
Sepulang bekerja, Henry menghampiri ibunya yang sedang menonton televisi.
“Ibu, apa ada gaun yang tidak terpakai yang bisa aku minta?” tanya Henry, membuat Hanna menoleh kearahnya.
“Gaun yang tidak terpakai? Buat apa?” tanya Hanna.
“Untuk aku berikan pada seorang gadis,” jawab Henry.
“Apa? Kau mau memberikan gaun bekas pada seorang gadis?” tanya Hanna, terkejut. Henry mengangguk.
“Kenapa gaun bekas? Kau bisa membeli gaun baru di butik yang langganan keluarga kita, kau tinggal telpon saja dan sebutkan model dan ukurannya,” kata Hanna.
“Tidak perlu, itu pemborosan dipakainya juga paling tidak lama, yang bekas saja, aku lihat baju-baju ibu juga sangat bagus,” ucap Henry. Hanna langsung mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Jangan seperti itu, Henry! Jangan memalukan begitu! Masa memberinya baju bekas. Ibu telpon butik saja,” ucap Hanna sambil meraih ponselnya yang ada diatas meja, dia pun mendial sebuah nomor.
“Kira kira ukurannya apa? Mau model apa?” tanya Hanna.
“Hampir sama dengan ibu. Modelnya terserah ibu saja,” jawab Henry, menatap ibunya. Meskipun ibunya sudah tidak muda lagi, tubuh ibunya itu masih langsing seperti gadis saja dan masih terlihat cantik.
“Ya sudah, ibu tahu,” kata Hanna, lalu berbicara dengan butik itu meminta dikirimkan pakaiannya.
“Kirim sekarang, besok pagi mau aku bawa,” ucap Henry.
Hannapun memesan untuk dikirim secepatnya. Teponpun ditutup.
Hanna menatap putranya itu.
“Kau punya pacar baru?” tanya Hanna.
“Tidak,” jawab Henry.
“Terus bajunya untuk siapa?” tanya Hanna.
“Untuk seseorang saja, tapi bukan pacar,” jawab Henry, lalu beranjak meninggalkan ibunya yang menatapnya penuh tandatanya.
“Memberi gaun untuk gadis yang bukan pacarnya? Aneh!” gumam Hanna. Tapi dia tidak banyak bertanya lagi pada putranya, dia kembali menonton televisi.
**************
Keesokan harinya, di Mall…
Henry melirik jam tangannya berkali-kali, dia kesal karena Sezie belum juga datang. Sebentar lagi di akan bertemu dengan Andrea.
Setelah menunggu lagi agak lama akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba.
“Kenapa kau lama sekali?” keluh Henry yang berdiri didekat mobilnya.
“Aku naik bis,” jawab Shezie, dia terlihat agak berantakan dengan rambutnya yang kusut.
“Kenapa kau kusut sekali?” tanya Henry, tidak suka.
“Aku lari-lari mengejar bis, turunnya juga begitu, buru-buru,” jawab Shezie.
“Kalau keadaanmu begini, Andrea tidak akana percaya kau pacarku,” keluh Henry.
Henry membuka pintu mobil dan memberikan sebuah kantong.
“Ini pakai,” kata Henry.
“Kau serius memberikan gaun ibumu?” tanya Shezie dengan ragu-ragu, dia sudah membayangkan pasti gaunnya jadul banget.
“Ah sudahlah tidak usah, aku tinggal berdandan saja di toilet,” kata Shezie.
“Aku kan sudah bilang Andrea itu sangat cantik, dia tidak akan percaya kau pacarku kalau tampangmu begini,” protes Henry dengan tegas. Lagipula masa dia pacaran dengan gadis yang penampilannya acak- acakan begitu?
Pria itu tiba-tiba membungkuk mendekatkan wajahnya ke wajahnya Shezie, membuat Shezie terkejut, dia mencium harum parfum yang Henry pakai. Hampir saja dia menganggap Henry akan menciumnya kalau wajah itu tidak berhenti mendekat.
Henry mengendus-ngendus dengan hidungnya.
“Kau juga bau keringat,” keluh Henry, sambil menjauh dan menepis-nepiskan tangannya di depan hidungnya.
Shezie mengangkat tangannya mencium ketiak kanannya lalu berganti ketiak kiri lalu dia tersenyum, karena memang bau tidak sedap.
“Aku lari-lari tadi,” jawabnya sambil tertawa.
“Aku jadi ragu apa aktingmu kali ini akan berhasil?” tanya Henry, menatap Shezie.
“Kenapa tidak? Dimana-mana tidak ada pacar yang mau diselingkuhin, pasti pacarmu marahlah kalau ketahuan kau menduakannya,” jawab Shezie.
“Sudah jangan banyak bicara, Andrea akan datang sebentar lagi,” kata Henry.
“Ya. Kau duduk ditempat yang kemarin kan?” tanya Shezie.
“Iya,” jawab Henry.
Shezie mengambil kantong itu lalu meningagalkan area parkiran itu. Henry mendengar ponselnya berbunyi tenyata Andrea juga sudah berada diparkiran tidak jauh darinya, untung Shezie sudah pergi tadi.
“Kau lama menungguku?” tanya Andrea.
Henry mengangguk. Andrea akan menggandeng tanganya Henry , tapi pria itu sudah berjalan duluan, terpaksa Andrea berjalan mengikutinya, sambil dalam hati dia terus menggerutu karena penolakan Henry.
“Apa aku kurang cantik, digandeng saja tidak mau!” keluhnya, tapi kakinya tetap melangkah mengikuti Henry.
Sampailah mereka dimeja yang kemarin mereka bertemu.
“Tumben kau mengajakku kemari lagi,” kata Andrea.
“Aku hanya tidak ada teman makan siang,” jawab Henry.
Merekapun mulai memesan makanan dan menyantap makan siangnya. Henry melirik-lirik jam tangnnya, dia heran kenapa Shezie belum datang-datang juga.
Di toilet, Shezie membuka kantong pemberian Henry, dia keheranan karena gaun yang dibawa Henry sangat bagus.
“Gaun ini sangat bagus, pasti biaya sewanya sangat mahal. Supir itu, bayar 5 juta tidak mau tapi malah menyewa gaun yang mewah, sayang kan uangnya,” ucap Shezie, lalu masuk ke salah satu pintu dan mengganti pakaiannya.
Tiba-tiba datanglah seorang gadis ke meja mereka. Saat mendengar langkah sepatu itu, Henry langsung menoleh dan dia terkejut saat melihat siapa yang datang. Seorang gadis cantik dengan dandanan yang elegant, memakai gaun yang di bawanya dari butik itu. Ternyata Shezie terlihat berbeda sekarang.
“Hai sayang!” seru Shezie, sambil menghampiri meja mereka. Shezie langsung mendekati Henry dan tangannya merangkul bahunya Henry.
“E e, kau siapa?” tanya Andrea, terkejut melihat wanita itu berdiri disamping Henry dan merangakul bahunya. Shezie langsung menatap Andrea.
“Kau siapa? Kenapa kau ada disini dengan pacarku?” tanya Shezie.
Mendengar kata pacar, membuat Andrea merasa panas hati.
“Apa maskudmu pacar? Henry pacarku!” bentak Andrea.
“Sejak kapan? Kau pasti sudah menggoda pacarku kan?” tanya Shezie tidak mau kalah.
Wajah Andrea langsung berubah merah.
“Henry, apa kau juga kencan dengan gadis lain?” tanya Andrea.
“Dari dulu juga kau tahu kan aku punya banyak teman wanita,” jawab Henry.
“Iya aku tahu, tapi bukan pacarmu! Pantas saja kau ingin putus denganku, ternyata kau mempunyai wanita lain?” tanya Andrea, semakin kesal.
Henry tidak menjawab, dia hanya menyeruput minumnya.
Andrea menatap Shezie dari atas sampai bawah. Dia menelisik seperti apa gadis yang mengaku pacarnya Henry.
“Kenapa? Kau tidak percaya aku pacarnya Henry?” tanya Shezie.
“Aku tidak percaya,” jawab Andrea, sambil menoleh pada Henry, membuat Henry deg degan saja apakah Shezie akan berhasil memutuskanya dari Andrea atau gagal?
“Kau berbohong kan Henry? Kau tidak pacaran dengannya kan?” tanya Andrea.
“Sudah aku bilang aku pacarnya, kau jangan pernah mengganggu pacarku lagi!” kata Shezie.
Andrea menoleh dan menatap Henry.
“Jadi ini alasanmu ingin putus denganku, karena ada wanita lain?” tanya Andrea.
Henry mengangguk, membuat Andrea semakin kesal.
“Aku tidak terima kau memperlakukanku seperti ini,” kata Andrea, wajahnya semakin memerah menahan marah.
“Sebaiknya kau pergi dan jangan mengganggu pacarku lagi!” usir Shezie.
Andarea menoleh pada Henry lalu pada Shezie, diapun bangun dan meninggalkan meja itu. Shezie melihat kepergian Andrea sampai gadis itu tidak terlihat lagi lalu menoleh pada Henry.
“Bagaimana? Berhasil kan? Mana bayaranku?” tanya Shezi sambil mengulurkan tangannya pada Henry.
Henry melirik pada tangan Shezie yang memeluk bahu kirinya. Shezie langsung melepaskannya.
Henry mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang 500 ribu dan diberikan pada Shezie. Gadis itu langsung menerimanya dengan sedikit memberengut karena hanya 500ribu yang didapatkannya.
“Kenapa? Perjanjiannya juga 500 ribu,” kata Henry, tidak peduli dengan kekecewaaannya Shezie.
“Iya aku tahu kalau tidak punya uang,” kata Shezie, lalu dia mengeluarkan uang seratus ribu dan disimpan diatas meja.
“Apa ini?” tanya Henry.
“Untuk membayar makanmu dengan gadis itu, biar kantongmu tidak terlalu kosong, kurangnya kau bayar sendiri. Aku tahu kau pasti tidak punya uang lagi,” kata Shezie. Henry menatap uang seratus ribu diatas meja.
“Apalagi kau sudah mengeluarkan uang untuk menyewa baju ini kan? Pasti mahal harga sewanya, bisa-bisa gajimu habis. Jangan boros-boros,” kata Shezie, sambil menoleh pada baju yang dipakainya.
“Bajunya nanti aku kembalikan, aku cuci dulu, tidak aku Loundry, kau membayarku Cuma 500 ribu kalau bayar loundry juga akan terpotong habis. Aku juga tidak mau bajunya rusak nanti kau harus menggantinya, uangmu akan semakin habis,” kata Shezie lagi. Henry masih tertegun, ternyata Shezie benar-benar menganggapnya supir.
“Oh ya satu lagi!” seru Shezie.
“Apa?”tanya Henry.
“Kau juga tidak perlu memakai setelan jas begitu, kau seperti orang kaya. Pakai seragam supir saja, bersikap seadanya, harus menjadi diri sendiri,” kata Shezie.
“Kau ini bicara apa?” tanya Henry, tidak menyangka Shezie benar-benar menganggapnya supir.
“Kau ikuti saja kata-kataku. Kalau penampilanmu begini, akan banyak gadis yang mengejar-ngejarmu karena mengira kau orang kaya, kau akan kerepotan nantinya. Aku tidak mau membantumu terus-terusan dengan bayaran 500 ribu,” kata Shezie lagi, membuat Henry benar-benar tidak bisa bicara.
“Supir, gadis ini benar-benar menganggapku supir,” batinnya, dengan kecut.
Shezi membalikkan badannya akan meninggalkan mejanya Henry, tapi ternyata tas selempangnya tersangkut di kursi yang diduduki Henry. Karena tarikan dari tasnya membuatnya Shezi terkilir dan akan terjatuh, tapi untung Henry spontan berdiri dan memeluknya.
“Apa kau tidak apa-apa?” tanya Henry menahan tubuhnya Shezie supaya tidak terjatuh. Bersamaan dengan suara kursi yang tadi diduduki Henry terjatuh kelantai menimbulkan suara gudubrag yang cukup keras dan mengundang perhatian orang untuk melihat kearah mereka.
Shezie terkejut mendapati dirinya dipeluk oleh Henry. Jantungnya langsung berdebar kencang merasakan kokohnya tangan Henry yang memeluknya. Apalagi melihat wajah tampan Henry dari dekat, kulit putihnya yang bersih. Henry benar-benar supir yang terawat, uangnya pasti habis untuk pergi ke salon kecantikan untuk merawat wajah tampannya itu, batinnya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Henry, menatap Shezie yang wajahnya memerah.
“Aku..aku baik-baik saja,” ucap Shezie dengan gugup. Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil.
“Henry? Apa yang kau lakukan?” tanya suara itu, membuat Henry terkejut dan melihat kearah suara, ternyata ibunya dengan seorang temannya sedang berdiri menatapnya.
“I ibu!” panggail Henry terkejut, diapun tersadar sedang memeluk Shezie.
Henry spontan melepaskan tubuh Shezie. Shezie yang tidak menyangka Henry akan melepaskannya sangat terkejut dan tidak sempat berpegangan, diapun terjatuh ke lantai.
Brugh!
“Aw!”Teriak Shezie, bukan Shezie saja yang terkejut tapi juga orang-orang yang melihatnya termasuk Hanna.
Henry terkejut juga melihat Shezie jatuh ke lantai. Diapun langsung berjongkok mengulurkan tangannya pada Shezie.
“Maaf aku tidak sengaja!” kata Henry, ditengah kebingungannya.
Shezie memberengut sebal sambil menerima uluran tangannya Henry dan diapun berdiri.
************