
Hanna duduk disamping Damian. Mereka menekuk kedua lutut mereka melihat ke pantai, dengan tangan mereka memegang minumannya masing masing.
“Apa yang akan kau lakukan jika sudah satu tahun berakhir?” tanya Damian.
“Entahlah. Bukankan belakangan ini kau tidak pernah mengeluh mengigau lagi. Apa kau sudah sembuh?” tanya Hanna, menoleh pada Damian. Dilihatnya pria itu tersenyum.
“Aku tidak tahu, tapi memang sekarang aku sudah jarang merasakan mimpi buruk lagi. Tapi aku belum tahu jika kau pergi, apakah akan mimpi buruk lagi atau tidak,” jawab Damian.
“Bagaimana kalau kita tes saja,” usul Hanna.
“Tes apa?” tanya Damian, menatap wanita disampingnya itu sebentar , kemudian kembali melihat kearah orang-orang yang bermain di pantai.
“Kau coba tidur tanpa memelukku. Aku akan tidur di sofa. Kalau kau tidur nyenyak berarti kau sembuh, jika kau masih mengigau,berarti kau masih akan ku peluk,” jawab Hanna.
“Bagaimana jika aku sembuh. Apa yang akan kau lakukan?” tanya Damian, kembali menoleh pada Hanna, yang juga menatapnya.
“Aku tidak tahu,” jawab Hanna, balas menatap Damian. Mata mereka beradu pandang,
“Apa kau akan merindukanku?” tanya Hanna, seakan ingin tahu isi hatinya Damian.
“Apa kau juga akan merindukanku?” Damian balik bertanya, juga menyelami hatinya Hanna.
“Aku tidak tahu,”jawab Hanna, menggeleng.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Damian juga sama.
“Kita tidak akan terus menerus seperti ini kan?” tanya Hanna.
“Ya kau benar, kita tidak akan mungkin begini terus menerus,” jawab Damian.
“Nanti malam kita tes apakah kau sudah sembuh atau belum,” kata Hanna. Mereka masih bertatapan, tidak ada satupun yang ingin berpaling.
“Apa kau ingin aku cepat sembuh?” tanya Damian.
“Ya, tentu saja. Aku kasihan padamu, semoga kau segera bertemu dengan ibumu,” jawab Hanna.
“JIka aku sembuh, itu artinya kau tidak bekerja lagi padaku,” kata Damian.
“Ya. Apa aku boleh mengambil uangnya?” tanya Hanna.
“Tentu saja, itu hakmu,” jawab Damian.
Hanna diam, tapi masih menatap pria itu.
“Apa yang akan kau lakukan jika kau tidak bersamaku lagi?” tanya Damian.
“Entahlah, aku akan membeli rumah, aku akan berwiraswasta. Kau tau kan aku tidak membawa identitas apapun, aku tidak bisa bekerja di perusahaan manapun,” jawab Hanna.
“Bekerjalah di kantorku,”kata Damian.
“Semua karyawanmu tahu aku istrimu,” jawab Hanna.
“Berwiraswasta, kau tidak bisa apa-apa, aku tahu kau gadis yang manja,” kata Damian.
“Kau tahu dari mana?” tanya Hanna, mengerutkan keningnya.
“Kau tidak bisa memasak,” jawab Damian.
“Apa lagi?” tanya Hanna.
“Kau pemalas,” jawab Damian
“Apa lagi?” tanya Hanna.
“Kau tukang tidur,” jawab Damian lagi.
“Apa lagi?” tanya Hanna lagi, mereka masih saling bertatapan, keduanya sama sekali tidak ingin berpaling. Sepertinya tidak ada pemandangan yang lebih indah selain wajah di depannya masing-masing.
“Kau rakus, makanmu banyak,” jawab Damian.
“Apa lagi?”
“Kau kurus,” jawab Damian.
“Apa lagi?”
“Kau
cerewet,” jawab Damian.
“Apa lagi?”
Kini Damian tidak langsung menjawab, matanya menatap wajah di depannya itu.
“Matamu indah,” ucapnya.
“Apa? Apa lagi?” Hanna terkejut, wajahnya langsung memerah.
“Kau juga cantik,” lanjut Damian.
“Ap..apa lagi?” tanya Hanna, mulai gugup. Karena Damian masih terus menatapnya, dia juga ingin berpaling tapi tatapannya menyihirnya untuk tetap menatap mata pria itu.
“Kau tidak ingin menilaiku?” tanya Damian.
“Tentu saja,” jawab Hanna, mengangguk.
“Apa?” tanya Damian.
“Kau..” seketika otak Hanna merasa buntu.
“Apa?” tanya Damian lagi.
“Kau tampan,” jawab Hanna.
“Apa lagi?”
“Kau sangat tampan,”
“Apa lagi?”
“Kau sangat tampan,” ulang Hanna.
“Hanya itu?” tanya Damian.
“Hanya itu,” jawab Hanna.
“ Satu lagi yang belum tentangmu,” kata Damian.
“Apa masih ada?” tanya Hanna.
“Ada,” Damian mengangguk.
“Apa itu?” tanya Hanna. Damian tidak langsung menjawab. Dia memandang mata yang indah itu.
“Kau cantik,” jawab Damian.
“Tadi sudah,” kata Hanna.
“Kau cantik dan…” Damian menghentikan kata-katanya.
“Dan apa?” Hanna masih menatap mata pria itu.
“Aku ingin menciummu,” jawab Damian.
“Apa?” tanya Hanna, terkejut, dia langsung gugup dan wajahnya semakin memerah.
“Aku ingin menciummu,” ulang Damian serius.
“Apa kau sakit?” tanya Hanna.
“Tidak,” Damian menggeleng.
“Kau terkena covid 19?” tanya Hanna, tangannya menyentuh keningnya Damian. Damian kembali menggeleng.
Kepalanya semakin dekat ke wajah wanita itu.
“Kalau kau menciumku, kau kena finalti,” ucap Hanna.
“Tidak masalah,” jawab Damian, wajahnya semakin dekat.
“Satu ciuman 40 Milyar,” ucap Hanna, dadanya langsung berdebar kencang, tidak karuan dan gugup.
“Tidak apa-apa,” jawab Damian.
“Kau akan jatuh miskin,” kata Hanna lagi. Dia semakin tidak bisa bernafas.
“Beberapa ciuman juga tidak membuatku miskin,” jawab Damian. Hanna semakin tidak bisa berkutik,wajah tampan itu semain dekat, dia ingin menghindar, tapi matanya tidak bisa lepas dari tatapan pria itu, seakan tersihir untuk tidak bergerak satu sentipun.
“Satu ciuman 40 Milyar,” ulang Hanna.
“Ya 40 Milyar,”jawab Damian.
“Apa kau gila?” tanya Hanna.
“Ya aku gila,” jawab Damian, mengangguk. Wajahnya semakin dekat, Hanna benar-benar menahan nafasnya saat pria itu akan menciumnya, dia benar-benar tegang. Wajah itu semakin dekat. Hanna semakin menahan nafasnya, saat bibir Damian hampir menyentuh bibirnya.
Tapi tiba-tiba. BUK!! Hanna jatuh pingsan. Damian sampai terkejut, wanita itu jatuh
ke pelukannya. Dlihatnya sebuah bola menggelinding di dekatnya.
Beberapa orang pria menghampirinya.
“Maaf Tuan, tidak sengaja!” seru mereka, dengan tatapan bersalah. Damian menoleh pada Hanna lalu pada bola volley itu kemudian pada pria pria yang berseragam itu, mereka tim bola volley pantai.
“Tuan, kami minta maaf ya. Ayo kita bawa ke klinik terdekat,” seru mereka.
Damian sampai tidak bisa berkata apa-apa, bukankah tadi dia mau mencium wanita itu? Kenapa jadi ke klinik?
Hanna memegang kepalanya yang sakit, kepalanya benar-benar pusing saat suatu benda keras menghantam kepalanya.
“Kau sudah sadar?” tanya Dokter yang memeriksanya.
“Kepalaku pusing Dok,” jawab Hanna saat melihat wajah Dokter yang merawatnya.
“Nanti aku beri resep ya, langsung diminum obatnya,” kata Dokter. Menuliskan sesuatu pada kertas dan memberikannya pada Damian.
Hanna mencoba bangun.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Damian, buru-buru membantu Hanna bangun.
“Sedikit pusing saja,” jawab Hanna.
“Ada apa denganku?” gumamnya. Dua roang pria berseragam olahraga menghampirinya.
“Nyonya, kami minta maaf ya, tadi tidak sengaja, bola Volley kami mengenai kepala anda,” kata salah seorang pria itu. Barulah Hanna mengerti sekarang.
“Ya tidak apa-apa,” yang menjawab Damian, kemudian menoleh pada Dokter.
“Apa boleh istirahat dulu sebentar disini, aku akan membeli obatnya,” kata Damian pada Dokter itu.
“Ya silahkan,” kata Dokter itu.
Hanna pun kembali berbaring, untuk meredakan rasa pusingnya.
Setelah Damian memberinya obat, pusing dikepalanya mulai berangsur membaik.
“Kau lebih baik sekarang? Kita pulang,” kata Damian.
“Ya aku lebih baik,”jawab Hanna, mengangguk. Merekapun keluar dari klinik itu, Damian menggandeng tangan Hanna, membantunya berjalan.
Hanna memegang kembali kepalanya yang masih terasa nyut nyutan.
“Kenapa mereka bermain volley tidak hati-hati,” gerutunya.
Tiba-tiba Hanna menghentikan langkahnya dan menoleh pada Damian, menatap pria itu.
“Ada apa?” tanya Damian.
“Sepertinya aku bermimpi,” jawba Hanna.
“Mimpi, mimpi apa?” tanya Damian, balas menatapnya.
“Aku bermimpi kau akan menciumku!” jawab Hanna, membuat Damian terbatuk-batuk dan wajahnya memerah.
“Benar-benar mimpi buruk!” keluh Hanna, sambil kembali berjalan, Damian mengikutinya, kenapa Hanna berfikir itu mimpi? Dia benar-benar akan menciumnya tadi. Kadang-kadang wanita ini suka tidak waras, fikirnya.
“Kenapa belakangan ini aku bermimpi buruk? Jangan-jangan mimpi burukmu pindah kepadaku,” kata Hanna.
“Kalau kau bermimpi buruk, kau jangan khawatir, aku akan memelukmu,” jawab Damian, masih menggandeng tangan Hanna.
“Tidak, tidak aku tidak mau. Aku tidak punya uang untuk membayarmu,”kata Hanna.
“Kau tidak perlu membayarku, gratis!” seru Damian, bersemangat.
“Jadi bodyguard gratis, memelukku juga gratis, kau pria gratisan ya?” canda Hanna.
“Hanya padamu saja, tidak yang lain,” jawab Damian, membuat Hanna tertawa. Tapi tawa itu hilang, saat Damian bicara lagi.
“Kita pulang, kau istirahat sebentar. Nanti malam rekan-rekan kerjaku datang, kita pesta barbeque,” kata Damian. Hanna langsung shock. Itu artinya Cristian akan datang ke rumah. Bagaimana ini? Kalau dia cerita pada Damian, dia takutnya itu akan mempengaruhi hungungan bisnis mereka. Apa yang harus dilakukannya?
Hanna menghentikan langkahnya.
“Damian, sepertinya aku harus membeli sesuatu, kau tunggu di rumah, aku tidak akan lama,” kata Hanna.
Damian menatapnya.
“Kau mau kemana lagi? Aku tidak mau kau menghilang! Aku tidak mau mencari-carimu terus!” gerutu Damian, tidak suka.
“Tidak, aku tidak akan menghilang, aku hanya membeli sesuatu. Kau tunggu dirumah ya,” ucap Hanna. Tanpa ba bi bu lagi langsung memanggil taxi.
“Taxi! Taxi!” panggilnya, sambil belari menghampiri taxi yang lewat.
Damian hanya bisa melihat kepergiannya.
“Kenapa sakit kepalanya langsung hilang? Apa dia lupa?” gumamnya.
Sore harinya Hanna sudah pulang. Damian sudah merasa khawatir dari tadi, takut Hanna menghilang lagi, bisa-bisa dia benar-benar gila kalau wanita itu hilang lagi.
“Akhirnya kau pulang!” seru Damian, saat melihat Hanna datang.
“Aku hanya berbelanja beberapa keperluan saja,” jawab Hanna, mengacungkan kantong belanjaannya.
“Apa itu?” tanya Damian.
“Rahasia,” jawab Hanna, sambil berlari menaiki tangga menuju kamar mereka. Tapi kemudian dia membalikkan badannya, menatap ke bawah pada Damian yang masih menatapnya.
“Nanti malam kau coba tidur sendiri ya,” ucap Hanna mengingatkan.
“Biasanya juga aku tidur sendiri,” jawab Damian.
“Aku mau lihat kau mengigau atau tidak,” kata Hanna, lalu kembali masuk menuju kamarnya.
Damian hanya menatap wanita yang menghilang dibalik tembok itu.
Tes untuk mengetahui apa dia masih mengigau atau tidak. Bagaimana kalau dia sembuh dari mengigaunya? Itu artinya wanita itu akan pergi. Apa dia benar-benar akan kehilangan Hanna? Selamanya?
*******************
Wkwwkkwk…gagal lagi readers…sabar…masih banyak episode di depan.
Jangan dianggap serius ya, ini hanya bercanda….sekedar hiburan saja.
Jangan lupa, Like, vote dan komen.
I Love U All