Billionaire Bride

Billionaire Bride
CH-120 Mengurai masa lalu



Ny. Sofia sangat terkejut dengan penglihatannya. Dia menatap sosok wanita yang begitu dikenalnya, meskipun mereka sudah berpuluh tahun tidak bertemu, tapi dia sangat hafal siapa wanita yang sedang berada diparkiran itu.


Bu Sony kembali menutup pintu mobilnya, membuat Bu Astrid yang sudah didalam mobil keheranan, diapun keluar lagi, melihat kearah Bu Sony yang ternyata menghampiri ibu tirinya Damian, yang semalam kerumahnya.


Bu Sony menghentikan langkahnya saat dia sudah berdiri berhadapan dengan Ny. Sofia.


“Kau, kau ibu tirinya Damian?” tanya Bu Sony.


“Apa kabarmu?” tanya Ny.Sofia yang seketika menjadi gelisah, wajahnya menjadi pucat.


“Kau, menikah dengan suamiku?” tanya Bu Sony menatap Ny.Sofia dengan sorot mata kebencian.


“Kau berselingkuh dengan suamiku?” tanya Bu Sony lagi, yang terlihat menahan marah.


“Tidak, kau salah, tidak seperti itu,” ucap Ny.Sofia menggelengkan kepalanya. Tangannya mengulur mau menyentuh tangannya Bu Sony tapi Bu Sony menepisnya dengan keras.


“Jadi suamiku menuduhku berselingkuh padahal suamiku sendiri yang berselinguh dengan temanku?” bentak Bu Sony. Ny Sofia kembali menggeleng.


“Tidak, tidak begitu, kau salah faham , aku tidak selingkuh dengan suamimu,” jawab Ny.Sofia, wajahnya semakin terilihat pucat, dia sangat gugup.


“Aku tahu kau selalu iri padaku, aku tau kau menyukai suamiku, tapi aku tidak menyangka kalau akhirnya kalian menikah,” kata Bu Sony.


“Aku memang menyukai suamimu tapi aku tidak berselingkuh dengannya,” kata Ny,Sofia. Bu Sony menatapnya dengan tajam, matanya memerah penuh kemarahan.


“Kau tahu kalau suamimu sangat mencintaimu makanya dia sangat pencemburu, dia tidak mungkin menghianatimu. Aku menikah dengannya setelah kalian bercerai, sekarang mantan suamimu sudah meninggal cukup lama,” ucap Ny.Sofia, berusaha menjelaskan.


Bu Sony terdiam.


“Aku memang menyukai suamimu tapi aku tidak berselingkuh dengannya, apa yang terjadi antara kau dan suamimu, tidak ada kaitannya denganku, sungguh aku mengatakan yang sejujurnya,” kata Ny. Sofia.


Bu Sony menghela nafas panjang, dia mencoba menguasai dirinya.


“Damian, dimana Damian sekarang?” tanya Bu Sony. Tidak memperpanjang urusannya dengan Ny.Sofia yang terpenting sekarang adalah putranya, buat apa meributkan mantan suaminya yang sudah meninggal.


“Dia sedang keluar, atau kita akan menyusulnya? Aku akan menelpon Satria,” jawab Ny.Sofia, sambil membuka tasnya mengambil handphone-nya.


“Satria? Siapa Satria?” tanya  Bu Sony.


“Putraku, dengan mantan suamimu,” jawab Ny.Sofia, dia langsung menelpon Satria.


“Ada apa Bu?” tanya Satria, berteriak-teriak karena terdengar suara ombak dikejauhan.


“Kau ada dimana? Apa kau sedang bersama kakakmu?” tanya Ny.Sofia.


“Iya, aku sedang bersama kakak, ada apa Bu? Disini berisik sekali!” teriak Satria.


“Bisa kau sebutkan dimana? Ibu akan menyusul, ada yang ingin bertemu dengan kakakmu,” kata Ny.Sofia.


“Bertemu dengan kakak? Siapa? Halo! Bu!” tanya Satria, masih beteriak-teriak.


“Kau sebutkan saja dimana lokasinya, ibu akan menyusul kesana, katakan pada kakakmu ada yang ingin bertemu dengannya,” kata Ny.Sofia, merasa tidak nyaman menyebutkan ibunya karena harus mejelaskan sambil berteriak-teriak.


“Iya, aku kirim lokasinya Bu! Disini sangat berisik!” teriak Satria lagi. Tidak berapa lama telpon pun ditutup.


Ny.Sofia mematikan ponselnya dengan gugup. Dia sangat gugup, tangannya terlihat gemetar saking gugupnya wajahnya juga pucat, apalagi saat matanya  bertemu dengan tatapan tajam Bu Sony, dia serasa tidak enak seakan-akan dia sudah melakukan kesalahan dengan menikahi ayahnya Damian.


“Aku sudah mencoba menjadi ibu yang baik buat Damian, tapi Damian tidak bisa menerimaku, dia selalu memusuhiku. Aku tahu mungkin Damian berfikir aku yang membuatnya berpisah denganmu,” kata Ny.Sofia menatap Bu Sony.


Bu Sony diam mendengarkan, dia masih menatap tajam wanita yang menjadi ibu tirinya Damian itu.


“Aku benar-benar tidak ada hubungannya dengan perceraian kalian, suamimu memang sangat pencemburu tidak ada kaitannya denganku,” ulang Ny.Sofia berusaha menjelaskan kembali.


Bu Sony jadi teringat saat pertengkaran hebat itu terjadi, suaminya memang sangat pencemburu. Malam itu suaminya menuduhnya berselingkuh atas kehamilannya karena sebelum hamil suaminya selalu bepergian keluar negeri, ketika pulang dia menyambut suaminya memberi kabar kehamilannya, tidak disangka suaminya malah menuduhnya berselingkuh dan mengusirnya dari rumah juga memisahkannya dari Damian.


Itulah sebabnya kenapa dia selalu menemani kemanapun suaminya yang sekarang pergi, dia takut perceraian dulu terulang lagi, sedangkan Cristian, selain kasihan harus berpindah-pindah tempat, putranya itu memang sudah menyukai Hanna dari kecil dan tidak mau pulang saat dijemputnya, akhirnya Cristian tinggal bersama kakeknya.


“Aku menikah dengan Aji saat dia menetap di luar negeri, setelah menjual rumah yang kalian tempati, jadi saat kembali kami harus membeli rumah baru sudah tidak tinggal lagi dirumah kalian,” kata Ny,Sofia.


Bu Sony terlihat mencoba menenangkan hatinya, dia mencoba mengontrol emosinya, mencoba menerima kenyataan bahwa itu semua sudah terjadi dan telah lewat.


“Itu kejadian yang sebenarnya, aku tidak bermaksud memisahkanmu dengan Damian, hanya saja memang suamimu tidak menginginkan kalian bertemu jadi mambawa Damian tinggal di LN,” kata Ny.Sofia lagi.


Tidak jauh dari sana, Bu Astrid berdiri menatap mereka. Ny.Sofia agak bingung, kenapa Bu Astrid ada bersama ibunya Damian? Apa mereka saling kenal?


Terdengar handphone-nya berdering memberitahu ada pesan yang masuk. Cepat-cepat dilihatnya pesan itu.


“Satria mengirim lokasinya, apa kita akan kesana sekarang?” tanya Ny. Sofia, menatap Bu Sony.


“Kita kesana sekarang saja,” jawab Bu Sony.


“Pakai mobilku saja,” kata Bu Astrid. yang diangguki Bu Sony dan Ny.Sofia.


Tidak berapa lama mobil itu meninggalkan halaman kantornya Damian.


******


Dilokasi survey..


Lagi-lagi terdengar suara ombak dikejauhan, angin bertiup terasa sangat dingin padahal cuaca sudah mulai panas.


“Kak! Kakak!” teriak Satria.


Kakaknya itu sedang berbicara dengan beberapa orang yang berkumpul disana, seorang diantaranya sedang berdiri tidak jauh dari kakaknya dengan tangannya yang bergerak kesana kemari seperti sedang menjelaskan sesuatu.


“Ada apa? Kenapa harus berteriak teriak segala?” tanya Damian, menoleh pada adiknya itu.


“Berisik ombak!” jawab Satria, setelah dekat.


Damian mengangkat tangannya pada pria yang sedang berbicara itu, supaya menghentikan penjelasannya dulu sebentar.


“Ada apa?” tanya Damian pada Satria.


“Ibu menelpon,” jawab Satria.


“Ibu? Ibumu?” tanya Damian.


“Iya,” jawab Satria.


“Ada apa?” tanya Damian.


“Ibu mau menyusul kesini,” jawab Satria.


“Menyusul kesini ada apa? Ibumu mau pulang?” tanya Damian lagi.


“Bukan, katanya ada tamu yang mau bertemu dengan kakak,” jawab Satria.


“Siapa?” tanya Damian.


“Aku tidak tahu, tapi aku sudah memberikan alamat kita pada ibu,” jawab Satria.


Damian kembali menoleh pada pria yang tadi sedang menjelaskan sesuatu itu. Pria itu kembali melanjutkan penjelasannya tadi.


Perjalanan menuju lokasi survey itu terasa begitu jauh bagi Bu Sony, karena hatinya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putranya, Damian. Airmata sudah mulai menggenang saja dimatanya. Tidak ada yang bicara di dalam mobil itu.


Ny.Sofiapun hanya menunduk tidak berkata apa-apa, sesekali dia menoleh pada Bu Astrid, dia ingin tahu kenapa ibunya Damian bisa bersamanya, apakah mereka saling kenal?


Dari kejauhan terlihat di hamparan pantai yang luas itu beberapa orang sedang berkumpul.


“Sepertinya itu lokasinya,” kata Bu Astrid, setelah Ny.Sofia memberikan ciri-ciri yang disebutkan oleh Satria di handphone-nya.


Bu Sony langsung menoleh kearah sebrang, dia memang melihat banyak orang berkumpul disana. Matanya mengedar melihat satu persatu orang orang yang berdiri dari kejauhan itu, matanya terhenti pada sosok yang sedang berdiri itu.


Dia tidak tahu seperti apa Damian sekarang, tapi saat diantara orang-orang itu ada sosok yang mirip dengan mantan suaminya, hatinya lansung bergetar dan menebak itu adalah Damian. Ternyata ada satu lagi sosok pria muda yang memiliki perawakan yang sama dengan Damian, tapi dia terlihat lebih muda,sudah bisa dipastikan itu adalah adiknya Damian, putranya Sofia dengan mantan suaminya.


Mobilpun segera menyebrangi jalan berbelok ke sebelah kanan, keluar dari jalan raya dan berhenti tidak jauh dari kerumunan orang-orang itu.


Bu Sony langsung turun dari mobil itu. Berdiri menatap pria yang mirip dengan mantan suaminya itu. Tidak ada yang bisa diucapkannya, dia hanya mematung menatap putra yang sangat dirindukannya itu.


Bu Astrid keluar dari mobilnya begitu juga dengan Nyonya Sofia.


“Apakah dia putraku, Damian?” tanya Bu Sony tanpa melepaskan pandangannya pada sosok pria tampan itu yang sedang berbicara dengan rekannya.


“Iya, dia Damian, dia sangat mirip ayahnya,” jawab Ny.Sofia.


Bu Sony mulai melangkahkan kakinya perlahan, kakinya terasa tidak menapak dibumi, kakinya terasa begitu gemetaran. Dadanya tiba-tiba merasakan sesak yang amat sangat, karena tangis yang sepertinya ingin tumpah ruah begitu saja. Kedua matanya memerah dan airmata sudah mulai menggenanginya.


Ny.Sofia menoleh pada Bu Astrid.


“Bu Louis,” panggilnya, membuat Bu Astrid menoleh.


“Kenapa kau bisa bersama dengan Ibunya Damian? Kalian saling kenal?” tanya Ny.Sofia.


“Jadi benar kalau Bu Sony itu ibunya Damian?” tanya Bu Astrid.


“Bu Sony?” tanya Ny.Sofia tidak mengerti.


“Iya, suaminya Bu Yulia itu Pak Sony, teman ayahnya Hanna,” jawab Bu Astrid.


“Jadi kalian berteman?” tanya Ny.Sofia.


“Bukan teman lagi, tapi kami akan berbesan,” jawab Bu Astrid.


“Berbesan? Apa maksudmu? Jangan katakan kalau Hanna akan menikah dengan putranya Yulia yang lain, yang kemungkinan adiknya Damian?” tanya Ny.Sofia sengat terkejut.


“Tapi sayangnya itu betul, Ny. Hanna akan menikah dengan Cristian yang kemungkinan adiknya Damian,” jawab Bu Astrid, membuat Ny.Sofia tertegun saking kagetnya.


“Bagaiman kalau mereka tahu kalau mereka adik kakak?” tanya Ny.Sofia.


“Aku juga tidak tahu,” jawab Bu Astrid. Keduanya tidak ada yang bicara lagi.


Bu Sony melangkahkan kakinya semakin dekat kearah orang yang berkumpul itu. Setelah tidak begitu jauh, dia berdiri menatap sosok pria yang mirip mantan suaminya itu. Sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, hatinya sedih bercampur bahagia, akhirnya setelah penantiannya bertahun-tahun dia bisa melihat putranya itu.


Ombak yang sedari tadi terdengar kencang bergemuruh, tiba-tiba saja seperti menghilang suaranya ditelan tiupan angin yang berubah sepoi-sepoi. Sinar matahari yang tadi begitu terasa panas mulai terhalang awan-awan abu yang membuat udara berubah sejuk.


Satria yang lebih dulu melihat kehadiran wanita yang berdiri menatap mereka, menyentuhkan tangannya pada kakaknya.


“Kak, apa kau mengenal wanita  yang melihat kearah kita? Apa itu tamu yang ibu katakan? Sepertinya dia datang bersama ibu,” ucap Satria.


Damianpun menoleh kearah yang Satria katakan, matanya terhenti pada sosok wanita paruh baya yang sedang menatapnya dengan tatapan nanar, menatapnya dengan linangan airmata yang menetes membasahi pipinya.


*************


Readers jangan lupa vote nya


***************