Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-104 Hanna menemui ayahnya



Hari telah gelap. Damian belum pulang. Hanna tidak bisa tidur memikirkan masalah yang menimpa dirinya. Ternyata untuk meresmikan hubungannya dengan Damian sangat sulit. Pria itu memintanya untuk tidak menunggunya tapi dia akan tetap menunggunya pulang.


Sekitar pukul 9 malam, Hanna duduk ditangga rumah itu menatap langit yang terlihat terang oleh sinar bulan. Ternyata di langit tidak seterang di dalam hatinya. Hatinya masih berkabut tebal dengan kesedihan dan kecewaan.


Dilihatnya cincin yang ada di jari manisnya dan jari tengahnya. Mana yang akan dipilihnya?


“Kau suka cincin yang mana?” Tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya. Mata Hanna melihat sepatu hitam mengkilat ditangga satu tingkat lebih rendah dari tempat dia duduk. Kepalanya langsung mendongak menengadah, dia ingin melihat wajah pemilik kaki itu yang pastinya akan sangat jauh karena tubuh Damian tinggi besar, dia sangat gagah.


Pria tampan itu manatapnya.


“Kau bertanya cincin mana yang kusuka?” tanya Hanna.


Damian mengangguk.


“Aku suka cincin yang ini,” jawab Hanna menunjuk jari tengahnya.


“Bukankah itu sangat murah?” tanya Damian.


“Tidak apa-apa, karena aku ingin selalu jadi wanita satu-satunya buatmu,” jawab Hanna dengan jujur, matanya kembali melihat tangannya yang direntangkan, melihat dua cincin yang sangat berbeda jauh harganya itu.


“Tapi itu artinya cintaku hanya beberapa ratus ribu saja,” jawab Damian.


“Tapi aku mendapat kekayaanmu bermilyar-milyar,” jawab Hanna sambil tertawa.


“Hemm ternyata kau lebih cinta uangku,” ucap Damian. Hanna masih tertawa, dia lalu berdiri, kini tubuhnya hampir sejajar dengan Damian.


“Kenapa kau pulang? Katanya kau sibuk?” tanya Hanna. Tubuhnya sangat dekat dengan tempat Damian berdiri, mereka saling bertatapan,


“Aku pulang untuk memastikan kau tidur dulu. Karena aku tahu kau akan menungguku. Setelah kau tidur, baru aku kerja lagi,” jawab Damian.


Tidak ada yang diucapkan Hanna. Dia hanya menatap mata cantiknya Damian. Pria itu memiliki mata yang cantik. Hanna bisa merasakan tatapannya pria itu penuh cinta padanya.


“Aku mencintaimu, Damian,” ucap Hanna.


“Iya aku tahu makanya aku pulang,” jawab Damian.


Hanna terdiam.


“Aku punya hadiah untukmu,” kata Damian.


“Hadiah apa?” tanya Hanna, dia tidak memperhatikan kalau ditangan Damian memegang sebuah plastik putih.


“Hadiah yang akan membuatmu tersenyum,” jawab Damian.


“Benarkah? Apa itu?” tanya Hanna.


Damian memberikan kantong plastic putih itu.


“Apa sih?” tanya Hanna, sambil menerima kantong itu dan melihat isinya apa. Ternyata sebuah kalkulator besar yang masih memakai dus.


“Apa ini? Kau membelikanku kalkulator? Buat apa?” tanya Hanna.


“Supaya kau sibuk berhitung, kau sangat suka berhitung,” jawab Damian. Hanna langsung tertawa lebar.


“Benarkan? Kau langsung tersenyum melihatnya,” ucap Damian menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tentu saja, aku membayangkan pundi-pundi uangku semakin bertambah banyak,” jawab Hanna.


“Dan aku harus banting tulang mengisi pundi pundi uangmu,” keluh Damian, yang dibalas tertawaannya Hanna.


“Ayo masuk, kau harus cepat tidur,” kata Damian.


“Bagaimana aku bisa tidur? Aku akan begadang untuk menulis rincian harga-harga,” jawab Hanna.


“Aku menyesal membelikanmu kalkulator,” keluh Damian. Tapi tangannya memeluk pinggang Hanna supaya masuk ke rumah.


Tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Damian menghentikan langkahnya, mengambil ponsel disakunya.


“Kau masuk duluan,” ucap Damian.


Hanna mengangguk, melihat sekilas pada ponselnya Damian, lalu dia masuk kedalam rumah, tapi tidak langsung ke kamar, dia berdiri dibalik pintu rumah.


Damian mengangkat telponnya.


“Bagaimana?” tanya Damian.


“Apa? Dengan jumlah uang 2x lipat dari harga kemarin penduduk masih menolak? Itu harga yang sangat tinggi dan benar-benar menguras uangku!” kata Damian hampir berteriak, tapi kemudian merendahkan lagi suaranya.


Hanna mendengarkan dibalik pintu.


“Aku tidak mau tahu, coba kau cari caranya supaya penduduk mau menjual tanahnya sesuai dengan kesepakatan awal. Aku ingin Hanna Grand Lakeside tetap berdiri,” kata Damian.


Hanna masih diam berdiri dibalik pintu.


“Aku tidak mau Hanna Grand Lakeside dibatalkan! Itu hadiah buat istriku!” bentak Damian.


Mendengar setiap percakapan Damian dengan orang yang di telpon itu membuat hati Hanna serasa teriris iris, Damian begitu gigih mendirikan real estate itu dan ayahnya telah menghambatnya karena ayahnya kecewa pada dirinya. Sepertinya dia harus bicara dengan ayahnya, meminta ayahnya untuk tidak mempersulit Damian. Dia benar-benar harus bernegosiasi dengan ayahnya.


Terdengar suara langkah sepatu menaiki tangga. Sepertinya Damian selesai menelponnya. Hanna buru-buru berlari masuk ke kamarnya.


Hanna segera naik ke tempat tidur, langsung berbaring menutup tubuhnya dengan selimut.


“Aku tahu kau belum tidur,” kata Damian.


Hanna membuka matanya.


“Kau tahu dari mana?” tanya Hanna.


“Sejak kapan kau tidur dengan memakai sandalmu?” kata Damian, ternyata karena buru-buru jadi Hanna lupa tidak membuka sandalnya dan selimutnya yang tidak rapih memperlihatkan kakinya yang masih menggunakan sandal.


Diapun membuka selimutnya, berbalik menatap Damian sambil terkekeh.


Damian menggeleng-gelengkan kepalanya, rasanya tidak percaya dia mencintai wanita seperti ini. Diapun naik ketempat tidur. Berbaring disamping Hanna dan memeluknya.


“Tidurlah, aku masih banyak perkerjaan,” kata Damian.


Hanna merasakan pelukan hangatnya Damian, menempelkan wajahnya ke dada pria itu terasa begitu nyaman. Dia merasa besalah kehadirannya malah membuat impian Damian terganggu.


Hanna pun mencoba tidur, dia merasakan tangan Damian mengusap –usap punggungnya. Tapi dia sama sekali tidak bisa tidur, masih terngiang percakapan Damian dengan orang ditelpon  itu. Dia tidak tega melihat usahanya Damian sia-sia.


Tiba-tiba Hanna merasakan pelukan Damian mengendur, Hannapun mengangkat kepalanya melihat wajahnya Damian, ternyata pria itu teridur. Hemm katanya ingin menidurkannya, malah sendirinya yang tidur.


Hanna menggeser lebih dekat menatap wajah yang tertidur itu. Damian mulai mengigau.


“Jangan pergi,” igauan Damian.


“Tidurlah,aku tidak akan pergi,” ucap Hanna. Dia merasakan pelukan Damian kembali menguat.


“Kau pasti sudah bekerja sangat keras demi membahagiakanku,” ucapnya.


Terfikir dalam benaknya, dia harus melakukan sesuatu, dia tidak mungkin membiarkan Damian berjuang sendirian, tidak, dia tidak bisa diam saja. Terus apa yang bisa dilakukannya untuk Damian? Hanna terus berfikir, akhirnya terbersit dalam fikirannya untuk menemui ayahnya.


Dia harus menemui ayahnya supaya mau memaafkannya dan menerima Damian, atau setidaknya membiarkan Damian melanjutkan pekerjaannya, karena pekerjaan yang dilakukan Damian juga untuk kebahagiaannya. Dia harus menemui ayahnya.


*********


Keesokan harinya Hanna melihat situasi Damian. Pria itu pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantornya dengan Satria. Hanna melihat jam di dinding, masih pagi. Kalau jam segini ayahnya biasanya masih di rumah. Dia harus menemui ayahnya di rumah, kalau ternyata ayahnya tidak ada dirumah, dia akan menemui ayahnya dikantornya, Hanna bertekad untuk bicara dengan ayahnya.


Akhirnya Hanna meraih tasnya, keluar dari rumah, menuruni tangga menuju gerbang rukan itu.


Di dalam kantor, kebetulan Damian ada diruang tengah berdiri dengan Pak deni dan dua orang karyawannya. Tidak sengaja dia melihat kearah jendela, dia melihat Hanna pergi menuju gerbang. Dia jadi bertanya-tanya kenapa Hanna pergi tanpa memberitahunya dahulu? Biasanya di malam hari atau pagi tadi saat sarapan dia mengatakan tujuannya.Kemana Hanna pergi tanpa memberitahunya?


Hanna menyetop taxi, menyebutkan alamat rumahnya.


Di rumahnya, Pak Louis sedang bersiap-siap akan berangkat bekerja, saat sebuah taxi berhenti dihalaman rumahnya.


“Siapa yang datang?” tanya Bu Astrid, dia sedang berdiri di teras akan mengantar suaminya berangkat bekerja. Bu Astrid terkejut saat melihat penumpang taxi itu adalah putrinya.


“Hanna! Sayang!” panggilnya, dia kan menyambutnya, tapi tangan Pak Louis menahannya. Bu Astrid menatap suaminya. Dia tahu Hanna bersalah, tapi dia lebih tidak mau kehilang putri satu-satunya.


Setelah membayar ongkos taxi, Hanna menoleh kearah orang tuanya yang berdiri di teras rumah yang letaknya lebih tinggi dari halaman.


Dia menghela nafas panjang, meskipun sebenarnya  dia gugup dan merasa gemetar bertemu dengan orangtuanya, tapi kembali lagi ingatannya pada Damian, dia harus melakukannya.


Hannapun melangkahkan kakinya menuju teras rumah.


“Ayah, Ibu!” panggilnya, menghentikan langkahnya di depan orangtuanya.


Bu Astrid menatapnya, matanya langsung saja berkaca-kaca.


“Bu!” panggil Hanna. Bu Astrid akan menghampiri tapi tangannya masih dipegang suaminya.


“Mau apa kau kemari? Kau ingat pulang juga?” hardik Pak Louis.


“Ayah, sekali lagi aku minta maaf, Bu!” ucap Hanna menatap kedua orangtuanya.


Hanna kembali menatap ayahnya.


“Yah, ada yang ingin aku bicarakan,” kata Hanna.


“Soal apa? Suamimu itu? Sudah aku bilang aku tidak akan merestui kalian,” ucap Pak Louis.


“Ini..soal proyek Damian,” kata Hanna, dengan hati-hati.


“Apa urusannya denganmu?” tanya Pak Louis, masih ketus, berdiri dengan tidak mau melihat Hanna.


Hanna merasakan tanganya gemetar, dia tahu dia punya salah pada orangtuanya, dan tentu saja kesalahannya tidak akan dengan begitu mudah dimaafkan oleh orangtuanya. Hati orangtuanya terluka karenanya.


Bu Astrid menatap Hanna, melihat putrinya tampak pucat dan tanganya gemetaran, Bu Astrid merasa kasihan.


“Pak, bicaranya didalam saja, kasihan Hanna berdiri diluar,” kata Bu Astrid.


“Tidak perlu, buat apa? Bukankah dia sendiri yang pergi dari rumah?” jawab Pak Louis, masih berkeras hati.


“Tidak apa-apa Bu, disini saja,” kata Hanna, manatap ibunya, lalu kembali menoleh pada ayahnya.


“Yah, aku mohon bantu proyeknya Damian jangan mempersulitnya,” pinta Hanna.


“Tidak akan, aku sudah membatalkan perjanjian kerjasamaku di poryeknya,” jawab Pak Louis.


“Tapi yah, proyek itu sudah berjalan, kasihan Damian, semua kerja kerasnya sia-sia karena masalah ini. Tolong jangan campur adukan pekerjaan dengan masalah pribadi. Aku tahu kami telah menyakiti ayah tapi jangan mengorbankan pekerjaannya Damian,” kata Hanna.


“Aku tidak peduli, aku hanya ingin kalian keluar dari kota ini,” ucap Pak Louis.


“Pak! Jangan begitu! Walaubagaimanapun Hanna putrimu,” kata bu Astrid, memegang tangan suaminya.


Pak Louis menatap Hanna.


“Putriku? Mana ada seorang putri yang menikah tanpa minta restu orangtuanya, malah mengundang orangtua lain di pernikahannya? Jela jelas dia tidak menganggap kita orangtuanya,” ucap Pak Louis.


Hanna terdiam, dia faham ayahnya sangat tersinggung dengan apa yang dilakukannya.Tapi itu semua tidak disengaja. Tidak ada pernikahan yang sebenarnya, semua terjadi hanya kesalahfahaman yang berlanjut dengan kebohongan selanjutnya. Apakah dia harus jujur soal masalah itu? Supaya ayahnya tidak marah lagi? Atau ayahnya justru akan marah karena dia dan Damian mempermainkan pernikahan?


“Yah, aku mohon, proyek ini sangat berarti buat Damian, aku tidak mau perkejaannya sia-sia, tolong yah! Aku mau melakukan apa saja, asal ayah jangan mempersulitnya,” pinta Hanna.


“Benar kau mau melakukan apa saja?” tanya Pak Louis, menatap Hanna.


“Iya yah, aku akan melakukan apa saja, demi Damian,” jawab Hanna.


Pak Louis tersenyum sinis.


“Apa kalau aku mengabulkan permintaanmu, kau mau meninggalkan Damian?’ tanya ayahnya, membuat Hanna terkejut.


“Apa maksud ayah? Aku tidak mau meninggalkan Damian,” kata Hanna.


“Sudah kuduga, “ ucap Pak Louis.


“Kenapa ayah tidak mencoba berdamai dengan damian? Damian sangat menyayangiku yah,” kata Hanna.


“Bagaimana bisa kau menyebutnya menyayangimu? Menikah saja tidak meminta restu pada orangtua calon istrinya, laki-laki macam apa itu? Seenaknya mungut gadis orang!” umpat Pak Louis.


Hannapun terdiam, dia bingung harus menjelaskan gimana lagi. Apa dia harus mengatakan kalau sebenernya dia belum menikah? Tapi itu artinya kebohonganya terbongkar, apa itu cara yang terbaik?


“Yah, tolong maafkan Damian,” pinta Hanna.


“Aku heran, kau begitu cintanya pada Damian, sampai mau berbuat apa saja untuk dia. Apa bagusnya dia? Pria tidak tahu tatakrama,” keluh Pak Louis.


“Tidak begitu yah, dia sangat baik padaku,” bela Hanna.


“Sekarang baik, paling bertahan berapa lama? Sebentar lagi dia bosan dan akan meninggalkanmu! Aku tahu kehidupan pria-pria kaya seperti dia, kau saja yang dibutakan dengan cinta,” kata Pak Louis.


“Tidak yah, Damian tidak seperti itu,” sanggah Hanna.


“Kau bilang begitu karena kau terlalu polos,” kata Pak Louis.


Hanna terdiam, apakah yang dikatakan ayahnya benar? Pria kaya seperti Damian akan mempermainkan cintanya? Kalau sudah bosan akan meninggalkannya?


***********


Maaf ya baru up, mati lampu seharian.


************