Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-48 Pertemuan tidak terduga



Damian mengendari mobilnya dengan kecepatan sedang. Sejak dari berangkat tadi, Hanna tumben sekali tidak banyak bicara. Mereka kembali melewati jalan jalan yang pertama kali mereka bertemu. Bahkan saat mereka melewati jalan dimana Hanna berlari dengan memakai gaun pengantinnya, menghindari kejaran orang-orang. Ada sedih dihati Hanna, dia rindu orangtuanya, tapi dia takut pulang. Dia sadar dia sudah mengacaukan semuanya, sudah membuat oangtuanya dan orangtua Cristian malu, juga mengecewakan Cristian, temannya sedari kecil. Padahal sebenarnya Cristian sangat baik padanya, dia selalu melindunginy jika ada anak-anak yang iseng membuatnya menangis. Dia juga pacar yang baik dan pengertian. Hatinya menjadi sedih, tidak seharusnya dia mengecewakan Cristian, tapi dia juga tidak tau kenapa di malam sebelum pernikahan itu dia menjadi ragu untuk menikah dengan Cristian.


“Kau akan meeting dimana?” tanya Hanna, menoleh pada Damian.


“Kantornya Prima Island Corp,” jawab Damian, seketika Hanna terkejut, dia menatap Damian dengan tatapan tidak percaya.


“Kenapa?” tanya Damian.


“Mmm tidak apa-apa,” Hanna menggeleng, seketika keringat dingin muncul di telapak tangannya, dia menjadi gugup dan gelisah.


“Kau menemui siapa disana?” tanya Hanna lagi.


“Dengan pak Louis,” jawab Damian.


Deg! Jantung Hanna tiba-tiba terasa berhenti. Jadi Damian akan meeting dengan ayahnya? Bagaimana ini?


“Apakah aku akan ikut kesana juga?” tanya Hanna.


“Tentu saja,” jawab Damian.


“Bolehkan aku tinggal di hotel terdekat saja? Aku ingin bermain ke pantai,” ucap Hanna, dia menocba menghindari supaya tidak bertemu dengan ayahnya.


Sebenarnya dia ingin memberitahu Damian kalau pak Louis itu ayahnya, tapi dia takut nantinya mengganggu hubungan kerja mereka, sama dengan saat dia merahasiakan Cristian dari Damian.


“Baiklah, aku akan turun di gedung itu, kau yang mencari hotelnya, kau pasti mengenal daerah sini kan?” tanya Damian. Hanna tidak menjawab.


“Oh iya, rumahmu di daerah mana?” Damian kembali bertanya.


“Sudah terlewat,” jawab Hanna.


Damian tidak bicara lagi. Sebenarnya dia ingin menawari Hanna barangkali mau berkunjung pada orangtuanya tapi bagaimana kalau Hanna pulang dan tidak ikut bersamanya lagi? Bagaimana dengan nasib dirinya, yang masih bergantung pelukan dari wanita itu? Apa dia siap kehilangan Hanna?  Akhirnya Damian tidak mengungkit hal itu, dia hanya focus pada pekerjaannya.


Mobil memasuki gedung itu. Ada rasa sedih dalam hati Hanna, melihat kantor tempat ayahnya bekerja. Tapi dia belum berani bertemu orangtuanya untuk saat ini.


“Aku turun ya, kau mencari hotel saja. Nanti aku telpon kalau meetingnya sudah selesai, atau nanti pak Indra yang mengantarku, jadi kau tidak perlu menjemputku,” kata Damian. Hanna mengangguk.


Damian merasakan kalau hari ini Hanna sangat pendiam sekali, tidak pecicilan seperti biasanya, tapi dia tidak ingin banyak bertanya dan tidak mau bertengkar disaat hati Hanna mungkin sedang sedih.


Setelah Damian masuk ke dalam gedung itu, bergantian Hanna yang membawa mobilnya menuju arah pantai. Dia rindu sekali daerah tempat dia bermain dengan Cristian juga Sherli.


Angin pantai siang itu terasa agak kencang, ombaknya juga agak pasang.


Hanna berjalan menyusuri pantai itu sendirian, menendang nendang kakinya di pasir.


“Hanna!” tiba-tiba seseorang memanggilnya. Membuat Hanna terkejut, dia hafal suara itu, itu suara Sherli. Diapun menoleh. Ternyata benar, Sherli sedang duduk sendiri di sebuah batang pohon besar yang sengaja di simpan untuk dijadikan tempat duduk duduk.


Sejenak Hanna bingung apa yang harus dilakukannya. Dia tidak menyangka akan bertemu Sherli di pantai.


Sherli berlari menghampiri Hanna, menatapnya dengan tidak percaya.


Hanna juga menatapnya.


“Sherli?” tanya Hanna.


“Kau Hanna?” Sherlipun seakan tidak percaya pada penglihatannya. Setelah yakin, diapun memeluk Hanna.


“Aku sangat merindukanmu,” kata Sherli.


“Aku juga,” ucap Hanna, memeluk teman masa kecilnya itu.


“Apa kabarmu? Kemana saja kau selama ini? Semua orang mencarimu,” kata Sherli, menatap Hanna dengan banyak pertanyaan di fikirannya.


Akhirnya mereka duduk di pohon besar itu, menatap deburan ombak yang semakin keras.


“Jadi kau selama ini kemana? Apa kau sudah menemui orangtuamu?” tanya Sherli.


“Belum, aku sekarang tinggal dikota, aku ada pekerjaan disana,” jawab Hanna, bebohong, tapi memeluk Damian juga pekerjaan bukan? Meskpiun pekerjaan yang sangat aneh.


“Apa kau bertemu Cristian?” tanya Sherli lagi.


“Tidak, aku tidak bertemu dengannya lagi,” jawab Hanna.


“Iya, dia membuat pengumuman orang hilang untuk mencarimu. Bahkan belakangan ini ayahmu membuat pengumuman semakin meluas ke daerah-daerah,” kata Sherli.


Hanna tidak menjawab.


“Jadi kau akan pulang sekarang?Menemui orangtuamu?” tanya Sherli.


“Sepertinya tidak. Aku kesini hanya mengantar temanku untuk sebuah pekerjaan,” jawab Hanna. Diapun menoleh pada temannya itu.


“Sherli!” panggilnya. Sherlipun menoleh dan mereka bertatapan.


“Aku minta kau merahasiakan kalau kau bertemu denganku disini. Sementara ini aku belum mau pulang,” kata Hanna.


“Kenapa kau meninggalkan pernikahanmu? Apa karena yang aku ucapkan malam itu?” tanya Sherli.


Hanna terdiam. Ya malam itu Sherli menemuinya di kamarnya, sahabatnya itu mengungkapkan isi hatinya kalau dia mencintai Cristian, dan dia tidak sanggup melihat Cristian akan menikah dengannya.


“Apa Cristian tahu alasanmu meninggalkannya?” tanya Sherli lagi.


Hanna menggeleng.


“Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi,” jawab Hanna beberapa detik kemudian.


“Jadi kau akan pergi lagi?” tanya Sherli.


“Iya, mungkin besok aku sudah meninggalkan tempat ini lagi,” jawab Hanna.


“Hanna, aku benar-benar minta maaf,sudah mengacaukan pernikahanmu,” kata Sherli. Hanna terdiam.


“Aku hanya mengungkakan isi hatiku saja, aku juga tidak mengira kau akan meninggalkan Cristian,” kata Sherli.


Hanna masih tidak menjawab.


“Apa kalau ayahmu tahu kau kembali, dia akan menikahkanmu lagi dengan Cristian?” tanya sherli.


“Entahlah aku tidak tahu,” jawab Hanna.


“Kau sendiri, apa kau masih sering bertemu Cristian?” Hanna balik bertanya, menatap sahabatnya itu.


Hannapun diam.


“Dia masih sangat peduli padamu meskipun kau sudah meninggalkannya,” kata Sherli.


“Dia tidak marah padaku?” tanya Hanna.


“Sepertinya tidak. Dia sangat mencintaimu, Hanna,” ucap Sherli. Hanna bisa merasakan ada nada kekecewaan di kata-katanya Sherli. Dia tahu sekarang ternyata selama ini Sherli mencintai Cristian diam-diam.


Merekapun saling diam. Hanya terdengar saura deburan ombak yang semakin pasang.


**************


Di kantornyanya  Prima Island Corp.


Ternyata pak Indra sudah ada di Loby menunggu Damian, juga ada beberapa karyawan yang lain.


“Mari pak, kita sudah ditunggu di ruang meeting oleh pak Louis,” kata pak Indra. Damian hanya mengangguk. Merekapun naik lift menuju ruangannya pak Louis.


Di dalam ruang meeting, Pak Louis tidak sendirian, ada juga karyawan yang lain.


Begitu melihat Pengusaha muda itu, wajah pak Louis tersenyum senang. Dia sangat bangga pada generasi generasi muda yang kreatif dan penuh semangat.


“Pak Louis, ini pak Damian,” pak Doddy memperkenalkan Damian pada pak Louis.


“Saya Damian,” Damian mengulurkan tangannya pada Pak Louis,yang menerima uluran tangannya dengan hangat.


“Senang bertemu dengan anda, mari mari silahkan duduk,” sambut pak Louis dengan ramah.


“Kapan tiba?” tanya Pak Louis.


“Baru saja,” jawab Damian.


“Sendirian? Tadi Pak Indra datang lebih dulu,” kata pak Louis.


“Dengan istriku,” jawab Damian.  Sepertinya dia sudah mulai terbiasa menyatakan dirinya sudah mempunyai istri.


“Kenapa kau tidak membawanya kemari?” tanya Pak Louis.


“Dia sedang mencari penginapan untuk sementara kami tinggal,” jawab  Damian.


Pak Louis tampak mengangguk angguk.


Tiba-tiba ada yang datang lagi, seorang pria muda yang tampan, memasuki ruangan, berjalan mendekati pak Louis.


“Siang semua!” sapanya pada yang hadir di ruangan itu.


“Paman, maaf ayahku tidak bisa hadir, jadi aku menggantikannya,” lanjut pria itu pada pak Louis.


Damian menoleh pada arah suara, dan dia langsung tersenyum senang.


“Cristian!” panggil Damian sambil berdiri. Cristian pun terkejut dengan kehadiran Damian diruangan itu.


“Jadi kau pengusaha muda dari ibukota itu?” tanya Cristian, diapun tersenyum hangat, mereka bersalaman.


“Ternyata kalian saling kenal,” kata pak Louis.


“Kami bertemu di Bali,” jawab Cristian.


“Ya ya ayahmu punya usaha perhotelan gabungan disana,” kata pak Louis.


“Jadi kau ikut kerjasama proyek kali ini?” tanya Damian pada Cristian.


“Sepertinya begitu. Ayahku dan Pak Louis itu teman lama, perusahan kami banyak melakukan kerjasama dari dulu, “ jawab Cristian. Damian hanya mengangguk angguk, dengan senyum mengembang di bibirnya.


“Kau sendiri? Atau bersama istrimu?” tanya Cristian, dia teringat istrinya Damian yang mirip Hanna itu, entah kenapa dia merasa penasaran dengan istri Damian itu karena dia merasa banyak kemiripan dengan Hannanya, tapi  lagi-lagi ditepisnya prasangkanya itu. Tidak mungkin istri Damian adalah Hanna nya.


“Dengan istriku, dia sedang mencari hotel untuk kita menginap,” ucap Damian.


“Ada hotel yang dekat pantai, hotel milik ayahku, kau pasti menyukainya. Untukmu aku bisa memberikan kau potongan harga, terserah untuk berapa hari  kau menginap disana, bagaimana? ” ucap Cristian.


“Benarkah? Bagus kalau begitu, coba aku kirim pesan pada istriku. Apa nama hotelnya, supaya istriku langsung kesana,” kata Damian, sambil mengeluarkan handphonenya, mengirim pesan pada Hanna.


“Hotel Marbella, aku sekalian telpon receptionisnya ya. Aku carikan ruangan ekskulsif supaya kau bisa langsung melihat ke daerah pantai,” jawab Cristian. Dia juga mengeluarkan handphonennya menelpon receptionis di Hotel Marbela, Cek in untuk Damian.


“Sekalian saja untuk pak Indra dan karyawan-karyawanku,” kata Damian sambil menoleh pada pak Indra yang mengangguk, karena diapun belum memesan hotel.


Hanna yang masih bicara dengan Sherli, mendengar bunyi pesan di handphonenya, diapun melihat siapa yang mengirim pesan. Ternyata Damian. Dibukanya pesan itu, dan diapun langsung terkejut. Damian cek in di Hotel Marbela? Bahkan pak Indra dan karyawan lain semuanya cek in disana. Itu kan Hotel ayahnya Cristian? Dibaca lagi pesan  selanjutnya. Cristian memberikan diskon, dan bisa tinggal beberapa hari karena besok Damian akan melihat lokasi pembangunan real estatenya.


Serasa ingin pingsan saja Hanna membacanya. Wajahnya langsung pucat.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Sherli.


“Ya aku baik-baik saja,” jawab Hanna. Tapi Sherli bisa menebak kalau Hanna berbohong. Dia hapal betul karakter sahabatnya itu.


“Kau tidak ingin bicara denganku?” tanya Sherli.


“Tidak, tidak apa-apa, hanya pesan dari temanku,” jawab Hanna.


Handphonenya kembali berbunyi, masuk lagi pesan dari Damian, memberikan nomor kamar mereka.


Hanna jadi penasaran, dia mengetik pesan pada Damian.


“Apa kau sedang bersama Cristian?” tanya Hanna lewat pesan itu.


“Iya,” jawab Damian.


“Kau tidak perlu menjemputku, nanti aku pulang dengan pak Indra, juga Cristian, dia akan mengantarku ke Hotelnya,” balas Damian lagi.


Sontak saja membuat Hanna semakin panas dingin. Damian akan diantar Cristian ke Hotelnya? Apalagi yang harus dilakukannya supaya tidak bertemu Cristian?


***************


Readers, episodenya yang serius dulu ya…


Jangan lupa like, vote dan komen