
Bi Ijah membukakan pintu rumah itu, Shezie sudah ada didepan pintu bersama Henry.
“Ibu mana?” tanya Shezie.
“Tadi sih sudah tidur,” jawab Bi Ijah.
“Terimakasih Bi, biar aku yang menutup pintu,” ucap Shezie.
Bi Ijahpun pergi ke belakang, saat ke dapur bertemu dengan Bu Vina yang sedang mengambil air minum.
“Ibu belum tidur? Non Shezie pulang,” kata Bi Ijah.
“Kenapa Shezie pulang selarut ini?” keluh Bu Vina.
“Dengan Pak Henry, Bu,” ucap Bi Ijah.
“Apa? Dengan Henry? Bukan Martin?” tanya Bu Vina.
“Bukan Bu,” jawab Bi Ijah, semakin membuat Bu Vina penasaran, diapun memutar kursi rodanya menuju depan rumah.
“Kau mau pulang sekarang?” tanya Shezie pada Henry, berjalan mendekati Henry yang berdiri sambil melipat kedua tangannya melihat kearah depan ke jalan raya yang terang oleh sinar lampu kendaraan.
Shezie pun berdiri disamping Henry.
Henry membalikan tubuhnya menghadap Shezie, membuat Shezie juga menghadapnya.
“Henry bagaimana kau bisa tahu aku dalam masalah?” tanya Shezie.
“Aku ingat dulu Henry pernah menggangumu, aku merasa khawatir itu terjadi lagi, jadi aku kembali ke Hotel, dan mencari tahu kamar atas nama Martin ternyata memang tidak ada, hanya kebetulan saat direceptionis itu ada yang akan mengantarkan pakaian ganti untuk Martin, jadi aku tahu kamarnya Martin,” kata Henry.
“Aku tidak tahu kalau kau tidak datang tepat waktu, aku akan seperti apa,” ucap Shezie.
“Sudahlah semua sudah berlalu, kau cepat istirahat, jangan memikirkan kejadian tadi, aku tidak akan membebaskan Martin kali ini, dia harus mendekam dipenjara,” kata Henry.
“Apa maksudmu Martin mendekam dipenjara?” tiba-tiba mereka dikagetkan suara Bu Vina.
“Ibu!” panggil Shezie terkejut melaihat ibunya ada dibelakang mereka.
“Apa yang Martin lakukan?” tanya Bu Vina, lalu menatap Shezie.
Putrinya itu terlihat berantakan dan bajunya kusut, wajahnya juga sembab seperti sudah menangis.
“Apa yang terjadi? Apa Martin menyakitimu?” tanya Bu Vina.
“Tidak Bu, semua baik-baik saja, ibu hanya salah dengar,” jawab Shezie.
“Ibu tidak salah dengar, kalian mengatakan penjara, apa maksudnya?” tanya Bu Vina.
Shezie menoleh pada Henry.
“Katakan jangan ditutup-tutupi lagi, apa yang dilakukan Martin?” tanya Bu Vina, matanya langsung saja memerah akan menangis, hatinya sudah menduga pasti ada sesuatu yang terjadi pada putrinya.
“Shezie, terus terang pada Ibu!” kata Bu Vina dengan keras.
Shezie menoleh pada Henry lalu pada ibunya, diapun bicara dengan pelan.
“Martin menjualku pada temannya Bu, untung Henry menolongku,” jawb Shezie, membuat Bu Vina terkejut.
“Apa? Menjualmu?” tanya Bu Vina.
“Iya Bu, dia marah karena aku membatalkan pernikahan dan dia ingin uangnya kembali dengan cara menjualku,” jawab Shezie, dengan hati-hati.
Bu Vina tampak shock, diapun menunduk dan menangis, dia tidak mengira tabiat Martin seperti itu, bagaimana kalau sampai Shezie menikah dengan pria itu? Ternyata sikap baik yang ditunjukkannya hanyalah palsu belaka.
Melihat ibunya menangis, Shezie berjongkok didepan ibunya, menyentuh tangan ibunya.
“Ibu minta maaf, ternyata Ibu salah menilai Martin, Ibu minta maaf,” ucap Bu Vina, disela tangisnya.
“Sudah Bu, jangan minta maaf, aku mengerti kondisi ibu,” jawab Shezie.
Tangan Bu Vina menyentuh pipinya Shezie.
“Ibu juga harus tahu, yang selama ini membiayai berobat ibu itu Henry dan Pak Damian, bukan Martin, Martin telah membohongi kita, ” ucap Shezie, semakin membuat Bu Vina terkejut.
Bu Vina menoleh pada Henry.
“Apa itu benar?” tanya Bu Vina.
“Iya, waktu itu aku tulus hanya ingin membantu Shezie karena Shezie mau menikah denganku untuk membiayai berobat ibu,” jawab Henry.
Jawaban Henry membuat Bu Vina semakin sedih, diapun menoleh pada Shezie.
“Kau putriku yang baik, maafkan ibu nak, Ibu tidak tahu apa jadinya jika kau sudah menikah dengan Martin. Ibu fikir Martin pria yang baik,” kata Bu Vina.
Kemudian Bu Vina menoleh pada Henry, dia mencoba memutar rodanya lebih dekat pada Henry.
“Nak Henry terimakasih kau suduah menyelamatkan putriku,” kata Bu Vina.
Henry mendekati Bu Vina dan berjongok didepannya.
“Tidak perlu berterimakasih Bu, aku memang ingin selalu menjaga Shezie,” jawab Henry.
Bu Vina menatap Henry dengan airmata yang masih menggenang dikedua bola matanya.
“Aku ada permintaan pada Ibu,” ucap Henry.
“Permintaan?” tanya Bu Vina, sambil menghapus airmatanya.
“Aku tahu Shezie sedang hamil bayiku, jadi aku ingin Shezie kembali bersamaku,” ucap Henry.
Bu Vina terdiam mendengarnya.
“Aku tahu masalalu Ibu dengan ayah itu berat buat kalian juga buat ibuku, tapi aku tidak bisa membiarkan bayiku tumbuh tanpa ayah. Aku sangat mencintai Shezie Bu, maukah Ibu merestui kami,” ucap Henry.
Bu Vina meraih tangan Henry dan digenggamnya.
“Ibu merestui kalian,” ucap Bu Vina, dengan terbata-bata, airmata terus tumpah dipipinya.
Henry menoleh pada Shezie yang juga sama, terisak melihat ibunya merestui Henry.
Henry kembali menatap Bu Vina.
“Terimakasih Bu, aku berjanji akan selalu menyayangi Shezie dan bayi kami,” ucap Henry.
“Ibu percaya, kau akan menjaga Shezie dengan baik,” jawab Bu Vina.
Sheziepun berjongkok disamping Bu Vina, menatap ibunya dengan linangan airmata.
“Terimakasih Bu,”ucapnya, dengan isak tersekat, dia tahu ini adalah keputusan terberat ibunya untuk merestuinya bersama Henry, putra dari pria yang pernah menyakitinya.
“Semoga kalian bahagia,” ucap Bu Vina.
“Iya Bu,” jawab Shezie sambil menoleh pada Henry, yang langsung memeluk bahunya dan mencium keningnya.
“Aku mencintaimu,” ucapnya.
“Aku juga,” jawab Shezie, dia sangat bahagia saat ini. Diapun menoleh pada ibunya lalu bangun dan memeluk ibunya.
“Terimakasih Bu,” ucapnya sambil mencium pipi ibunya. Bu Vina hanya mengangguk dan mengusap lengan Shezie.
Shezie merasakan bahagia yang amat sangat, mendapat restu ibunya adalah hal yang tersulit dalam hidupnya tapi ternyata ibunya sangat begitu mencintainya.
“Bu, udara sangat dingin, ibu masuk ya, aku antar,” kata Shezie.
Ibunya mengangguk,
Shezie menoleh pada Henry.
“Aku juga harus pulang. Besok aku ingin mengajakmu kerumahku, ayah dan ibuku pasti senang kau sedang hamil,” jawab Henry.
“Baiklah, hati-hati dijalan,” ucap Shezie dengan mata yang berbinar, dia sungguh senang malam ini.
“Ibu juga ingin bertemu dengan ayah dan ibumu,” ucap Bu Vina, membuat Henry dan Shezie saling pandang.
“Baiklah, nanti aku sampaikan. Besok aku jemput ibu dan Shezie,” kata Henry.
Bu Vina mengangguk.
Setelah itu Henrypun pamitan pulang. Shezie mengantarnya sampai mobilnya yang terparkir dipinggir jalan.
Shezie melambaikan tangannya saat Henry menjalankan mobilnya, Rasanya beban didadanya terasa begitu ringan, dia benar-benar bahagia.
*******
Keesokan harinya….
Shezie sudah berdandan rapih di kamarnya, hatinya terasa bahagia karena Henry akan mengajaknya dan ibunya kerumah mertuanya.
Shezie keluar kamar meliaht rumahnya itu begitu sepi. Hanya terdengar suara benda benda dapurnya Bi Ijah yang sedang memasak di dapur, diapun pergi ke belakang rumah.
“Bi, Ibu belum bangun?” tanyanya.
“Sepertinya belum Non, mungkin kecapean, sudah siang begini belum bangun. Saya ga berani bangunin,” jawa Bi Ijah.
Sheziepun pergi ke kamar ibunya. Di dekatkannya telinganya ke dalam kamar, ternyata tidak ada suara apa-apa dari sana.
“Bu!” panggil Shezie sambil mengetuk pintu.
“Bu, apa Ibu sudah bangun? Henry sebentar lagi akan menjemput,”kata Shezie, masih tidak ada jawaban.
“Bu!” panggil Shezie, dia heran sesiang ini ibunya belum bangun. Diketuknya lagi berkali-kali tapi tidak ada jawaban juga, membuat Shezie khawatir diapun mencoba membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci.
Shezie melongokkan kepalanya kedalam kamar. Jendela kamar itu belum dibuka. Dilihatnya ibunya masih tidur berselimut.
“Bu, tumben sekali ibu belum bangun? Kita akan ke rumah keluarganya Henry, sebentar lagi Henry menjemput,” kata Shezie.
Shezie berjalan menuju jendela dan mebuka jendela itu, lalu mematikan lampu tidur yang masih menyala.
“Bu,” panggil Shezie, diapun duduk dipinggir tempat tidur.
“Bu,” panggilnya lagi sambil menyentuh tangan ibunya.
“Bu,”panggil Shezie lagi, dia heran kenapa Ibunya tidak juga bergerak.
“Bu, bangun Bu!” teriaknya dengan panik, karena ternyata ibunya tidak bergerak gerak juga.
“Bi! Bi! Kemari Bi! Panggilkan taxi!” teriak Shezie dengan panic, diapun bangun dan melongokkan kepalanya kaluar pintu memanggil Bi Ijah.
Bi Ijah langsung berlari menghampirinya.
“Ada apa Non?” tanyanya.
“Ibu tidak sadarkan diri Bi, cepat panggilkan taxi! Kita ke rumah sakit sekarang!” jawab Shezie.
Bi Ijahpun jadi ikutan panic, dia segera memanggilkan taxi.
Shezie berlari ke dalam kamarnya, mengambil ponselnya dan mendial nomor ponselnya Henry.
*************
Jangan lupa like di tiap bab ya...
*****