohongan yang mendapat penolakan dari batinnya.


“Maaf aku malah mengungkit masalah ini,” ucap Damian.


“Tidak apa-apa yah,” jawab Shezie. Suasana kembali hening.


“Kita tidak menginap ya Bu, Ayah,” ucap Henry mencoba mengalihkan perhatian.


“Kenapa?” tanya Hanna.


“Kami ada acara diluar nanti malam,” jawab Henry.


“Ya sudah tidak apa-apa, kalian memang butuh waktu berdua, seharusnya kalian bulan madu. Memangnya kalian tidak ada rencana untuk bulan madu?” kata Hanna.


“Nanti kita fikirkan kita akan bulan madu kemana,” jawab Henry.


Sedangkan Shezie diam saja, hatinya merasa tidak nyaman dan terus merasa bersalah mengatakan ibunya sudah meninggal.


Sore harinya Henry membawa Shezie kembali kerumah mereka dan malam harinya Shezie sudah berdandan cantik bersiap-siap untuk makan malam bersama Martin.


Henry membuka pintu kamar saat dilihatnya gadis itu sudah rapih dan sedang memeriksa isi tasnya. Shezie terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun malamnya. Henry mematung menatapnya. Menatap istrinya yang akan kencan dengan tunangannya malam ini.


“Kau akan pergi makan malam dengan Martin?” tanya Henry.


“Iya,” jawab Shezie, sambil menoleh pada Henry yang baru masuk ke kamar mereka.


Henry menatap wajah cantik itu, Shezie memang berbeda sekarang, setelah didandani dan diberikan pakaian bagus, aura kecatikannya semakin terpancar.


“Kalian akan makan malam dimana?” tanya Henry tiba-tiba saja kepo.


“Aku tidak tahu Martin akan mengajakku kemana,” jawab Shezie.


Henry diam lagi.


“Bersenang-senanglah,” ucap Henry kemudian.


Shezie hanya diam saja, Henry tidak tahu kalau dia tidak mencintai Martin, bagaimana dia bisa bersenang-senang dengan Martin? Dia tidak menyukai pria itu. Henry juga tidak bisa melarang Shezie makan malam dengan tunangannya, karena pernikahan mereka bukan sebenarnya pernikahan.


“Iya,” jawab Shezie , sambil menatap Henry. Pria itu sangat begitu pengertian. Meskipun dia membayarnya tapi Henry memberikan kebebasan padanya sesuai dengan perjanjian untuk tidak ikut campur terlalu jauh urusan pribadi masing-masing.


“Baiklah aku berangkat sekarang, jangan sampai Martin tiba duluan di rumahku,” ucap Shezie.


Henry hanya mengangguk. Shezie meraih tasnya dan keluar dari kamar itu. Henry hanya dudu dipinggir tempat tidur dan merenung. Di dengarnya suara mobil meninggalkan rumahnya, itu artinya Pak Andi sudah pergi.


Entah kenapa hatinya merasa gelisah dengan kepergiannya Shezie. Membiarkan istrinya pergi makan malam dengan pria lain ada rasa yang berbeda muncul dihatinya, entah rasa apa itu, apakah dia merasa cemburu?


Tiba-tiba Henry bangun, menuju walk in closet, mengambil mantel panjang yang berupluk, tergesa-gesa keluar dari rumah dengan kunci mobil ditangannya, dengan cepat dia masuk kemobilnya. Diluar sudah sepi karena mobil yang dibawa Pak Andi sudah pergi. Henry segera melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumahnya, mencoba mengajar mobil yang ditumpangi Shezie.


Di jalan raya matanya teus mengedar mencari-cari mobilnya Pak Andi, dia masih ingat lokasi tempat dia menurunkan Shezie, apakah rumahnya yang sebenarnya ada didaerah itu atau bukan?


Akhirnya mobil itu bisa dilihatnya, diapun mengikutinya dari kejauhan, jangan sampai Shezie melihatnya.


Sebenarnya Pak Andi menyadari kalau majikannya mengikutinya, tapi dia tidak bicara apa-apa pada Shezie.


Henry mengikuti mobilnya Pak Andi itu, ternyata mobil itu sudah melewati lokasi yang dulu Henry menurunkan Shezie, berarti memang Shezie tidak tinggal di lokasi itu. Mobil itu terus meluncur ke daerah lain, Henry terus mengikuti dari kejauhan.


Setelah cukup jauh dilihatnya mobil itu mulai berjalan pelan dan menyalakan lampur merahnya tanda akan berhenti. Mobil itupun berhenti, Henry cepat-cepat menghentikan mobilnya juga.


Dilihatnya Shezie turun dari mobilnya.


“Terimakasih Pak Andi, kau boleh pulang, aku pulang memakai taxi,” ucap Shezie.


“Baik, Bu,” jawab Pak Andi. Dia sempat melirik kalau mobil majikannya juga ikut berhenti di kejauhan.


Shezie memastikan mobil Pak Andi pergi meninggalkannya. Henry masih  memperhatikan Shezie, ternyata Shezie masih berjalan kaki lagi, gadis itu benar-benar merahasiakan kondisi pribadinya. Gadis


itu benar-benar profesional dengan pekerjaannya.


Cukup jauh Shezie berjalan, akhirnya dia berbelok kiri. Henry kebingungan, apakah itu artinya masuk gang atau gimana. Dia segera memajukan mobilnya, mudah mudahan saja Shezie tidak melihatnya.


Henry mengentikan mobilnya saat melihat belokan itu ternyata menuju sebuah rumah yang sederhana dengan pagar besi yang tidak terlalu tinggi.


Dilihatnya lagi Shezie masuk kedalam rumah itu, dan menutup pintunya. Henry terdiam memperhatikan. Ternyata benar itu rumahnya Shezie, rumah yang terbilang cukup sederhana.


Kalau melihat dari pekerjaan Shezie yang menjadi selingkuhan pria-pria itu sekali berakting mendapatkan uang 5 juta, berapa uang yang didapatnya dalam sebulan, kalau banyak yang memakai jasanya bisa puluhan juta dalam sebulan, tapi ternyata Shezie tinggal dirumah sederhana? Seharusnya dia bisa menyewa apartemen, dari segi dandanan saja dia sangat sederhana , kendaraan juga tidak punya, padahal dengan uangyna dia bisa mencicil sebuah mobil.


Henry menyandaran tubuhnya kesandaran jok mobilnya. Dia semakin kagum dengan perjuangannya Shezie, dia bias menebak uang yang didapat Shezie habis untuk berobat ibunya.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepannya. Henry menegakkan tubuhnya saat melihat seorang pria muda yang tinggi dan gagah keluar dari mobil itu, hatinya langsung menerka mungkin itu mobilnya Martin, karena dilihatnya Pria itu berjalan berbelok menuju rumahny aShezie. Henry buru-buru melajukan mobilnya mencari lokasi yang agak tersembunyi di arah depan beberapa mobil yang terparkir didepan pertokoan. Dia hanya bisa melihat mobil itu dari kaca spion.


Di dalam kamarnya Shezie mengeluarkan gaun pegantinnya dan juga cincin pernikahannya. Disentuhnya gaun itu. Sebenarnya dia ingin menikah sekali seumur hidup, tapi ternyata nasib membawanya dalam takdir diri yang lain, pernikahan pertamanya hanya sebuah pernikahan sandiwara, dan harus menghapus kenangan pernikahan pertamanya itu.


Terdengar suara ketukan dipintu, sepertinya Martin sudah tiba.


Shezie buru-buru memasukkan gaun pengantin itu kedalam lemari, lalu segera menuju pintu.


Martin menunggu Shezie mambuka pintu, saat pintu itu terbuka, dia tertegun beberapa saat, dilihatnya Shezie tampil tidak biasanya, dia terlihat sangat cantik dengan gaun malamnya. Dalam hatinya Martin bertanya-tanya darimana Shezie mendapatkan gaun sebagus itu? Dia bisa manebak gaun itu pasti sangat mahal.


“Kau sudah siap?” tanya Martin.


“Iya,” jawab Shezie.


Martin mencondongkan tubuhnya akan mencium Shezie, tapi gadis itu segera melengos dan menghindar.


“Aku ambil tas dulu,” ucap Shezie membuat Martin jengkel, sangat disayangkan gadis secantik itu hanya bisa dipandangnya saja, dia begitu ingin merasakan mencium  bibirnya yang meraha itu. Shezie benar-benar sangat berbeda sekarang, ternyata kalau didandani dengan benar gadis itu sangat menawan.


“Ayo!” ajak Martin, saat Shezie kembali muncul dipintu.


Shezie mengunci pintu rumahnya. Martin langsung meraih tangannya, dia mencoba melepaskan tapi genggaman tanganya Martin sangat kuat, jadi dibiarkannya Martin menuntunnya sampai mobil.


Dari kejauhan Henry bisa melihat Henry menuntun Shezie menuju mobilnya. Pria itu membukakan pintu mobil buat Shezie, gadis itupun masuk, sedangkan Martin masuk dipintu sebelahnya.


Ada rasa yang semakin membara yang muncul dihatinya Henry, dia samakin tidak suka melihat kemesraan Shezie dengan pria itu.  Shezie bermesra-mesraan dengan Martin wajar karena mereka sudah bertunangan dan akan menikah, mereka akan menjalani pernikahan yang sebenarnya, bukan sandiwara seperti pernikahannya.


Dilhatnya mobilnya Martin melaju bebelok kesebelah kanan. Henryun mulai menyalakan mobilnya akan mengikuti kemana Martin mengajak Shezie.


*************